
"Phoenix adalah Julia?" kepala Amara seperti ingin meledak mendapatkan informasi yang sangat sulit untuk dicerna. ia duduk dengan kedua tangannya yang gemetar.
"Bagaimana temanmu bisa mengenal Julia?"
"Ia seorang Armeda ia ditugaskan ke duniaku untuk menjaga kristal itu."
"lalu mengapa Phoenix ingin membunuhnya?"
"Ia melihat Julia seperti hilang ingatan, sebelum ia kembali ke Proxima terjadi kesalah pahaman antara ia dan Julia, Julia sangat membencinya, perasaan itu mungkin yang sangat kuat hingga ia masih mengingatnya."
"Amara aku tau ini sangat sulit untuk diterima, tapi.."
"Mercia.. kami ingin saling bunuh.. aku tau ramalan itu, aku tidak rela kau bersama wanita lain, aku ingin membunuh Phoenix untuk mendapatkanmu, tetapi kau mengatakan Phoenix adalah Julia, kekasihmu yang dahulu, dan dia adalah saudara kembarku yang terpisah? bagaimana aku bisa menerima ini, dimana keadilan untukku? apakah aku tidak layak untuk mendapatkan kebahagiaan?"
"Seandainya aku bisa memutar waktu, aku tak ingin kau datang menyembuhkan lukaku, luka di tubuhku masih bisa aku tahan, tetapi kedatanganmu.., kau telah membunuh jiwaku tetapi membiarkan tubuhku hidup."
"Amara.. aku.."
"Pergilah Mercia jangan pernah menemuiku lagi, Ryn telah menyiapkan air kehidupan untukmu."
hening.
"Baiklah.. Maafkan aku Amara, selamat tinggal."
August menemui Ryn yang telah menyiapkan dua buah botol berisi air kehidupan, setelah berpamitan dengan yang lainnya August pun pergi meninggalkan tempat itu.
"Tuan putri.. boleh aku masuk?" tanya Ryn yang berada di mulut gua.
"Sebentar.." Amara merapikan dirinya dan menghapus air matanya. tak lama kemudian, ia mempersilahkan Ryn menemuinya.
"Ada apa?"
"Maaf putri, tadi sewaktu pergi, tuan Mercia menjatuhkan ini, mungkin tuan putri bisa mengembalikannya ketika berjumpa dengannya lagi." kata Ryn menyerahkan sebuah token pada Amara.
"Baik terima kasih Ryn."
Setelah menyerahkan token, Ryn kembali pergi.
Amara memperhatikan token itu, ia sangat terkejut, terlihat ukiran ular naga yang tiba-tiba bergerak lalu muncul sebuah tulisan 'terlahir kembali' ia lalu melihat sisi belakang token, ia membaca tulisan yang ada disana 'putri para naga' seketika muncul sebuah ukiran burung api yang bergerak mengepakan sayapnya terlihat samar dan lama-lama semakin jelas.
'Phoenix'
**
Sudah cukup lama August meninggalkan danau naga, ia pergi tanpa arah, ia butuh tempat untuk menenangkan dirinya, hingga akhirnya ia melihat reruntuhan kuil, ia lalu memutuskan berhenti di sana.
August hanya duduk di atas sebuah batu, melamun dengan tatapan kosong.
"Kau seperti patung kuil ini."
August tersentak dari lamunannya, ia menengok kebelakang, di sana berdiri seorang lelaki seumuran dengannya, berbadan tegap dengan rambut panjang dikuncir di atasnya. sebuah pedang putih terlihat di belakang punggungnya.
"Apa kau pemilik tempat ini?" tanya August.
"Bukan, aku sama sepertimu, kebetulan lewat dan beristirahat di sini."
"Kau melihatku tiba di sini?"
Lelaki itu tidak menjawab ia hanya menggerakan tangannya, tetapi August mengerti lelaki itu melihatnya terbang dan mendarat di tempat ini.
"kau tau nama tempat ini?" tanya August.
Lelaki itu melempar setangkai buah anggur pada August setelah ia mengambil beberapa buah lalu memakannya. August menerima pemberian itu, ia pun memakannya.
"Ini adalah reruntuhan kuil malaikat, menurut cerita dulunya kuil ini adalah tempat pertemuan antara manusia dengan penduduk langit."
"Aku pernah mendengar cerita tentang penduduk langit, apakah ada kota dekat sini." kata August.
"ini adalah perbatasan kota Hinar, setelah itu terdapat dataran dan lembah pegunungan yang luas.
"Kau ingin pergi ke kota Hinar?" tanya August.
"Aku ingin pergi menuju Wintervale."
"Wintervale? apa yang menarik dari tempat itu?"
"Tidak ada, tempat itu selalu di selimuti salju."
"Lalu mengapa kau ingin pergi ke sana?"
"Siapa namamu?" tanya lelaki itu.
"Mercia, kau?"
"Nevan, baiklah Mercia aku harus pergi, senang berjumpa denganmu." ia lalu meninggalkan August.
August mengamati lelaki itu pergi ia sangat terkejut, langkah kakinya tidak menyentuh tanah, setiap ia mengedipkan matanya, lelaki itu semakin jauh. dan akhirnya menghilang. August kembali melihat sekelilingnya.
