
Amara sudah benar-benar pulih, kekuatannya juga telah kembali bahkan meningkat pesat, begitu juga dengan Draco, Famir dan Ryn setelah mencoba meminum air pemberian August.
"Putri apakah ini botol ajaib?" tanya Ryn.
Amara hanya tersenyum. "itu hanya botol biasa Mercia melarutkan energinya pada air itu hingga membuat air itu berkhasiat, hmm.. dimana dia sekarang?"
"Tuan Mercia ada di tebing timur." kata Draco.
"Aku akan menemuinya."
beberapa saat kemudian Amara menemui August yang terlihat melamun memandang cakrawala.
"Kau masih marah karena membohongimu?" tanya Amara.
"Tidak.. kemarilah aku ingin bicara."
Amara duduk di samping August kepalanya bersandar pada pundak August dan kedua tangannya memeluk tangan kiri August.
"Bagaimana kau menemukan bunga itu?"
"Kami berhasil menemukan Moonheaven, dan ternyata itu bukanlah sebuah tempat biasa melainkan sebuah dunia di luar Proxima, dunia itu ada di belakang matahari kecil itu."
"Aku senang kau berhasil menemukannya."
"Apa kau mengetahuinya Amara?"
"Aku tau."
"Mengapa kau tak mengatakannya padaku?"
"kau tidak pernah bertanya, dan aku tidak tau kau sedang mencari tempat itu."
"Berapa banyak dunia lain yang kau tau?"
"Tujuh termasuk duniamu."
"Apakah Enigma termasuk?
"Tidak Enigma adalah bagian dari Proxima, tempat itu memang besar tetapi bukan sebuah dunia."
"Lalu darimana asalmu? apakah kau terlahir di Proxima?"
"Tentu saja.."
"Aku ingin menunjukan sesuatu."
"Kau ingin buang air kecil lagi?" tanya Amara tersenyum.
"jangan menggodaku, jangan bahas itu lagi, kau senang sekali membuatku malu." kata August memencet hidung Amara yang mancung. ia lalu mengambil gulungan kertas dari balik jubahnya.
"Aku tak mengerti tulisan ini apa kau bisa membacanya untukku?"
Amara membuka gulungan kertas itu sebagian, ia melihat tulisan di gulungan kertas tersebut lalu membacanya.
"Dua malaikat bercahaya bintang, takdir berjalan mendekat, bahtera pecah, terpisah berjalan sendiri. mencari tujuan, terbang menembus langit, menunggu darah yang sama, terlahir kembali, amarah amukan naga, membuka pintu keajaiban, berdirinya istana kebenaran, pulang demi jati diri."
"Mercia, aku tak mengerti syair aneh ini."
"Mercia... kau tak apa-apa?" Amara melihat August tampak syok.
"Mercia.."
"Ya.."
"Ada apa?"
"Kau tau bahasa di kertas itu?"
"Ya, tulisan ini bahasa Proxima asli."
"Amara, tidak ada yang bisa membaca tulisan itu selain kau, tulisan itu berbahasa diaxsosa."
"Hahaha kau ini.. tulisan ini memang berbeda dengan duniamu."
"Aku mengatakan yang sebenarnya."
Amara menatap August.
"Mercia apa yang coba ingin kau katakan padaku?" Tiba-tiba Amara merasakan kegelisahan.
"Kau tau dimana orang tuamu?" tanya August.
"Orang tuaku di bunuh oleh pasukan iblis ketika aku bayi, paman Lor dan Paman Roza lalu merawatku, aku tinggal bersama paman Lor, karena pada saat itu paman Roza sedang mempelajari pengobatan."
"Apa keduanya saudara kandung ayahmu."
"ya, mereka berdua adalah adik kandung ayahku, Mercia ada apa? tolong katakan yang sebenarnya."
"Amara aku akan menceritakan semuanya padamu, setelah kita menemui paman Roza."
"Baik, ayo kita pergi."
Mereka lalu kembali ke dalam gua, di sana Roza tampak sedang memberikan pelajaran tentang obat-obatan kepada Draco dan lainnya.
"Paman.., Mercia ingin bicara padamu apa kau punya waktu?" tanya Amara.
