
Ellias tercengang ketika melihat sebuah tayangan di beberapa monitor di depannya. terlihat seorang lelaki dan wanita melompat ke atas gedung sepuluh lantai. mereka adalah August dan Aira.
"Mas.. master Lee.., siapa sebenarnya anak itu?" tanya Ellias. gugup.
"Tuan Ellias, siapa yang menyelamatkanmu waktu itu? apakah ia seorang wanita dengan intan di keningnya?"
Master Lee balik bertanya.
"Ba.. bagaimana kau tau..?" tanya Ellias.
"dia pasti memberimu pilihan, benar begitu?" Master Lee kembali bertanya.
Ellias mengangguk. ia sangat bingung setelah August mengungkap siapa ia sebenarnya, kini lelaki tua ini juga mengetahui siapa yang menolongnya.
"Kini aku mengerti." master Lee mengangguk-anggukan kepalanya.
"Master Lee, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Ellias.
"Tuan Ellias.. kau dan aku di pilih untuk disiapkan menjadi pengikut anak itu, sekarang semuanya terserah padamu. karena aku akan mengabdikan diri padanya." kata Master lee.
"Aku akan mengatakannya sekali padamu, kau bisa menolaknya dan menjalani hidupmu yang membosankan itu, atau kau menjadi pelayannya dan melihat dunia yang sebenarnya. apapun pilihanmu jangan pernah menyesalinya, karena keduanya tak ada jalan untuk kembali."
Mendengar perkataan master Lee, membuat Ellias terkejut bukan kepalang. tetapi Ellias tidaklah bodoh, apa yang ia lihat saat ini adalah sesuatu yang nyata. dari milyaran manusia yang hidup di dunia ini, Ia di beri kesempatan untuk membuka pintu menuju dunia yang penuh keajaiban itu. pintu itu sudah terbuka menunggu dirinya untuk melangkah masuk.
"Aku sangat bersedia, Master." ucap Ellias dengan nada bergetar.
"tak ada yang tersisa lagi di sini setelah membunuh Jacky, aku tak mau menjadi katak dalam tempurung." tambahnya.
Master Lee tersenyum menepuk punggung Ellias.
***
Mordo merasakan sebuah bahaya mengancamnya, ia menghindar dengan memiringkan badanya ke kiri, rantai itu melewati beberapa inci dari lehernya lalu tertarik kembali.
Mordo membalikan badannya ia mengarahkan telapak tangannya ke arah pintu, pintu itu terhempas terbelah dua. di sana ia melihat seorang wanita dengan rantai menjuntai berdiri di belakang seorang pria yang sudah dikenalnya.
Mordo menyeringai.. matanya mengeluarkan aura membunuh.
"aku akan menyeretmu ke hadapan master Gorran" kata mordo lalu bergerak menerjang ke arah August dan Aira.
Aira tak bisa melihat kecepatan Mordo dengan jelas, namun itu tak berlaku pada August. dalam pandangan matanya ia melihat kecepatan mordo seperti seorang pelari biasa. ketika Mordo sudah berjarak beberapa meter saja dari August tiba-tiba terdengar tiga tembakan dari belakang August dan Aira.
dor.. dor.. dor..
tubuh Mordo terpelanting kebelakang darah hitam mengalir dari tubuhnya.
"ti.. tidak mungkin, tak ada senjata dari dunia ini yang bisa melukaiku.." kata Mordo melihat arah suara tembakan berasal.
August dan Aira pun menengok ke belakang, ia melihat Hedya menggenggam pistol glock 17 miliknya yang kini sudah di modifikasi.
Dor.. dor..
Hedya kembali menembakan senjatanya mengarah ke dua kaki Mordo yang ingin mencoba bangkit, ia pun rubuh kembali.
"Bagaimana bisa..? kalian makhluk rendahan..!" Mordo masih tak percaya peluru itu bukan saja melukainya tapi juga melumpuhkan kekuatannya.
Sementara pasukan yang dikirimkan Ellias berhasil mengamankan Nando dan tujuh orang lainnya.
"ada kata-kata terakhir?" tanya Hedya pada Mordo.
"kau.. kau wanita yang bersama Logos.. si.. siapa kau seb..?"
Dor!
Sebuah peluru menembus kening Mordo tanpa menunggu kalimatnya selesai terucap. Mordo tewas dengan membawa rasa penasarannya.
"Ayah.. aku sudah membalaskan dendammu..!" Hedya pun menangis.
August dan Aira dibuat terkejut dengan apa yang dilakukan Hedya, bagaimana senjata itu melukai Mordo dan mengetahui bahwa Mordo orang yang membunuh ayahnya.
Aira memeluk Hedya meredakan tangisannya.
"Tuan August, bagaimana dengan mereka?" tanya Leo.
"Bukankah sudah kuperintahkan di awal?" jawab August.
Leo mengangguk.
dor.. dor.. dor..
ketujuh orang yang bersama Nando tewas kini hanya menyisakan Nando seorang.
"Kau pikir bisa lolos kali ini, kau tak kan bisa lari lagi." kata Nando.
"Aku tak pernah lari, bahkan aku akan datang menghadiri acara bos mu besok dan memberinya hadiah." kata August.
"Leo penggal kepala Mordo jadikan hadiah untuk acara keluarga Longstaf." kata August.
"baik, tuan." kata Leo.
"Tunggu biar aku yang melakukannya." kata Hedya.
Nando yang melihat apa yang di lakukan Hedya seketika merasakan ketakutan.
