
"Abigor kau sudah mengetahui dimana bajingan itu menyembunyikan kitab itu?"
"Sudah master Voss, ada di sebuah ruangan bawah tanah miliknya."
"Hahaha.. baiklah tetap pada rencana, dia pikir manusia biasa seperti dirinya akan menguasai kekuatan kitab itu, cuih.. Lord Gorran pun mengetahui ia tidak akan bisa, hanya orang yang memiliki darah penyihir hitam murni yang sanggup menguasai kekuatan kitab itu."
"Master Voss apa kau akan membawa kami semua menuju Proxima?"
"Tentu saja Abigor, walau kalian semua adalah hybrid, Proxima lebih layak dari dunia yang hina ini."
"Terima kasih master."
"Tapi master bagaimana jika lelaki itu datang apa kita harus melawannya?"
"Biarkan bajingan itu yang melawannya, setelah ia menggunakan sihir iblis itu, ia akan mati dengan mengenaskan, hahaha.."
Sementara itu di sebuah villa di dekat danau, August tiba, ia melihat belasan mayat tergeletak di sekitar villa tersebut, ia segera berlari masuk ke dalam villa dan berteriak.
"Amara.. Clara.. dimana kalian?"
Amara yang terkejut mendengar teriakan bergegas melompat dari lantai dua.
"Mengapa kau berteriak?"
Melihat Amara muncul August segera memeluknya, membuat wajah Amara memerah.
"kau tidak apa-apa? dimana Clara?"
"Hey.. tenanglah aku baik-baik saja, Clara menemui Ellias untuk segera membereskan mayat-mayat itu."
"Syukurlah, aku sangat kaget melihat mayat-mayat itu."
"Kau khawatir terjadi sesuatu padaku?"
"Tentu saja, mengapa kau masih bertanya?"
Amara tersenyum senang mendengarnya. tak lama berselang dua buah mobil van hitam tiba. Clara bersama Leo dan anak buahnya tiba.
"Bersihkan semuanya, jangan meninggalkan jejak apapun." perintah Leo lalu berjalan mengikuti Clara menemui August.
"Clara.. Leo.." sapa August.
"Mercia mereka menangkap Hedya dan Valery dan membawanya ke daerah kumuh kota ini." kata Clara.
"Aku tau tempat itu." kata August.
"Tuan Mercia, tuan Ellias dan tuan Rafael sudah menemukan siapa sebenarnya lelaki bernama Gerald dan para anggota organisasinya." kata Leo sedikit membungkuk.
"Apa kita segera menyerang mereka?" tanya Clara.
"Ada perubahan rencana, Clara dimana Carrol?" tanya August.
"Dia sudah berada di sana mengawasi."
"Clara kau temui Lyra bawa Oracle jika ia berada disana, katakan pada mereka untuk bergabung dengan Ellias dan lainnya mencari keberadaan kitab iblis."
"Hah.. kitab iblis?" Amara dan Clara terkejut mendengarnya.
"Aku tidak punya waktu menjelaskannya, carilah tempat persembunyian Gerald, ruang rahasia atau apapun." kata August menatap Leo dan Clara bergantian.
"siap mengerti." kata Leo lalu pamit pergi.
Clara pun tak banyak tanya ia lalu membuka portal kembali menuju kuil Murcia.
"Mercia benarkah kitab itu muncul?" tanya Amara.
"Helena merasakannya, ia memintaku membawa kitab terkutuk itu untuk menghancurkannya sebelum jatuh ke tangan pemiliknya yang baru."
"Kita tak punya banyak waktu, ayo pergi." kata August membuka portal lalu masuk ke dalamnya bersama Amara.
**
Proxima kerajaan Gavaria.
"aku tak menyangka dua pemimpin Armeda dan penyihir bersaudara Innodale datang padaku, tapi aku tak mengerti mengapa kami harus bersekutu dengan Galan?"
"yang mulia Forthus kerajaan Galan dan lainnya sedang membentuk aliansi.."
"Aku tidak takut.. kau dengar itu Morwin? mereka pikir baru sekali memenangi pertempuran melawan dua belas ribu pasukan sudah berani menyombongkan diri?" kata Forthus memotong perkataan Nefia.
