
Sebuah gua yang berada di dekat sungai tampak mengeluarkan cahaya redup kuning kemerahan, cahaya itu bersumber dari api unggun yang menyala, gua itulah yang ditemukan Sylvana untuk dijadikan tempat bermalam. Sylvana sibuk membolak-balikan daging panggang seekor hewan yang berhasil diburu Aruna, August duduk bersandar pada dinding gua matanya terus menatap Sylvana, cahaya api unggun membuat kecantikan elf itu semakin mempesona, Aruna merasa kesal melihat apa yang dilakukan August ia pun menghampirinya dan duduk disampingnya.
"Jika kau terus menatapnya aku akan mencongkel matamu!" ancam Aruna.
"Kau cemburu?" tanya August.
Aruna diam tak menjawab. walau mereka bicara setengah berbisik telinga Sylvana dapat mendengar jelas percakapan keduanya, beruntung cahaya api mengaburkan wajahnya yang memerah ketika mengetahui August memandanginya. Sylvana tetap tenang pura-pura tak mendengar.
"kau tau di bumi tidak ada elf, tak pernah terbayangkan olehku jika mereka itu ada dan bisa mengenal salah satu dari mereka." kata August.
"culik saja dia bawa ke bumi jadikan pajangan." Aruna semakin kesal.
"huss.. jangan kencang-kencang nanti dia dengar." kata August.
"Biarkan dia dengar." kata Aruna.
"Baiklah aku akan memandangimu saja." August memiringkan badannya lalu menatap Aruna.
Sylvana hanya tersenyum geli menahan tawa, sementara Aruna kini jadi salah tingkah ketika August mulai memandanginya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Aruna.
"Memandangimu." jawab August.
"Bisakah kau bersikap normal?" pinta Aruna.
"Hey.. aku ini laki-laki memandangi wanita cantik sangatlah normal." kata August.
Kini wajah Aruna yang mulai memerah.
"berhentilah menatapku." kata Aruna.
"kau tau mungkin aku akan menculikmu dan membawamu ke bumi lalu kujadikan pajangan." kata August.
"kau membelanya?" tanya Aruna menengok ke arah August.
Kedua wajah itu semakin mendekat perlahan. tetapi menjauh kembali. ketika mendengar panggilan Sylvana.
"Dagingnya sudah matang, apa kalian tidak lapar?"
'mengganggu sekali, aku ingin menampar elf ini.' pikir Aruna.
August dan Aruna akhirnya bangkit menghampiri Sylvana. mereka pun menyantap daging panggang itu.
"Aruna apakah malam hari di Proxima sangat berbahaya?" tanya August.
"Hanya tempat-tempat tertentu, kadang siang hari pun bisa juga berbahaya." jawab Aruna.
"Proxima dua kali lebih besar dari duniamu, masih banyak tempat misterius yang belum terjamah." tambahnya.
"Tempat manakah yang paling berbahaya yang pernah kau kunjungi?" tanya August.
"Innodale, negeri para penyihir, aku hampir kehilangan nyawaku di sana, waktu itu aku mendapat tugas untuk membunuh seseorang aku mengejarnya hingga memasuki tempat itu, masalah muncul ketika kau mencoba keluar dari tempat itu, saat itulah aku tau bahwa tempat itu adalah negeri para penyihir." kata Aruna.
"Apa yang terjadi?" tanya August.
"salah seorang penyihir disana menyukai lelaki yang ingin aku bunuh, aku melawannya dan berhasil mengalahkannya, tetapi dia meminta bantuan seorang penyihir yang sangat kuat bernama Minerva kekuatannya bukan sebatas sihir tapi sanggup mengendalikan pikiran seseorang, beruntung ada seorang penyihir putih membantuku, namanya Freya adik dari Minerva dia telah membebaskanku dari kematian." kata Aruna.
"Menarik, jadi ada dua penyihir kakak beradik yang sangat kuat, hmm.. apa mereka cantik atau berwajah menyeramkan?" tanya August.
Aruna dan Sylvana melirik ke arah August. Aruna melempar tulang ke arah kepala August.
"Apa yang kau pikirkan? jangan coba-coba berpikir pergi kesana!" kata Aruna.
"seperti yang kubilang sebelumnya di bumi tidak ada penyihir, elf atau apapun, semua hanya dongeng. para penyihir digambarkan sebagai seorang wanita tua dengan wajah yang sangat menyeramkan." kata August.
"bagaimana dengan elf?" tanya Sylvana.
"Elf laki-laki digambarkan sesosok yang sangat dingin, kuat, misterius dan tak banyak bicara. sedangkan wanitanya sangat cantik dan sexy."