"a.. a.. August aku hanya menjalankan perintah, ampuni aku, lepaskan aku..!" Nando memohon air matanya keluar.
Dua jam kemudian.
"Hedya bagaimana senjata itu bisa melukaiku Mordo?" tanya Aira.
"Ibuku bercerita jika tidak semua orang yang berasal dari proxima kebal terhadap senjata dunia ini, beliau pernah bertarung melawan Mordo ia tau kelemahan Mordo, aku memodifikasi pistolku dan menggunakan peluru emas dan juga menyalurkan energiku ketika menembak." ungkap Hedya.
"itu mirip senjata Armeda." kata Aira.
"Pendiri klan Armeda adalah salah satu murid Calanis sedangkan Lady Lyra adalah keturunan Calanis" August menambahkan.
"Bagaimana kau tau?" tanya Hedya.
"aku akan kembali ke tempat ibuku, berhati-hatilah kalian berdua." kata Hedya lalu pergi mengemudikan mobilnya.
"Tuan August apa ada lagi yang harus kami lakukan?" tanya Leo.
"tidak, pastikan saja rencana ini berjalan lancar." kata August.
"siap, tuan." kata Leo memberi isyarat lalu mereka pun pergi.
August dan Aira pun pergi meninggalkan area tersebut.
"kemana kita pergi?" tanya Aira.
"kerumahmu, aku malas mencari hotel." kata August.
Aira tersenyum, wajahnya terlihat memerah ketika imajinasi aneh muncul di benaknya.
Empat puluh menit kemudian mereka sampai.
"Dimana pamanmu?" tanya August.
"pamanku pergi ke proxima, hanya sesekali ia berkunjung ke rumah ini." kata Aira.
"tempat ini sangat rapi." kata August.
"aku menyewa orang untuk membersihkannya setiap pagi, kau bisa menggunakan kamar ini, ada kamar mandi di dalamnya.. kau bisa membersihkan dirimu sebelum..."
"sebelum apa?" potong August.
"itu.. yang kau lakukan pada Aruna.." kata Aira.
"owh baiklah.." kata August canggung.
lima belas menit kemudian August sudah membersihkan dirinya. ia ingin mengecek ponselnya, belum sempat melakukannya terdengar ketukan pelan di pintu kamar.
"tidak dikunci." kata August.
Pintu terbuka Aira masuk dengan menggunakan pakaian yang membuat August merasa pening dibuatnya. Aira hanya menggunakan tanktop tipis berwarna putih, terlihat samar dua gundukan tanpa pelindung, juga celana gemes mempertontonkan kaki jenjangnya yang aduhai.
"apa yang harus aku lakukan, apa aku harus berbaring?" tanya Aira.
"tidak perlu, kau bisa duduk menyilangkan kakimu." kata August."
Aira lalu berjalan menuju tempat tidur.
"Aku tak mau melakukannya di lantai." kata Aira.
"Ba.. baiklah." kata August sedikit gugup.
mereka berdua duduk berhadap-hadapan. pandangan August menerawang jauh menembus awan melihat pakaian yang sangat tipis di depannya.
glek. August menelan ludah.
"Hey.. apa selanjutnya?" tanya Aira.
"bisa kau buka?" kata August.
"buka?" wajah Aira semakin memerah.
"ehm maksudku tunjukan itumu.. eh rantaimu." kata August.
sial mengapa aku jadi begini. pikir August.
"oh.. apa baju tempurku juga?"
"Jangan" kata August spontan.
"baiklah.." Aira memejamkan matanya sesaat ketika membuka matanya dua rantai emas dengan bilah pisau kecil sudah muncul melilit tangannya.
"Ulurkan tanganmu aku akan menyentuh telapak tanganmu dan menyalurkan energiku." kata August.
"Apakah hanya telapak tangan saja yang kau sentuh?" tanya Aira.
glek.
"i.. iya.." kata August.
mengapa ia bertanya seperti itu. pikir August.
mengapa ia hanya menyentuh tanganku, sedangkan Aruna di sentuh dadanya, apakah dadaku kurang menarik. pikir Aira.
"Hey Aira.., Aira.. mengapa kau melamun?" konsentrasi.
Aira tersadar menahan malu.
"eh i.. iya.. ma.. maaf." kata Aira lalu memejamkan matanya.
August mulai menggenggam telapak tangan Aira dan menyalurkan energinya. tubuh Aira diselimuti cahaya putih keemasan. sedangkan rantainya mengeluarkan sinar merah yang semakin lama semakin terang.
Aira merasakan hawa sejuk di sekujur tubuhnya. ia membuka satu matanya yang kanan ia melihat August terpejam terlihat butir keringat menetes di wajahnya. ia pun memejamkan matanya kembali.
Sekitar dua puluh menit berlalu August menghentikan aksinya, Aira sudah merasakan perubahan pada dirinya. ia merasakan tubuhnya sangat ringan, senjata rantainya terasa berbeda, jika sebelumnya ia menggerakan menggunakan tangannya, kini rantai itu mampu bergerak menggunakan pikirannya.
ini luar biasa. pikir Aira.
August sudah sangat lelah ia akhirnya jatuh di pelukan Aira, ia lalu membaringkan tubuh August. lalu mengecup kening August.
"Terima kasih."
Aira berdiri untuk beranjak pergi, kembali ia melirik August sesaat lalu mengecupnya lagi, kali ini kecupannya mendarat di bibir August. Aira akhirnya meninggalkan August dengan ceria dan semburat merah di wajahnya.
Namun ketika ia membuka pintu kamar. seorang telah berdiri di sana.
"Aruna"