MERCIA

MERCIA
104. Portal Iblis.



"Tuan Gerald, lelaki itu sudah datang!"


"Dimana Voss dan Abigor?"


"Kami disini tuan!" Voss masuk ke dalam ruangan diikuti Abigor di belakangnya.


"Kami ingin menjadi saksi akan kekuatan tuan Gerald sebagai orang yang menerima kekuatan kitab itu, dan aku berharap tuan sudi mengangkat kami menjadi murid." Kata Voss membungkuk.


"Hahaha.. tentu saja.. dengan senang hati."


"Sekarang mari kita temui anak itu, aku akan membuatnya menderita sebelum menghabisinya." Kata Gerald melangkah keluar.


'Tamatlah riwayatmu Gerald, kau manusia hina tak pantas kau menerima kitab agung itu.' pikir Voss.


"Akhirnya kau datang juga."


"Bebaskan temanku Gerald!"


"Hahaha.. berlututlah dan mengabdi padaku, baru akan membebaskan mereka!"


"Kitab itu menipumu! Kau hanya akan jadi tumbal kitab itu, jangan sia-siakan hidupmu!"


"Kau...! Bagaimana kau tau?" Gerald tersentak.


"Tuan Gerald tolong hentikanlah, sekali kau menggunakan kekuatan itu, saat itulah hari kematianmu, jiwamu akan ditelan kitab itu, manusia biasa seperti kita tidak akan sanggup menguasai kitab iblis itu!"


"Kitab iblis..? Manusia biasa? Hahaha.. lalu bagaimana kau bisa membunuh Gorran? Bagaimana kau punya kekuatan itu?"


"Jika aku bisa memilih, aku akan menolaknya!"


"Cuih.. jika begitu berikan kekuatanmu padaku, aku akan membebaskan kedua wanita itu."


"Aku juga tak bisa melakukan itu."


"Voss..! Abigor..! Habisi anak itu..!" Teriak Gerald dengan lantang, namun keduanya tak satupun yang muncul.


"Scotttt...! Dimana mereka?!"


"Maaf tuan, tiba-tiba mereka berdua pergi." kata Scott.


"APA..!"


"Brengsek..!"


'Jangan-jangan mereka mengincar kitab itu? Apakah perkataan anak ini benar?' pikir Gerald.


"Tuan Gerald, kedua temanmu bukan manusia seperti kita, mereka ketururanan penyihir hitam, aku yakin mereka hanya memanfaatkanmu untuk mendapatkan kitab terkutuk itu."


"Kau...!"


"Jangan dengarkan dia tuan, aku disini." Voss tiba-tiba muncul di belakang Gerald.


"Dimana Abigor?" tanya Gerald.


"Dia sedang bermeditasi, luka di dalam tubuhnya kambuh aku harus mengobatinya, energiku hampir habis untuk menolongnya, beri aku waktu dua puluh menit sebelum aku menghabisi anak itu."


"Aku sendiri yang akan menghabisi anak itu."


'setelah itu aku akan menghabisi kalian berdua' pikir Gerald.


Gerald menghentakan cengkraman tangan kirinya kedepan, jarak Gerald dan August sekitar sepuluh meter, namun August merasakan lehernya seperti dicekik oleh sesuatu yang tak kasat mata hingga membuatnya sulit bernafas.


"Hegh..!"


Tak sampai disitu tangan kanan Gerald meninju ruang kosong beberapa kali, kini August merasakan dadanya sesak bagai di tendang kuda berkali-kali, serangan mendadak itu benar-benar menyakitinya.


"Tu.. aan.. Gerr.. rald.. ja.. ja.. ngan.. bun.. bun.. nuh.. akk.. ku..."


"Hahaha.. kau sangat menyedihkan..., ternyata aku salah menilai kekuatanmu, sekarang terimalah kematianmu."


Gerald membuka kepalan tangan kanannya, lalu merapatkan jari-jarinya, kuku hitam runcing bagai besi seketika muncul dan ia hentakan kedepan.


"Matilah kau.., Cor exitio radium!"


Seketika energi tak kasat mata menghantam tepat di arah jantung August, darah menyembur dengan deras, tubuhnya mengejang sesaat lalu diam tak bergerak, Gerald melepaskan cengkraman tangan kirinya, tubuh itu pun jatuh ke tanah dengan dada berlubang.