"Yang mulia, aku rasa ada sesuatu yang telah terjadi dan sepertinya kita belum sepenuhnya melihat dengan jelas." kata Morwin.
"Apa maksudmu ini berkaitan dengan kedua utusan itu?"
"benar yang mulia." jawab Morwin.
"Hmm.. apakah diantara kalian bertiga ada yang mengenal wanita bernama Javelyn dan Zelda?"
"Ze... Zelda..?" Minerva terkejut mendengar nama itu wajahnya seketika memucat, Myla dan Nefia saling berpandangan ketika melihat perubahan ekspresi Minerva.
"Yang mulia aku tau siapa Javelyn tapi aku tidak mengenal Zelda." kata Nefia.
"Wanita iblis... Zelda adalah wanita iblis..!" kata Freya.
"Wanita iblis?" Forthus dan lainnya dibuat terkejut mendengar penuturan Freya.
"Yang mulia apa mereka berdua menemuimu?" tanya Myla.
"Benar.. mereka datang menawarkan sebuah kesepakatan yang sangat menguntungkan kami."
"Baiklah yang mulia, jika memang Gavaria telah menerima kesepakatan dari mereka, tidak ada gunanya kami berlama-lama di sini, kami berempat mohon izin untuk pergi." kata Myla.
"Kalian tidak boleh pergi, sebelum menceritakan apa yang sebenarnya terjadi!" kata Forthus.
"Maaf yang mulia, kami rasa tidak ada gunanya." kata Nefia.
"Aku menghormati kalian berdua pimpinan Armeda, aku tidak mengatakan aku telah menerima kesepakatan mereka, apa kalian menganggapku bodoh?"
Myla melirik ke arah Nefia, Nefia mengangguk.
"Yang mulia Forthus apa yang kalian ketahui dari kemenangan Galan?" tanya Myla.
"Morwin..?"
Morwin maju selangkah.
"ketua Myla, kami mendapatkan informasi kerajaan Galan diserang oleh pasukan pemberontak berjumlah dua belas ribu pasukan, dan mereka berhasil mengalahkannya dengan mudah?" kata Morwin.
"Hanya itu?" tanya Myla.
"Jumlah mereka mungkin benar, tapi tahukah siapa sebenarnya yang ada dalam pertempuran itu?" tanya Myla.
Morwin melirik ke arah Forthus. "kami tidak tau."
"Kedua klan Armeda, pasukan elf dari kerajaan Healon, dan pasukan bumi."
"APA..?!" Forthus terkejut hingga ia berdiri dari singgasananya.
"Kami semua berkumpul melawan pasukan iblis Clawrit yang di pimpin oleh Kallus."
"Clawrit?"
"Bagaimana mungkin, kerajaan Galan bisa meminta bantuan dari kalian juga elf? bagaimana mereka bisa pergi ke dunia Enigma? dan kau bilang pasukan bumi? bukankah mereka sangat lemah?"
"Lemah? tidak semua dari mereka seperti yang anda pikir yang mulia, aku rasa ratu Janessa dan kedua putra putrimu sudah menjadi saksinya."
Janessa, Drake dan Jasmine yang sebelumnya diam sedikit terkejut nama mereka disebut. Forthus memandangi mereka.
"Benarkah seperti itu?" tanya Forthus pada mereka bertiga.
"Ayah.. aku tidak mengerti apa maksudnya, ketua Myla apa maksudmu kami menjadi saksi?" tanya Drake.
"Orang yang menyelamatkan ratu Janessa, adalah orang yang sama yang membuat kami bertarung membantu Galan, dia berasal dari bumi." kata Myla.
"Dan dia juga yang telah mengubah Innodale menjadi basis kekuatan penyihir putih yang di pimpin oleh penyihir agung bernama Helena." Minerva menambahkan.
"Mercia..." kata Jasmine yang membuat semua mata memandanginya.
"Yang mulia Forthus, ini semua bukan tentang Galan, Clawrit sudah bergerak, mereka mengincar kerajaan kecil terlebih dahulu, peperangan besar akan segera terjadi, suka atau tidak Gavaria dan kerajaan besar lainnya akan terlibat cepat atau lambat, Javelyn adalah anak buah Alexys kaki tangan Clawrit. jika anda menerima kesepakatan mereka, kita akan bertemu lagi sebagai musuh di medan perang." kata Nefia.
