
Pagi ini sangat cerah, hangat sekaligus menyejukan, setidaknya itu yang di rasakan Julia. sekembalinya dari sungai Julia mendapati August masih tertidur pulas di dalam tenda. ia tak berniat membangunkannya. Julia lebih memilih membuat bubur untuk sarapan dan juga teh panas.
"Bolehkah aku meminta semangkuk bubur?" terdengar suara seorang wanita.
Julia sontak terkejut, ia mencari sumber suara ternyata berada tiga meter di depannya. ia heran bagaimana wanita itu bisa muncul tiba tiba tanpa ia sadari. Julia mengamati wanita itu sedikit aneh.
Wanita itu berusia sekitar 25 tahun memakai baju ala putri raja, terlihat sebuah intan berwarna biru yang seolah-olah menempel di keningnya.
"silahkan kebetulan aku memasak lebih." kata Julia.
Wanita itu duduk di depan Julia.
"apa kau seorang putri raja atau kau peserta cosplay yang tersesat di hutan ini?" tanya Julia menyerahkan semangkuk bubur kepada wanita itu
"tidak keduanya" jawab wanita itu tangannya menerima bubur pemberian Julia.
"siapa namamu? tanya Julia.
"aku punya banyak nama, Julia bubur buatanmu enak sekali " kata wanita itu.
Julia terkejut wanita itu mengetahui namanya. kewaspadaannya muncul.
"siapa kau, mengapa kau tahu namaku?" tanya Julia.
"aku sangat suka sekali bubur ini, aku bisa menghabiskan satu panci itu, tapi aku takut kekasihmu kelaparan." kata wanita itu tak menggubris pertanyaan Julia.
"sebaiknya kau pergi!" kata Julia yang sudah tersulut emosi.
"aku akan pergi setelah mengatakan beberapa hal untukmu." kata wanita itu.
"katakan maumu dan enyahlah!" kata Julia.
wanita itu tersenyum lalu berkata.
"kau akan kehilangan dia"
"kau akan di hadapkan dengan dua pilihan untuk membuktikan cintamu, tak perduli apapun yang kau pilih, kau tetap kehilangan dirinya."
"takdirmu dan takdirnya sudah terkunci."
"kau akan mencintai orang yang berbeda"
"enyahlah atau aku akan menimpukmu!" Julia membungkuk mengambil sebuah batu yang terletak di dekat kakinya, namun ketika berdiri wanita itu sudah menghilang. Julia mengamati kanan dan kirinya tapi tak menemukan jejaknya. batu yang ia pegang akhirnya ia jatuhkan.
Tiba tiba pundaknya di tepuk sesorang, Julia reflek langsung memutar badannya lalu menendang sekuat tenaga dengan lutut kaki kanannya. orang itu langsung roboh. meringis kesakitan.
Dugg.. brakk.. aaaaaa..
"August!" Julia tercengang.
August meringis kesakitan memegang selangkangannya dengan kedua tangannya.
"dasar wanita kejam" kata August yang merasa masa depannya terlihat suram.
"Salahmu membuatku kaget" kata Julia.
"justru kau yang membuatku kaget berteriak sangat keras hingga aku bangun dari tidurku"
"cepat buka!" pinta Julia.
"apa yang dibuka" tanya August masih meringis.
"celanamu cepat!" kata Julia.
"kau gila bagaimana bisa menggunakannya." kata August.
"Dasar mesum aku akan mengompresnya dengan air!hangat." kata Julia lalu mengambil handuk kecil dan membasahinya dengan air hangat.
"singkirkan tanganmu" kata Julia.
Julia lalu menutupnya dengan handuk yang telah di basahi dengan air hangat dengan sedikit memijit mijit dengan pelan. rasa nyeri, ngilu yang August rasakan sebelumnya perlahan menghilang, namun rasa aneh yang lain mendadak muncul.
"hey.. sepertinya aku harus membawamu ke rumah sakit, bengkaknya semakin besar." kata Julia.
"itu bukan bengkak" kata August dengan kesal.
"Oh" kata Julia wajahnya memerah.
**
Carrol, Hedya, Aira dan Aruna setelah berjalan sebentar mereka sampai di depan sebuh kuil yang sangat besar.
"buka pintunya nona Carrol telah kembali" teriak salah seorang lelaki penjaga yang berada di atas tembok pintu itu.
Pintu terbuka, dua orang wanita menyambut kedatangan mereka.
"Dimana bibi?" tanya Carrol pada dua orang wanita itu.
"Lady Lyra masih di ruang meditasinya, beliau sudah berpesan agar kalian beristirahat sebentar, sepertinya beliau sudah mengetahui kalian akan datang." kata salah satu wanita yang bernama Manila.
Mendengar nama Lady Lyra, jantung Hedya berdegup kencang.
"kami sudah mempersiapkan kamar untuk kalian berempat, silahkan ikuti kami." kata wanita lainnya.
