
"Mercia kita turun di tebing besar itu, sepertinya aku melihat sesuatu."
"apa kau yakin?"
"Ya.. aku ingin memastikan."
Mereka berdua akhirnya turun di sebuah tebing besar.
"Apa yang kau lihat?" tanya August.
"Aku tak tau, aku hanya seperti merasa melihat sesuatu di tempat ini dari atas sana."
"Mercia hutan besar itu di bawah kita ini seharusnya adalah lokasi Moonheaven, tapi.."
"Ada apa?"
"Entahlah aku tidak merasakan apapun di hutan itu, pemukiman dark elf tidak seperti lainnya, sesuatu yang magis selalu menyelimuti tempat kami."
"Apakah tempat kalian menggunakan kubah ilusi?"
"Aku rasa tidak, bibiku tak pernah mengatakan itu."
"Aku hanya tau jika bunga edianna adalah tanda tempat dark elf berada, hmm.. apakah kita akan mencarinya di hutan itu malam hari?" tanya August.
"aku rasa layak dicoba, tapi malam masih lama, apa yang akan kita lakukan?"
"bagaimana jika kita memeriksa area sekitar, mungkin kita bisa menemukan sungai, aku haus sekali." kata August.
Sylvana mengangguk setuju. August bangkit dari duduknya, ketika melangkah kakinya tak sengaja menendang sebuah batu hingga menggelinding jatuh ke dalam jurang. August terkejut, batu yang jatuh itu tiba-tiba melayang naik dan jatuh tak jauh dari posisi sebelum terkena langkah kaki. Sylvana yang menyaksikan peristiwa itu juga terkejut.
"Kau lihat itu Sylvana?"
"aku melihatnya."
August mengambil batu lainnya, kali ini ia melemparkannya, kejadian sama terjadi lagi, batu yang sudah jatuh ke dasar jurang tiba-tiba melayang naik dan kembali jatuh tak jauh dari batu pertama.
August dan Sylvana akhirnya terus mengambil beberapa buah batu dan melemparkannya, mereka seperti menyadari sesuatu namun belum bisa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. lagi-lagi semua batu itu kembali dan jatuh dekat batu pertama dan kedua.
"Mercia kau tau apa yang kupikirkan?"
"Batu-batu ini seperti membuat formasi atau.."
"Simbol." potong Sylvana.
"Cepat lemparkan semua batu yang bisa kita temukan!"
Semua batu baik yang berukuran kepalan tangan atau kerikil di sekitar area itu sudah mereka lemparkan, batu-batu itu membentuk sebuah lingkaran yang terpotong bintang persegi delapan, persis di tengahnya terlihat kumpulan kerikil yang membentuk bulan sabit yang kedua sisi runcingnya menghadap ke atas.
"Kita menemukannya." teriak Sylvana senang tanpa sadar melompat memeluk August.
Sylvana buru-buru melepaskan pelukannya, dengan wajah memerah.
"Maaf.. aku tak bisa menahannya." kata Sylvana canggung.
"tidak apa-apa, aku juga senang, tapi dimana.... hmm tunggu dulu." mata August menangkap sesuatu di tengah simbol tersebut.
"Ada apa Mercia?"
August menyingkirkan debu dan batu kecil di atas kumpulan kerikil yang membentuk bulan sabit.
"Lubang kecil.. ini seperti lubang.."
"Kunci." potong Sylvana. ia membuka kalung dengan bandulan kunci pemberian Freya.
"Freya memberikan kunci ini padaku, kami berdua tidak tau ini kunci apa, tetapi setelah semua ini, kemungkinan kunci ini adalah kunci untuk membuka pintu menuju Moonheaven."
Sylvana memasukan kunci pada lubang itu. kunci itu seperti terhisap seluruhnya masuk ke dalam lubang dan setelah beberapa saat kunci itu terlempar keluar, Sylvana dengan sigap menangkap kunci itu. setelah beberapa raut wajah Sylvana terlihat kecewa, tak terjadi apapun.
"Apa ini kunci yang salah?"
August merasakan kekecewaan Sylvana, karena ia pun juga kecewa, ia sangat yakin sudah sangat dekat dengan Moonheaven.
"Kita akan menemukan kunci itu Sylvana, aku berjanji akan membantumu mencarinya."
"Terima kasih."
Tiba-tiba tanah bergetar.
"Awas gempa." kata August.
"Tidak.. ini bukan gempa.. lihatlah..!" kata Sylvana menunjuk.
August pun kini melihat batu-batu yang membentuk simbol itu melayang lalu jatuh terpencar di sekitar area itu. dan kini di depan mereka tampak sebuah pintu gua kecil dan sempit seukuran tubuh mereka. August dan Sylvana saling berpandangan.
"Biar aku jalan di depan." kata August.
"Tidak, aku yang di depan, jika ada petunjuk tanda atau simbol lainnya, aku lebih mengerti."
"Kau yakin?"
"Kau tak perlu khawatir Mercia."
