
"Alexys.. Mengapa kau menggangguku?" seorang lelaki berjalan menuju sebuah kursi singgasana, postur lelaki itu hampir setinggi tiga meter, memakai baju pelindung dengan simbol pentagram didadanya, kulit tubuh lelaki berwarna hitam, namun wajahnya berwarna putih pucat keunguan, urat-urat terlihat menonjol di antara otot-ototnya, tampak seperti lava yang mengalir, kuning kemerahan menyala, kepalanya memiliki dua buah tanduk besar, sesekali terlihat api keluar dari bagian tubuhnya secara acak.
"Maafkan hamba kaisar Clawrit, hamba membawa berita penting."
"Katakan cepat!"
"Kallus gagal ia tewas terbunuh."
Lelaki yang di sebut Clawrit itu, langsung mencengkram leher Alexys dan mengangkatnya ke udara. tangannya yang besar dengan kukunya yang hitam runcing itu membuat leher itu terlihat seperti batang bambu.
"Galan hanya kerajaan kecil, aku memberimu dua belas ribu pasukan dan kau dan anak buahmu gagal?"
"Hegh.. ma.. ma.. af..hegk.. me..re.. kaa.. men.. dap.. paat.. kan.. bant... tu.. an.. hekk.."
Wajah Alexys memucat, pandangannya sudah mulai gelap, Clawrit lalu melemparnya hingga ia membentur dinding
Brakk..!
"Uhuk.. uhuk.." Alexys menyeka darah yang keluar dari mulutnya. ia kembali berlutut.
"Siapa yang membantunya?"
"Elf dan Armeda, dan satu lagi kami tidak tahu, aku mendapatkan laporan mereka mempunyai senjata yang aneh."
"Elf dan Armeda katamu?"
"Benar kaisar."
"Armeda yang mana?"
"Keduanya kaisar." kata Alexys menunduk tak berani menatap Clawrit.
"Hmm.."
Hening.
"Kau pergilah ke kuil Neraka. katakan pada Hellmoth untuk melepaskan Zelda."
"Ze.. Ze.. Zelda?" Alexys terlihat ketakutan mendengar nama itu.
"Enyahlah."
"Ba.. ba.. baik kaisar, hamba pergi."
**
"Aruna semenjak kau menjadi pemimpin kami, mengapa kau terlihat murung dan bersedih?"
"Ketua Myla, maafkan aku, aku tidak tau kedatanganmu."
"Hussssh.. kau jangan memanggilku dan Nefia dengan sebutan ketua lagi, kau bisa panggil kami bibi atau cukup panggil nama kami saja."
"Baik ket.. ehm.. bibi.."
"Ceritakanlah.."
"bibi aku tidak apa-apa."
"kau mungkin bisa berkata seperti itu pada Nefia, tapi tidak denganku, kau tak perlu khawatir Aruna, aku tidak akan menceritakan pada siapapun."
"Aku.. aku hanya bingung tak tau harus bagaimana, apa yang kulihat dalam ilusi itu benar-benar menggangguku."
"Apa yang kau lihat Aruna?"
Aruna memandang langit pagi yang tampak cerah, namun tak bisa mengubah hatinya yang diselimuti awan mendung nan gelap.
"Bibi Myla aku ingin bertanya satu hal padamu."
"Tanyakan apapun yang kau mau?"
"Bibi.. apa yang akan kau lakukan jika kau mempunyai satu pilihan, meraih impianmu atau mengungkap sebuah kebenaran?"
Myla menghela nafas.
"Apa ini tentang Mercia?"
"Bibi kau..!"
Myla tersenyum.
"Tenanglah, kita sama-sama wanita. aku tidak ingin membuatmu cemburu, tapi kau tau aku juga di pusingkan dengan kelakuan Aira, Aruna kebenaran tetaplah sebuah kebenaran walaupun itu terasa pahit bagimu, Aruna.., menyatukan Armeda adalah impian aku dan Nefia, kami sudah lelah berselisih, kami sudah mencoba tapi semua gagal. tapi impian itu akhirnya terwujud melalui dirimu Aruna."
"Terkadang takdir tidak memilih kita untuk berada di akhir, ia memilih kami di awal untuk memulai, terdengar tidak menyenangkan, tapi kau tetap harus menerimanya, kau tau Aruna ada kalanya mereka yang memulai di sebut dengan pioneer? dan sejarah tetap akan mencatatnya."
"Terima kasih bibi Myla."
"ngomong-ngomong aku datang ke sini untuk memberi tau Mercia akan pergi, kau akan menemuinya atau memintanya ke sini, setelah itu aku dan Nefia akan pergi menuju Innodale, selama aku pergi jagalah Aira, ia pasti akan sangat merepotkan."
"Satu hal lagi Dior dan kerajaan lainnya bersedia membantu membangun tempat kita yang baru sesuai keinginanmu, Mercia juga akan mengirim beberapa orang untuk memberikan tekhnologi bumi padamu, aku tak mengerti apa maksudnya."
"Baik, terima kasih bibi, jika kau tidak keberatan aku ingin bicara empat mata dengan Mercia."
"aku akan sampaikan padanya." kata Myla lalu pergi.
Beberapa saat kemudian.
"Ketua Aruna kau memanggilku?"
Aruna menengok kebelakang.
"Jangan menggodaku Mercia."
"Mercia ada yang ingin aku sampaikan padamu."
"Aku memperhatikanmu selalu murung, aku ingin menanyakanmu, tapi kau kulihat masih disibukan dengan urusan Armeda."
"Aruna ada apa?"
