
Hollyland.
"Hey Elda.. bagaimana latihanmu?" tanya Xara.
"aku sudah menguasai semua rahasia phoenix ini." kata Elda.
"Apa? kau memang luar biasa tidak salah phoenix itu memilihmu." kata Xara takjub.
"Itu karena kau selalu membantuku." Elda tersenyum.
"Ngomong-ngomong aku memberi kabar bahwa Ratu Sheila ingin menemuimu." kata Xara.
"Baiklah, aku akan segera menemuinya setelah membersihkan diriku." kata Elda.
"Kalau begitu, aku tunggu kau di sana." kata Xara mengedipkan matanya lalu menghilang.
Sekitar lima belas menit kemudian Elda hadir menemui Sheila dan Xara yang telah menunggunya.
"aku minta maaf telah membuat kalian menunggu." kata Elda.
"tidak apa-apa, Xara memberitahuku bahwa kau telah menguasai seluruh rahasia phoenix, benarkah?" tanya Sheila.
"Benar ratu, semua berkat bantuanmu dan Lady Xara." kata Elda.
"Bukankah sudah sering aku bilang untuk tidak memanggilku dengan sebutan ratu." kata Sheila.
"Maaf, aku ingin menghormatimu karena telah menolongku, baiklah aku akan memanggil namamu." kata Elda.
"bagaimana dengan ingatanmu? apakah ada kemajuan?" tanya Sheila.
"Semua masih sama, hanya wajah wanita yang sangat kubenci." kata Elda.
Sheila termenung seperti memikirkan sesuatu.
"Elda aku rasa kau sudah saatnya kau untuk pergi." kata Sheila.
"Pergi..?" Xara dan Elda terkejut mendengarnya.
"A.. apa aku melakukan kesalahan hingga kau mengusirku pergi?" tanya Elda.
"Kak.. Elda tidak berbuat salah mengapa kau menyuruhnya untuk pergi?" Xara ikut bertanya.
"Kalian berdua salah paham, Elda kau tidak salah, aku tidak mengusirmu, cepat atau lambat kau harus melanjutkan hidupmu, mencari tau siapa dirimu." kata Sheila.
"Aku tak tau harus kemana, bagaimana jika aku tidak ingin mengingatnya?" kata Elda.
"Mungkin di luar sana ada orang khawatir, mencarimu, menunggumu, orang tuamu, temanmu atau lainnya." kata Sheila sambil membuka kalung yang ia kenakan lalu memberikannya kepada Elda.
"Terimalah kalung ini, ini hadiahku untukmu."
"kalung ini adalah kunci untuk masuk ke Hollyland, dan juga sebuah kompas yang akan membantumu menemukan sebuah jawaban." kata Sheila.
"aku tidak bisa menerima pemberianmu, ini sangat berarti untukmu." kata Elda.
"Kau lebih membutuhkannya." kata Sheila.
walau dengan berat hati Elda menerima pemberian Sheila. "Terima kasih."
"aku masih tak tau harus pergi kemana." kata Elda.
"pakailah kalung itu, satu-satunya petunjuk yang kau punya adalah wajah wanita itu, aku akan membuka portal kalung itu akan membawamu menemukannya." kata Sheila.
"Baiklah aku akan pergi, terima kasih kalian telah memperlakukanku dengan sangat baik." Elda memeluk Sheila dan Xara.
Rasa haru menyelimuti mereka bertiga.
"Jangan bersedih Elda kita akan berjumpa kembali, kau adalah wanita terkuat." kata Sheila tersenyum.
Portal terbuka Elda sempat menengok ke belakang melihat Sheila dan Xara. "Aku akan segera kembali." kata Elda lalu melangkah masuk dalam portal dan menghilang.
Suasana hening setelah kepergian Elda.
"Kak mengapa kau tidak memberitahunya?" tanya Xara.
"tentang apa?"
"Hollyland yang sekarat, aku takut ketika dia kembali tempat ini sudah hancur."
"Tempat ini memang sudah hancur, keberadaan kita disini hanya menjaga artefak phoenix itu menemukan tuannya, dan tugas kita selesai." kata Sheila.
"Aku merasa kita sangat jahat telah membohonginya." kata Xara.
"kau bicara apa? tugas kita selanjutnya adalah menyiapkan sesuatu untuk membantu Elda kelak." kata Sheila.
"ini salah satu alasan mengapa ayah memintamu untuk membantuku, banyak yang harus kau pelajari, temui Veric katakan semua bersiap untuk langkah selanjutnya."
"baiklah." walau masih tak mengerti Xara tetap patuh menuruti perintah Sheila.
**
Dua hari kemudian.
"Mercia setelah kita melewati hutan kecil ini kita akan memasuki negeri Innodale, jika kalian berdua ingin berubah pikiran sekarang saatnya, karena setelah ini tak ada jalan untuk kembali." kata Aruna.
August melirik Sylvana, Sylvana hanya mengangguk pelan.
