MERCIA

MERCIA
74. Istana Emas.



"Mercia bukan maksudku untuk tidak sopan, tetapi aroma parfum istrimu itu terbuat dari bunga edianna, dan ia menunjuk bunga itu, tidak semua orang mengetahui nama asli bunga itu, tetapi kalian tau, dan jika tebakanku tidak salah, kalian pasti berasal dari Proxima, kalian masuk ke tempat ini melalui celah gunung emas itu."


August dan Sylvana tercengang mendengar penuturan Ralf.


"Kau benar Ralf, semua yang kau katakan benar." kata August.


"Untung kalian bertemu aku, jika kau bertemu dengan orang dari kerajaan itu kalian akan celaka, terutama istrimu."


"Terima kasih, banyak yang ingin aku tanyakan padamu tentang.."


"Dunia ini? kita tak bisa bicara sekarang, pertama aku harus menjual hasil panenku, kedua terlalu bahaya jika bicara di tempat ini. ikutlah denganku, aku akan mengantarkan kalian ke tempat penginapan."


"Baiklah."


August dan Sylvana menaiki gerobak itu.


"Penginapan itu milik sepupuku, jadi kalian tak perlu khawatir tentang biaya sewa, namun aku minta satu hal, setelah kalian berada disana jangan keluar dari kamar itu, terutama istrimu, tetaplah di dalam sampai aku kembali menjemput kalian, sepupuku akan mengatur segala kebutuhan kalian."


"Terima kasih Ralf, tetapi aku masih belum mengerti mengapa kau membantu kami." kata Mercia.


"Aku pernah pergi ke Proxima, di sana aku berkenalan dengan seorang gadis, kami saling mencintai, aku melamarnya dan ingin menikahinya, aku membawa gadis itu untuk aku kenalkan pada orang tuaku, tapi kejadian buruk terjadi, kami bertemu dengan pihak kerajaan, mereka melakukan hal buruk padanya lalu membunuhnya di depan mataku, aku tak mampu menyelamatkannya."


"Aku minta maaf, seharusnya aku tak menanyakannya."


"Tidak apa-apa, itu sudah lama berlalu, aku hanya ingin peristiwa yang menimpaku tak terjadi pada orang lain terutama kalian saat ini."


"Terima kasih kami tak akan lupa kebaikanmu." kata Sylvana.


"Berapa harga bunga ini?" tanya August.


"Jika kau menginginkannya kau bisa memetiknya sendiri nanti, bunga yang kubawa ini hanya bukan seperti yang kau bayangkan."


"Aku tidak mengerti." kata August.


"Bunga Edianna yang memiliki kekuatan hanya bisa didapatkan ketika bunga itu mekar pada saat purnama, kau harus memetiknya di malam hari, sedangkan bunga yang kubawa ini aku memetiknya pada siang hari, itu untuk tambahan membuat sayur dan bahan pembuat parfum."


"Aku mengerti."


Beberapa saat kemudian mereka pun tiba di sebuah kota kecil, mereka berhenti di sebuah bangunan besar tiga lantai.


"ini penginapannya, kita akan menemui sepupuku, kalian bawalah beberapa ikat sayuran itu untuk menyembunyikan wajah kalian."


"baik."


Mereka memasuki penginapan itu, suasana tempat itu tidak terlalu ramai, orang-orang pun terlihat tidak peduli dengan mereka bertiga. Ralf menemui sepupunya, ia berbicara sebentar, sepupu Ralf hanya mengangguk, lalu menemui August dan Sylvana.


"Tetap bawa sayuran itu dan ikuti aku." kata sepupu Ralf. ia lalu menuntun mereka berdua memasuki gudang. di dalam gudang itu terdapat sebuah tangga rahasia yang tersembunyi di atas langit-langit ruangan.


"Naiklah kalian akan menemukan sebuah kamar, ini kuncinya, aku akan mengirim makanan untuk kalian nanti."


"Terima kasih.. ehmm.."


"Namaku Toma."


"Terima kasih Toma."


Mereka berdua menaiki tangga ketika sanpai di atas mereka menemukan sebuah kamar yang letaknya sangat tersembunyi, terhalang tumpukan kayu, kertas dan benda lainnya.


"ini berantakan sekali." kata Sylvana, tapi ia terkejut ketika membuka pintu kamar, kamar itu sangat besar dan rapi, kontras dengan di luar kamar terkesan sempit dan berantakan."


"Mercia apa kau mempercayai Ralf dan sepupunya?"


"Kita tidak punya pilihan, tetapi kita tetap harus waspada, kau tak perlu khawatir aku akan selalu menjagamu."


"Selalu?"


"Tentu saja."


Pada saat ini August dan Sylvana mempunyai pemahaman berbeda dari kata selalu yang baru saja terucap dari mulut August.


"Seharusnya kau minta dua kamar pada Ralf." kata Sylvana.


"Itu salahmu, apa yang ia pikirkan nanti jika suami istri tidur terpisah?"


"Ini sangat konyol, kita seperti di kurung apa yang harus kita lakukan." tanya Sylvana.


"Kau istirahatlah, bersihkan dirimu, dandan yang cantik, aku akan kembali." August membuka jendela lalu melompat keluar.


"Hey kau mau kemana?"


August tak mendengar. Sylvana hanya menarik nafas panjang, lalu menutup pintu jendela kembali.


