
August akhirnya menemukan nenek itu, ia melompat menghadangnya.
"Apa yang kau lakukan pada temanku?" tanya August.
Nenek itu mundur selangkah.
August mencengkram pundak nenek itu.
"Tolong jangan perkosa aku"
"Hah.. apa-apaan ini, siapa yang mau melakukannya padamu?!" August terkejut mendengar teriakan nenek itu.
Tiba-tiba nenek itu memeluknya. "dasar nenek gila." August mendorongnya.
Nenek itu tertawa geli tetapi suaranya berubah. "Hihihi.."
August terkejut mendengar suara tawa nenek itu, ia sangat mengenali suara tersebut.
"Helena..!" bentak August kesal.
"Kau mengenaliku juga rupanya" Nenek tua itu berubah ke wujud aslinya yaitu Helena.
"Sebenarnya yang mana wujud aslimu?"
"Hey.. Jangan menghinaku, aku lebih muda dari teman Armedamu dan elf itu."
"Apa yang kau lakukan pada Sylvana?"
"Tenanglah dia hanya tertidur."
"Lalu apa maksudmu melakukan semua ini?"
"kau pergi tanpa pamit denganku." kata Helena menghampiri August.
"Bukankah kita sudah berpamitan di kastil hitam itu?"
"itu belum resmi"
"Maksudmu?"
"peraturannya jika kau berpamitan dengan penyihir wanita seperti aku ini, kau harus menciumku."
"Jangan mengada-ada."
"Aku tidak berbohong."
"Hmm.. baiklah." kata August.
Helena senang, ia langsung memejamkan matanya, setelah beberapa saat dia masih belum merasakan August menciumnya, ia pun membuka matanya, ia terkejut melihat August pergi meninggalkan dirinya.
"Mercia kau mau kemana?" teriak Helena.
"Kembali ke Innodale, aku akan mencium Freya, Minerva dan seluruh wanita di sana."
"Oh gitu.. eh APA...?!! Helena segera berlari mengejarnya.
"Tunggu.. tunggu kau tak perlu melakukannya, cukup aku saja perwakilan."
"Tidak mau." kata August terus berjalan.
"Baiklah.. baiklah.. aku hanya main-main"
August menghentikan langkahnya, lalu menghampiri Helena yang menundukan kepalanya.
"Mercia aku hanya ingin mengucapkan terima kasih padamu, aku ingin kau tau bahwa aku akan selalu berdiri disampingmu."
"Terima kasih Helena, tapi aku harus pergi, waktuku tak banyak."
"aku mengerti, pakailah ini, aku membuatnya khusus untukmu." Helena mengambil sebuah gelang dari sakunya, lalu menyerahkannya pada August.
"gelang itu terbuat dari magnolia emas yang hanya mekar sekali dalam seratus tahun, gelang itu akan memberimu peringatan bila ada sihir hitam di sekitarmu, kau akan mengetahui kelebihan gelang itu seiring waktu, gelang itu juga memudahkanmu membuka portal."
"Helena terima kasih ini sangat luar biasa."
Helena tersenyum, "sekarang pergilah, tapi sebelum itu.."
August mencium bibir Helena dengan panas. Helena seperti tak ingin melepaskannya, ia sangat yakin setelah ini butuh waktu lama untuk bertemu dengannya lagi.
"Helena aku tidak bisa melakukannya sekarang."
"Tidak apa-apa, aku mengerti, pergilah dan jangan lupa mengunjungiku bila kau kembali ke Proxima."
"Aku janji akan mengunjungimu."
Helena kembali tersenyum, tubuhnya lalu perlahan menghilang bagai tersapu angin bersamaan dengan air matanya yang mulai menetes. August kembali ke tempat Sylvana yang masih tertidur. ia lalu menepuk pundak Sylvana dengan energi penyembuh yang membuatnya langsung terbangun.
"Jika sudah makannya, sebaiknya kita lanjutkan perjalanan kita."
Sylvana tampak bingung. "Apa aku tertidur, apa roti ini beracun?"
"Apa yang kau bicarakan? sini biar aku habiskan." August lalu memakan roti yang membuat Sylvana tertidur, namun sebelumnya ia sudah menetralisir apapun yang ada di dalam roti itu.
Sylvana merasa canggung August memakan roti bekas gigitannya.
"Apa bangsa elf tidak pernah berbagi makanan yang sama?"
"tidak seperti yang kau lakukan."
"Maafkan aku, aku pikir tidak masalah."
"Bukan itu maksudku, justru aku sangat senang."
"kalau begitu kita nanti akan memakan roti ini sepotong berdua."
"Jadi kita harus berhemat?"
August mengerenyitkan dahinya menatap Sylvana.
"Apa aku berkata salah?"
"Kau mau mengajariku terbang? aku baru bisa melayang."
"Tentu saja."
"Kalau begitu tunjukan.. bawa aku terbang."
"Sekarang?"
"ya..!"
glek.
"kau ingin aku menggendongmu atau kau memelukku dari belakang?"
"Mana yang membuatmu nyaman?"
"ehmm.. anu.. kau ku gendong saja."
"baiklah."
Sylvana melingkarkan tangannya ke leher ke pundak August, August mengangkat kaki dan menahan punggung Sylvana, ia lalu melompat tinggi.
