
Leth terkejut ia tak menyadari pergerakan August. tetapi ia tersenyum.
"Jadi Kallus tidak benar-benar mengambil kekuatanmu, Mercia?" kata Leth lalu membalikan badannya.
"kau sudah mengetahui aku yang menghajar Irric?" tanya August.
"Ya.. jauh sebelum kristal itu memilihmu." kata Leth.
"kristal?" tanya Ravenna dan Emera bersamaan.
"apa maksudmu?" tanya August.
"Irric bukan temanku, dia yang menganggap aku temannya. dialah yang membunuh suami Emera."
"omong kosong kau ada di sana, suamiku terbunuh karena luka tusukan pedang." kata Emera.
"aku berada di sana ingin membuat kesepakatan dengan Irric, tak ada hubungannya dengan kau dan suamimu." kata Leth.
"Kesepakatan apa?" tanya August.
"Peta Moonheaven miliknya ditukar dengan pedang warblade."
"Peta Moonheaven?" August terkejut.
"kesepakatan itu selesai, lalu suamimu datang, Irric membunuhnya dengan pedang itu, dan kau pun datang." kata Leth.
"mengapa Irric memanggilmu sekarang?" tanya Ravenna.
"dia tidak memanggilku." kata Leth terkejut, ia lalu melempar pisau kecil dari balik bajunya ke arah semak, terdengar suara benturan logam.
tring..!
Irric muncul dengan sebuah pedang yang mengeluarkan aura kehitaman membuat kedua bola matanya menghitam.
"aku sudah menduga kau akan muncul Leth, dan kau aku akan membunuhmu" kata Irric menunjuk August.
"Irric apa maksud semua ini?" tanya Ravenna.
"oh nona Ravenna, aku tak tau kau ada di sini, kebetulan sekali, aku akan memberitahumu, kerajaan Galan akan hancur, Kallus sedang menyiapkan penyerangan tak lama lagi, semua keluarga Valon akan dibunuh, tapi aku bisa melindungimu, jika kau bersedia menjadi istriku.. hahaha.! kata Irric.
"Cuih.., jangan pernah bermimpi." kata Ravenna.
"Oh nona Ravenna.. aku tau kau ke sini ingin meminta bantuan untuk perantara mediasi dengan Armeda, tapi ketahuilah Armeda sudah terpecah puluhan tahun, klan itu sudah menutup diri, satu-satunya orang yang bisa masuk telah kubunuh, tak akan ada yang membantu Valon." kata Irric.
Ravenna terdiam.
"Irric aku akan membalaskan kematian suamiku." kata Emera.
"hahaha.. dengan pedang warblade di tanganku tak ada yang bisa mengalahkanku."
"dan kau Leth, Kallus membayar mahal untuk kepalamu dan adikmu." kata Irric.
"kau jangan coba-coba menantangku Irric." kata Leth.
"Borus..! keluarlah!" terisk Irric.
Seorang lelaki dengan senjata bola duri muncul menyeret seorang wanita berbaju merah.
"Legira..!" teriak Leth.
"Kallus sudah mengetahui niat busukmu, kau tidak akan bisa lolos." kata Irric.
'selamatkan adikmu' August berbisik pada Leth.
"Hey.. Irric kau terlalu banyak omong, apa menurutmu dengan pedang itu kau merasa hebat?" kata August.
"hahaha.. kau akan merasakan kekuatan pedang ini." kata Irric.
"Kau memang sangat bodoh.. jika pedang itu luar biasa mengapa Leth mau menukarkannya dengan peta yang tak ada gunanya sama sekali, bahkan jika ia mau ia bisa membunuhmu dengan pedang itu dan mengambil peta itu." kata August.
Irric tertegun mendengarnya, kesempatan itu digunakan Leth untuk menyerang Borus membuatnya terpental beberapa meter, ia pun menyelamatkan Legira.
Borus bangkit ia melempar bola duri berantai miliknya, Leth terkejut, ia sedang menggendong Legira, Ravenna segera menolong Leth, melemparkan bilah pisau hitam ke arah bola duri itu dengan tangan kirinya. pisau itu menembus dan membelah bola duri menancap di perut Borus.
wuss.. krak.. jleb.. akhh .
Borus mencabut pisau itu, Ravenna tak memberi kesempatan ia hentakan telapak tangan kanannya, seberkas sinar hitam membentuk burung gagak menghantam tubuh Borus. seketika tubuh Borus hangus menghitam hanya terlihat warna putih giginya, Borus tewas.
'kau sangat mengerikan' August berbisik di telinga Ravenna. Ravenna hanya tersenyum.
Emera melangkah maju untuk melawan Irric, namun August mencegahnya.
"Jangan halangi aku, aku akan membalaskan kematian suamiku." kata Emera.
"tunggu biarkan aku menyingkirkan pedangnya setelah itu dia milikmu." kata August.
Emera mengerti dengan kondisi saat ini mustahil baginya mengalahkan Irric bila pedang itu masih di tangannya. ia pun akhirnya setuju.
"Hahaha.. kalian semua akan menjadi korban pedang ini." kata Irric, ia melompat mengayunkan pedang itu ke arah August.
August diam tidak bergerak, tangan kirinya muncul sebuah perisai segitiga, ia menangkis pedang itu dengan perisainya. terjadi ledakan besar.
BLEGARRR..!
"ti.. ti.. tidak mungkin.."
