MERCIA

MERCIA
37. Kau Tidak Sendiri.



Setelah mengetahui kematian Mordo, Lord Gorran murka, ia menerima laporan dari seorang anggota black eagle yang dibiarkan hidup ketika Aira menghancurkan mereka bahwa August menunggu Lord Gorran di kota Buckland.


Lord Gorran pun memerintahkan seluruh pasukannya bergerak menuju kota Buckland. pergerakan ini membuat panik pemerintah negara Lumeria. mereka takut hal yang terjadi tiga puluh tahun lalu kembali terjadi.


kring.. kring..


Ponsel Hedya berdering, setelah melihat nama di layar Hedya menjawab panggilan itu.


"Halo, Hedya bagaimana situasinya?" tanya kapten Sanders.


"ibuku sudah mengetahuinya, dia masih menyiapkan sesuatu lalu menyusul pergi ke sana." kata Hedya.


"baik, berhati-hatilah." kata kapten Sanders mengakhiri panggilan.


Hedya berjalan menuju basement apartemen tempat ia memarkir mobilnya, langkahnya terhenti. seorang wanita menghadangnya.


"Agen Hedya aku ingin kau ikuti aku sekarang." tanya wanita itu.


"siapa kau, aku tak ada waktu untukmu." Hedya kembali berjalan ke arah mobilnya.


"Tunggu." kata wanita itu. memegangi pundak Hedya.


Hedya secara reflek mengelak berputar lalu mengarahkan tinjunya ke arah wanita itu. wanita itu menangkis dengan tangan kirinya lalu menendang ke arah perut hedya dengan kaki kanannya. Hedya menangkis dengan menendang kaki wanita itu.


Wanita itu berbalik menyerang dengan tinjunya yang sangat cepat. Hedya kuwalahan ia hanya mengelak mundur hingga satu momen tinju wanita itu berhasil mengenai wajah Hedya.


wut.. wut.. buk.. ahh..


"Brengsek!" Hedya mengelap darah yang keluar dari mulutnya. ia segera bangkit membalas serangan yang baru saja ia terima.


Hedya berlari menerjang wanita itu dengan lutut kaki kanannya, wanita itu menahan dengan kedua tangannya, namun ia tak sempat menahan kaki kiri Hedya yang melayang ke arah wajahnya.


tap.. buukk..


wanita itu terpelanting, ia segera meraih pistol di balik pinggangnya ke arah Hedya. tetapi Hedya sudah terlebih dahulu mengarahkan glock emas miliknya ke arah kening wanita itu.


"kau mau coba?" tanya Hedya.


"ok.. ok.. tenang dulu.. kita di pihak yang sama." kata wanita itu mengelap darah dari mulutnya.


"siapa kau?" tanya Hedya.


"Namaku Valery aku sama sepertimu."


"apa maksudmu sama sepertiku?" tanya Hedya.


"aku akan menaruh pistolku, kau tenanglah, aku akan menunjukan sesuatu padamu." kata Valery.


Valery menaruh pistolnya perlahan. ia lalu menggulung bajunya dan menempelkan kedua telapak tangannya ke lantai basement, ia lalu mendekatkan dan merapatkan telapak tangannya sedikit melengkung mengangkatnya perlahan, kini posisi telapak tangannya seperti orang yang menjaga lilin agar tidak padam. setelah ia melepaskan tangannya muncul tornado mini setinggi sepuluh sentimeter.


"Aku sepertimu seorang hybrid" kata Valery.


Hedya tercengang.


"aku tau yang kau pikirkan, kau tidak sendiri" kata Valery.


"kami menunggumu" tambahnya.


"kami?" Hedya bingung.


"ada empat orang lainnya dengan aku dan kau menjadi enam." kata Valery.


"apa maumu?" tanya Hedya.


"ada banyak hybrid di dunia ini, tidak semuanya baik, aku ingin kau memimpin kami melawan mereka." kata valery.


"sudah ada biro yang menanganinya" kata Hedya.


"PE90 tempatmu bekerja? tidak, bahkan mereka ada di sana. kau pikir mengapa Gorran bisa bertahan begitu lama" kata Valery


"apa maksudmu?" tanya Hedya.


"aku akan ceritakan di jalan, menjemput yang lain dan kita pergi ke Buckland membantunya." kata Valery.


"Baik." jawab Hedya. menyimpan kembali pistolnya lalu mereka berdua pergi.


Kota Buckland.


August berdiri di atas salah satu menara pemancar radio. mengamati sekeliling.


