MERCIA

MERCIA
61. Penyihir Agung.



Pagi tiba, sinar matahari mulai masuk melalui celah kayu membuat August terbangun. ia terkejut menemukan dirinya dan seorang wanita tertidur tanpa busana disampingnya.


'apa yang telah terjadi?'


August menatap wajah wanita itu. 'hah bukannya dia wanita yang membawa keranjang itu?' August ingin bangun mencari bajunya tapi tiba-tiba Helena menggeliat merubah posisi tidurnya memeluk August.


'sial.. aku tak ingat apa yang sudah terjadi, apakah benar kata Aruna mereka bisa mengendalikan tubuh dan pikiranku?' benak August diliputi banyak pertanyaan.


Udara pegunungan yang dingin membuat tubuh Helena menggeliat mencari tempat yang hangat, satu kakinya kini berada di atas tubuh August, ia pun semakin erat mendekap August, membuat August pening dan membangunkan sesuatu yang seharusnya tertidur hingga.


'sial.. aku tidak bisa berpikir dalam kondisi seperti ini.'


"kalian berdua sudah bangun?" Helena berbisik di telinga August.


August terkejut, ia menengok. "berdua? apa ada orang lain di sini?"


"hihihi.. kau sangat lucu, maksudku ini." kata Helena menggenggam sesuatu, lalu menggerak-gerakannya perlahan.


glek. August menelan ludah, ia merasa malu sekali. tapi ia tak kuasa menolaknya.


"kau suka?" tanya Helena.


August tidak menjawab, Helena tersenyum melihat reaksi August yang hanya memejamkan matanya.


'aku harus berhati-hati bersikap menuruti kemauannya, sampai aku tau dimana Aruna dan Sylvana berada.' pikir August.


Helena bangkit dan memposisikan dirinya di atas August, ia melakukan persis sama dengan apa yang ia lakukan semalam. Helena pun kembali merasakan energi masuk dalam tubuhnya, tetapi energi itu tidak sebesar semalam. mereka berdua akhirnya kembali tertidur dengan membawa beberapa pertanyaan yang ada dibenak mereka.


**


Siang hari.


"Lady Minerva kedua tawanan itu sudah sadar." kata seorang pelayan.


Minerva hanya mengangguk, ia menyudahi makan siangnya lebih cepat lalu pergi menuju ruang tahanan. terlihat Aruna dan Sylvana tergantung tanpa menyentuh lantai, kedua tangannya terikat oleh rantai hitam yang sesekali menyala kehijauan. Minerva mendekati Sylvana.


"Apa yang kau lakukan di Innodale?" tanya Minerva.


"Bukan urusanmu." jawab Sylvana acuh.


"kita lihat seberapa kuat dirimu, aku pasti akan menghancurkannya." kata Minerva sinis lalu menyentuh pelipis Sylvana.


Tubuh Sylvana mengejang ia berusaha sekuat tenaga menahan serangan Minerva untuk menembus pikirannya, hidung, mulut dan telinga Sylvana mulai mengeluarkan darah, Sylvana langsung tak sadarkan diri.


"ternyata kau cukup kuat juga." kata Minerva lalu mulai berjalan ke arah Aruna.


Aruna sudah terlihat pasrah, ia sudah tau apa yang akan terjadi selanjutnya.


"kita berjumpa lagi, aku sudah merasakan kehadiranmu ketika kau menjejakan kakimu di gerbang pertama." kata Minerva.


"Apa maumu?" tanya Aruna.


"Apa elf itu temanmu?"


"aku tak berteman dengan elf."


"Benarkah? aku akan memberimu dua pilihan menjadi pelayanku dengan kesadaranmu sendiri atau menjadi anjingku?" tanya Minerva dengan sorot mata yang tajam.


"Cuih.. aku tak sudi." Aruna meludah ke arah wajah Minerva.


Minerva marah, ia lalu mengarahkan kedua jari tangan kanannya ke arah kening Aruna.


"Aaaaaahhhh..." teriak Aruna.


Aruna menahan sakit luar biasa, kepalanya bagai di hantam batu berkali-kali, kedua jari Minerva mulai mengeluarkan cahaya kemerahan. teriakan Aruna menyadarkan Sylvana, ia ingin membantu tapi ia tak bisa berbuat apa-apa, ia hanya bisa melihat.


