MERCIA

MERCIA
31. Menyerang Balik.



Royan Psychiatric Center.


"Selamat siang tuan August, namaku Diana sekretarisnya tuan Ellias, aku sudah mengurus administrasi untuk pemindahan nona Roberts, kita bisa menjenguknya terlebih dahulu sebelum membawanya pergi." kata Diana.


August baru pertama kali melihat Diana, wanita itu tampak cekatan, wajahnya cantik terlihat ramah dengan senyumnya menawan. rambutnya dikuncir, ia mengenakan blazer, dan rok hampir selutut, dadanya lumayan besar walau tak sebesar Julia.


"Baik.., aku akan menjenguknya." kata August.


Seorang perawat mengantarkan mereka berdua. August miris melihat keadaan Nora duduk dengan tatapannya yang kosong, menangis tertawa dan meracau tak jelas. August menghampiri Nora.


"Nora kau mengenaliku?" kata August memegang kedua pipi Nora.


Nora mengangkat telunjuknya di bibirnya.


"Sssttt.. jangan berisik. aku punya rahasia." kata Nora setengah berbisik.


"Rahasia apa?" tanya August tak kuasa menahan air matanya.


"kok kamu nangis, apa Bryan menyakitimu? hihihi" kata Nora.


"aku August apa kau ingat?" tanya August.


"Sstt.. jangan sebut namanya, nanti dia dengar?" kata Nora.


"siapa yang mendengar?" tanya August.


"penculiknya, dasar bodoh" kata Nora memalingkan wajahnya.


"Nora, aku akan mengeluarkanmu dari sini." kata August.


"Tidak mau.. aku sedang sibuk.. pahlawanku akan datang." kata Nora.


"siapa pahlawanmu?" tanya August.


Nora menengok kanan dan kirinya.


"namanya August." kata Nora.


"aku akan mengantarmu menemui pahlawanmu." kata Diana kini mulai ikut bicara.


"siapa kamu? jangan coba-coba merebut August dariku." kata Nora memandang tajam kepada Diana.


Mendengar itu wajah Diana memerah. August pun dibuat canggung.


"aku tidak akan merebutnya darimu." kata Diana canggung.


"Bagus, bila tidak wanita itu akan memukulmu." kata Nora.


"wanita? siapa dia?" tanya August.


"kamu ini tidak tau apa-apa, sudah pasti penjaganya namanya Aira." kata Nora.


August tercengang, bagaimana Nora tau Aira menjaganya. Diana pun melirik August ia sempat melihat keterkejutan August sesaat.


"Nora, nona ini namanya Diana, dia akan membawamu menemui August, apakah kau mau?" tanya August.


"aku tidak percaya, apa buktinya kalian kenal dengannya?" tanya Nora acuh.


August sempat bingung. namun ia teringat kotak musik di balik jasnya.


"Nora, August memintaku untuk memberikan ini kepadamu, dia ingin kau menjaga kotak musik ini sementara, apakah kau mau?" tanya August.


"mau.. mau.. aku mau.." kata Nora tiba tiba ia menangis lalu memeluk August.


August membalas pelukan itu dengan mengusap punggung Nora dan berkata pelan. kamu akan baik-baik saja. aku janji.


Setelah semua beres. mereka bertiga pergi meninggalkan rumah sakit tersebut, mereka menuju ke sebuah rumah di pedesaan di wilayah timur pedesaan mereka tiba ketika langit sudah mulai gelap.


"kau akan kembali?" tanya Diana.


"Ya, ada sesuatu yang harus kuselesaikan." kata August.


"tunggu, tuan Ellias memintaku untuk memberikan ini padamu." Diana menyerahkan kartu kredit black gold.


"di dalamnya ada dua juta dollar, dan limit hingga sepuluh juta dollar, dan kau tak perlu khawatir nona Roberts akan kami jaga dan dirawat sebaik mungkin." kata Diana.


"terima kasih, mungkin aku tak terlalu sering menggunakannya." kata August menerima kartu pemberian Diana.


"kau bisa menggunakan salah mobil di sana untuk kembali." kata Diana menunjuk garasi.


"tidak perlu, temanku akan menjemputku." kata August.


Tak lama sedan hitam berhenti di depan pintu gerbang. Aira datang menjemput August. sebelumnya Aira mengikuti Aruna namun ia kehilangan jejaknya. ia kembali ke hotel, tetapi August sudah check out. ia akhirnya menghubungi August, August pun meminta untuk menjemputnya.


tin.. tin..


"Siapa dia? apa dia temanmu?" tanya Diana melihat Aira membuka kaca mobil dan melambaikan tangannya.


"itu Aira, aku pergi dulu, terima kasih atas bantuanmu" kata August.


hmm.. jadi dia yang di maksud oleh Nora. kata Diana dalam hatinya.


"darimana saja kau?" tanya August.


"Aruna merasakan ada lima energi besar lalu mencoba mencari tau, ia minta aku mengikutinya namun aku kehilangan jejaknya, entah kenapa dia bisa sangat cepat, sebelumnya ia bercerita bahwa kau melakukan sesuatu padanya. apa yang kalian berdua lakukan?" tanya Aira sambil mengemudikan mobilnya.


"aku menyatukan kekuatan dirinya dan senjatanya." kata August.


"apa kau juga bisa melakukan itu padaku?" tanya Aira.


"tentu." jawab August.


"siapa wanita itu?" tanya Aira.


"Diana, dia sekretarisnya Ellias, dia membantuku membawa keluar Nora dari rumah sakit." jawab August.


"Jadi Nora berada di rumah itu?" tanya Aira.


"benar, mentalnya terganggu, aku yang bertanggung jawab atas semua ini." kata August.


