
Cahaya yang keluar dari gelang itu sangat terang. yang membuat dirinya terkejut adalah ia merasa hanya dia yang melihat gelang itu bersinar. ia melihat sekelilingnya. waktu tiba-tiba terasa berhenti, ia memperhatikan pelayan itu, matanya tak berkedip, ia lalu mengamati dua orang tak jauh di belakang Zelda tampak mereka memiliki masing-masing sebuah pedang yang terselip di balik jubahnya, ia juga melihat seorang yang duduk di pojok mencelupkan tangannya ke dalam mangkop sup di mejanya.
'Apa yang sedang terjadi?'
August lalu melihat ke arah Zelda dan ia benar-benar tercengang, tangan hitam dengan kuku-kukunya yang runcing ke luar dari dalam mangkuk sup di hadapan Zelda dan mencengkram lehernya.
Melihat bahaya mengancam Zelda August mengambil pisau pemotong steik di baki pelayan lalu mengayunkan memotong tangan hitam itu.
wuuttt.. craatt..
tangan hitam itu terpotong, bersamaan dengan itu waktu kembali berjalan normal August kehabisan tenaga, pandangannya gelap ia pun jatuh pingsan. namun sekilas ia melihat seseorang yang duduk di pojok berteriak kesakitan.
**
Innodale.
"Nefia.. apakah kita sudah sampai?"
"kau lihatlah ada beberapa kota di bawah kaki gunung emas carilah kota yang memiliki tiga gerbang dan juga kastil hitam, tenagaku terkuras membuka portal, aku tidak bisa melihat jauh."
"Aku menemukannya, baiklah kau pulihkan tenagamu aku akan cari air dan makanan.
Aktifitas kota Innodale tetap ramai, tapi sekarang ada yang terlihat kontras, sangat berbeda pada saat August mengunjunginya, kota itu terlihat ramah pada setiap pengunjung dari luar.
Di aula kastil hitam tampak berkumpul Helena, Freya dan Minerva serta beberapa orang penyihir lainnya. Obrolan mereka terhenti ketika melihat seorang lelaki paruh baya berjalan menghampiri mereka.
"Ada apa Oswyn?" tanya Helena.
"Maaf Nona Helena di luar ada dua orang tamu besar ingin menemui anda."
"Tamu besar? siapa?"
"dua pimpinan Armeda, ketua Myla dan ketua Nefia."
"kau bilang keduanya?" tanya Freya.
Mereka bertiga saling berpandangan.
"Benar Nona, aku juga terkejut ketika menemuinya."
"Apakah mereka ingin menuntut balas padaku?" tanya Minerva.
"Tenanglah kak.. aku akan membelamu dengan menjelaskan semuanya." kata Freya.
"Biarkan mereka masuk, kita tidak akan tau sebelum kita bertanya."
Oswyn membungkuk ia lalu pergi.
Tak lama berselang Oswyn kembali mengantarkan keduanya dan kembali pergi.
"Kami tak menyangka akan kedatangan dua ketua Armeda yang terkenal itu." kata Freya.
"Kau terlalu memuji, kami sekarang bukan ketua Armeda lagi." kata Nefia.
"Kedatangan kami..."
"Tunggu.. apa maksud kalian berkata bukan ketua lagi? apa ada pergantian pimpinan? siapa nama kedua orang yang menggantikan kalian?" tanya Helena.
"Kami akan menjelaskannya, tapi sebelum itu kedatangan kami ingin menemui seseorang yang bernama Helena, kami datang sebagai utusan." kata Myla.
"Utusan?"
"Apa kalian ingin menuntut balas atas perbuatanku terhadap Aruna?"
"Minerva tenanglah." kata Helena.
"Sebelumnya Aruna memang bawahanku, aku tidak tau apa yang telah kau lakukan padanya, jika pun aku tau kedatangan kami tidak ada hubungannya dengan itu, semua itu adalah masa lalu, ada hal besar melebihi apa yang kau pikirkan sekarang." kata Nefia.
"Semua tahan diri kalian sekarang juga, aku yang bernama Helena, sekarang bisakah kalian jelaskan apa yang terjadi dan maksud kedatangan kalian?"
"Nona Helena dan semua, kami sudah bukan lagi ketua Armeda, Aruna.. dialah pemimpin kami yang baru." kata Myla.
"Siapa satunya lagi?" tanya Helena.
"Tidak ada, dialah pemimpin tunggal."
"Apa..? jadi maksudmu..."
"benar.., Armeda telah bersatu di bawah pimpinan Aruna dua hari yang lalu."
Helena dan lainnya terkejut mendengarnya.
"Armeda bersatu? itu sebuah berita besar." kata Freya.
"Nona Helena.."
"Panggil saja Helena."
"Baiklah.. beberapa waktu lalu kerajaan Galan di serang oleh pasukan iblis yang mengakibatkan terbunuhnya raja Valon. mereka ingin menjadikan tempat itu basis kekuatan pasukan mereka untuk menaklukan kerajaan lainnya, tetapi kami semua berhasil mengalahkan mereka."