Teriakan Aruna terhenti bersamaan dengan terlepasnya belenggu rantai yang mengikat tangannya, Aruna jatuh berlutut satu kaki di hadapan Minerva.


"Kau tau siapa dirimu sekarang?" tanya Minerva.


"Aku Aruna pelayanmu Lady Minerva."


"Bukan.. kau bukan pelayanku.. kau sekarang adalah anjingku.., apa kau mengerti?!"


"aku adalah anjingmu Lady Minerva."


"Hahaha... sekarang tampar pipimu sendiri dengan keras sepuluh kali dan katakan kau meminta maaf."


"Aku minta maaf" plak.. plak.. plak.. Aruna menampar wajahnya sendiri dengan keras membuat darah segar keluar dari mulut dan hidungnya.


"Hahaha bagus.. sekarang bersihkan dirimu, kau telah resmi menjadi anjing penjagaku yang setia."


"Terima kasih Lady" Aruna menyeka darah di wajahnya dengan tangannya.


Minerva melirik Sylvana yang sudah tersadar.


"kau harus bersabar, kau akan segera menyusul temanmu ini, aku ada urusan jadi tak bisa bermain-main denganmu, tapi kau tenang saja aku sangat ingin memiliki anjing dari bangsa elf hahaha." Minerva lalu pergi meninggalkan ruang tahanan itu diikuti Aruna di belakangnya.


Sylvana geram menahan amarah, tiba-tiba bola matanya berubah menjadi merah.


"Sonja tenanglah sekarang bukan saatnya." Sylvana bicara pada dirinya sendiri.


"Ini semua karenamu Sylvana kau terlalu lembut, seharusnya kau membiarkan aku yang melakukan tugas ini"


"jika kau melakukannya akan banyak kerusakan yang terjadi."


"Kau terlalu paranoid Sylvana, biarkan aku keluar sihir wanita itu tak mempan padaku, aku akan mudah membunuhnya."


"Diamlah Sonja, biarkan aku berpikir."


"kau hanya memikirkan lelaki itu, kau suka padanya."


"tidak, aku tidak memikirkannya."


"hahaha kau tidak bisa berbohong, aku ada di pikiranmu aku tau semuanya."


"Diaaaaaammm..!"


**


Sepanjang hari aktifitas August hanya membantu Helena memetik buah, atau membuat adonan roti, membuat dirinya bertanya-tanya.


'apa iya aktifitas penyihir seperti ini? aku tak merasakan sesuatu yang mengancam dari dirinya. jika seperti ini terus aku akan gagal.'


"bolehkah aku bertanya padamu?" kata August.


"tentu saja boleh." jawab Helena.


"kau berjanji tidak akan marah dan merubahku jadi kucing." tanya August ragu.


"hihihi.. kau lucu, selalu menghiburku aku tak akan lakukan itu padamu, aku janji."


"siapa namamu yang sebenarnya?" tanya August.


"bukankah kau sudah bertanya semalam, apa kau lupa?" kata Helena sedikit curiga.


"Maksudku nama aslimu atau julukanmu semacam itu?" kata August menepis kecurigaan Helena.


Helena tersenyum "aku tidak punya nama julukan, semua memanggilku Helena."


'jadi wanita ini bernama Helena.' pikir August.


"apa ada lagi yang ingin kau tanyakan?" tanya Helena sambil meneruskan pekerjaannya membuat roti.


August menghampiri Helena lalu memeluknya dari belakang lalu mencium leher Helena.


"kau ini nakal sekali, apakah kau tidak lihat aku sedang membuat roti?"


"aku ingin bertanya siapa penyihir terkuat di negeri ini?" tanya August.


"jadi kau hanya ingin bertanya itu, penyihir terkuat di negeri Innodale adalah Minerva dan adiknya Freya, namun mereka punya jalan yang berbeda, Freya sangat baik walau sikapnya sedikit dingin, sedangkan Minerva sangatlah kejam." kata Helena.


"bagaimana denganmu apa kau sekuat mereka berdua?" tanya August.


"aku tidak sekuat mereka, tapi bila kau membantuku aku bisa kuat melebihi mereka berdua." kata Helena.


"lalu kau mengikuti jalan yang mana?" tanya August.