Aruna kembali melemparkan tulang ke arah kepala August.
"pikiranmu cuma ada wanita cantik dan sexy." kata Aruna.
"sudah kubilang aku ini laki-laki sangat wajar menyukai melihat wanita cantik, tapi aku hanya akan tetap mencintai satu orang." kata August.
Aruna dan Sylvana melirik August namun tanpa sengaja pandangan keduanya justru bertemu.
suasana seketika menjadi hening.
"Sylvana bagaimana langkahmu selanjutnya?" tanya August memecah keheningan.
Sylvana mengambil peta Moonheaven lalu menunjukan pada August dan Aruna."aku sudah memeriksanya, aku yakin tempat itu ada di balik gunung ini."
"Hah.. gunung emas?!" Aruna terkejut, rasa khawatir seketika muncul di wajahnya.
"kau pernah kesana?" tanya August.
"belum pernah, tapi aku tau jalur menuju kesana, kita akan melewati sisi kanan melewati sebuah gurun pasir." kata Aruna menunjukan jalan dengan jari tangannya pada peta itu.
August dan Sylvana saling berpandangan.
"kau tak salah Aruna? bukankah itu memutar dan sangat jauh dan akan memakan banyak waktu?" tanya August.
"itu jalur yang aku tau." kata Aruna datar.
"Aruna kau pandai bertarung tapi tak pandai berbohong, adakah yang tidak kau ceritakan pada kami?" tanya August.
Aruna menghela nafas panjang.
"Ya jalur itu memutar dan lebih jauh, juga memakan waktu, tapi itu satu-satunya jalan teraman."
"Bagaimana jalur terdekat?" tanya August penasaran.
"Mercia kau lebih kuat dariku, kau bisa mengalahkanku dengan mudah, tapi apa kau sanggup membunuhku?" tanya Aruna.
August terkejut dengan pertanyaan Aruna, ia menghampiri Aruna dan menggenggam kedua tangannya.
"Apa yang kau bicarakan, kau tau aku tak akan pernah melakukan itu padamu. apa yang kau khawatirkan?" tanya August.
"Itulah yang aku takutkan, bila kita lewat jalur terdekat itu, semua akan sia-sia, jalur itu adalah jalan masuk menuju Innodale." kata Aruna.
"kau takut kita tidak akan keluar dari tempat itu?" tanya August.
Aruna mengangguk pelan.
"Mercia.. ketika Freya membebaskanku, Minerva meminta syarat jika aku kembali lagi ke tempat itu, dia akan mengambil alih, jiwa dan ragaku, aku takut dia akan menggunakanku untuk menyakitimu atau menyerang Armeda, dia akan merasakan kehadiranku, pikirannya terhubung dengan pikiranku."
"dia juga pasti akan mengincarmu dan membunuh Sylvana, dan kau akan terus berada disana." kata Aruna.
"Aruna aku ingin mengikuti saranmu, tapi aku tak punya banyak waktu, aku menyadari ada perbedaan waktu di antara dunia Enigma dan Proxima mungkin bumi juga." kata August.
"Mercia apakah kau tak mengerti?" kata Aruna.
"Kau yang tak mengerti Aruna, walau terasa berat bagiku, aku menerima takdir bahwa kristal ini memilihku untuk satu tujuan, kau, Aira dan lainnya
sangat percaya bahwa aku akan mengalahkan kekuatan iblis di duniamu, mengapa kau harus takut dengan sekelompok penyihir itu? apa kau tak lagi percaya padaku?" kata August mengusap butir air di sudut mata Aruna.
"Mercia.. aku tidak takut mati, aku pernah mengatakan padamu aku rela mati untukmu...., baiklah kita akan lewat tempat terkutuk itu." kata Aruna.
"Terima kasih." kata August.
"kalian berdua beristirahatlah, aku yang jaga pertama." kata Sylvana lalu berjalan ke luar gua.
"Aruna kau tak perlu khawatir, aku akan menjagamu." kata August.
Perasaan hangat mengalir pada diri Aruna mendengar August akan menjaganya, selama ini ia harus berjuang sendiri, rasa lelah itu selalu hilang ketika ia bersama August. lamunan Aruna buyar ketika bibirnya diserang August. Aruna pun membiarkan tangan August berpatroli kesana kesini. Aruna pun tak tinggal diam tangannya mulai aktif mencari tiang pemancar.
Sementara di luar gua, Sylvana memandang langit malam, dengan perasaan yang tak bisa dilukiskan.
'Ibu.. semoga kau masih hidup, aku akan kembali padamu bersama jiwa yang terpilih.