"Aku selalu ada waktu untuk kalian berdua, apa kalian berdua ingin membicarakan pemilihan hari yang baik.. hehehe.."
"Paman.. apa yang kau bicarakan?" Amara malu.
"Hey.. kalian bertiga pergilah dulu, jangan menguping." kata Roza pada Draco dan lainnya yang kemudian pergi.
"Ada apa Mercia?" tanya Roza.
"Paman, Amara bercerita bahwa anda pernah mempelajari pengobatan, benarkah?"
"benar, hampir sepanjang hidupku aku habiskan untuk belajar, hingga aku hampir lupa untuk menikah hehehe.. karena itu sebaiknya kalian jangan lama-lama.. hehehe."
"Paman.. bisakah kau untuk tidak membahas pernikahan?" Wajah Amara terus memerah.
"Paman, bagaimana anda mempelajari pengobatan? apa dari buku?"
"Aku mempelajari dari guruku, ya tentu saja membaca buku atau naskah kuno, apa kau ingin mempelajarinya? ehm tapi dengan kemampuanmu itu aku rasa tidak perlu, lebih baik kau mempelajari cara hidup berumah tangga."
"Oh maaf.. aku lupa.. hehehe.."
August lalu menyerahkan gulungan kertas pada Roza. Amara merasa heran August menyerahkan gulungan kertas itu.
"Paman aku ingin tau apakah tulisan ini tentang pengobatan atau peta harta karun?"
Roza terkejut tangannya sedikit gemetar, namun ia berusaha menyembunyikannya, namun gerak tubuhnya tidak bisa luput dari pandangan August dan Amara, terlebih suaranya yang tiba-tiba berubah dan terdengar gugup ketika menjawab.
"Bagaimana paman?"
"Ah.. i.. ini bukan apa-apa, ti.. tidak ada artinya sama sekali." kata Roza lalu mengembalikan kertas itu pada August.
"Apa artinya paman?" August terus mendesak Roza.
"Itu hanya bercerita tentang tempat yang indah dan romantis, semacam puisi tentang sebuah kota." kata Roza.
"Mengapa kau gugup paman, tanganmu seperti gemetar?"
"Ahh kau ini, aku hanya lupa sarapan pagi ini, aku makan dulu kalau begitu." kata Roza ia bangkit dari duduknya namun baru kakinya melangkah ia kembali di serang oleh pertanyaan August.
"Paman.. apakah rasa keterkejutanmu karena kau tak bisa membacanya atau karena kau melihat simbol di kertas itu?"
"Simbol?" Amara tersentak ia kembali mengambil kertas dari tangan August. kali ini ia membuka gulungan itu seluruhnya dan ia terkejut.
"Naga melingkar?" Amara mengambil sebuah peti di salah satu sudut gua, ia membuka peti itu dan mengambil sebuah logam pipih berwarna kuning keemasan berbentuk lingkaran lalu menaruhnya di samping gambar tersebut.
Roza sudah tau dia tak akan bisa lari lagi.
"Paman Roza, kau belum menjawab pertanyaan Mercia." kata Amara yang hampir tak percaya melihat gambar dan keping logam yang ia simpan sama persis.
"Keduanya benar, aku memang tidak bisa membaca tulisan tersebut, dan aku terkejut melihat gambar itu."
"Apakah paman Lor mengetahui ini?"
"Tidak.., hanya aku yang tau."
"Paman.. tolong ceritakan padaku."
Roza menghela nafas panjang.
"Baiklah.. waktu itu aku ingin mengunjungi Kakakku, pamanmu itu, tiba-tiba sesuatu yang besar terjatuh dari langit, seperti telur yang sangat besar, tidak lama sebuah portal terbuka, seorang wanita keluar dari portal itu dengan tubuh penuh luka, ia berlari menuju telur besar itu, tiba-tiba telur itu terbuka, aku melihat bayi mungil tertidur di dalamnya."
"Wanita itu memeluknya, tetapi karena lukanya ia hampir menjatuhkan bayi itu, aku tidak tau apa yang terjadi, tetapi instingku berkata aku harus menolongnya, aku menghampirinya, wanita itu sangat ketakutan, aku coba menenangkannya, ketika ia sudah yakin bahwa aku bukan ancaman, belasan portal lain terbuka."
