MERCIA

MERCIA
67. Gua Terkutuk.



Sinar merah itu menghantam Aruna, ia terpental hingga membuat tiga pohon di belakangnya hancur lalu jatuh berguling.


Melihat Aruna sudah tak bergerak, Elda melepas penutup wajahnya, menghirup udara bebas, tetapi perasaan dalam batinnya tetap sama, ia masih merasa kosong, ia masih merasakan sesuatu yang hilang dari dirinya, ia kembali memasang penutup wajahnya lalu pergi meninggalkan tempat itu.


Di tengah sisa-sisa kesadarannya, Aruna terkejut ketika melihat Phoenix membuka penutup wajahnya, tampak sosok yang sangat ia kenal.


"Julia.." dengan suara lirih, lalu matanya menutup dan tak bergerak.


**


Sementara itu August melihat di depannya sebuah perbukitan yang sangat luas, ia mengamati perlahan dan akhirnya ia menemukan satu daerah yang memiliki tebing dan batu yang terlihat bening dari kejauhan memantulkan cahaya matahari dengan sangat indah. ia lalu mendarat di bawah tebing itu.


'Hmm.. ternyata tebing dan bebatuan disini terbuat dari batu kristal.' pikir August yang terus mengamati sekeliling tempat itu mencoba mencari keberadaan gua yang dimaksud. ia lalu mulai berjalan mencari gua tersebut, tapi baru ingin melangkah beberapa anak panah melesat menghadang langkahnya.


wut.. wut.. wut.. tap.. tap.. tap..


August terkejut ketika mendapati dirinya sudah dikepung puluhan prajurit dan belasan orang yang tampak terlihat seperti petarung. salah seorang yang terlihat sebagai pemimpin para prajurit itu mendekati August dengan kudanya, ia mengarahkan tombak panjangnya ke arah August.


"aku sudah membawa apa yang kalian pinta, sekarang katakan pada Lazarus segera bebaskan ratu Janessa!" kata lelaki itu lalu nemberi isyarat.


Dua orang prajurit lainnya menghampiri dengan membawa sebuah peti besar, mereka lalu membuka peti tersebut, semua mata memandang ke arah peti itu yang terdapat tumpukan koin emas. August hanya melirik sesaat lalu kembali menatap lelaki itu kembali.


"Apa yang kau bicarakan? siapa Lazarus? siapa ratu Janessa?" kata August.


"Jangan bertele-tele.., cepat bebaskan ratu kami Brengsek..!" kata laki-laki itu emosi.


"Apa kau tuli? aku tidak tau apa yang kau bicarakan?" August pun mulai sedikit emosi, ia ingin segera menemukan gua cermin itu namun orang-orang ini malah menghambatnya.


Lelaki itu semakin marah ia ingin menghujamkan tombaknya ke arah August, namun suara seorang wanita menahannya.


"Tunggu..!"


Wanita itu menghampiri dengan kudanya, ia seorang prajurit wanita, wajahnya tertutup cadar. August mengamati wanita itu. 'wanita ini lumayan kuat, tapi tak sekuat lelaki itu, tapi cukup membuat lelaki itu mengikuti ucapannya, hmm.. siapa dia?' pikir August.


"Apa kau anak buah Lazarus?" tanya wanita itu.


"aku tidak kenal, aku baru mendengar nama itu sekarang?" jawab August.


"Apakah tujuanmu kesini karena mengikuti sayembara?"


"Dengar, aku tidak tau siapa kalian, Lazarus atau siapapun yang ada atau tinggal di daerah ini, aku hanya ingin mencari gua cermin." kata August.


"Gua cermin?" lelaki dan wanita itu terkejut saling pandang.


"Mengapa kau ingin mencari gua terkutuk itu?" tanya lelaki itu.


"Bukan urusanmu, jika kalian memberitahu dimana gua itu, aku sangat berterima kasih, jika tidak sebaiknya jangan menghalangiku." kata August.


Lelaki itu tertawa.


"Hahaha.. apa kau tidak tau sedang bicara dengan siapa?"


"Tuan Drake kau ingin kami memberi pelajaran untuknya?" salah seorang petarung bersuara.


Tetapi lagi-lagi wanita bercadar itu membuat August terkejut, ia hanya mengangkat tangannya petarung itu langsung terdiam.


"Bantu kami membebaskan ratu Janessa, setelah itu aku akan mengantarmu ke gua tersebut dan kau bisa mendapatkan hadiah lainnya." kata wanita itu.


Lelaki yang bernama Drake melirik ke arah wanita itu seolah tak setuju, tapi ia hanya diam tak berani membantahnya.


"Tidak.. kau beritahu aku dulu dimana gua itu setelah urusanku selesai aku akan kembali membantumu."


Drake merasa tak senang mendengar perkataan August, ia menunjuk August dengan tombak yang ia pegang.


"Bicaralah yang sopan padanya."


August menangkap tombak yang di arahkan padanya, ia mengangkat tombak itu dengan kuat membuat Drake terangkat, melayang dan jatuh terpelanting di belakangnya, kini tombak yang sudah direbut itu ia hujamkan beberapa senti dari leher Drake.


Tap.. wut.. bruk.. jleb..


Drake diam tergeletak di atas tanah, mulutnya mengeluarkan darah, ia masih hidup punggungnya terasa patah, kejadian yang sangat cepat itu membuat semua orang tercengang, dan mereka mulai bersiap menyerang August.