"Benar.."
"Aku tak mengerti, kalian bilang Armeda bersatu dua hari yang lalu, lalu bagaimana kalian berdua bisa berada di sana sebelumnya? mengapa Armeda harus terlibat dengan kerajaan kecil itu" tanya Helena.
"Bukan hanya kami berdua, melainkan putri raja Thurinor dari Enigma, Nasyra dan pasukannya juga ada di sana."
"Elf? mereka di sana?"
"Benar salah satu alasannya mengapa kami semua membantu Galan juga sama dengan alasan kami menemuimu." kata Nefia.
"apa itu?" tanya Helena.
"Mercia."
Helena dan lainnya terkejut mendengar nama itu.
"Mercia?"
Diantara yang lainnya, hanya Helena yang sangat emosional mendengar nama itu, ia kembali mengenang pertemuannya yang singkat namun penuh arti.
"Helena, kami diutus Mercia menemuimu untuk meminta bantuanmu." kata Myla.
"Katakan apa yang bisa aku bantu?"
"Mercia berpikir, serangan terhadap kerajaan Galan hanyalah sebuah awal, mereka pasti akan menyerang kembali, namun kami belum tau target mereka selanjutnya."
"Lanjutkan."
"Galan telah membentuk Aliansi di bawah instruksi dari Mercia, tetapi mereka yang bergabung hanyalah kerajaan kecil, Mercia ingin membentuk Aliansi dengan kekuatan besar. ia ingin kerajaan Gavaria bergabung."
"Gavaria? itu adalah kerajaan besar, mereka tak mungkin punya keinginan untuk bergabung." kata Minerva.
"Semua berpikir seperti itu, tapi tidak dengan Mercia." kata Nefia.
"Minerva aku memang baru bertemu dengan Mercia sebentar, tetapi dalam waktu singkat itu aku melihat sesuatu yang bahkan aku sendiri hampir menolak untuk percaya. aku tidak tau isi kepalanya tetapi aku yakin dia mengetahui sesuatu memiliki alasan kuat." kata Helena.
"Helena, kau benar.., Mercia mengetahui sesuatu tentang Gavaria, dan dia sangat yakin kerajaan besar itu mau bergabung, karena itulah kami menemuimu untuk menjemputmu pergi menuju kerajaan Gavaria."
"Apa maksudmu? kau ingin aku meminta mereka bergabung dengan Galan?"
"Mercia, pernah menyelamatkan ratu Janessa, dia juga mengenal kedua putra dan putrinya Drake dan Jasmine. Gavaria sangat menginginkan bersekutu dengan Innodale, karena itulah Mercia membutuhkan bantuanmu." kata Myla.
"Jika Mercia mengenal mereka, mengapa mereka ia masih membutuhkan bantuanmu Helena?" tanya Freya.
"Aku tidak tau." jawab Helena.
hening.
"Aku pikir, biarpun ia mengenal mereka bertiga itu hanyalah hubungan pribadi, sedangkan mengajak mereka bergabung itu adalah keputusan besar, Mercia harus meyakinkan mereka." kata Nefia.
"masuk akal." kata Minerva.
"bagaimana Helena apa kau bersedia membantu?" tanya Myla.
"tentu saja aku bersedia, aku sudah berjanji padanya akan berdiri di sampingnya ketika pertempuran melawan pasukan iblis dimulai."
Nefia dan Myla saling berpandangan.
"Tetapi aku tidak bisa pergi dengan kalian berdua, aku bukanlah orang yang tepat."
"Lalu..?" Myla sedikit bingung.
"Minerva kau pergi bersama mereka berdua." kata Helena.
"Hah.. aku?"
"Ya.. selama ini kau di kenal sebagai penguasa Innodale."
"Tapi kau lah pemimpin kami sekarang."
"Mereka tidak mengenalku, tapi mereka mengenalmu, Mercia membutuhkan kita untuk meyakinkan Gavaria, jika aku atau Freya yang pergi mereka akan ragu, tapi bila kau yang pergi mereka akan mendengarkan, mereka pasti terkejut melihat dua pemimpin Armeda dan penguasa Innodale datang ke kerajaan mereka."
Myla dan Nefia melirik satu sama lain dengan senyum.
"Baiklah.. aku akan pergi."
"Jangan merasa terpaksa Minerva, anggap saja sebagai penebus kesalahanmu terhadap Aruna yang kini sudah menjadi pemimpin Armeda." kata Freya.
"Aku tidak merasa terpaksa, sudah cukup lama aku tidak pergi meninggalkan Innodale, apa yang telah aku lakukan di masa lalu, pasti akan banyak yang mengincarku."
"Kami berdua akan melindungimu, kita akan saling menjaga." kata Myla.
"Tidak.. kalian jangan salah paham, aku tidak takut. aku berpikir ini pasti akan sangat menyenangkan, beri aku waktu untuk mempersiapkan segalanya."
"Kau memang aneh kak.. hahaha."