"Aruna apapun yang akan kita temui disana kita akan hadapi semua bersama, kita bertiga akan saling menjaga." kata August menepuk bahu Aruna.
"baiklah, ketika kita sudah tiba di sana hindari menatap mereka terlalu sering." kata Aruna.
Mereka bertiga memasuki hutan kecil, dengan kemampuan mereka hanya butuh kurang dari tiga puluh menit untuk keluar dari hutan itu dan tiba di sebuah gerbang kota.
Kota itu terlihat biasa saja seperti layaknya kota-kota pada umumnya, banyak aktifitas orang-orang di sana sini. para pedagang yang menjajakan dagangannya, ataupun hilir mudik kendaraan atau gerobak pengangkut hasil panen. mereka bertiga membaur berjalan santai namun tetap dalam kewaspadaan yang tinggi.
Suasana mulai berubah ketika mereka memasuki gerbang kedua, walau masih terlihat beberapa aktifitas di sana sini terlihat sangat kontras dengan gerbang pertama, aura mencekam dan dingin mereka rasakan. mereka bertiga berusaha tetap tenang. mereka bertiga terus berjalan, gerbang ketiga sudah terlihat. ketika mereka berpikir semua berjalan lancar kejadian tak terduga terjadi.
Seorang wanita berusia sekitar dua puluh tujuh tahun terlihat membawa dua buah keranjang berisi kue dan buah-buahan ingin menyebrang jalan menuju sebuah bangunan kios di samping kiri mereka bertiga, ketika wanita itu sudah hampir tiba, sekitar sepuluh meter di depan August dan lainnya terlihat gerobak pengangkut barang hilang kendali, roda gerobak itu patah karena masuk ke dalam lubang yang tertutup genangan air.
Aruna terkejut ia sangat mengenal August dan mencoba menahannya untuk tetap diam, tetapi terlambat August sudah bereaksi dengan instingnya ia berteriak.
"Awasss..!"
wanita itu terkejut melihat gerobak itu menuju ke arahnya, August berlari menyelamatkan wanita itu, melihat August bereaksi Aruna dan Sylvana pun tak tinggal diam, Aruna melompat menyelamatkan pengemudi, sedangkan Sylvana memotong tali kekangan yang mengikat hewan itu.
Gerobak itu terpental ketika menabrak pembatas jalan dan hancur, hewan itu terus berlari bebas, sementara wanita itu terkejut melihat seorang lelaki yang terlihat tampan itu menyelamatkannya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya August.
"Kau sangat tampan sekali." kata wanita itu.
August tersadar tudung dan penutup wajahnya terlepas. sementara akibat insiden itu sontak membuat orang-orang keluar ingin mencari tau apa yang terjadi.
"isi keranjangmu sepertinya hancur." kata August tak menanggapi perkataan wanita itu lalu membantunya berdiri.
"tidak masalah, aku akhirnya telah menemukan pahlawanku." kata wanita itu.
August merasa canggung, ia kembali memakai penutup wajahnya. "maaf.. aku harus pergi." August lalu kembali menghampiri Aruna dan Sylvana melanjutkan perjalanannya. tetapi langkah mereka terhenti, ketakutan Aruna pun terjadi.
"Tunggu kalian tak boleh pergi, terutama kau pahlawanku." kata wanita itu berjalan menghampiri August lalu meniup lembut wajah August.
"Aku tidak akan pergi." kata August.
"Mercia." Aruna dan Sylvana terkejut mendengarnya, namun tiba-tiba mereka memegang lehernya, sebuah jarum perak menancap di leher mereka masing-masing, tubuh mereka seketika lemas keduanya akhirnya jatuh.
"Bawa kedua wanita itu kepada Minerva katakan aku Helena mengirimkannya hadiah." kata wanita itu yang ternyata bernama Helena.
Beberapa orang lalu maju mengangkat dan membawa Aruna dan Sylvana pergi.
"siapa namamu?" tanya Helena.
"Mercia."
"Mercia maukah kau pergi ke rumahku?" tanya Helena.
"Tentu saja aku mau." jawab August.
Helena lalu menggandeng tangan August melangkah pergi. Aruna sempat melihat wanita itu menggandeng tangan August, ia ingin sekali membunuh wanita itu tetapi tubuhnya terasa lumpuh, air matanya menetes.
'Mercia maafkan aku.'
Pandangan Aruna semakin gelap ia akhirnya tak sadarkan diri. tidak jauh dari tempat itu, di sebuah bangunan berlantai dua, sepasang mata mengamati kejadian itu dari balik sebuah tirai dengan senyum tipis di wajahnya.
"Apa kau ingin aku menyelamatkannya?" terdengar suara seorang lelaki.
"tidak perlu, biarkan Minerva melihatnya."
"Bagaimana dengan lelaki itu?" tanya laki-laki itu kembali.
"Aku tak peduli." kau awasi saja wanita itu.
"Baik, Nona Freya." lelaki itu membungkuk hormat lalu pergi.
'Akhirnya kau kembali, aku sudah lama menunggumu.'