"Bersihkan dirimu dandan yang cantik apa maksudnya... hahh.. jangan jangan.."


August tidak pergi jauh ia hanya mencari pohon tertinggi, ketika menemukannya ia melompat ke pohon itu, ia mengamati detail sekeliling kota kecil itu, ketika tak merasakan adanya ancaman, ia mengalihkan pandangannya pada istana emas, ia memindahkan dan memfokuskan energi dalam tubuhnya pada kedua matanya, membuat penglihatannya super tajam.


Ia terus mengamati situasi pasar di dalam istana itu, ia melihat Ralf sedang menjual hasil panennya.


Tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara seorang wanita dan sebuah belati tajam menempel di lehernya.


"Jika kau bergerak aku akan memotong lehermu."


"Aku mengerti."


"Siapa kau?" tanya wanita itu.


"Namaku Mercia, bolehkah aku membalikan badanku?"


Wanita itu menekan belati yang sudah menempel di leher August lebih keras.


"Kau tidak dalam posisi bernegoisasi, kau hanya bicara ketika aku tanya, Mengerti..?!"


"baiklah."


Wanita misterius itu menyentuh pelipis August dengan kedua jarinya, seketika August merasa lemas lalu tak sadarkan diri, ketika ia akan terjatuh, wanita itu menangkapnya lalu membopongnya dan melesat pergi dari pohon besar itu.


**


Hari menjelang sore, Sylvana mulai merasakan kecemasan, ia berulangkali berdiri di dekat jendela mengamati keadaan di luar.


'dia bilang hanya pergi sebentar, tapi sudah mendekati senja mengapa ia belum kembali?' pikiran dan hatinya terus berkecamuk.


'Apakah sesuatu terjadi padanya?'


Sylvana tiba-tiba tersentak. 'Ahh.. aku belum mengembalikan perisainya.' kecemasan Sylvana semakin menjadi-jadi.


ia mengambil perisai segitiga yang ia simpan dalam lipatan jubah bertudung miliknya. perisai itu mengeluarkan cahaya kebiruan, Sylvana mengusap perisai tersebut, tapi ia tak sengaja menyentuh ukiran naga emas yang berada di tengah. ia merasakan sengatan listrik kecil pada telapak tangannya. Sylvana mengamati ukiran naga itu.


"Aku tau kau bukan bagian dari perisai ini, keluarlah aku ingin bicara." kata Sylvana.


Perisai di tangannya seketika melayang, berputar pelan melawan arah jarum jam, Aura biru perisai itu semakin tebal lalu di tengahnya muncul sinar kuning keemasan, ukiran naga itu bergerak-gerak lalu keluar dari perisai itu terbang mengelilingi kamar, setiap liukan dan putaran membuat tubuh naga emas itu semakin besar hingga memenuhi kamar. naga emas itu menatap ke arah Sylvana, bersamaan dengan itu pintu kamar terbuka.


"Tuan Mercia aku membawakanmu makan ma.. Aaaaaaa..."


Bruk.. Prang..


Toma jatuh pingsan melihat ular naga besar di kamar rahasia miliknya, dari tempatnya berdiri ular raksasa itu terlihat melilit seorang elf, dan ketika naga itu menengok ke arahnya jantung Toma serasa ingin keluar dari mulutnya.


"Siapa kau berani memanggilku?"


Tak ada rasa takut pada diri Sylvana melihat naga besar di depannya, ia masih dalam posisi duduk di pinggir ranjang seperti semula.


"Namaku Sylvana aku adalah teman Mercia pemilik perisai itu, aku memanggilmu karena aku khawatir sesuatu terjadi dengannya, ia pergi tanpa perisai itu dan sampai saat ini ia belum kembali."


Naga itu menatap tajam Sylvana seolah melihat menembus jiwanya.


"Namaku Nyx, aku melihat kejujuran dalam dirimu, apa yang kau inginkan?"


"Apakah kau bisa mengetahui dimana dirinya?" tanya Sylvana.


"Mercia adalah tuanku, aku mengabdi padanya, aku terikat dengannya namun aku belum menyatu sempurna dengan tubuhnya, aku tak punya kemampuan untuk memasuki pikirannya, terkecuali dia memanggil namaku."


"Apakah tidak ada cara lain?"


"Perisai itu sudah menyatu dengan jiwanya, aku bisa menggunakan sebagai jembatan, tapi butuh kekuatan besar untuk membangunnya."


"Aku bisa membantumu, beri aku waktu sebentar."


Sylvana memejamkan matanya.


'Sonja aku butuh bantuanmu.'


'aku tak sudi menolong lelaki itu.'


'Dia sudah membantu kita sejauh ini untuk menemukan Moonheaven.'


'Biarkan saja, kita tak membutuhkannya lagi.'


'tolonglah, aku akan membiarkanmu mengambil alih selama tujuh hari.'


'tidak mau.'


'sepuluh hari.'


'satu purnama.'


'Hah.. itu terlalu lama, setengah purnama, setelah aku dan Mercia menemukan Moonheaven.'


'sepakat.'


"Baiklah Nyx aku siap."


Naga emas kembali berputar-putar lalu berubah menjadi sinar keemasan dan masuk ke dalam perisai itu, sementara Sylvana kedua matanya dan kedua tangannya mengeluarkan cahaya merah lalu ia memegang perisai itu dan cahaya merah perlahan mengalir menyelimuti perisai.