MERCIA

MERCIA
82. Kematian yang Menyedihkan.



"Hey Kallus kau masih ingat aku?" kata August.


Kallus menatap tajam pada pemuda yang memanggilnya, ia pun terkejut.


"Kau... tidak mungkin.. kau hanya manusia hina..!"


"Sudah kubilang aku akan mencari kalian dan membunuh kalian semua."


"Hahaha.. kau tak punya kekuatan kristal itu lagi, dan mereka semua tidak akan mampu mengalahkanku."


"Kau tau Kallus, terlalu percaya diri akan menghancurkanmu." kata August dengan seringai di wajahnya.


Kallus melihat seringai itu dan ia merasakan sesuatu.


'aku sudah mengambil kristal itu dari tubuhnya, seharusnya dia tak punya kekuatan itu lagi, tapi dari mana dia memiliki kekuatan itu?'


"Katakan bagaimana kau mendapatkan kekuatan itu?" tanya Kallus tak kuasa dengan rasa penasarannya.


"Ketika kau mengambil kristal itu dari tubuhku, aku pikir semua sudah berakhir, kini aku mengerti alasan mengapa para Master di masa lalu menggunakan kristal itu sebagai media, kekuatan sebenarnya bukan berasal dari kristal itu melainkan berasal dari kekuatan alam di sekitarmu, cahaya, air, angin yang berhembus, emo.."


"Cuih.. kau terlalu banyak omong..!"


"Aku akan menunjukannya padamu." kata August.


Kallus memberikan perintah pertempuran pun kembali pecah. tetapi kini situasi telah berubah.


Lyra dan Carrol serta master Lee telah bergabung dengan August dan lainnya barisan depan, sementara Hedya dan Valery serta puluhan lainnya tetap berada di atas tembok gerbang istana, menembakan ratusan peluru yang membunuh pasukan Kallus, begitu juga dengan Ellias dan Rafael di atas sana. dan kurang dari lima belas menit seluruh pasukan Kallus telah tewas hanya menyisakan ia seorang diri.


Kallus menghentakan tongkatnya ke tanah, namun tidak terjadi apa-apa.


"Kau tidak akan bisa lari Kallus, portal tak akan bisa terbuka di area ini." kata August berjalan mendekati Kallus.


"tidak.. tidak.. aku tidak mungkin kalah dari makhluk hina sepertimu."


"Katakan dimana wanita yang bernama Javelyn, aku berjanji akan membunuhmu dengan cepat."


"Hahaha.. apa kau lupa dengan kata-katamu sendiri? terlalu percaya diri akan menghancurkanmu." kata kallus lalu menghentakan tali kekang hewan tunggangannya.


serigala besar itu lalu berlari ke arah August, Kallus mengarahkan tongkatnya sebuah bola sinar besar melesat, August bersalto sekali kebelakang, tangan kanannya ia ayunkan setengah lingkaran, sabit emas melesat membelah bola sinar, Kallus menghindari sabit itu dengan melompat dari hewan serigala tunggangannya ke samping, sabit emas itu membelah dua tubuh serigala besar itu.


wusss... craatt..


Kallus segera melompat ia mengayunkan tongkatnya, August tidak menghindar, ia hanya mengangkat tangan kirinya.


Duaarrr.. Prang...


Ledakan besar terjadi ketika tongkat Kallus berbenturan dengan sebuah perisai yang tiba-tiba muncul di tangan kiri August, tongkat besi itu hancur menjadi empat bagian, Kallus terpental belasan meter, mulut, hidung dan telinganya mengeluarkan darah kental berwarna hitam. dadanya terasa sesak membuatnya sulit untuk bernafas.


"perisai cahaya.. hegh.. hoek.. cuih.." Kallus mengusap dadanya.


'Nyx apa kau bisa menghilangkan seluruh kekuatannya dan membuatnya tak bisa mendapatkan kekuatan lagi?'


'aku bisa'


Kallus akhirnya bangkit walau dengan susah payah.


"Katakan dimana wanita itu, aku akan segera membunuhmu dengan cepat."


"Hahaha.. bagaimana rasanya kehilangan kekasih, enak?"


August mengepalkan tangannya. 'Nyx sekarang.'


Tubuh August mengeluarkan cahaya keemasan, dari dalam tanah muncul ular naga berwarna emas meliuk-liuk mengelilingi tubuh August kini keduanya menatap tajam Kallus.


Kallus tampak pucat melihat kemunculan ular naga emas itu.


"na.. na.. ga e.. mas..!"


Lyra dan lainnya pun tercengang melihat kemunculan ular naga emas itu, tapi tidak seperti Kallus yang ketakutan, mereka menyaksikan dengan penuh kekaguman.


"apakah ada yang tau bagaimana Mercia berteman dengan naga emas itu?" tanya Lyra.


"Berteman?" Myla sedikit bingung.


Saat ini tidak ada yang tau dan bisa memikirkan bagaimana naga emas itu bersama August, terkecuali satu orang dialah Aruna, ini bukan kali pertama ia melihat seekor ular naga muncul dari dalam tanah, seketika emosi didadanya campur aduk.


