MERCIA

MERCIA
90. Pengakuan Zelda.



"Hoek.. hoek.."


Darah keluar dari mulut seorang wanita yang terbaring lemah di atas tempat tidur di dalam gua.


"Putri.., bertahanlah.. Draco sebentar lagi tiba, ia akan datang bersama paman Roza."


"Ryn.. kau kah itu?"


"benar putri Amara, aku Ryn.. hiks.. hiks.."


"Ryn jangan menangis, jika aku mati, berjanjilah padaku kau akan pimpin para naga untuk membantu Mercia melawan pasukan iblis."


"Putri.. jangan katakan seperti itu, kau akan sembuh, minumlah ini."


"Ryn.. air kehidupan hanya untuk menyembuhkan jiwa dan pikiran seseorang, tidak bisa menyembuhkan lukaku."


"Paman Roza akan menyembuhkanmu."


"Aku tau kemampuan paman Roza, ia bahkan tak mampu menyembuhkan mataku."


"Putri.. bertahanlah.. jangan menyerah."


tiba-tiba seseorang muncul di mulut gua dan berlutut.


"Tuan putri, Nona Ryn, kita ada masalah."


"Ada apa Famir?" tanya Amara.


"Gaemo terlihat di sekitar bukit di selatan, ia menuju tempat kita."


"Aku akan membunuhnya." kata Ryn.


"Jangan, dia tidak sendirian, biarkan dia, kita akan menghadapinya di tempat kita."


"Brengsek, Pengecut itu pasti mengetahui apa yang kau alami sehingga dia berani menantangmu."


"Pasti ada pengkhianat disini."


"Nona Ryn aku juga berpikir demikian."


"Sudahlah, kita akan urus itu setelah mengatasi Gaemo, hoek.. cuih."


"Putri..!" Ryn dan Famir serentak.


"aku tidak apa-apa, bersiap saja, jangan izinkan siapapun pergi. sekarang tinggalkan aku, aku ingin beristirahat."


"baik putri." Ryn dan Famir meninggalkan Amara.


"Famir adakah yang curigai?" tanya Ryn.


"Saat ini belum ada, tapi bila putri Amara izinkan aku akan menyelidikinya beri aku waktu beberapa hari."


"Lakukan saja, kau tak perlu izin darinya, aku yang akan bertanggung jawab dan menjelaskan padanya, kita jangan membebani dirinya pada saat kritis ini."


"untuk melakukan itu aku harus pergi meninggalkan tempat ini selama dua hari."


"Baiklah, pergilah dan segera kembali."


"Baik."


**


Pagi tiba, August membukanya matanya ketika tangan lembut mengusap wajahnya.


"Zelda.." August melihat Zelda yang sudah mengenakan pakaiannya berbaring di sampingnya.


"August kau benar-benar menganggapku sebagai seorang teman?"


"Apa kau masih tak percaya?"


"Aku percaya, tapi apakah kau masih menganggapku sebagai teman, bila mengetahui siapa aku sebenarnya?"


"Apa yang ingin kau katakan Zelda?"


Zelda bangkit ia kini memposisikan dirinya duduk di atas tubuh August yang terbaring. ia lalu mendekatkan mulutnya ke arah telinga August.


"Apa yang dikatakan kedua orang itu semalam adalah benar, aku adalah wanita iblis itu, aku telah membunuh ratusan orang mungkin lebih."


Zelda lalu menatap tajam August dengan senyum yang terlihat menyeramkan.


"Zelda aku tak mengenalmu dari apa kata mereka, aku hanya mengenalmu ketika kau menyelamatkanku, itu sudah menandakan ada kebaikan dalam dirimu."


"Baik..? kau menganggapku orang baik?"


"Tentu saja, hey dengarlah siapapun bisa melakukan kesalahan."


"Kau.. kau.. tak membenciku?" tanya Zelda heran.


"Aku tidak punya alasan untuk membencimu."


