MERCIA

MERCIA
53. Kebencian Thurinor.



Di tempat lainnya masih dalam istana itu terlihat seorang pria dan wanita dengan mahkota di kepalanya duduk menatap seseorang yang tengah berlutut dihadapan mereka.


"Bangunlah Raegel, katakan apa yang terjadi?" kata pria dengan mahkota.


"Tuanku Thurinor, kekuatan Clawrit semakin besar, dia juga berhasil mendapatkan kekuatan kristal itu." kata Raegel.


"Jika terus seperti ini cepat atau lambat mereka akan datang menghancurkan kita semua." kata Thurinor.


"apa ada kabar dari Nasyra?" tanya seorang wanita yang duduk di samping Thurinor.


"Ratu Talindra.., kami belum mendengar kabar darinya." jawab Raegel.


"siapa tawanan yang kau bawa?" tanya Thurinor.


"yang mulia dia seorang manusia." jawab Raegel.


"Manusia..?! Bagaimana dia bisa masuk ke dunia ini?"


"Aku tidak tau, tetapi banyak dari kami melihat langsung ia terjatuh dari langit ke danau Dorrior, makhluk itu mengejarnya hingga ke darat."


"jatuh dari langit?"


"bawa dia kesini!" perintah Thurinor.


Raegel membungkuk lalu pergi.


**


"Apa kalian pernah ke bumi?" tanya August.


"Tidak, tetapi leluhur kami pernah tinggal di sana, mereka bercerita tentang dunia itu dan kehidupannya." kata Taflas.


"Bagaimana kau bisa sampai kesini?" tanya Aranthir.


Belum sempat August menjawab, Raegel dan beberapa penjaga muncul.


"Raja Thurinor ingin menemuimu manusia." kata Raegel, ia sempat melirik ke arah Aranthir.


"Bebaskan kami Raegel, tindakanmu ini bisa memicu perang saudara." kata Aranthir.


"Aranthir.., kau tau aku tidak menginginkannya, tetapi aku harus setia mengikuti perintah rajaku." kata Raegel.


"Bawa manusia hina ini menghadap raja Thurinor." perintah Raegel.


August tidak melawan ketika dua orang elf penjaga memasang rantai kedua tangan di belakang punggungnya dan menggiringnya keluar. Aranthir dan Taflas hanya bisa memandangi mereka pergi.


"Aranthir kita harus mencari cara untuk segera pergi dari sini, manusia itu sangat berbahaya sekali." kata Taflas.


"Berbahaya?" Aranthir bingung.


"Bumi adalah dunia yang berisikan makhluk paling lemah, aku masih ragu ia berasal dari bumi, aku tak bisa merasakan seberapa besar kekuatannya." kata Taflas.


Sementara itu August digiring keluar dari penjara bawah tanah, cahaya matahari benar-benar membantu mengembalikan kekuatannya lebih maksimal. Raegel dan para pengawal menghentikan langkahnya dan membungkuk ketika berpapasan dengan seorang wanita yang juga ingin bertemu dengan raja Thurinor. wanita itu acuh tak memperdulikan Raegel dan lainnya. ia terus berjalan, Raegel mengikuti di belakangnya Kemudian. August sempat melihat wanita itu, ia sedikit terkejut.


'jadi wanita itu seorang elf?' pikirnya.


Tak lama August sudah berada dihadapan Thurinor. terkecuali August semua berlutut begitu pula wanita itu. Wanita itu melirik August yang masih berdiri, seorang pengawal Thurinor menghampiri August lalu menendang belakang lutut August.


"Berlututlah manusia hina!"


Bukkk..! Akkhhhh..!


Namun sesuatu di luar dugaan terjadi, kaki pengawal itu patah, ia merasakan seperti menendang baja yang sangat keras. pengawal lainnya mengeluarkan senjata dan bersiap menyerang August. Namun Thurinor mengangkat tangannya membuat para pengawal itu mengurungkan niatnya.