"Aku tak percaya jika dia yang membunuh Gorran, dia terlalu lemah."


"Scott.. bawa kedua wanita itu ke kamarku, aku ingin bersenang-senang."


Gerald menengok ke belakang, namun dia tidak menemukan keberadaan Scott.


"Scott..! Dimana kau?!"


Hening.


"Aku rasa dia sudah tidak bisa mendengarmu."


Tiba-tiba terdengar suara pelan namun terasa menusuk jantung. Gerald menengok ke arah sumber suara yang terdengar di samping kanannya. ia sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya.


Empat orang wanita berdiri di sekitar pohon besar menatap tajam ke arahnya, keempat wanita itu adalah Carrol, Amara, Hedya dan Valery, di atas dahan besar pohon itu terlihat August duduk bersandar memegang sebuah kotak hitam. melihat August yang terlihat baik-baik saja itu membuat Gerald gemetar.


"K.. kau masih hidup..?!" Gerald dengan sigap melihat sesosok mayat yang baru saja ia bunuh.


"Ti.. tidak mungkin.. kau periksa siapa mayat itu." perintah Gerald pada salah satu anak buahnya.


Lelaki itu dengan cepat berlari ke arah mayat yang tergeletak dengan dada berlubang itu.


"Tu.. tuan Gerald, ini mayat tuan Scott."


"APA... SCOTT..?! ba.. bagaimana mungkin..!"


Voss yang melihat perubahan peristiwa itu terlihat senang senyum tipis terlihat walau ia berusaha untuk menyembunyikannya.


August segera melompat turun dari pohon besar itu.


"Kalian semua tenanglah, Clara memberitahuku bahwa mereka belum berhasil menemukan kitab itu, tunggulah ketika kita sudah melihatnya, Amara.., Carrol.. awasi lelaki yang bernama Voss itu." Amara dan lainnya mengangguk pelan, sementara August berjalan pelan mendekati Gerald.


Melihat kedatangan August, Gerald mengepalkan tangannya.


"Kau.. ini semua ulahmu.. kau menbunuh Scott..!" Gerald penuh amarah.


"Kau yang membunuhnya..!" kata August pelan.


"Bagaimana kau melakukannya?"


"Bukan hanya kau dan temanmu saja yang bisa trik sulap."


"Aku benar-benar akan membunuhmu!"


"Hentikanlah tuan Gerald, sebelum terlambat!" August melempar kotak di tangannya ke arah kaki Gerald. tutup kotak itu terbuka potongan kepala mengelinding keluar dari kotak itu ke arah kaki Gerald dan berhenti dengan menatap ke atas dengan mata melotot.


"ABIGOR...!"


"Aku sudah mengatakannya padamu salah satu dari kepala kalian berdua akan ada di kotak yang sama."


"KEPARAT...!"


Sementara itu Voss yang semula terlihat senang berubah drastis, ketika melihat Abigor dibunuh, ia menatap tajam August penuh dendam.


Gerald kembali mencengkram tangan kirinya kedepan, namun kali tidak ada reaksi dari August, ia masih diam tak terpengaruh apapun, gelang pemberian Helena bersinar terang, namun hanya ia yang mampu melihatnya.


'gelang ini seperti perisai cahaya milikku, aku harus terus mempelajari rahasia gelang ini nanti.' pikir August.


Gerald memukul ruang kosong, lagi-lagi August tidak bereaksi apapun. August lalu menyentil udara, sebuah trik yang ia pelajari dari Violet ketika terakhir kalinya berada di Moonheaven.


tes.. tes.. tes..


Gerald tak menduga ia mendapatkan serangan balasan, ia terpental ke belakang, dadanya terasa sesak. ia bangkit namun kembali mendapatkan serangan yang sama.


"Brengsek..!"


Gerald mengambil sesuatu dari balik bajunya, sebuah buku kuning kecoklatan berada di tangannya, August yang melihat kitab iblis itu langsung bergerak secepat kilat untuk merebutnya namun ketika berjarak satu meter dari Gerald tubuhnya tiba-tiba terpental ke belakang, kubah pelindung keunguan sontak terlihat samar melindungi Gerald. August waspada.


