
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Nasyra.
August tidak menjawab ia berjalan, menuju sebuah kolam, ia mencelupkan tangannya sesaat lalu menarik tangannya ke atas air kolam terangkat dan jatuh menyebar ke penjuru arah, semua terkena tetesan air kolam itu, luka-luka mereka sembuh raja Thurinor pun heran kini tangannya pulih seperti sedia kala. begitu pula wanita bertudung itu dia semakin penasaran terhadap August.
August kembali berjalan menghampiri Nasyra. "Aku butuh bantuanmu, Apakah kau bersedia?"
Nasyra sedikit terkejut mendengar permintaan August, ia melihat ayahnya Thurinor yang kini sudah berdiri tanpa terlihat pernah terluka. Thurinor mengangguk seolah memberi izin untuk memenuhi permintaan August.
"apa yang kau ingin aku lakukan?" tanya Nasyra.
"Temuilah Aira, katakan aku temannya mengabarkan sebuah pesan bahwa Raja Valor membutuhkan bantuan Armeda." kata August.
"Siapa namamu? dia akan menanyakannya." kata Nasyra.
"Katakan saja seseorang yang pernah berjanji akan berjumpa lagi dengannya." kata August.
"Apa ada lagi?" tanya Nasyra.
"Tidak ada.., kecuali kau tau lokasi dimana aku bisa mendapatkan bunga edianna." kata August.
"Bunga itu sudah punah, bersama hancurnya Moonheaven." kata Thurinor pelan dengan suara yang kini penuh hormat.
"Baiklah aku akan pergi, katakan pada ayahmu jangan minta ganti rugi, aku tidak punya uang."
"tunggu.. kemana kau akan pergi?" tanya Nasyra.
"Membunuh makhluk danau itu, kali ini gantian aku yang akan mengejarnya." setelah berkata August pun melesat pergi. begitu pula wanita misterius itu. meninggalkan mereka semua dalam keadaan syok.
"Raja Thurinor apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Raegel.
Nasyra melirik ke arah ayahnya, begitu pula Thurinor ia melirik ke arah putrinya.
"Benarkah yang kau katakan semua itu Nasyra? apakah Clawrit di balik semuanya?" tanya Thurinor.
"Benar ayah, begitu pula perpecahan Armeda, karena itulah mengapa kekuatan iblis itu semakin kuat." jawab Nasyra.
"Raegel pulihkan hubungan kita dengan moon elves, segera pergilah!"
"dan lainnya bersihkan puing yang hancur dan bangun kembali."
"dan kau.." Thurinor menunjuk Nasyra.
"dekati dia siapapun dirinya. aku tak keberatan kau bergaul dengannya, aku tak ingin istanaku di hancurkan lagi olehnya."
"apa maksudmu ayah? sudahlah aku pergi." kata Nasyra.
Sementara itu August sudah tiba di tepi danau Dorrior. ia menatap sekilas danau lalu memejamkan matanya ia merasakan suatu energi yang cukup kuat. tiba-tiba ular raksasa berkepala dua itu muncul kembali di hadapan August, tetapi ular itu hanya diam.
"Aku mengetahuinya sekarang, keberadaanmu disini sebatas menjaga sesuatu yang ada di danau ini" August berbicara melalui alam bawah sadarnya.
"Benar" ular itu menjawab.
"Apa yang kau jaga?" tanya August.
"senjata yang mampu membunuh kekuatan iblis."
"Siapa pemiliknya?" tanya August.
"Salah satu penjagamu, kau akan mengetahuinya kelak." kata ular itu lalu menghilang.
August pun membuka matanya. 'salah satu penjagaku? Aira atau Aruna?' pikir August.
"Keluarlah kau tidak perlu bersembunyi lagi, aku tau kau mengikutiku dari istana itu." kata August.
