MERCIA

MERCIA
34. Akhir Keluarga Longstaf.



Jacky melihat August menyakiti Bryan matanya memerah lalu berlari menerjang August dengan belati di tangan kanannya. August menangkap lengan Jacky dengan kedua tangannya, lalu memilintir pergelangan tangan Jacky hingga terdengar bunyi klik yang membuat ia berteriak, pisau belati pun terlepas dari genggamannya, August menangkap belati itu dengan tangan kanannya lalu memutar badannya dan memotong lengan Jacky.


Belum habis rasa sakit di pergelangan tangannya yang patah kini ia merasakan sakit lengannya terpotong. August menekan bahu Jacky ia sedikit mengelilingi energi penyembuhnya untuk menghentikan pendarahan, August tak ingin ia mati kehabisan darah. ia ingin Ellias yang menuntaskannya. ia pun melakukan hal sama pada Bryan. dengan menyentil energi ke arah Bryan. ia tak ingin mereka mati dengan mudah. setelah memegang bahu Jacky August melemparkannya ke arah pintu keluar.


Bruk...!


August kini berjalan ke arah Mr. Longstaf yang kini mulai terlihat pasrah.


"Jacky cepat pergi.. jangan hiraukan ayah.. lekas pergi..!"


"BRENGSEK..! Jacky pun pergi dengan susah payah menahan sakit fisik dan mentalnya meninggalkan ayah dan adiknya. ia pergi dengan menggunakan mobilnya.


"kau ingin aku mengejarnya.. hiks.." tanya Aruna.


"Tidak, sudah ada yang akan mengurusnya, kau jangan minum lagi." kata August.


Mr. Longstaf terkejut mendengar August sengaja membiarkan Jacky pergi.


"Kau kejam"


"Si.. siapa yang menginginkan kematian Jacky? tanya Mr. Longstaf.


"Kejam? Tuan Longstaf semua ini tidak terjadi jika kau mengetahui dan mencegah kebiadaban kedua putramu itu." kata August.


"Bryan, Nando dan lainnya memperkosa temanku hingga membuat mental dan jiwanya terganggu, rumah megah yang kau tinggali saat ini adalah milik kekasihku, keluarga Lockhart yang mereka rampas dan seluruh aset lainnya. Bryan dan Jacky mengancam pemilik kampus untuk mengeluarkanku. mereka berdua juga membunuh kedua orang tuaku." kata August.


"a.. apa..?! Mr. Longstaf terduduk lemas.


"tidak mungkin aku telah mendidik mereka sebaik mungkin, aku pun berteman baik dengan keluarga Lockhart, aku mendengar rumor black eagle adalah gangster tetapi Jacky membuktikan dengan jelas padaku bahwa itu hanya isu rumor semata." air mata lelaki tua itu akhirnya meleleh.


"Jika kau ingin membunuhku lakukanlah dengan cepat." pinta Mr. Longstaf.


"Tidak, aku tak akan membunuhmu, urusanku hanya kepada Jacky dan Bryan, kau bisa hidup tetapi kau harus membawa seluruh keluargamu yang tersisa meninggalkan kota Royan selamanya. aku memberimu waktu tiga hari, setelah itu siapapun yang masih berada di kota ini akau akan menghabisinya. dan satu hal lagi jangan berharap kau akan berkumpul lagi dengan kedua anakmu lagi. jika kau ingin menuntut balas aku dengan senang hati menunggu hari itu." kata August tegas.


"Tidak.., sudah cukup banyak darah tertumpah, aku akan pergi, mereka berdua sudah bukan lagi anakku." kata Mr. Longstaf lalu melangkah pergi. kakinya seakan berat untuk melangkah.


"a.. a.. ayah.. maafkan aku.." Bryan pun tampak menyesal namun sudah terlambat, ada harga yang harus dibayar.


Mr Longstaf mendengar Bryan namun ia tetap melangkah terus tanpa menoleh ke belakang.


tak lama setelah Mr. Longstaf pergi terdengar sirine polisi meraung-raung mendekati lokasi. mereka pun tiba.


"Hahaha mereka di sini untuk menangkapmu, kau akan membusuk di penjara." kata Bryan.


"apa kau yakin?" August balik bertanya.


"jangan lupa bawa pelicin karena punyamu sudah tak lagi berfungsi." kata August.


Mendengar perkataan August. Bryan langsung pucat.


"Bajingan kau.. Brengsek.. aku akan membunuhmu!" teriak Bryan.


Seorang polisi wanta dengan pakaian serba hitam masuk ke dalam ruangan.