Mereka berempat mengiyakan. sekitar dua jam kemudian setelah mereka membersihkan diri dan mengisi perutnya, mereka berempat di antar beberapa pelayan menuju aula di mana Lady Lyra menunggu mereka. ketika berjalan menuju aula mereka melihat kelompok pria maupun wanita sedang berlatih bela diri, ada yang menggunakan pedang, tombak, panah dan juga tangan kosong.
Mereka sampai di aula, terlihat seorang wanita begitu anggun berwibawa, mengenakan jubah berwarna ungu tersenyum ke arah mereka. Lady Lyra berjalan mendekati Hedya.
"Kau tau siapa aku?" tanya Lyra pada Hedya.
Pertanyaan ini sebenarnya sangat mudah, tapi bagi Hedya sulit untuk menjawabnya, baginya pertanyaan ini terdengar 'apa kau tau aku ini ibumu?' Hedya terdiam sesaat. Aira dan Aruna memandangnya menanti jawabnya. sementara Carrol hanya tersenyum.
"Engkau bernama Lady Lyra. tetapi aku tak tau dengan pasti apakah perkataan Kapten Sanders tentangmu itu benar." jawab Hedya.
"Aku ingat Sanders, aku dan ayahmu berhutang budi padanya juga kepada Andrew." kata Lyra.
Andrew adalah ayah angkat Julia, ia sudah meninggal ketika Hedya menjalani pelatihan menjadi seorang agent.
"Benarkah kau Ibuku?" tanya Hedya matanya mulai berkaca kaca.
Lady Lyra melihat Hedya langsung memeluknya.
"Benar.., aku adalah ibumu, aku tau ini terasa aneh dan canggung bagimu, aku berjanji akan menjawab semua pertanyaanmu, dan memberikan bukti dan kebenaran padamu." kara Lyra.
"i.. i.. ibu" air mata Hedya sudah tak terbendung lagi.
Sikap seorang agent yang dimilikinya hilang ia kini seperti anak kecil yang manja ingin mencari perhatian ibunya.
Lyra melepaskan pelukan Hedya, ia lalu mengusap air mata Hedya dengan kedua ibu jarinya. semua orang dalam aula itu merasa terharu melihat pertemuan ibu dan anak dari dua dunia yang berbeda, tak terkecuali Aruna walau hatinya dingin ia masih bisa merasakannya, tapi lebih memilih membuang muka tidak terus terusan melihatnya.
"Tentunya kalian berdua juga punya pertanyaan" kata Lyra pada Aira dan Aruna.
"Tempat apa ini?" tanya Aruna.
"Tempat ini bernama Kuil Bintang Emas, perbatasan dua dunia" kata Lyra
"aku tak pernah mendengarnya." kata Aruna.
"tentu saja kalian tak pernah mendengarnya, tempat ini terlarang untuk klan Armeda, kalian berdua adalah pengecualian." kata Lyra.
"lalu apa alasanmu membiarkan kami ke tempat ini?" tanya Aira.
"Kalian berdua adalah penjaga anak itu, walau salah satu ketua bodoh klan kalian menginginkan anak itu mati." kata Lyra sambil melirik Aruna.
"Jangan coba coba menghina klan Armeda atau.."
"atau apa?" Lyra memotong perkataan Aruna.
"Apa kalian tau mengapa kalian berdua tak mampu mengalahkan Logos padahal kekuatan kalian sebenarnya dua tingkat berada di atasnya?" tanya Lyra.
"Apa?" Aira dan Aruna serempak terkejut.
"sekitar tiga puluh tahun lalu aku datang ke dunia ini untuk menghentikan Gorran. kami sama sama terluka. butuh beberapa bulan untuk menyembuhkan luka yang aku alami. setelah sembuh aku mulai berlatih kembali, namun sekeras apapun berlatih aku tak pernah kembali pada kekuatanku yang sebelumnya. kekuatanku sepertinya menyusut setiap harinya. terhisap oleh sesuatu yang tersembunyi di dunia ini."
"dengan sisa kekuatanku aku membangun tempat ini menutupnya dengan kubah cahaya, dua per tiga lingkungan dalam kubah ini memiliki energi proxima" kata Lyra.
"Jadi tempat ini untuk adaptasi orang dari proxima yang masuk ke dunia ini." kata Aira.
"Benar!"
"kalian berdua bisa menggunakan ruang meditasi untuk memulihkan dan meningkatkan kekuatan kalian kembali." kata Lyra.
"menurutmu apa yang membuat kekuatan kita menyusut?" tanya Aruna
"Sepertinya ada sesuatu semacam " jawab Lyra.
"i.. ibu.. apa anak itu yang kau maksud adalah August Garcia?" tanya Hedya yang masih canggung memanggil Lady Lyra dengan sebutan ibu.
"benar" jawab Lyra tersenyum, ia sangat senang di panggil ibu.
"i.. ibu ketika aku menyadap Logos aku mendengar seseorang bernama Clawrit telah mengutus lima orang untuk menangkap August, salah satu dari lima orang itu bernama Alexys." kata Hedya
"Hah.. Alexys?"