Seorang wanita melompat dari atas pepohonan, wanita itu berkuping lancip, berambut panjang sepinggang berwarna pirang, wajahnya sangat cantik, kulitnya putih mulus, dibalik jubah biru miliknya ia hanya mengenakan pelindung dada yang tidak menutupi perutnya terbuat dari kain berpadu dengan sejenis logam dan menyambung dengan rok mini sebagai bawahannya , kakinya terdapat pelindung hingga lututnya, begitu pula kedua tangannya terdapat pelindung sebatas pundak di keningnya terdapat tiara dengan batu merah. ia menggenggam sebuah busur tanpa tali di tangan kirinya. August menelan ludah ketika jubah milik wanita itu tersingkap angin.
"Mengapa kau mengikutiku?" tanya August.
"aku ingin membuat kesepakatan denganmu." kata wanita itu.
"kesepakatan apa?" tanya August.
"Mencari lokasi Moonheaven." kata wanita itu.
"semuanya berkata tempat itu sudah musnah" kata August.
"Tempat itu masih ada, Moonheaven adalah simbol peradaban dark elf." kata wanita itu.
"Mengapa kau yakin tempat itu masih ada?" tanya August.
"Ras kami menguasai seluruh kekuatan yang dimiliki ras lainnya terkecuali moon elves, setelah penyerangan itu mereka menutup diri dari manusia dan lainnya, hanya kami dark elf yang bisa menemukan Moonheaven." kata wanita itu.
"Jadi kau seorang dark elf? lalu mengapa kau masih butuh bantuanku?" tanya August.
"Aku ingin kau menjadi pelindungku dan penunjuk jalan, aku tidak pernah pergi ke duniamu, sekuat apapun kami para elf tidak akan mampu bertahan seorang diri di duniamu." kata wanita itu.
"Bagaimana kau begitu yakin aku mau menerima tawaranmu?" tanya August.
"Aku mendengar kau sedang mencari bunga edianna." kata wanita itu.
"siapa namamu?" tanya August.
"Sylvana."
"Sylvana.. Aku mungkin bisa melindungimu, tetapi aku tidak bisa menunjukan jalan, bahkan saat ini aku tidak tau bagaimana aku bisa kembali ke Proxima." kata August.
"aku akan mengantar kalian." terdengar suara seorang wanita di belakang mereka berdua.
"Nasyra.. Mengapa kau berada di sini?" tanya August.
"Aku baru tau manusia Proxima itu pelupa, bukankah kau memintaku untuk menemui Aira?" kata Nasyra.
"Apa..?" Nasyra dan Sylvana bersamaan.
"Lalu darimana asalmu?" tanya Nasyra.
August hanya tersenyum.
"Apakah aku tidak layak mengenalmu?" tanya Nasyra sedikit kecewa.
"Tidak bukan seperti itu, kau akan mengetahuinya dari Aira, karena bila nanti kita berjumpa lagi aku ingin kau menceritakan padaku bagaimana ekspresinya." kata August dengan senyum jahat.
"Kau ingin membuatnya terkejut, aku mengerti." Nasyra pun ikut tersenyum.
"sekarang tunjukan bagaimana cara kita semua pergi ke Proxima." kata August.
Nasyra mengarahkan telapak tanganmu ke arah danau, tiba-tiba waktu terasa berhenti, sunyi, tiada angin, riak air terhenti, air danau terlihat menjadi padat di tengah danau muncul sebuah lorong.
"Ikuti aku." kata Nasyra.
August dan Sylvana berjalan di atas permukaan air mengikuti Nasyra masuk ke dalam sebuah lorong, baru selangkah kaki mereka masuk, kini mereka sudah berada di bawah pohon besar yang tinggi menjulang. hanya August yang bingung dengan kejadian yang baru saja ia alami.
"Nasyra waktu itu aku bermaksud mencari tau seberapa tinggi pohon besar ini, aku terbang hingga tubuhku tertarik memasuki kumpulan awan, namun setelah keluar aku melihat seolah-olah ada dunia di atas, kekuatanku hilang dan jatuh ke danau itu."