"Baiklah, tapi kau pakai ini." sebuah perisai segitiga muncul di tangan kiri August, ia melepasnya lalu memberikan pada Sylvana.
"Perisai cahaya?" Sylvana sangat terkejut melihatnya.
"Mercia ini milikmu?"
"ya.. perisai itu memilihku."
"Kau penuh kejutan." Sylvana tersenyum.
"Baiklah mari kita masuk."
Mereka berdua memasuki celah pintu, setelah mereka masuk celah pintu masuk di belakang mereka seketika tertutup, seolah menelan mereka dalam kegelapan, tetapi perisai di tangan Sylvana mulai bersinar terang menerangi jalan yang mereka lalui.
Celah yang sempit itu semakin melebar ketika mereka berdua terus melangkah ke dalam. mereka terkejut kita menemukan sebuah ruangan besar seperti aula terdapat patung besar setinggi sepuluh meter atau lebih. di kanan dan kirinya terdapat sebuah lorong panjang yang gelap, di ujung kedua lorong itu tampak setitik cahaya putih.
"Tempat ini.." kata August.
"Aku tak mengenali tempat ini, Mercia menurutmu lorong mana yang akan kita pilih?" tanya Sylvana.
"Mercia..!" Sylvana memandang August yang terlihat syok.
"Mercia kau kenapa?"
"Tidak apa-apa, kita pergi ke lorong sebelah kanan dahulu, aku harus memastikan sesuatu."
"Katakan padaku ada apa?"
"Aku merasa pernah mengunjungi tempat ini, jika apa yang kupikirkan benar di ujung sana terdapat lima buah kursi."
Sylvana tidak mengerti, namun ia tetap mengikuti August berjalan menelusuri lorong di sebelah kanan tersebut. Ujung lorong semakin dekat, jantung August berdegup semakin kencang, begitu pula dengan Sylvana ia sangat terkejut ketika mereka tiba di ujung lorong tersebut.
Di depan mereka tampak lima buah kursi yang terbuat dari emas dan dihiasi mutiara, walau berdebu orang awam pun akan mengerti pemilik kursi itu bukanlah orang biasa.
"Mercia bagaimana kau bisa tau tempat ini?"
August tak menjawab ia seperti memikirkan sesuatu.
Sylvana melihat August duduk dengan pandangan kosong. ia lalu berjalan dan berjongkok di hadapannya lalu menggenggam kedua tangannya.
"Mercia.. ada apa?"
August menatap mata Sylvana.
"Sylvana ketika kristal itu memilihku mereka membawaku ke tempat ini."
"Mereka siapa?"
"Manifestasi Callon, Calanis, Legolin, Healer dan Pendragon, merekalah pemilik kursi-kursi itu."
Sylvana tercengang.
"Ketika kristal itu memilihku, aku menolaknya, terlebih setelah orang-orang di dekatku menjadi korban, selama ini aku menganggap ini semua hanyalah mimpi, aku berharap seseorang membangunkanku dari mimpi buruk ini."
"Aku mencoba lari dari ini semua, tetapi takdir terus menarikku, tempat ini adalah peringatan untukku."
"Peringatan untuk apa?" tanya Sylvana.
"jika aku lari lagi, akan lebih banyak orang yang menjadi korban, duniamu dan duniaku akan hancur. beban ini terlalu berat untukku, aku takut tak mampu melakukannya."
"Kau tak sendiri." Sylvana memeluk August.
"Akan ada banyak orang berada di sisimu, dan aku adalah salah satunya, aku berjanji padamu." Sylvana menghapus butir air di sudut mata August.
"Apa kita lanjutkan atau kau ingin istirahat dulu sebentar disini?"
"apa kau keberatan?"
"tidak"
"Sylvana apa pendapat temanmu tentangku? apa masih sama?"
"Temanku?"
"Wanita berambut merah."
Sylvana memejamkan matanya sesaat.
"Masih, dia membencimu."
"Membenciku? bahkan aku belum berkenalan dengannya."
"Kau ingin bicara dengannya?"
"Aku lebih suka bicara denganmu."
"Mengapa?"
"entahlah, dari pada bicara dengan temanmu, sepertinya dia menyebalkan."
"Hahaha.. kau jangan membuatnya marah, kau tau ia dapat mendengar kita, mungkin nanti dia akan membunuhmu."
"Apa kau akan membiarkannya membunuhku?"
"Mungkin."
"Huh.. ternyata kau sama saja."
"Hahaha.."
"Sylvana bolehkah aku minta sesuatu darimu?"
"apa itu?"
"apakah kau izinkan aku memegang telingamu?"
"Hah.. permintaan macam apa itu?" kata Sylvana wajahnya mulai memerah.
"Aku juga tidak tau, aku hanya penasaran saja dengan telinga elf."
"Bolehkah?"
Sylvana mengangguk malu. August memegang kedua telinga Sylvana, menekuk dan menjewer pelan. wajah Sylvana semakin memerah menahan malu.
"Sudah cukup, kita lanjutkan perjalanan." kata Sylvana lalu pergi.