"Wanita itu terlihat frustasi, tiba-tiba ia memaksaku untuk membawa pergi bayinya dan bersembunyi, ia lalu menghancurkan telur besar itu menjadi debu, tiba-tiba orang-orang yang keluar dari portal itu menghampirinya aku tidak tau apa yang mereka bicarakan, tapi setelah itu mereka membunuh wanita itu dan membakar jasadnya, bayi mungil itu adalah kau Amara dan wanita itu ibumu, Pamanmu terkejut ketika aku tiba membawamu, aku mengatakan padanya bahwa sebelum orang tuamu dibunuh pasukan iblis mereka memintaku untuk membawamu, aku tak ingin kakakku merasa ketakutan bila tau yang sebenarnya."
"Mengapa paman tidak menceritakannya padaku? mengapa Mercia lebih mengetahuinya dari pada aku?"
"Maafkan paman Amara, ibumu memintaku bersumpah untuk tidak menceritakan kepada siapa pun termasuk dirimu."
"Siapa yang membunuh ibuku? darimana asalku? dimana ayahku?"
"Amara, Kami tidak banyak bicara, ibumu hanya mengatakan bahwa ia terpisah dengan ayahmu, leluhurnya pernah datang ke dunia ini, dan salah satu pahlawan Proxima berasal dari dunianya, aku tidak mengerti apa maksudnya, hingga suatu hari ketika aku memandikanmu di tepi sungai, tiga ekor naga menghadang, aku sangat ketakutan, tapi hal yang tak terduga terjadi, tiga naga itu menundukan kepalanya seolah memberi hormat, aku sangat syok hingga tak menyadari kau berlari menghampiri naga itu, saat itulah aku menyadari siapa kau sebenarnya."
"Paman bisakah kau tinggalkan kami berdua?"
"baik.. maafkan paman Amara." Roza pun pergi meninggalkan August dan Amara.
Amara menitikan air matanya. "Bagaimana denganmu Mercia? bagaimana kau mengetahui tentang aku? darimana kau menemukan tulisan ini?"
"Aku tidak mengetahui tentangmu atau semua yang diceritakan paman Roza, aku menanyakannya padamu untuk memastikan kecurigaanku."
"Curiga? curiga tentang apa?" tanya Amara.
"Bahwa kau adalah saudara kembar dari Julia."
"Saudara kembar?" Julia?" Amara tersentak, ia teringat pertarungannya dengan seorang wanita sebelum ia bertarung melawan Phoenix.
'wanita itu berkata bahwa wajahku mirip dengan kekasih Mercia yang terbunuh, apakah yang dikatakannya benar? apakah Mercia hanya merasa kasihan melihatku seorang wanita buta?'
"Mercia apakah Julia itu kekasihmu sebelumnya yang terbunuh?"
"Benar.., Julia memang kekasihku, tetapi sekarang aku tidak yakin apakah ia terbunuh atau tidak."
"maksudmu?"
"Ketika ia terluka, aku mencoba menyembuhkannya, tetapi tubuhnya tiba-tiba menguap dan menghilang di pelukanku."
"Aku berpikir dia telah terbunuh, sampai Aruna melihatnya, di dunia ini."
"Aruna?"
"Wanita yang hampir kau bunuh sebelum Phoenix datang."
Tubuh Amara terasa lemas. "Apa kau ingin membalas perbuatanku?"
"Tidak akan, dan dia pun sudah memaafkanmu."
"Maafkan aku Mercia, aku tidak bisa menahan kecemburuanku, ketika melihat ia merayumu."
"Mercia mengapa kau berpikir Julia adalah saudara kembarku?"
"Tulisan itu ditemukan di bumi."
"Mercia jika benar apa yang dikatakan temanmu itu, kita harus mencarinya, aku ingin bertemu dengannya untuk memastikan."
"Kau sudah bertemu dengannya Amara."
"Apa? tidak mungkin aku pasti tau jika ada wanita yang wajahnya mirip denganku."
"Aruna yang melihat kalian bertemu, dan kalian berdua ingin saling membunuh."
"Mercia.. kau.. apa kau.. pikir.."
"orang yang melukaimu adalah Julia."
"Phoenix adalah Julia."
"Apa..?"