"Aku tak pernah mencapai ketinggian seperti ini, apakah tidak berat kau menggendongku?"
"Kau tak perlu khawatir, jika pun aku lelah, aku akan minta kau untuk pindah ke punggungku."
"Hahaha.. baiklah."
August pun melesat dengan cepat.
**
Kerajaan Galan.
"Yang mulia Valon Nona Nasyra kembali membawa seratus elf."
"Seratus?" Valon terkejut.
"Apa kau tau kekuatan seorang elf setara dua puluh orang prajurit?" tanya Ravenna.
"Kau salah paham Ravenna, jika pun mereka mengirim hanya sepuluh orang aku tetap senang, ini awal yang baik untuk hubungan dua bangsa."
"Salam raja Valon, maaf ayahku hanya bisa mengirim seratus orang, kondisi Enigma sedang dalam bahaya ada kekuatan besar yang mencoba masuk ke dunia kami." kata Nasyra.
"Kekuatan besar? apakah Clawrit menyerang dunia kalian?" tanya Valon.
"Aku rasa tidak, para tetua merasakan kekuatan itu seperti bukan berasal dari dunia ini." kata Nasyra.
"Nasyra mungkin Mercia bisa membantu kalian nanti, sebelum itu kita harus bertahan, hingga Mercia tiba." kata Aira yang baru saja memasuki ruangan.
"Lalu bagaimana denganmu Nona Aira apakah ada kabar baik?" tanya Valon.
"Sepertinya hal besar telah terjadi, kedua klan Armeda sedang menuju ke tempat ini."
"A.. apa.. keduanya? ini kabar yang sangat baik."
"Raja Valon anda harus tetap ingat kami semua saat ini membantumu karena Mercia, akan ada masanya dimana kesetiaanmu diuji pada masa depan." kata Aira.
"Aku mengerti, Ravenna selalu mengingatkanku, kerajaanku mungkin yang terlemah, tapi aku bukanlah seorang pengkhianat."
Legira tiba-tiba muncul. "Yang mulia Valon mereka sudah terlihat, besok pagi mungkin mereka sudah tiba di depan istana ini."
Suasana ruangan seketika menjadi tegang.
"Legira dimana Leth?" tanya Ravenna.
"Kakakku sedang mengawasi, kemungkinan besar mereka akan mengirim utusan untuk mengamati keadaan istana ini."
"Nona Nasyra aku ingin kau dan pasukanmu jangan sampai terlihat oleh mereka, Ravenna kau dan Nona Aira siapkan semua yang sudah kita rencanakan sebelumnya." kata Valon.
Mereka membubarkan diri, meninggalkan Valon dengan seraut wajah penuh kecemasan.
"Dion.. kemarilah nak.. kau tak perlu bersembunyi."
"kalian pengawal tinggalkan kami berdua sementara."
Para pengawal itu membungkuk lalu pergi.
"Ayah.."
"Dion anakku, aku tak kan mencegahmu untuk ikut berperang, aku tau kau bukan seorang pengecut, tapi ingatlah ini peperangan pertamamu, banyak hal yang harus kau pelajari, jangan pernah berpikir untuk menjadi pahlawan, seorang pahlawan tidak tercipta dalam satu hari, dan bukan kau yang menentukan. kau akan menjadi penerusku kelak, jika kerajaan ini hancur engkaulah yang akan membangunnya kembali, dan aku ingin kau tetap hidup apapun yang terjadi, kau jangan jauh-jauh dari bibimu atau Nona Aira, amati mereka pelajari bagaimana mereka mengambil keputusan. kau mengerti?"
"Aku mengerti ayah, aku tidak akan mengecewakanmu."
"Ada satu hal lagi yang ingin aku sampaikan, setelah melalui ini, akan ada peperangan besar yang akan melibatkan seluruh Proxima, peperangan melawan pasukan iblis, peperangan yang akan tercatat sejarah hingga ratusan tahun kedepan, ketika itu terjadi ingatlah pesanku, apapun yang terjadi tetaplah berdiri di barisan Mercia, kau mengenalnya, dia adalah orang yang mengancam menyeretmu kedepan pintu gerbang istana ini."
"Aku sudah tau ayah, bibi Ravenna pun sebelumnya mengatakan hal yang hampir sama denganmu."
Valon tersenyum. "Baiklah, sepertinya sudah saatnya aku mewariskan pedang ini padamu." Valon menyerahkan sebuah pedang dengan ukiran seperti seekor burung rajawali di kedua sisi bilahnya.
"Pedang ini adalah warisan turun temurun di keluarga kita, jika kau orang yang tepat, kau akan membangkitkan kekuatan di dalamnya."
"Kekuatan apa yang ada di dalam pedang ini ayah?"
"sayangnya ayah tidak tau, aku, ayahku dan kakekku bukanlah orang yang tepat, namun aku berharap kau orangnya."
Dion tampak senang, terlihat dari sorot matanya.
"Apa nama pedang ini?"
"Griffin. sekarang pergilah berlatih dengan pedang itu, lalu beristirahat, esok adalah hari yang panjang."
"Baik.. terima kasih ayah."
Dion melangkah pergi, Valon menatap punggungnya dengan tersenyum bangga.