"Kau masih menganggapku temanmu setelah mengetahui kekejamanku?"


"Aku tidak membenarkan apa yang kau lakukan, aku tidak membelamu untuk itu."


"Mengapa kau membunuh mereka?"


"aku tidak tau."


"Jika kau tidak punya alasan, mengapa kau masih melakukannya."


"Aku harus."


"Harus? apa kau di perintah oleh seseorang?"


Zelda mengangguk pelan.


"Mengapa kau menuruti perintahnya?"


"Jika tidak dia akan menyakitiku."


"Menyakitimu?"


"Mengapa kau tidak pergi darinya?"


"Tidak ada tempat bersembunyi, anak buahnya dimana-mana, dan semua orang membenciku."


"Zelda jika kau bersedia pergi darinya, aku akan membawamu ke tempat aman, aku akan menjagamu."


"Benarkah?"


"Ya.. aku ini temanmu."


"Kau janji?"


"Aku janji."


hening.


"Baiklah aku akan pergi darinya setelah tugasku selesai."


"Mengapa tidak sekarang?"


"Mereka mengawasiku, salah satu mereka sudah berada di sini."


"Setelah aku pergi kau jangan keluar dari kamar ini hingga senja, aku sudah berpesan kepada pelayan itu."


"Apakah kau..?"


"Kau tidak perlu khawatir.. aku tadi memintanya baik-baik, dan kau benar hal tak terduga terjadi, mereka memberiku sepotong roti besar dan segelas susu untuk sarapan."


'ya.. tentu saja mereka sudah kuberi uang banyak.' pikir August.


"Mencari dan membunuh seseorang."


"Boleh aku tau siapa namanya?"


"Mercia."


Degh..


August sangat terkejut namun ia menahan ekspresinya dan bersikap tenang.


"Kau tau siapa dia?"


"Aku tidak tau."


"Lord Hellmoth tidak pernah memberi tau alasannya."


"Lord Hellmoth?"


"Kau tidak pernah mendengarnya?"


August menggeleng.


"Kau memang orang hutan, pantas kau tak pernah mendengarku."


"Zelda bagaimana jika orang yang kau cari itu aku? bagaimana jika aku adalah Mercia?"


"Hahaha.. August kau memang membuatku terkejut ketika memotong tangan lelaki itu, tapi kemampuanmu itu belumlah seberapa."


"Mercia itu pasti sangat kuat, jika tidak bukan aku yang diminta untuk membunuhnya."


"Kau anggap saja aku kuat, apa yang akan kau lakukan? apa kau akan membunuhku juga?"


"ya aku akan membunuhmu, tapi sebelum itu..."


Zelda mencium bibir August, August pun membalas serangan tiba-tiba itu dengan kedua tangannya ke arah bagian-bagian tersembunyi. ketika jurus pamungkas hampir saja mereka gunakan, Zelda menghentikan aksinya.


"Ada apa?" tanya August.


"dia sudah datang aku harus pergi menemuinya. bersembunyilah aku akan mencarimu setelah tugasku selesai."


"Siapa? siapa yang datang?"


"sshh.. tenanglah dia hanya utusan." kata Zelda merapikan dirinya lalu pergi melalui jendela."


August melepas kepergian Zelda dengan perasaan campur aduk.


'Dia ingin membunuhku, apa yang harus aku lakukan jika ia mengetahui kebenarannya? apa kita akan saling membunuh?'


Zelda mengampiri seorang wanita yang tengah berdiri bersandar di gerbang kota.


"Mengapa kau melarangku menemuimu di penginapan itu? aku juga ingin bersenang-senang dengan lelaki itu."


"Diamlah Javelyn."


"Apa kau membunuhnya ketika ia mencapai puncak seperti yang sudah-sudah?"


"Aku bilang diamlah. Ada apa kau menemuiku?"


"Perubahan rencana, Kaisar Clawrit memintamu menemuinya sebelum kau membunuh Mercia."