"Mercia ketika kau mengatakan bahwa Julia terbunuh, aku tak tau harus bagaimana."
"Aku..." mata Aruna mulai berkaca-kaca.
"Katakan saja, lepaskan bebanmu."
"Mercia kau telah merubahku, Aku mencintaimu.. "
"Aruna.."
"Hush.. aku belum selesai bicara, ketika aku mendengarnya, aku merasakan perasaanmu kehilangannya, tetapi dalam hati kecilku entah mengapa aku senang, kau mungkin menganggapku jijik dan tidak berperasaan."
"Aku tidak tau perasaanmu terhadapku, tapi kumohon jangan membenciku karena mencintaimu."
August hanya diam, tubuhnya gemetar mendengar perkataan Aruna. Air mata Aruna sudah tak terbendung, ia memeluk August, August membalasnya dengan mengusap kepala Aruna dengan lembut.
"Mercia aku ingin menanyakan sesuatu, aku minta kau jawab dengan jujur."
August melepaskan pelukan Aruna, ia lalu menghapus air mata yang terus mengalir di pipi lembut milk Aruna.
"Tanyakan, aku akan berusaha menjawabnya."
"Mercia apa kau kenal dengan seorang wanita bernama Amara?"
Degh.
Jantung August mulai berdebar.
"aku mengenalnya."
"Apakah naga emas itu berasal darinya?"
"Semula aku tidak tau bagaimana naga itu ada di perisaiku, aku mengetahuinya ketika kau dalam pengaruh Minerva, naga itu menyembuhkanmu lalu menceritakan semuanya."
"Aku mengerti, mengapa kau tak menceritakannya padaku? kita berdua tau wajahnya sangat mirip Julia, apakah kau menyukainya?"
"Tentu saja aku menyukainya, tapi bila maksud pertanyaanmu apakah aku akan menikahinya aku akan mengatakan tidak."
"Aruna memang dia mirip dengan Julia, tetapi ia bukan Juliaku, aku bertemu dengannya ketika aku berada di sebuah hutan tak jauh dari pohon raksasa."
"Dia wanita buta, dia.."
"Dia kenapa.." tanya Aruna penasaran.
"Dia mengatakan bahwa kebutaannya akibat bertarung dengan seorang wanita bertombak."
"Dan kau berpikir aku yang membuatnya buta? karena itu kau tak ingin menceritakannya padaku?"
"Maafkan aku, aku tidak tau mengapa waktu itu hanya kau yang terlintas di pikiranku. aku hanya mengenal satu orang wanita kuat yang memiliki senjata tombak."
"Aku tidak tau itu pujian atau kau mengejekku."
"Hey.."
"Mercia aku baru pertama kali bertemu dengannya."
"Apa..? kau.. kau.. sudah bertemu dengannya..? apa kau.. ehm?"
"Membunuhnya maksudmu?" tanya Aruna.
"Kau tak perlu khawatir dia lebih kuat dariku, justru dia hampir saja membunuhku."
"Hah...!!"
"Apa yang terjadi?"
"Mercia inilah alasan aku memanggilmu untuk bicara."
"Ketika kita berpisah di Innodale, aku langsung menuju ke kerajaan ini, dia menghadangku, dia cemburu ketika melihat kita berciuman sebelum berpisah." kata Aruna memerah mengingat kejadian itu.
"Aku bertarung dengannya, dia dengan mudah mengalahkanku, ketika ia ingin menghabisi nyawaku seorang wanita muncul."
"Wanita itu adalah Phoenix."
"Phoenix?"
"Mercia apakah aku atau Aira pernah bercerita tentang sebuah ramalan padamu?"
"kalian berdua pernah menyinggungnya tapi tak pernah menceritakannya."
"Aku akan ceritakan padamu, di dunia ini ada sebuah ramalan dimana akan ada seorang kesatria yang akan muncul dari dunia petarung seribu tahun sekali, tetapi dalam sepuluh ribu tahun sekali akan terlahir kesatria yang berbeda ia akan menerima kekuatan dari kristal suci."
"Tunggu bukankah para master itu hidup ratusan tahun lalu bukankah mereka yang membuat kristal itu?"
"Itu tidak benar, kristal itu sudah ada puluhan atau ratusan ribu tahun, bahkan ada yang beranggapan kristal itu sudah ada pada saat dunia ini tercipta, kristal itu berjumlah tujuh buah, mereka yang mendapatkan kekuatan itu akan berumur panjang bisa mencapai ratusan tahun atau ribuan tahun menurut hitungan di duniamu, hingga suatu saat seseorang yang telah terpilih salah satu kristal itu menemukan kristal ketujuh, saat itulah malapetaka di mulai, kristal ketujuh memiliki kekuatan iblis. ia menggabungkannya dengan kristal yang sebelumnya ia miliki, kristal iblis itu menyerap seluruh kekuatannya."
"Para master berhasil mengalahkan orang itu namun kekuatan iblis pada kristal itu tak bisa di hancurkan, mereka lalu menyembunyikan kristal iblis, mereka sepakat untuk mencegah kejadian serupa, mereka menggabungkan lima kristal tersisa, hanya cara itu kristal iblis tidak akan sanggup menelan kekuatan kristal suci yang kekuatannya sekarang ada dalam tubuhmu.
"Lalu apa selanjutnya."
"Seorang tetua di minta untuk menyembunyikan kristal suci itu, tanpa diduga kristal itu memberinya sebuah penglihatan, ia lalu menulis apa yang kristal itu katakan padanya.
"Sebuah ramalan."