MERCIA

MERCIA
44. Bunga Edianna.



"August telah mati, namaku sekarang Mercia."


"baiklah Mercia, aku senang kau akhirnya telah mengakui jati dirimu sebenarnya." kata Carrol.


Tidak ada yang mengerti apa maksud Carrol, namun semuanya terlihat senang melihat tak ada lagi raut kesedihan di wajah August.


"Master Lee bangunlah jangan berlutut di depanku lagi."


"maafkan aku, tuan August, maksudku tuan Mercia, aku, Ellias dan Leo akan mengabdikan diri kami padamu."


"terima kasih, aku akan bicara pada kalian nanti, aku akan melihat kondisi Lady Lyra terlebih dahulu."


pandangan August tertuju pada dua orang di belakang Clara, mereka adalah Rafael dan Nora.


"Mercia" sapa Rafael.


"tidak untukmu saudaraku, kau boleh memanggilku apapun."


"aku turut menyesal mendengar.." Rafael tak melanjutkan kata-katanya.


"terima kasih." August menepuk pundak Rafael.


"Nora.. aku minta maaf."


"tak ada yang perlu dimaafkan, semua bukan salahmu, apa yang menimpaku dan juga Julia serta lainnya itu tak ada hubungannya denganmu."


"Dengarlah August, Mercia siapapun kau saat ini, kehilangan orang yang kita cintai memang menyakitkan, tetapi kehilangan dirimu sendiri jauh lebih buruk."


"terima kasih Nora." August memeluk Nora.


"Clara temani aku melihat Lady Lyra." pinta August.


"baik"


August dan Clara memasuki ruangan, dimana Lyra terbaring dengan lemah akibat terkena pukulan Alexys. tampak Hedya terlihat sedih.


Lyra tersenyum melihat August sudah kembali ke sedia kala.


"Lady Lyra izinkan aku mencoba mengobatimu."


"Oracle mengabarkan kau telah menerima jati dirimu sebenarnya, apakah itu benar?" tanya Lyra.


August mengangguk pelan.


"Oh.. Mercia kau benar-benar jiwa terpilih.. uhuk.. uhuk.." Lyra terbatuk mengeluarkan darah.


"ibu.." teriak Hedya.


Tangan August mengeluarkan cahaya kehijauan, ia bermaksud ingin mengobati, namun Lyra mencegah.


"jangan, racun di tubuhku tidak bisa kau sembuhkan dengan cara biasa." kata Lyra.


"maksudmu?" tanya August.


"Mercia, kau pernah menjanjikan aku dua hal, aku ingin menagih satu darimu?" kata Hedya.


"aku ingin kau menemukan bunga edianna, bunga itu penawar racun untuk luka ibuku."


"apa kau tau dimana aku bisa menemukannya?"


Hedya menggeleng. tiba-tiba terdengar suara seorang wanita. "satu tempat di proxima bernama Moonheaven."


"bibi..!" Hedya memeluk Oracle.


"Namun perjalanan ke sana tidaklah mudah, dan waktumu hanya dua bulan, aku atau Carrol tidak bisa menemanimu." kata Oracle.


"beri tau aku ciri-ciri bunga itu dan katakan bagaimana aku bisa masuk ke dunia Proxima." kata August.


Oracle membuka telapak tangannya, lalu muncul gambaran sebuah bunga seperti hologram. "bunga itu seperti teratai, tetapi tumbuh di darat kelopaknya berwarna emas, di tengahnya tampak mengeluarkan sinar kebiruan. kau hanya bisa menemukannya di malam hari, bunga itu mekar bila terkena cahaya bulan."


"bila aku pergi sendiri bagaimana caranya aku kesana dan kembali tepat waktu?" tanya August.


"Clara mendekatlah!" pinta Oracle.


Oracle mengeluarkan dua buah intan kecil berwarna biru, ia menaruh di kening August dan Clara dan menekannya, sinar kebiruan memancar sesaat lalu menghilang bersamaan dengan intan kecil itu.


"sekarang kau terhubung dengan Clara, pejamkan matamu dan sebut nama Clara maka ia akan terhubung denganmu ia akan mengetahui dimana kau berada dan membukakan portal untukmu, selama kau pergi aku akan mengajarkan Clara bagaimana caranya membuka portal untukmu." kata Oracle.


"bagaimana jika aku ingin menghubungimu? siapa namamu yang sebenarnya? jangan bilang padaku lagi kau punya banyak nama." kata August.


"Mungkin lain waktu, sekarang pergilah kalian bertiga, aku yakin Mercia ingin membicarakan sesuatu dengan semuanya, aku ingin bicara dengan Lyra."