"Bryan Longstaf anda ditahan atas tuduhan perkosaan dan pembunuhan" wanita itu lalu memberi isyarat kepada bawahannya namun setelah melihat garpu tertancap di ************ Bryan dia sedikit tertawa.


"Panggilkan ambulan.. katakan pada pihak rumah sakit ada tahanan yang perlu di amputasi." kata wanita itu.


sontak ucapan wanita itu membuat gelak tawa rekan-rekannya.


"*****.. kau berani menertawaiku? aku akan membunuhmu!" kata Bryan.


"Kau berani mengancam polisi? Logan, lupakan ambulan seret bocah itu sekarang, lainnya amankan potongan kepala itu!" perintah wanita itu terlihat dominan.


"Siap kapten." Logan dan lainnya.


Polisi wanita itu kini mendekati August.


"apa kau yang bernama August Garcia?"


"Benar." jawab August.


"Namaku Valery."


"apa aku juga ikut di tahan?" tanya August.


"tidak kecuali kau memaksaku untuk menahanmu."


apa apaan ini. batin August.


"tidak.. tidak.. aku tidak berminat tidur di kamar penjara." kata August.


"jika kau tidak suka kamar penjara aku bisa menyediakan kamar lainnya untukmu" kata Valery.


glek.


August menelan ludah.


"ini kartu namaku" Valery memberikan kartu namanya pada August. August menerimanya dengan canggung.


Valery melirik ke arah Aruna yang sepertinya tertidur.


"Apa ia orang proxima?"


Valery mendekatkan mulutnya ke arah telinga August. wangi parfum yang melekat di leher wanita itu pun tanpa permisi tercium hidung August membuat otaknya berguncang pikirannya traveling lintas kota lintas provinsi.


Valery lalu berbisik.


"aku hybrid."


Valery lalu pergi.


"jangan lupa menghubungiku jika kau butuh bantuan atau ingin aku tahan." ucapnya.


August masih tak percaya dengan semua yang di katakan wanita itu. seorang hybrid? benarkah dia seperti Hedya.


August berjalan mendekati Aruna.


"Hey Aruna.. bangunlah kita pergi." August menepuk punggung Aruna.


Aruna mengangkat kepalanya.


"kepalaku pusing, gendong aku." kata Aruna.


"Kau ini wanita pembunuh berdarah dingin mengapa kau jadi manja begini?" tanya August.


"ini semua gara gara kau cepat gendong aku" kata Aruna.


sigh..


"Baik, coba berdiri.." pinta August.


Aruna pun berdiri kedua tangannya di pundak August. August lalu berjongkok memiringkan sedikit badannya lalu mengangkat kedua kaki Aruna, tubuhnya sontak terjatuh di pundak kanan August.


"Hey.. aku minta kau gendong aku bukan membopongku." kata Aruna.


"Kau sangat nakal sekali bagaimana kau sempat sempatnya mabuk di saat aku ingin balas dendam" tanya August.


"aku kesal denganmu" kata Aruna.


"kesal kenapa?" tanya August.


"kau melakukannya dengan Aira." kata Aruna.


"melakukan apa? aku tidak mengerti maksudmu" kata August.


"Aira bilang kau menciumnya." kata Aruna.


"Hah..!"


"Mengapa kalian berdua sangat merepotkan?" kata August.


"hey mengapa bokongmu bergoyang goyang? tanya Aruna.


"aku sedang berjalan, tentu saja bergoyang." jawab August sekenanya.


Aruna tiba-tiba berontak.


"apa yang kau lakukan? tanya August.


"aku ingin menggigit bokong itu." Aruna kembali meronta.


plak.


Aruna tersentak bokongnya di tampar August.


"diamlah jangan bergerak gerak." kata August.


"kau.. kau berani menampar bokongku, jangan pernah kau ulangi la.."


plak.


"Grr.. aku akan membunuhmu." kata Aruna.


"kau sudah pernah ingin membunuhku dua kali." kata August.


"ini yang ketiga, aku akan menusuk bokongmu dengan tombakku" kata Aruna.


"kau tak akan melakukannya." kata August.


"Jangan terlalu percaya diri." kata Aruna.


mereka akhirnya sampai di area parkir. August membuka pintu mobil lalu membantu Aruna duduk di samping kemudi August pun masuk dari pintu yang lain.


Ia melihat Aruna tampak sedih. matanya berkaca kaca.


"Aruna, kau kenapa? jika tadi terlalu berlebihan maafkan aku, aku tidak bermaksud..."


"Bukan.. bukan itu.." kata Aruna.


"tugasku di sini telah selesai, begitu juga dengan Aira, kami akan kembali ke proxima dan tak kan kembali lagi ke dunia ini." kata Aruna.


Hening.