Forthus terduduk lemas di singgasananya.
"Bisakah kalian menceritakan lebih banyak tentang manusia bumi itu?" pinta Forthus.
"Dia adalah yang terpilih oleh kristal suci, dialah yang menyatukan Armeda, dia telah menaklukan kerajaan Healon, dia telah menemukan Moonheaven yang selama ini dianggap telah musnah. jika kalian mengetahui ramalan Proxima, semua telah terwujud." kata Myla.
"Armeda bersatu? lalu siapa yang memimpin?" tanya Forthus.
"Aruna."
hening
"Yang mulia, puncak ramalan itu adalah kemunculan phoenix, ketua kami telah bertemu dengan wanita itu." kata Nefia.
"Ini berita yang sangat besar." kata Forthus.
"Ayah.., aku tidak ingin kita menjadi budak Clawrit." kata Drake.
"Aku juga, lebih baik aku pergi dari Gavaria." kata Jasmine.
"Kalian berdua tenanglah." kata Forthus memijit keningnya.
"Morwin bagaimana menurutmu?"
"Aku rasa sikap kita adalah kunci untuk langkah yang akan ia ambil selanjutnya."
"Kunci?"
"benar yang mulia, ia ingin kita semua bersatu untuk melawan Clawrit, tetapi menggunakan nama kerajaan Galan akan sangatlah sulit."
"Katakan padaku apa yang diinginkan Mercia? apa konsekuensinya bagi kami?" tanya Forthus.
"Mercia ingin mengetahui dimana kalian berdiri dengan jelas, tidak ada abu-abu, siapapun yang bergabung kerajaan kecil atau besar bila musuh menyerang semua saling membantu, hanya itu ia tak menginginkan lainnya." kata Nefia.
"termasuk Armeda dan Innodale juga elf?"
"Benar."
"Lalu apa yang harus kami lakukan bila kami bergabung?"
"Katakan hal yang sama, pada sekutu kalian saat ini."
Hening.
"Baiklah.. aku memutuskan untuk bergabung dengan kalian semua."
"Terima kasih yang mulia, ini kabar gembira yang sangat baik untuk kita semua."
"Kita akan merayakannya dengan makan bersama malam nanti, sekarang istirahatlah, Jasmine antarkan mereka berempat."
"Baik ayah..!" kata Jasmine lalu pergi bersama Myla dan lainnya.
"Morwin, Drake dan lainnya, kalian tau apa artinya ini semua?" tanya Forthus.
"Kita harus bersiap yang mulia." jawab mereka serentak.
Tak lama berselang Jasmine kembali, ia berjalan menghampiri ayahnya lalu berbisik, Forthus mengangguk sesaat.
"Selain Morwin dan kedua anakku, kalian dipersilahkan untuk pergi."
Janessa pun mengerti, tanpa banyak bertanya ia dan lainnya pergi.
"Ada apa Jasmine? mengapa kau juga meminta ibumu pergi?" tanya Forthus.
"Aku tidak ingin ibu ceroboh, ayah..., ketika aku mengantarkan mereka, nona Freya mengatakan padaku ada salah seorang dari mentrimu memiliki aura sihir hitam, ketua Myla juga menambahkan sewaktu ia berada di Galan, ia mengetahui bahwa sebelum pertempuran panglima mereka telah membunuh puluhan pengkhianat." kata Jasmine.
"Apa? apa dia memberitahu siapa orangnya?"
Jasmine mengangguk.
"Morwin bagaimana menurutmu?"
"Aku tidak tau tentang sihir, tapi memang aku merasakan adanya pengkhianat, peristiwa penculikan ratu Janessa dan aku membuatku berpikir ke arah sana."
"Apa yang harus kita lakukan sekarang ayah?" tanya Drake.
"Ayah nona Freya dan kakaknya bersedia membantu kita menyingkirkan penyihir itu dan ketua Myla juga punya solusi untuk para pengkhianat itu, tapi mereka butuh izinmu, dan sedikit bantuan dari Drake."
"aku izinkan."
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Drake.
"Pergi menuju kerajaan Galan untuk meminta bantuan dua bersaudara Leth dan Legira, kau akan pergi sendiri menggunakan portal yang akan mereka buka." kata Jasmine.
"katakan pada mereka aku bersedia."