'aneh aku sebelumnya merasakan sesuatu tapi tiba-tiba menghilang. ini tidak seperti di danau itu walau samar tetapi stabil. apa yang tersembunyi di kota ini.'


ahh.. sebaiknya aku berlatih saja. August melompat dari menara pemancar menuju ke sebuah atap bangunan di seberang kolam air mancur yang cukup besar, namun ketika ia berada di atas kolam air mancur itu tubuhnya tertarik dan jatuh ke dalam kolam tersebut.


Byur..!


Byur..!


Hah..!


ada yang tidak beres dengan kolam ini. August kembali mencoba bergerak ke tepian kolam namun kali ini ia tidak menggunakan kekuatannya. ia berenang dengan kemampuan manusia biasa. ia berhasil sampai tepi kolam. lalu ia memanjat pembatas kolam.


berhasil juga akhirnya. August lalu melangkah ke arah bangunan yang ingin ia tuju sebelumnya. tapi ketika kakinya melangkah..


Byur..!


August kembali ke tengah kolam. apa yang terjadi? pikirnya. August lalu memejamkan matanya memasuki alam bawah sadarnya. kini ia berada di tengah kolam yang sama dengan pemandangan berbeda. tak ada bangunan hanya pemandangan rumput yang luas. August melompat ke tepian kolam. lalu berhenti mengamati kolam tersebut, tidak terjadi apa-apa. tiba-tiba ia melihat seorang anak lelaki kecil berlari ke arahnya.


"siapa kamu?" tanya anak kecil itu.


"namaku August."


"kau bukan yang aku cari." anak itu meninju perut August. August terpental ke tengah kolam.


Byur!


Sial.. apa karena aku tidak mandi pagi ini. tinju anak itu kuat sekali, anak itu pasti tidak normal. pikirnya. August mencari keberadaan anak itu, tetapi ia sudah menghilang. kemana perginya anak itu.


August kembali melompat ke tepian kolam, anak itu muncul kembali berlari ke arahnya.


"siapa kamu?" tanya anak itu.


"namaku August Garcia."


"kau bukan yang aku cari" anak itu meninju perut August, tapi kali ini ia sudah siap. August menangkap tangan anak itu, anak itu terkejut ia menatap August lalu berteriak.


"Aaaaaaaaaa..."


"Hey tenanglah aku tak kan..." August tersentak ia melihat dari mulut anak itu keluar gelombang sinar menghantam dadanya yang kembali membuatnya terpental masuk ke tengah kolam.


aaaa.. wuus.. buuk.. Byur!


August sangat kesal ia sampai memukul air kolam itu. August kali ini tidak terburu-buru, ia menenangkan dirinya, ia masih mencoba untuk mencari solusi atas masalahnya. August tersentak ia teringat sesuatu. ia lalu melompat ke tepi danau. dan kembali anak itu muncul.


"siapa kamu?"


"namaku Mercia" August meningkatkan kewaspadaannya.


"engkaulah yang di tunggu kakekku, ayo ikut"


August tersenyum lalu mengikuti anak itu yang berlari menuju sebuah gubuk kecil.


"kakek.. kakek.. orang itu telah datang.." teriak anak kecil itu.


Seorang lelaki tua dengan tubuh membungkuk dan rambut memutih keluar dari dalam gubuk. ia mengamati August dengan sorot mata yang tajam.


August memberanikan diri untuk menyapanya.


"kakek yang terhormat tolong katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi, dan aku mohon jangan melemparkan aku ke kolam itu lagi."


kakek itu tertawa mendengar ucapan August.


"hahaha.. itu salahmu sendiri.. bukankah kau sudah punya nama yang baru."


"siapa kalian sebenarnya" kata August.


"aku adalah manifestasi sebuah kunci, dan anak itu adalah sebuah pintu" kata kakek itu.


"aku tidak mengerti" kata August.


"kau bisa membuka sebuah portal, tetapi portal itu hanya menuju ke tempat yang sudah pernah kau kunjungi." kata kakek.


"apakah membutuhkan energi yang banyak untuk membuka sebuah portal?" tanya August.


"cukup besar untuk pemula sepertimu, dan juga membutuhkan waktu sedikit lama, tetapi bila kau berhasil menguasai rahasia di dalamnya. kau bisa melakukan teleportasi dalam satu kedipan mata." kata kakek.


"Mengapa aku?" tanya August.


"karena kau adalah Mercia jiwa yang terpilih, kau bersedia?"


"aku bersedia." jawab August.


kakek dan anak kecil itu perlahan menghilang, berganti menjadi sebuah sinar berwarna kuning, sinar itu semakin besar perlahan membentuk lingkaran portal lalu menghisap August masuk ke dalam portal.


August membuka matanya dia kembali berada di kolam air mancur kota Buckland.


August melompat ke tepi danau setelah menunggu beberapa saat tak terjadi apa apa ia pun melompat ke atap sebuah bangunan lalu mulai berlatih.