"aku adalah pengikut Minerva."


August terkejut ia melepaskan pelukannya dan mundur selangkah, Helena berbalik badan ia merasakan kekhawatiran August. ia lalu mendekati August.


"kau tak perlu khawatir, aku akan melindungimu darinya, dia harus melangkahi mayatku jika ingin mendapatkanmu." kata Helena kembali meniup wajah August.


August merasakan tiupan itu memiliki energi, namun sekarang energi dari dalam tubuhnya sudah menangkisnya.


'jadi begitu caranya wanita ini mempengaruhiku.' pikir August.


"Aku menjadi pengikut Minerva hanya ingin mencari kelemahannya, aku ingin balas dendam." kata Helena lalu memeluk August.


"Balas dendam?" August terkejut.


"Bagaimana jika adiknya Freya membunuhmu?" tanya August.


"aku tak peduli, selama aku bisa membunuh Minerva, semua tujuanku telah tercapai."


"Helena aku bisa membuatmu lebih kuat dan aku akan membantumu mentuntaskan dendammu." kata August.


"Aku memang butuh bantuanmu." kata Helena.


"tapi aku punya satu permintaan." kata August.


"katakan saja aku akan memberikan apapun untukmu."


"Pertemukan aku kembali dengan kedua temanku."


Jantung Helena seperti ditikam karena terkejut mendengar permintaan August. ia mencoba melepaskan pelukannya, tetapi August tidak melepasnya ia justru memeluk Helena lebih erat dan mengusap punggung wanita itu.


"sejak kapan kau sadar sepenuhnya?" tanya Helena.


"sejak aku terbangun pagi ini." kata August.


Helena melepaskan pelukan August, lalu duduk di kursi tertunduk lesu.


"jadi kau sepanjang hari hanya berpura-pura dalam pengaruhku."


"Maafkan aku, tetapi perkenalan kita memang sebuah kebohongan, kau membohongi dirimu sendiri." kata August.


Air mata Helena mulai menetes. "Jika kau ingin membunuhku lakukan dengan cepat, jika tidak pergilah sekarang juga..!"


"Helena aku tidak akan melakukan keduanya." kata August.


"APA MAUMU?!" teriak Helena yang sudah tidak tau bagaimana bersikap.


Tapi teriakan itu dibalas August dengan ******* bibir Helena. Helena tak menduga sebelumnya.


"Helena aku akan membuatmu lebih kuat dari mereka dengan caraku, tapi ini akan terasa sangat menyakitkan, apa kau percaya padaku?" tanya August.


Helena tak menjawab, ia terlihat masih syok, ia hanya mengangguk pelan tanpa mendengar dengan jelas pertanyaan August.


August menggendong Helena dan ke dalam kamar, ia merebahkannya, telapak tangan kanannya ia letakan di atas perut Helena. tubuh August mulai mengeluarkan sinar keemasan, sinar bergerak mengelilingi tubuh August menuju telapak tangan dan masuk ke dalam tubuh Helena.


Helena terkejut mengetahui kekuatan energi August yang tiba-tiba muncul lalu masuk dalam tubuhnya, rasa dingin panas datang silih berganti, dan kini ia merasakan tubuhnya bagai ditikam puluhan pisau.


akkkkhhh....


Kini Helena melihat tangan kiri August mengeluarkan sinar kehijauan yang ditempelkan ke keningnya rasa ditikam puluhan pisau itu mereda. keduanya saling menatap, August kembali ******* bibir Helena. tak lama August jatuh terkulai lemas, Helena menahan kepala August agar tak terbentur sisi ranjang yang keras. Helena perlahan bangkit ia seolah tak percaya apa yang baru saja terjadi, tubuhnya mengeluarkan sinar kebiruan.


"Ini.. kekuatan ini besar sekali." Helena senang bukan kepalang. ia memejamkan matanya kekuatan itu meresap dalam tubuhnya, hanya butuh beberapa tarikan nafas untuk menyerap kekuatan itu, ketika ia membuka matanya kembali ia kembali di kejutkan apa yang terlihat di depannya. tujuh bayangan seperti hologram lelaki dan wanita muncul di sekeliling Helena.


"Ka.. kalian.. bu.. bukankah para penyihir agung terdahulu?"