Semua mengangguk, lalu meninggalkan Oracle bersama Lyra.


"aku tak percaya anak itu menggodaku." kata Oracle.


Lyra tertawa mendengarnya.


"kau terlalu lama hidup sendiri, mungkin sudah saatnya kau menemukan pasangan, anak itu mungkin cocok untukmu." kata Lyra.


"Moonheaven hanya tempat mitos, bagaimana mungkin anak itu menemukannya? dan mengapa kau memberikan waktu dua bulan? racun ini hanya mengurangi kekuatanku, tidak akan membunuhku"


"Proxima dua kali lebih besar dari dunia ini, aku hanya ingin melihatnya beradaptasi dengan dunia kita" Oracle mengambil tabung kecil berisi cairan berwarna biru dari balik bajunya, minumlah.. racun itu akan hilang setelah dua hari."


"Apa ini?!"


"Ini adalah larutan bunga edianna, di masa lalu seseorang telah memberikan bunga itu padaku."


"Kau ini.. sebenarnya apa yang kau rencanakan?"


"aku merasa aneh.. seolah-olah ada yang menutup pandanganku."


"apa maksudmu?"


"kau ingat tiga simbol yang kuceritakan padamu? perisai cahaya sudah muncul, tetapi aku hanya bisa melihat simbol ketiga setelah perisai itu muncul." kata Oracle.


"simbol kedua kau bilang adalah burung phoenix, dan ketiga adalah simbol dark elf, lalu apa yang kau temukan?" tanya Lyra.


"simbol ketiga aku menemukan sosok putri yang terbuang, aku tak tau siapa darimana asalnya, yang aku tau dia seorang dark elf" kata Oracle.


"aku merasa ada sesuatu atau orang yang melebihi kemampuanku menghalangi penglihatanku agar aku tidak mengetahuinya."


"Lyra sebenarnya aku ingin kau melakukan sesuatu."


"Apa itu?!"


"aku ingin kau menjadikan tempat ini sebagai benteng mereka dan melatih mereka dengan keras!"


"apa maksudmu?"


"Mercia akan membentuk pasukan, mereka akan mencari orang-orang terbaik dan para hybrid yang satu visi dengan mereka menjaga ancaman dari dua dunia."


"tentu aku setuju walau saat ini mereka baru akan membicarakannya." ucap Lyra.


Satu jam kemudian pertemuan August dan lainnya pun selesai. tampak wajah gembira dan senyum mengembang terlihat pada mereka semua.


Oracle telah menunggu August di dekat air mancur. August pun menghampirinya.


"kau siap?" tanya Oracle.


"tunggu..!"


August dan Oracle menengok ke arah suara. Carrol menghampiri mereka.


"Mercia, ini sedikit uang yang bisa kau gunakan di Proxima." Carrol menyerahkan kantong kecil bertali.


"koin emas?" August membolak-balikan beberapa koin emas itu tampak ukurannya terlihat sama.


"itulah alat transaksi di dunia kami" kata Carrol.


"apakah emas di dunia kalian dan disini berbeda?"


Carrol menatap Oracle keduanya menggeleng "kami tidak tau"


"Ellias kemarilah" August melemparkan satu koin kepada Ellias.


"periksalah apakah unsur logamnya sama dengan di dunia ini!"


"aku bisa memeriksanya di lab?" kata Valery yang juga penasaran ingin melihat koin emas itu.


"apa kau punya uang milyaran dollar" untuk membuat banyak koin itu."


Valery tersenyum malu ia baru mengerti apa yang direncanakan August.


"bila unsur logamnya sama berapa banyak kau ingin aku membuatnya?" tanya Ellias.


"seratus ribu keping jika tak memberatkanmu."


Ellias tersenyum "aku akan buatkan seratus juta keping untukmu!"


"apa se.. se.. seratus juta keping?" Carrol terkejut.


"apa kau sudah siap?" Oracle kembali bertanya.


"aku siap"


Oracle membuka telapak tangannya sebuah portal terbuka terlihat pemandangan berbeda di dalam lingkaran itu. semua memata memandang dengan takjub.


"Hey Ellias buatkan segera seratus juta keping, aku yakin nona Carrol bersedia mengantarkan kita semua liburan ke tempat paling mewah di Proxima." kata Valery.


"sepakat.. apapun maksudmu?" jawab Carrol


August berjalan memasuki portal tersebut ia sempat menengok ke belakang melihat Valery dan lainnya sebelum akhirnya portal itu tertutup dan menghilang.


"Hmm.. Proxima."