Ravenna dan lainnya pun terkejut melihat perisai segitiga itu mampu menghancurkan warblade. "itu perisai cahaya.."
mendengar perisai cahaya Irric mulai ketakutan, ia bangkit ingin melarikan diri, tapi sial Emera melihatnya, Emera merapatkan jari tengah dan telunjuknya ke keningnya lalu diarahkan kepada Irric.
"Autumn Corcus..!"
sebuah bunga besar berwarna ungu muncul dari dalam tanah menelan Irric menariknya ke dalam tanah. Terdengar teriakan Irric sesaat lalu hilang.
'bukankah itu seperti bunga yang Elyn tanam' pikir August.
"Hmm.. sepertinya masalah hari ini sudah selesai." kata August.
"Mercia tolong sembuhkan adikku." Leth memohon.
"Beri satu alasan mengapa aku harus menolongmu?"
"Oracle.. dia memintaku untuk mencari peta Moonheaven, ia berkata akan ada orang yang menghancurkan pedang warblade, ia juga membutuhkan peta itu suatu saat nanti dan orang itulah yang akan menyembuhkan adikku, kaulah orang itu."
'siapa sebenarnya Oracle ini.' pikir August.
"Mengapa kau bersama Alexys?" tanya August.
"Legira bertahan dengan mengkonsumsi pil hitam yang hanya dimiliki Alexys. Mercia.. aku tau siapa kau, dan aku tak meragukannya, sembuhkan adikku, kami akan mengikutimu!" Leth berlutut dengan gulungan kain yang menggambarkan peta Moonheaven di telapak tangannya yang terbuka.
August mengambil peta itu, "bangunlah jangan pernah berlutut lagi dihadapkanku. aku akan menyembuhkan adikmu."
Leth tersenyum puas. August lalu mendekati Legira yang dalam kondisi tak sadarkan diri.
"bisa bawakan aku.."
"segelas air hehe.." Elyn memotong perkataan August di tangannya sudah ada segelas air langsung diserahkan kepada August.
August menggelengkan kepalanya. Emera dan Ravenna hanya tersenyum melihat tingkah Elyn. Leth membantu menuangkan air yang sudah diberi energi penyembuh itu kepada Legira, sementara August memegang kening Legira tampak sinar keemasan menyinari keningnya menjalar menyelimuti tubuhnya. August pun tidak lupa menyembuhkan Isona dan Dion. Emera dan Ravenna kembali dibuat takjub melihat bagaimana August menyembuhkan luka ketiganya.
"Leth adikmu akan siuman setelah tiga hari, aku sarankan tinggalah di kuil Lady Emera, bagaimana pun warblade yang kau berikan pada Irric, telah merengut nyawa suaminya. tetapi itu pun jika Lady Emera memaafkanmu." kata August.
Semua mata kini melihat Emera. "Kematian suamiku sudah takdir, aku pun sudah membunuh Irric. tak ada lagi dendam, kau sangat diterima."
"terima kasih." kata Leth.
"Lady Emera apa kau bisa melakukan mediasi dengan klan Armeda?" tanya Ravenna.
Emera menggeleng. "bahkan aku tak tau suamiku bisa diterima di klan itu."
"aku akan melakukannya, berikan arahnya." kata August.
"hah kau yakin..?" kata Ravenna.
"aku punya seorang teman dari kedua klan itu." kata August tersenyum membayangkan Aruna dan Aira akan terkejut melihatnya.
"Mercia lihatlah peta itu, kau akan menemukan lembah sunyi, kedua klan itu dipisahkan oleh lembah itu." kata Leth.
"Baiklah, kalau begitu aku akan pergi." kata August.
"Mercia apa kau benar-benar akan pergi? aku baru berteman denganmu." kata Elyn sedih, matanya berkaca-kaca.
August tersentuh mendengarnya, ia memegang pundak Elyn "kuil itu menjadi milik ibumu lagi, semua orang sudah tau kebenarannya, kau tak perlu takut ada yang mengganggumu lagi, kau akan punya banyak teman, kau berlatihlah yang keras, karena aku pasti akan mengunjungimu, tapi bila kau malas berlatih aku akan melemparmu ke sungai itu."
Elyn tertawa tiba-tiba langsung memeluk August. "terima kasih."
Setelah berpamitan August pun pergi. Mereka semua kembali ke kuil. Emera, Ravenna dan Leth berada di aula.
"Leth katakan siapa Mercia itu sebenarnya?" tanya Ravenna.
"Dia berasal dari bumi" kata Leth.
"Hah.. manusia bumi? bagaimana dia bisa berada di proxima?" tanya Emera.
"Dia jiwa yang terpilih oleh kristal itu."
Emera dan Ravenna tercengang.
"jadi rumor itu benar, aku harus mengabarkannya kepada raja Valon." kata Ravenna.
"Sebaiknya jangan terburu-buru." kata Leth.
"ada apa?"
"banyak pengkhianat yang berada di kerajaan Galan, dari prajurit hingga petinggi, akan sangat bahaya jika mereka mengetahui keberadaan Mercia."
"apa saranmu?" tanya Ravenna.
"aku akan membantumu untuk mengenali dan menyingkirkan mereka." kata Leth.
"Leth pergilah dengan Ravenna, biar aku yang akan menjaga adikmu." kata Emera.
"Baiklah, terima kasih." kata Leth lalu pergi bersama Ravenna.