Aira melihat rasa bersalah dan kesedihan di raut wajah August.


"kekuatanku hanya bisa mengobati luka fisik semata." jawab August.


"aku dalam beberapa hari ke depan akan kembali ke proxima, aku akan mencari orang yang bisa menyembuhkannya." kata Aira.


"Benarkah?" tanya August secercah harapan membuat matanya berbinar.


"tentu saja, aku pun mengenal Nora walau tidak dekat sepertimu." kata Aira.


"ngomong-ngomong entah bagaimana ia mengetahui kau adalah penjagaku." kata August.


"hmm.. aku sudah menduga ia punya insting luar biasa, aku beberapa kali berinteraksi dengannya, pertanyaannya memaksaku untuk menghindarinya." kata Aira.


"Baiklah, kemana tujuan kita hari ini?" tanya Aira.


"saatnya menyerang balik"


"kau ingat orang yang memegang tongkat baseball yang menghadang kita waktu itu? kita akan mengunjunginya." kata August lalu mengambil ponselnya dan mengirim pesan teks kepada Ellias.


"aku mengerti." jawab Aira.


August menunjukan arah yang dituju. tak sampai tiga puluh menit mereka tiba, August menyuruh Aira memarkirkan mobilnya di dekat lahan kosong, Aira melihat empat buah mobil MPV hitam.


"siapa mereka?" tanya Aira.


"anak buah Ellias, mereka akan membantu kita." jawab August.


"siapa Ellias itu? aku rasa kita tak butuh bantuannya." kata Aira.


"Ia adalah korban dari kebiadaban Jacky. Oracle menyelamatkannya lima tahun yang lalu." kata August.


"hah.. wanita itu sangat misterius, aku jadi takut." kata Aira.


"bukan saatnya manja." kata August.


"kau ini.. bagaimana pun aku masih seorang wanita." kata Aira.


August dan Aira keluar dari mobil. seorang keluar dari mobil MPV lalu bergegas menghampiri mereka berdua. tampak atribut militer memenuhi tubuhnya, ia menenteng senapan serbu M4 di tangannya.


"Selamat bergabung tuan August, Namaku Leo pemimpin pasukan kecil ini untuk membantumu, kami sudah mengawasi namun situasinya sedikit berubah. dua jam lalu sebuah helikopter mendarat di atap gedung tersebut, hanya satu orang yang turun kami tak bisa mengenali wajahnya." kata seorang sepertinya mantan tentara.


"bisakah aku melihat rekamannya?" tanya August.


"tentu, kami juga sudah membersihkan cctv beberapa blok dari area kawasan ini, kedatangan anda tidak akan terdeteksi oleh mereka." kata prajurit itu lalu memberi isyarat pada yang lain untuk keluar.


tiba-tiba sebuah sedan hitam melaju pelan kearah mereka dan berhenti. seluruh pasukan yang berjumlah sepuluh orang tersebut serentak mengarahkan senjata ke arah mobil itu.


"TAHAN." kata August.


pintu mobil terbuka, seorang wanita keluar.


"Hedya..?" August dan Aira bersamaan.


"orang itu bernama Mordo." kata Hedya.


"bagaimana kau tau apa yang kami bicarakan?" tanya August.


Hedya mendekati August dia merapikan kerahnya lalu mengambil chip kecil di balik kerahnya dan menunjukan kepada August.


"Kau tega sekali." kata August dengan sedikit kesal.


"Aku mengawasi pergerakan Mordo, jangan lupa dia pembunuh ayahku." kata Hedya.


"lalu apa hubungannya kau menyadapku." tanya August.


"Apa rencanamu sekarang?" tanya Hedya sengaja tak menjawab pertanyaan August.


"kau pimpin mereka masuk lewat pintu depan, aku dan Aira akan lewat atas. habisi mereka semua, terkecuali orang yang bernama Nando." kata August.


"Bagaimana dengan Mordo?" tanya Hedya.


"Kita bisa coba membunuhnya." kata August.


"Baik" Hedya tersenyum.


Aira melakukan gerakan dengan tangannya. tubuhnya tampak bercahaya, cahaya tersebut samar membentuk baju pelindung. ketika cahaya itu menghilang Aira sudah tertutup dengan logam tipis berwarna merah. August dan yang lainnya memandang dengan heran.


"Dimana baju tempurmu?" tanya Aira pada August.


"aku tidak punya" jawab August.


"ayo pergi" ajak Aira.


"Tuan August bagaimana anda pergi ke atap gedung itu?" tanya pimpinan pasukan.


August tidak menjawab. ia berjalan santai lalu melompat di susul Aira. dalam sekali lompatan mereka sudah berada di atap gedung sepuluh lantai tersebut.


semua yang menyaksikan kejadian tersebut tercengang dengan rahang terbuka.


"apakah mereka manusia?" tanya Leo.


tak ada yang menjawab, semua melirik ke arah Hedya.


"aku tak punya waktu menjelaskannya pada kalian, kalian ikuti saja perintahnya." kata Hedya.


"siap."


mereka lalu bergerak dalam senyap. sekuriti yang ada di pos depan dan belakakang berhasil dilumpuhkan, begitu juga di dalam lobi.


sementara itu di lantai tujuh gedung.


"Aku membawa pesan untuk bos kalian, dimana dia?" tanya Mordo.


"Kau ini pucat sekali, apakah kau kurang darah? Bos tidak ada di sini, dia sibuk dengan acaranya." kata Nando acuh.


"Bicaralah yang sopan, kau tak tau dengan siapa kau berbicara.


krak..! wuss..!


Tiba-tiba sebuah rantai emas dengan bilah pisau kecil menembus pintu mengarah ke leher Mordo.