MERCIA

MERCIA
51. Kelahiran Phoenix.



"Xara bagaimana kondisinya?" tanya seorang wanita dengan rambut berwarna kuning.


"masih sama, aku tak mengerti mengapa dia bisa sampai ke tempat kita, dan bisa terus bertahan dengan kondisinya sekarang." kata wanita yang bernama Xara.


"Panggil Veric bawakan aku artefak itu kesini."


"artefak?" tanya xara.


"aku jelaskan nanti cepatlah pergi!"


Xara langsung menghilang lalu muncul di depan sebuah bangunan berbentuk kubah, ia mengedipkan matanya beberapa kali.


tok.. tok.. tok..


Seorang pria yang berada dalam kubah itu bergegas membuka pintu ketika mendengar suara ketukan.


"Lady Xara" pria itu membungkuk melihat seorang wanita berdiri tak jauh dari bangunan kubah miliknya.


"Veric Ratu Sheila memanggilmu dan memintamu membawa artefak itu! kata Xara.


Pria bernama Veric itu terkejut. "apakah ratu sudah menemukannya?" kata Veric dengan mata berbinar.


"menemukan apa? hey Veric?" Xara tampak bingung melihat Veric buru-buru pergi.


Tak lama Veric muncul dengan membawa sebuah kotak besar. Xara dan Veric segera menemui ratu Sheila.


"kakak, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Xara.


Sheila tak menjawab, ia mengambil kotak besar yang dibawa Veric lalu meletakannya diatas kepala seorang wanita yang terbaring lemah lalu membuka kotak itu.


Xara melihat sebuah telur besar seukuran tiga kali telur burung unta ketika kotak itu dibuka. telur berwarna putih itu tiba-tiba seperti terbakar, aura kemerahan itu perlahan-lahan masuk ke dalam tubuh wanita yang terbarinh. Sheila dan Veric tersenyum melihat kejadian itu, hanya Xara yang tampak masih kebingungan.


"artefak ini adalah baju tempur phoenix, dan seperti yang kau lihat, ia sudah menemukan pemiliknya yang baru." kata Sheila.


"aku masih tak mengerti." kata Xara.


"kekuatan iblis sudah bangkit dan semakin kuat, kristal itu sudah memilih, perisai cahaya sudah muncul, naga emas sudah muncul, sudah waktunya phoenix terlahir kembali. Xara.. peperangan besar akan terjadi di proxima, wanita ini akan menjadi pembeda, tidak seperti peperangan sebelumnya kemenangan hanya membuat kekuatan iblis itu tertidur, kali ini aku yakin kekuatan iblis itu lenyap selamanya." kata Sheila.


"Ratu apa kau tau siapa wanita ini?" tanya Veric.


"aku tidak tahu, pandanganku terkunci, aku coba memasuki pikirannya, seperti ada perisai yang tertanam di alam bawah sadarnya." jawab Sheila.


"Xara ketika wanita ini tiba-tiba muncul di dunia kita apakah kau menemukan sesuatu?" tanya Sheila.


Xara mencoba mengingat sesuatu. "itu..!" Xara menunjuk sebuah benda di atas meja di belakang Veric.


Veric mengambilnya lalu menyerahkan pada sheila.


"aku tak tau benda apa itu, benda itu terjatuh dari balik bajunya." kata Xara.


Belum sempat Sheila mengamati benda yang diberikan Veric. terdengar suara retakan pada telur itu.


kraakkk..!


Telur itu pecah, seekor burung phoenix keluar dari cangkang telur, tubuh burung itu merah menyala bagai lava yang berpijar, kedua sayapnya yang ia rentangkan menimbulkan percikan api begitu pula ekornya. Sheila dan lainnya memandangnya dengan rasa kagum. burung phoenix itu lalu terbang mengitari ruangan yang tak terlalu besar itu beberapa kali sebelum ia berhenti menatap seorang wanita yang terbaring tak sadarkan diri. phoenix itu mengepakan sayapnya kembali, tubuhnya berputar kebelakang lalu berubah menjadi gumpalan energi melesat menarik tubuh wanita yang terbaring itu.


Wanita itu mengejang, tubuhnya melayang terangkat ke udara gumpalan energi itu membungkusnya berputar-putar, Sheila dan lainnya menunduk menghindari putaran energi yang dahsyat, putaran energi itu perlahan mulai menghilang kini terlihat tubuh wanita itu tertutup oleh sesuatu seperti logam berwarna merah menyala, hanya menyisakan rambut dan kedua telinganya, di punggungnya terlihat dua buah sayap membentang, bulu kedua sayap itu adalah bilah pedang yang tajam berkilau. di keningnya terdapat tiara dengan batu merah. mata wanita itu terbuka terlihat merah menyala.