"Tahan semua.. jangan ada yang bertindak bodoh lagi." ucap wanita itu kembali.


"Siapa kau sebenarnya?" tanya wanita itu.


Wanita itu membuka tudung dan penutup wajahnya, tampak seraut wajah cantik yang penuh wibawa.


"Namaku Jasmine putri raja Forthus dari kerajaan Gavaria, kami ingin membebaskan ratu Janessa ibuku dari tangan Lazarus."


Seketika semua orang berlutut, kecuali August.


"Orang yang kau lukai itu adalah kakakku Drake." kata Jasmine.


"Gua cermin ada di balik tebing paling besar di sana, namun kau tak bisa menemukan pintu gua di malam hari, gua itu di lindungi mantra sihir dan makhluk-makhluk penjaga di sekeliling gua itu, tak ada yang berani dan berhasil keluar dari wilayah itu hidup-hidup, menurut informasi gua itu tempat menyimpan jiwa seorang penyihir hitam bernama Gessora."


August terkejut mendengar penuturan Jasmine. 'hmm jadi Helena memintaku untuk menghancurkan jiwa penyihir hitam yang bernama Gessora.'


"Sekarang katakan siapa kau? dan mengapa kau ingin mencari gua itu?" tanya Jasmine.


"Namaku Mercia, sebuah kubah hitam muncul di kota Innodale, aku ingin menghancurkan kubah itu, tetapi temanku memintaku untuk mencari gua cermin dan menghancurkan sesuatu di dalam gua itu sebelum menghancurkan kubah tersebut."


"Innodale? itu negeri para penyihir, apa kau seorang penyihir?"


"Aku bukan penyihir, tapi temanku, dia penyihir putih."


Jasmine merenung sesaat.


"Sekarang begini saja, kau ikut dengan kami bermalam, besok kau bisa pergi ke gua itu, tetapi bila Lazarus muncul sebelum kau pergi bantu kami, setelah itu aku dan sebagian lainnya akan pergi denganmu menuju gua itu, tapi sebelum itu sembuhkan kakakku."


"Sepakat." August lalu memberikan sebotol air yang sudah diberi energi penyembuh pada Jasmine.


"Berikan setengah untuknya, dan sisanya kau minum."


Jasmine turun dari kudanya, menerima pemberian August, ia memberikan air itu pada Drake, la pun meminum sisanya tanpa banyak bertanya.


Drake mulai merasakan lukanya berangsur-angsur sembuh, tenaganya pulih kembali. Jasmine sangat terkejut bukan saja karena melihat Drake, ia juga merasakan kekuatannya bertambah.


"Bagaimana mungkin, ini hanya sebotol air?" kata Jasmine.


"Mungkin botol ini punya kekuatan penyembuh" kata Drake.


Jasmine dan Drake melirik ke arah August, yang tampak melihat ke arah tebing besar di kejauhan.


"Hey Mercia.. kau ingin botol ini kembali?" tanya Jasmine.


"Tentu.. setelah kau mengganti isinya."


"Berani sekali dia menyuruh putri raja mengisi air." kata Drake.


"Jika kau tidak ingin dibanting lagi olehnya sebaiknya jaga bicaramu." kata Jasmine.


Drake hanya tersenyum kecut.


Mereka akhirnya menemukan tempat untuk bermalam, para prajurit memasang tenda, August pun diberi tenda untuknya beristirahat, ia hanya merebahkan dirinya dalam tenda itu, ia tak peduli apa yang dilakukan atau dipikirkan orang-orang itu. ia merenung teringat berkemah terakhir kalinya bersama Julia.


'Julia.. seandainya kau tau betapa aku merindukanmu setiap saat.' bayangan tentang kematian Julia tiba-tiba kembali muncul dibenaknya.


'Javelyn, kau akan membayarnya.' August mengepalkan tangannya. ia menarik nafas panjang, mencoba menenangkan dirinya, gejolak amarahnya kembali mereda, tak lama ia pun tertidur.


Sementara itu di sebuah tenda yang cukup besar Jasmine, Drake dan para petarung lainnya berkumpul.


"Maaf putri Jasmine mengapa anda sangat percaya padanya?" tanya salah seorang petarung.


"Apa di antara kalian melihat bagaimana ia muncul di tempat ini?" tanya Jasmine.


"Kami hanya melihat ia keluar dari hutan itu."


"Jasmine apa yang ingin kau katakan? apa yang kau lihat dan kami semua tidak mengetahuinya?" tanya Drake penasaran.


"Kakak.., ketika aku berada di sungai aku melihatnya ia terbang melintasi hutan ini, aku mengikutinya dan melihatnya mendarat pelan sebelum keluar dari hutan itu, apakah kau tau berapa banyak orang yang bisa melakukan itu?"


Drake dan lainnya terkejut.


"Hanya orang yang memiliki kekuatan besar, bahkan Lazarus tak mampu melakukan hal seperti itu, dan apakah kalian semua mendengar bahwa ia ingin menghancurkan sesuatu dalam gua terkutuk itu?"


"Biar kutebak, kau ingin ia bergabung dengan Gavaria?" kata Drake.


"Tentu saja aku ingin itu, tetapi dia terlihat seperti seseorang yang tidak bisa di beli, Aku tidak meremehkan kalian semua, namun saat ini aku hanya berharap besok kita segera menemukan Lazarus ketika orang itu masih bersama kita."