"itu cara lain memasuki dunia kami, pelindung yang kami ciptakan belum cukup sempurna, masih banyak celah untuk bisa di lalui, dan kekuatan Clawrit yang semakin besar membuat pelindung dunia kami menjadi lemah." kata Nasyra.
"Ketika terjatuh dalam danau itu ada suara seorang wanita yang menyuruhku untuk segera keluar danau itu." kata August.
"itu aku" kata Sylvana.
August dan Nasyra melirik ke arah Sylvana.
"setelah ini aku ingin bicara padamu empat mata." kata Nasyra pada Sylvana.
"Baik." jawab Sylvana.
"Kemana kalian akan pergi?" tanya Nasyra.
Sylvana melirik August.
"tunjukan arah menuju klan Armeda lainnya." pinta August.
"kita menuju lembah sunyi, kedua klan itu dipisahkan oleh lembah itu, ikutilah arus sungai kau akan menemukannya." kata Nasyra.
Mereka pun bergerak walau hanya berjalan santai, satu langkah kaki mereka sejauh puluhan meter. Nasyra berpisah ketika mereka tiba di persimpangan sedangkan August dan Sylvana terus bersama hingga akhirnya mereka menemukan sungai.
Pertemuannya dengan Sylvana telah memberi harapan baru untuk bisa menemukan bunga edianna.
'Mungkin bunga ini juga bisa menyembuhkan mata Amara, hmm.. aku harus menanyakannya pada elf cantik ini.' pikir August.
"Sylvana tunggu.. ada yang ingin aku tanyakan." kata August.
Sylvana menghentikan langkahnya.
"apa yang ingin kau tanyakan?"
"Tentang bunga edianna, apakah bunga itu bisa menyembuhkan mata yang buta?" tanya August.
"Segala penyakit dan racun bisa disembuhkan dengan bunga itu, seharusnya bisa." jawab Sylvana.
"Sylvana jika kita bisa menemukan Moonheaven maukah kau memberikanku dua buah bunga?" pinta August.
"Kau boleh mengambil berapa pun kau mau, sebelum itu katakan siapa sebenarnya dirimu, dan darimana asalmu?" tanya Sylvana.
"namaku Mercia, aku berasal dari bumi." kata August.
"Hah.. Bumi? bukankah itu dunia.."
"Ya dunia dengan penghuninya yang lemah dan hina." August memotong perkataan Sylvana.
"Hey.. aku tidak akan merendahkanmu, di dunia manapun akan selalu ada yang lemah dan hina, yang aku ingin mengatakan bukankah duniamu selalu bercerita tentang keberadaan kami, mengingat kami walau hanya sebatas cerita pengantar tidur."
"Maaf." kata August.
"tidak perlu meminta maaf" Sylvana tersenyum yang membuat kecantikannya bertambah berlipat-lipat ketika August menatapnya.
"ada lagi yang ingin kau tanyakan?"
"ya tentang kau.." kata August.
"Apa yang ingin kau tau?"
"Mengapa tiba-tiba tubuhmu menjadi sangat harum?"
Sylvana tersipu wajahnya memerah.
"keringatku."
"apakah semua elf mengeluarkan aroma wangi sepertimu?" tanya August.
"aku tidak tau, aroma yang kau cium adalah aroma bunga edianna, di waktu aku bayi setiap hari ibuku selalu memandikanku dengan air yang dicampur ratusan bunga edianna, energi dan aroma bunga tersebut meresap dan menjadi bagian dalam tubuhku, aku tak pernah menderita penyakit, tubuhku kebal racun, luka yang kudapat dari pertarungan pun mudah sembuh." kata Sylvana.
"Jadi itu rahasia bunga edianna."
"Dimana ibumu." tanya August.
Sylvana terdiam.
"tidak perlu dijawab, maafkan aku, sebaiknya kita lanjutkan perjalanan."
Sylvana mengangguk, mereka berdua akhirnya melanjutkan perjalanannya.