'Kuil malaikat' ia lalu berjalan di sekitar area itu, mengamati patung dan gambar yang terukir pada batu-batu yang sebagian besar telah hancur itu.
Setelah dirasa cukup August akhirnya berhenti. ia lalu memejamkan matanya, sebuah portal berhasil ia buka, ia lalu masuk ke dalam portal dan menghilang,
**
Moonheaven.
Sebuah portal muncul di sebuah tebing dimana air terjun besar berada, August keluar dari portal tersebut, lalu dengan cepat ia melesat menuju arah hutan dimana Sylvana berada.
"Bagaimana keadaannya?"
"Putri baik-baik saja.. em maksudku.."
"aku mengerti."
"Aku akan memanggilnya."
Violet lalu meninggalkan August, tak lama ia kembali bersama Pyriel, Sylvana tak bersama mereka berdua.
"Dimana Sylvana?"
"Dia sedang tertidur tu.. em Mercia." kata Pyriel.
"Boleh aku melihatnya?"
"Tentu saja."
August memasuki rumah Pyriel. rumah itu terlihat berantakan banyak coretan arang di sana-sini. August hanya tersenyum. Pyriel merasa malu dengan kondisi rumahnya.
"Ia pasti sangat merepotkanmu." kata August.
"Tidak.. tidak.. aku tidak merasa direpotkan oleh putri."
"Aku akan membalas kebaikanmu Pyriel, jika kau menginginkan atau membutuhkan sesuatu jangan sungkan memintaku, aku akan berusaha membantumu."
"te.. terima kasih." kata Pyriel, ia lalu mengantarkan Mercia ke sebuah kamar.
Di dalam kamar August melihat Sylvana tengah tertidur pulas dengan posisi badan meringkuk dan menghisap jempol tangan kanannya. August menahan geli melihatnya. 'seandainya aku bawa ponsel aku pasti akan memotretnya.'
August mengusap lembut kepala Sylvana. "Kau akan baik-baik saja." Sylvana seolah-olah mendengarnya dan merespon dengan kedutan di telinganya. August keluar dari kamar itu, ia lalu menyerahkan salah satu botol air pada Pyriel.
"Aku sudah mendapatkan air kehidupan, berikan padanya."
Pyriel dan Violet senang mendengarnya.
"akan aku lakukan." kata Pyriel.
"baiklah aku pergi dulu."
"Kau sudah ingin pergi lagi?" tanya Violet sedikit kecewa.
"Aku hanya ingin mengamati istana emas itu, akan kembali kesini."
"Oh maafkan aku, aku pikir kau akan kembali ke Proxima, kalau begitu izinkan n aku menemanimu." pinta Violet.
"Tidak, kalian berdua jagalah Sylvana."
Walau sedikit kecewa Violet menurut.
August lalu pergi meninggalkan pemukiman dark elf menuju istana emas. belum juga ia keluar dari hutan, ia harus berhenti di salah satu pohon ketika ia melihat seseorang berjalan terseok-seok.
"Ralf..?! ia lalu menghampiri Ralf yang terlihat memegang bagian perutnya yang tampak terluka.
Ralf terkejut ketika seseorang menghadangnya, tapi itu hanya sesaat ia terlihat senang setelah melihat wajah sosok yang menghadangnya.
"Merciaaa.."
"Ralf.. apa yang terjadi?"
"Mercia, apa kau dari tempat itu?"
"Apa maksudmu?"
"dark elf?"
"Benar.., cepatlah kembali, katakan pada Violet, tempat ini sudah di ketahui, mereka akan menyerang, mereka sudah bergerak."
"mereka siapa?"
"pasukan istana emas."
"Kau tenanglah, kita sembuhkan lukamu dahulu."
"tidak ada waktu. cepatlah pergi.." Ralf jatuh tak sadarkan diri, tetapi August sudah terlebih dahulu menahannya.
August lalu mengeluarkan energinya untuk mengobati luka Ralf. ia lalu membopong Ralf kembali ke tempat persembunyian dark elf.
Violet terkejut, ketika melihat August kembali dengan membawa seseorang di pundaknya.
"Mercia ada apa.. Hah..? Ralf.. apa dia baik-baik saja?"
"Violet aku temukan dia terluka, Ralf mengatakan tempat ini sudah diketahui, pasukan istana sedang bergerak menuju kesini."
"Brengsek..!"
"Violet tenanglah, bawa Sylvana dan yang lain pergi, aku akan menahan mereka.
"Mercia kami adalah dark elf, kami tidak akan pergi, sebaiknya kau saja yang membawa putri pergi, dia lebih aman bersamamu."
"Selama ini kami lari dan bersembunyi, bukan karena kami takut, kami terpecah, kini setelah kembalinya putri, tidak ada alasan lagi untuk menghindari mereka, sudah saatnya kami melawan." kata Violet.
August melihat sekelilingnya, para elf itu sudah mendengar apa yang sedang terjadi, mereka serentak berkumpul dan siap untuk berperang.
"Baiklah, aku akan membantu Sylvana dan kalian semua mempertahankan tempat ini."