
Amara dan Aruna benar-benar dibuat terkejut melihat sosok wanita yang muncul itu ternyata adalah Phoenix. keduanya langsung mengarah memikirkan Mercia.
'apakah wanita ini yang ditakdirkan untuk bersama Mercia?' pikir Aruna
"Apa hubunganmu dengan wanita ini?" tanya Amara.
"Apakah kau tuli? sudah kubilang hanya aku yang boleh membunuh wanita ini."
"aku tak punya urusan denganmu, mengapa kau ingin membunuhku?" tanya Aruna.
"diamlah, aku akan berurusan denganmu nanti." kata Elda tak menjawab ia hanya menggerakan tangannya sedikit, tubuh Aruna terangkat dan terlempar belasan meter.
"Akhhh..!"
Aruna semakin lemah, nafasnya sudah tak beraturan, hanya cukup satu pukulan untuk bisa menghabisi nyawanya pada saat ini.
"lebih baik kau pergi sebelum terlambat." kata Elda pada Amara.
"Cih.. aku akan menyingkirkannya, terutama kau." kata Amara.
"Kau tak akan mampu mengalahkanku." kata Elda.
"Dengarlah Phoenix..! kau adalah orang kedua dalam daftarku yang ingin aku bunuh!"
"kau yang akan terbunuh."
Amara mulai menyerang Phoenix dengan bertubi-tubi, setiap pukulan maupun tangkisan menciptakan suara dan angin yang sangat besar, pertarungan di udara keduanya telah membuat kerusakan di sekitar mereka. Elda mulai sedikit terpojok melawan Amara dan naga biru miliknya, hingga satu momen tongkat Amara berhasil menyodok keras ke arah dada Elda yang membuatnya jatuh menghantam sebuah batu besar. baju pelindung di area sekitar dadanya terlihat retak.
Batu itu hancur, Elda segera bangkit namun sinar biru dari tongkat putih Amara menghujam pundaknya.
Duarr..
Elda kembali terpental, ia meraba pundaknya yang kini tanpa pelindung, ia terkejut. 'baju tempur ini memang belum menyatu denganku, tapi tidak mudah untuk menghancurkannya.' pikirnya.
Elda lalu melompat tinggi, ia merentangkan kedua tangannya ke samping, dari balik punggung baju tempur miliknya muncul sepasang sayap dengan bilah pedang runcing menjadi bulunya, tak sampai di situ, seekor burung phoenix yang besar muncul dari dalam tubuhnya, burung api itu merentangkan kedua sayapnya mengepakannya di atas Elda menatap tajam ke arah Amara yang berdiri melayang dalam lilitan naga.
sementara itu Aruna sedikit lega pertarungan keduanya itu telah jauh darinya, sedikit demi sedikit ia mengumpulkan energinya untuk menetralisir luka yang ia derita.
'aku tak mungkin bertarung melawan mereka untuk mendapatkan Mercia, saat ini aku hanya berharap Mercia memilihku. tempat ini masih wilayah Armeda, Ketua Nefia semoga kau lihat ini.' Aruna mengambil sesuatu dari balik bajunya lalu dengan susah payah benda seperti kembang api itu ia arahkan ke langit, benda itu terbang melesat dengan cepat, setelah mencapai ketinggian tertentu benda itu meledak mengeluarkan cahaya merah cukup lama sebelum akhirnya hilang. Aruna kembali mengumpulkan energinya.
Amara yang melihat perubahan pada Phoenix itu mengeluarkan baju tempur miliknya, kini tubuh Amara di lapisi logam besi berwarna biru menutupi tubuhnya. walau hanya bagian tertentu saja yang tertutup, efeknya membuat kekuatan Amara meningkat drastis, tubuhnya mengeluarkan aura kebiruan.
Keduanya kembali saling menyerang, burung phoenix itu mulai menyerang naga biru, pertarungan menjadi dua lawan dua, semakin berimbang. mereka saling jual beli pukulan, Amara melayangkan tinjunya menerjang Elda dengan kecepatan tinggi, begitu pula Elda melakukan hal yang sama, kedua tinju itu bertemu di udara menciptakan suara menggelegar, keduanya terpental, Amara sempat mengarahkan tongkatnya ke arah Elda sinar biru keluar menghantam dada Elda, sedangkan Elda menghempaskan sayapnya beberapa buah bilah pedang tajam melayang ke arah Amara.
Amara berhasil menangkis beberapa dengan tongkatnya, tapi dua bilah pedang yang sangat tajam itu telah menancap di paha kiri dan perutnya yang tanpa pelindung. keduanya terhempas ke tanah, tidak seperti Elda yang mampu segera bangkit berdiri, Amara sangat kesulitan, ia berteriak kesakitan ketika menarik bilah pedang yang menancap di perut dan pahanya.
"Aaakhhh.."