"Apa kau tau siapa Mercia?"


"Aku tidak tau, tapi mereka bilang dialah di balik kekalahan Kallus."


"Untuk apa Kaisar ingin menemuiku?"


"Tanyakan saja padanya! tugasku hanya menyampaikan pesan!"


"Apa kau ikut?"


"aku ikut, aku bosan tinggal di kuil, aku ingin bersenang-senang, aku ingin merasakan sensasi membunuh lelaki ketika di puncak sepertimu. hahaha..!"


**


Senja pun tiba, August memutuskan pergi dari penginapan itu, ia terus bergerak, terkadang ia terbang, terkadang ia melompat-lompat dari satu pohon ke pohon lainnya, ia mempelajari daerah yang di laluinya, ia tau portal yang bisa ia buka hanyalah tempat-tempat yang sudah pernah ia kunjungi. ia pun berhenti sesaat bila melihat sebuah kota, atau pemukiman, ia menyerap informasi dari apa yang ia lihat. setelah sekian lama August pun beristirahat di atas sebuah pohon besar di tengah hutan kecil.


"Nyx apa kau bisa memeriksa sekitar area ini tanpa harus memperlihatkan wujudmu?"


"Saat ini aku belum bisa, tetapi bila kau menyempurnakan penggabungan kekuatanku dengan perisai dan baju tempurmu, aku bisa."


"Bagaimana caranya?"


"hanya putri Amara yang bisa melakukannya. sekarang kau istirahatlah aku akan menjagamu."


"Baiklah Nyx."


Empat jam kemudian.


"Mercia bangunlah."


August membuka matanya dan langsung waspada.


"Ada apa Nyx?"


"lihatlah ke arah timur!"


"Seekor naga?"


"Benar. tapi tepatnya wujud naga, dia seorang manusia."


"Aku tidak mengerti."


"cepat ikuti. aku akan menjelaskannya nanti."


August segera mengejar naga itu, ia menjaga jarak sesuai instruksi Nyx.


"Nyx mengapa aku harus menjaga jarak?"


o


"Tidak semua perwujudan naga adalah pengikut putri Amara."


"Kapan kau akan menjelaskannya padaku?"


"Perwujudan naga adalah orang yang diberi kekuatan naga, dan mereka ada dua golongan, pertama adalah naga yang menyerahkan hidupnya kepada orang yang terpilih, jiwanya terikat, merekalah biasanya menjadi pengikut putri Amara. dan golongan lainnya merekalah pemburu naga, mereka mencari naga yang kuat untuk di bunuh lalu mengambil batu jiwa yang terdapat pada jantungnya dan menyerap kekuatannya."


"Lalu bagaimana cara membedakan keduanya?" ada tanda di keningnya bila ia berwujud naga, dan bila ia dalam bentuk manusia, terdapat sisik naga yang muncul secara acak di tubuhnya."


"Bagaimana jika sisik itu muncul di bagian tubuh yang tertutup pakaian?"


"Hanya putri Amara yang mampu merasakannya, dan juga orang-orang yang memiliki kemampuan mendeteksi sihir hitam."


"Sihir hitam?" August kembali teringat gelang yang diberikan Helena serta kejadian di rumah makan.


"Nyx apakah Amara bisa berubah menjadi naga?"


"Putri Amara sangat mulia, semua keturunan pendragon memiliki jantung naga. kekuatan naga sudah ada padanya semenjak terlahir, dia tidak membutuhkan perwujudan naga."


"Jika dia memiliki jantung naga apakah jantungnya memiliki batu jiwa?"


"Punya, karena itu banyak yang mengincar nyawanya, ingin mengambil batu jiwa."


"Aku akan membunuh mereka terlebih dahulu."


"Baiklah kalau begitu tidak perlu menjaga jarak lagi aku akan menghadangnya."


August segera melesat secepat kilat dan dalam beberapa detik ia sudah berada di depan naga yang berwarna hijau itu.