Sheila dan lainnya bangkit, wanita itu memandang ketiganya dengan waspada.


"Siapa kalian? dimana aku?" tanya wanita itu waspada.


"Tenanglah, kami bukan musuhmu, namaku Sheila, ratu dari negeri Hollyland penjaga perbatasan tujuh dunia, kau berada di tempat kami."


"kami tidak tau bagaimana kau bisa sampai kesini, adikku Xara menemukanmu dalam keadaan lemah."


"siapa namamu?" tanya Sheila.


"Namaku... namaku.. akkkkhhh" wanita itu memegang kepalanya.


"aku tidak tau.."


"aku.. aku.. aku hanya ingat wajah seorang wanita dan aku ingin membunuhnya." kata wanita itu.


"kau tau siapa wanita itu?" tanya Sheila.


wanita itu menggelengkan kepalanya. "aku tidak tau"


"apa yang terjadi padaku, bagaimana melepaskan ini dari tubuhku?" tanya wanita itu.


"itu adalah baju tempur phoenix, kekuatan phoenix telah memilihmu, menurutku kekuatan itulah yang telah membawamu ke dunia ini, gunakan pikiranmu untuk melepaskan baju itu." kata Sheila.


wanita itu memejamkan matanya butuh beberapa saat sebelum ia akhirnya berhasil melepas baju tempur itu.


"sampai ingatanmu kembali, apakah kau keberatan jika kami memanggilmu Elda?" tanya Sheila.


"apa artinya?"


"Kesatria"


"Baiklah."


"Ketika Xara menemukanmu, kau membawa ini, benda ini milikmu." kata Sheila lalu menyerahkan benda di tangannya kepada Elda.


"Simpanlah, mungkin suatu saat benda itu bisa membantumu mengembalikan ingatanmu."


Elda menerima pemberian Sheila tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"Xara akan mengantar ke kamarmu, kami sudah menyiapkan pakaian untukmu, kita akan berbicara lagi." kata Sheila.


"Baik."


Xara mengantarkan Elda ke kamarnya.


"ini kamarmu, bersihkan dirimu pelayan sudah menyiapkan makanan untukmu, jika kau bosan kau bisa berkunjung ke tempatku kapan pun kau mau, kau tak perlu khawatir semua akan baik-baik saja." kata Xara.


***


Pagi tiba sinar matahari yang masuk dari mulut gua membangunkan August.


"aku tak menyangka, aku bisa tidur nyenyak di dalam gua, bagaimana denganmu Amara?"


tak ada jawaban.


August terkejut ketika membalikan badannya, ia tak melihat Amara, gelang rantai di tangannya pun sudah tidak ada. August mencari di sekitar gua tapi tidak menemukan apa-apa.


'Ia pasti di luar, apa ia sedang mandi?' pikir August.


Ia lalu keluar gua, tak lama ia sampai di tempat kemarin ia mandi.


"Amara.. Amara.. dimana kau..?! teriak August.


August memutuskan untuk duduk di sebuah batu dimana Amara duduk menunggunya. namun setelah beberapa saat Amara tak kunjung muncul.


"Amara.. Amara..!!"


Tak ada sahutan. ia kembali ke gua, berharap Amara telah kembali, tetap ia tak menemukannya.


'Apa ia telah pergi?' mengapa ia tak berpamitan padaku? August tampak sedih.


ia kembali lagi ke tepi sungai, mengambil sesuatu dari balik jubahnya, kain putih penutup mata Amara yang ia simpan, August lalu mencucinya di sungai itu.


"Dengarlah Amara.. setelah urusanku selesai aku akan mencarimu, dan aku berjanji akan membantumu menyembuhkan matamu." Teriak August lantang lalu pergi meninggalkan tempat itu.


Seulas senyum tampak dari kedua bibir wanita yang duduk di atas pohon yang sangat tinggi tak jauh dari tempat August sebelumnya berada.


'Mercia, aku tau baru sehari kita bertemu, tapi kau menjadi orang pertama yang membuatku jatuh hati padamu, apakah kau juga memiliki perasaan yang sama padaku atau sikapmu semata-mata karena wajahku mirip dengan Julia kekasihmu yang terbunuh itu?"


'Aku akan mencari tau, jika kau benar-benar menyukaiku aku akan bertarung melawan phoenix itu dan siapapun wanita yang mencoba mendekatimu, aku akan terus berlatih menjadi lebih kuat.' Amara mengepalkan tangannya lalu bangkit dan melesat pergi.