Gerald tetap berada dalam kubah pelindung, mulutnya sibuk melafalkan mantra yang nyaris tak terdengar, energi hitam keunguan mengitari tubuhnya mengangkatnya ke udara, sebuah portal hitam besar tiba-tiba muncul beberapa di samping kirinya dan terus membesar menarik dan menelan apapun di sekitarnya. hampir semua anak buah Gerald telah tertarik masuk ke dalam portal hitam itu.


Amara tampak pucat melihat kemunculan portal hitam itu.


"Mercia.. jangan sampai kau tertarik masuk ke dalam portal iblis itu!" teriak Amara lantang.


"Portal iblis?" Carrol dan lainnya terkejut mendengarnya.


Mercia mengangguk pelan, ia berusaha untuk melompat kebelakang, namun tiba-tiba kedua kakinya seakan terkunci ketika Gerald menunjuk ke arahnya. tubuh August perlahan-lahan tertarik ke arah portal tersebut.


Melihat situasi August dalam bahaya Amara segera melompat menolong August untuk membawanya pergi, namun usahanya sia-sia, gerald mengetahui niatnya ia menghentakan telapak tangannya kedepan, kubah pelindung membesar, Amara terpental kembali ke tempat semula ketika membentur kubah itu. kini portal, gerald, August Voss dan lainnya berada dalam kubah yang sama, melihat itu August melepaskan sinar biru ke arah Gerald, tetapi sinar itu tak sanggup menyentuh Gerald, tertarik kekuatan portal itu yang semakin besar.


"Sial..., baiklah tidak ada cara lain."


"Amara.. kabarkan pada Helena dan Sylvana." kata August lalu memejamkan matanya, baju pelindung emas muncul menutupi tubuhnya.


"Mercia.. apa yang kau lakukan..?!"


August tidak menjawabnya, di tangan kirinya muncul sebuah perisai.


"Nyx lindungi mereka." August mengumpulkan energi di tangan kanannya lalu ia hujamkan di tanah.


DUARRR...!


Ledakan besar terjadi dalam kubah itu, getarannya sanggup meruntuhkan bangunan beberapa puluh meter di sekitarnya. debu-debu menutupi pandangan di dalam kubah tersebut.


"Merciaaaa...!" jerit empat wanita itu serempak.


Butuh beberapa menit untuk melihat situasi di dalam kubah itu, ketika pandangan sudah mulai terlihat jelas, Amara dan lainnya tampak lemas, mereka tak menemukan siapapun di dalam kubah tersebut.


"apa yang terjadi.. dimana Mercia?" Hedya tampak cemas.


"Amara.. dimana Mercia?" tanya Hedya.


Amara tetap diam dengan tatapan kosong.


"Amara katakan dimana Mercia?" Hedya nengguncang-guncang bahu Amara.


"Hedya tenanglah..!" kata Carrol yang dalam dirinya pun tak di pungkiri merasa cemas.


"Dia.. masuk ke dalam portal itu.." Kata Amara dengan suara bergetar.


"Lihat di atas itu.." kata Valery menunjuk sesuatu yang melayang-layang di udara.


"bukankah itu perisai miliknya?"


"Mengapa ia membuat kubah pelindung yang besar?" Valery merasa heran.


Amara melihat ke arah yang di tunjuk Valery, ia menyadari sesuatu.


"Ia melindungi kita." Amara berjalan menghampiri kubah keemasan yang muncul dari perisai itu.


"Namaku Amara, aku adalah teman tuanmu, aku berjanji akan membawamu kembali pada tuanmu."


Kubah keemasan seketika menghilang, perisai itu lalu terbang melayang dan juga menghilang, muncul kembali di tangan kiri Amara sesaat sebelum kembali menghilang.


"Amara apa yang harus kita lakukan?" tanya Hedya.


"Aku harus kembali ke Proxima dan mencari bantuan." sebuah portal muncul dari dalam tanah, tubuh Amara pun lenyap.


"Kita kembali ke kuil Murcia, mungkin lady Lyra dan Oracle mengetahui tentang portal iblis ini." kata Carrol.


Valery dan Hedya mengangguk.