Amara menyalurkan hawa dingin pada lukanya yang terasa panas terbakar. Elda tak memberikan kesempatan ia kembali mengepakan sayapnya kini bilah pedang mengeluarkan api yang melesat ke arah Amara. Amara hanya bisa menghindari serangan itu dengan melompat ke samping. bilah pedang itu menembus pepohonan dan batu besar dan langsung merubahnya menjadi serbuk kayu dan debu.
sementara itu naga dan burung phoenix telah menghilang ketika tinju mereka bertemu, efek energi kejut dari dua pukulan itu telah menghancurkan pepohonan di sana, terlebih itu terjadi di udara, August yang berjarak puluhan kilo meter dari pertarungan itu sempat terlempar beberapa meter.
August mengembalikan keseimbangannya, ia mengamati arah sumber energi itu.
'hmm.. ada dua orang dengan kekuatan yang sangat besar sedang bertarung, sial.. aku ingin sekali melihatnya tapi Helena dan lainnya dalam bahaya.' pikir August ia pun kembali melanjutkan perjalanannya mencari gua cermin.
"Kau pikir bisa mengalahkanku?" kata Elda.
Amara kembali menyerang Elda ia melesat menyodokan tongkatnya, Elda hanya diam, tangan kanannya sudah mengeluarkan aura sinar kemerahan ketika jarak Amara semakin dekat ia melepaskan sinar dari tangannya, namun tiba-tiba Amara menghilang, sinar itu hanya menghantam pepohonan di bawahnya.
Duarrr..
Dalam waktu bersamaan Amara sudah berada di belakang Elda, lalu mengayunkan tongkatnya ke arah sepasang sayap di punggung Elda.
Wutt.. traang.. trang..
"Cuma itu kemampuanmu?" ejek Amara.
Elda melihat punggungnya kedua sayapnya telah hilang.
"Aku memang tidak suka dengan sayap itu, mengganggu pergerakanku, sudah cukup pemanasannya, saatnya kita bertarung." kata Elda.
'apa? aku sudah menggunakan hampir setengah kekuatanku, tapi dia.., Brengsek.., seberapa besar kekuatannya?' pikir Amara.
Amara kembali mengarahkan tongkatnya ke arah Elda, sinar biru besar membentuk ular naga melesat cepat, Elda menghentakan kedua telapak tangannya sebuah bola sinar merah muncul lalu membentuk burung phoenix menerjang sinar naga itu dan menembusnya hingga menghantam dada Amara.
Duarrr..
Amara terlempar, Elda langsung melompat lebih tinggi lalu menendang perut Amara, kali ini Amara terhempas ke tanah dengan keras.
Buumm.. Amara terluka parah, luka di perut sebelumnya kembali mengeluarkan darah.
'akhh.. aku tak bisa meneruskan pertarungan ini dengan keadaanku seperti ini.
"Ada kata-kata terakhir?" tanya Elda.
"Kau tak akan bisa membunuhku hari ini, aku akan membalasmu." kata Amara ia menjentikan jari sebuah portal tercipta di atas kepalanya, ia melompat masuk dan menghilang.
Elda tak berniat mengejarnya, ia melihat baju pelindung didadanya mengalami keretakan dan di pundaknya sedikit hancur.
'wanita itu sangat kuat, bisa nembuat baju tempur ini hancur.' pikir Elda, namun tak berapa lama baju itu mengeluarkan api, setelah api itu hilang baju pelindung itu kembali seperti semula. Elda melesat pergi dan dalam sekejap ia sudah berada di depan Aruna.
"Siapa kau sebenarnya? mengapa ingin membunuhku? tanya Aruna.
Elda hanya menatap Aruna. ia bingung mengapa ia begitu sangat membenci wanita ini, bahkan ia tak tau namanya.
"Katakan sesuatu atau tunjukan siapa dirimu, izinkan aku mati dengan tenang." kata Aruna ia tak pernah merasakan kematian sebegitu dekat sebelumnya hingga saat ini.
"wajahmu adalah satu-satunya yang kuingat, dan aku sangat membencinya." kata Elda.
"Apa alasan kau membenciku?"
"aku tak tau, aku merasa kau telah mengambil sesuatu dariku." kata Elda.
"Baiklah jika kau tak ingin mengatakannya, mungkin ini balasan untukku, tapi satu hal yang perlu kau ingat, aku berteman dengan Mercia." kata Aruna.
"Jika temanmu itu menuntut balas aku akan melayaninya." kata Elda.
Aruna terkejut. "Kau tak tau siapa Mercia?"
"Aku tak peduli, bila perlu aku akan membunuhnya." jawab Elda.
"Hahaha.. uhuk.. uhuk" tawa Aruna membuatnya kembali memuntahkan darah.
"Mengapa kau tertawa?" tanya Elda.
"kita semua dipermainkan oleh takdir, aku mencintai seseorang yang ditakdirkan menjadi milik wanita lain, tapi wanita itu tidak mengetahui takdirnya, bukankah itu ironi?" kata Aruna.
"Aku tak mengerti yang kau bicarakan." kata Elda.
"Kau akan mengerti tak lama lagi."
"Lakukan dengan cepat." kata Aruna pasrah.
Tangan Elda mengeluarkan sinar merah lalu dihempaskannya ke arah Aruna.
Wuss...!