'wanita naga itu menyerangku karena rasa cemburu, dan kini Mercia pun memiliki naga, wanita itu mirip sekali dengan Julia, setelah itu phoenix muncul dan phoenix itu adalah Julia, apa yang sebenarnya terjadi? apakah aku harus menceritakan semua itu pada Mercia?' Aruna dalam hatinya.


wusssh...


Angin berhembus sangat kuat ketika sinar hitam itu menghilang, bola sinar yang sebelumnya berwarna hitam telah berubah menjadi kuning keemasan, August menengok kebelakang melihat Lyra dan lainnya, ia membalik badannya dan melepaskan bola sinar di tangannya, bola itu semakin membesar tiba terpecah.


Byarr..


Pecahan-pecahan bola itu menjadi garis sinar lurus melesat masuk ke dalam tubuh Lyra dan lainnya, mereka semua terpental ke belakang.


"Sialan mengapa Mercia menyerang kita, kurang ajar." kata Aira bingung begitu juga yang lainnya.


"Tunggu dia tak menyerang kita, rasakan di tubuh kalian." kata Lyra.


semua mengikuti arahan Lyra.


"Mercia tidak menyerang kita dia mengubah kekuatan Kallus lalu menambahkan kekuatannya dan memberikan kekuatannya pada kita semua." kata Lyra.


"Kau benar kekuatanku seperti bertambah beberapa kali lipat." kata Ravenna.


"Hedya.. Valery.. Apakah kalian juga merasakannya?" tanya Lyra..


Hedya melirik ke arah Valery, Valery mengangguk.


"Kami juga merasakannya." kata Hedya.


"Apa yang telah kau lakukan padaku?" tanya Kallus.


"Kau sebelumnya mengambil kekuatan kristal itu dari tubuhku, dan saat ini aku melakukan hal yang sama, aku mengambil kekuatanmu, merubahnya lalu aku bagikan pada mereka semua."


"Bajingan.. kembalikan kekuatanku..!"


"Merengeklah seperti anak kecil, jika aku tersentuh mungkin aku akan mengembalikan kekuatanmu."


Kallus menghentakan tangannya berkali-kali ke arah August, tak terjadi apapun, kekuatannya benar-benar lenyap.


"aku akan membalas semua ini."


"kau tidak akan bisa, tubuhmu tidak akan mampu lagi, kau lebih lemah dari manusia bumi, seorang anak kecil dari bumi bisa dengan mudah mengalahkanmu." kata August lalu berjalan pergi meninggalkan Kallus yang duduk berlutut.


"Bunuh aku sekarang."


August menghentikan langkahnya. "Aku tidak berminat membunuhmu." ia lalu kembali berjalan.


"Tunggu.. Dia berada di Kuil Neraka di utara, kau bisa menemui wanita itu di sana, sekarang cepat bunuh aku..!"


"Terima kasih atas informasinya tapi maaf penawaranku sudah tidak berlaku lagi." August kembali melangkah tanpa melihat kebelakang lagi.


"Kau benar-benar Bajingan, aku akan membunuhmu." Kallus bangkit ia mengambil sebuah tombak tak jauh darinya, tapi ia terkejut, tombak itu terasa berat ia tak mampu mengangkatnya, ia berlari ke arah lainnya ia mengambil sebuah pedang, hal sama pun terjadi ujung pedang tetap menyentuh tanah walau ia sudah mengangkat gagang pedang dengan susah payah, rasa frustasi dan takut terlihat di wajahnya, ia melihat sebuah pisau belati, Kallus menggenggam erat belati itu ia melihat punggung August.


Hiaaaa... Jleb..


Langkah August terhenti.


Bruuk..


tubuh Kallus ambruk ke tanah, pisau belati ia hujamkan ke jantungnya. semua mata melihat betapa menyedihkan kematian Kallus. August tetap melangkah tanpa pernah melihat ke belakang lagi.


"Bibi apa yang sudah terjadi?" Dior tersadar.


"Ini semua sudah berakhir, kita berhasil mengalahkan mereka." kata Ravenna.


August melihat Dior dan Ravenna, ia pun menghampirinya.


"Maaf aku terlambat, aku tak bisa menyelamatkan..."


"Apa yang kau bicarakan? jika tanpamu mereka semua tak akan berada di sini, dan kami sudah binasa." kata Ravenna.


"Tuan Mercia terima kasih." Dior mencoba berlutut sambil memegang tangan kirinya yang patah.


August menahan Dior dengan menarik kerah baju di balik baju zirahnya.


"Jangan berlutut di depanku, aku tidak suka, kau adalah seorang raja sekarang, bersikaplah seperti layaknya seorang raja, raja yang besar dan bijak atau aku akan menggantungmu di depan gerbang istana.


Dior dan Ravenna tertawa.


"aku tak akan mengecewakanmu tuan Mercia." kata Dior.