"Aku Thurinor raja dari kerajaan Healon ini, mengapa kau tidak berlutut memberi hormat padaku?" tanya Thurinor geram.


"Kalian menganggap rendah diriku untuk apa aku menghormati kalian semua?" jawab August tanpa ada rasa takut sedikitpun.


"Aku bisa mencincang tubuhmu dan menjadikan makanan makhluk celestial danau itu." kata Thurinor.


"dengan tanganmu atau penjagamu?" August balik bertanya.


Thurinor semakin marah ia bangkit dari duduknya "Bunuh dia."


Mendengar perintah itu wanita yang sedang berlutut tak jauh dari August berdiri tiba-tiba mengeluarkan pedangnya, begitu juga Raegel dan lainnya. August sudah memperhitungkannya, ia melesat ke arah Thurinor yang sedang menunjuk ke arahnya.


August mencengkram tangan Thurinor, memelintir hingga terdengar suara krek. tangan kanan Thurinor patah Thurinor menjerit histeris.


Aaaaakhhhh..!


Melihat suaminya disakiti ratu Talindra bangkit mengambil belati yang terdapat di balik gaunnya lalu menikam ke arah leher August, tetapi August lebih cepat, sebelum belati itu terangkat August menampar wanita itu hingga membuatnya terpelanting jatuh.


Plakkk..!


Mulut wanita itu mengeluarkan darah, mahkotanya terlepas ia pun tak sadarkan diri. Seluruh prajurit mulai masuk ke dalam ruangan mengepung August.


"Jangan ada yang bertindak gegabah!" wanita itu bersuara memberi perintah.


August melirik ke arah wanita itu.


Raegel melirik ke arah wanita itu. "Nasyra kau pergi ke Proxima lagi?"


"aku tak perlu meminta izin darimu Raegel." jawab wanita itu.


"Jadi namamu Nasyra." kata August tersenyum tipis.


"Hey.. siapapun dirimu, lepaskan raja Thurinor, aku tau kau hanya ingin pulang ke proxima, aku berjanji akan mengantarmu kembali kesana." kata Nasyra.


"Lepaskan para tawanan moon elves, biarkan mereka pergi baru aku melepaskan raja kalian." kata August.


"Mengapa kau peduli dengan mereka?" tanya Nasyra.


"Bukan urusanmu!" jawab August acuh.


Melihat tak ada respon dari Nasyra dan Raegel, August menekan lengan kanan Thurinor yang sudah patah.


"Ahhhhhh...!"


Jeritan Thurinor menyadarkan mereka semua.


"Raegel lepaskan tawanan itu..!" kata Thurinor menahan sakit.


Raegel mengangguk lalu segera pergi ke ruang tahanan. Aranthir dan Taflas sedikit terkejut melihat Raegel datang terburu-buru bersama beberapa penjaga.


"Bebaskan semua moon elves." kata Raegel.


"Raegel apa yang terjadi?" tanya Aranthir.


"Tak ada waktu untuk menjelaskan, Cepatlah pergi jangan pernah kembali." kata Raegel.


Aranthir dan Taflas saling berpandangan, mereka berdua dan lima orang moon elves lainnya akhirnya digiring keluar. rasa penasaran mereka akhirnya terjawab, mereka tercengang Tampak dari kejauhan mereka melihat Mercia menyandera raja Thurinor.


"Cepatlah pergi, setelah manusia itu dibunuh semua akan mengejar dan membunuh kalian semua." kata Raegel.


Aranthir dan Taflas mengerti apa yang sebenarnya terjadi, mereka dibebaskan karena permintaan Mercia, mereka akhirnya segera pergi meninggalkan kerajaan Healon.


"Kau sudah lihat sendiri semua tawanan telah dibebaskan sesuai permintaanmu, sekarang lepaskan raja Thurinor." kata Nasyra.


August tersenyum. "baiklah aku akan melepaskannya."


August sudah mengetahui bila ia melepaskan Thurinor semua akan langsung menyerang ingin membunuhnya. bahkan saat ini ia berdiri dalam ratusan bidikan anak panah.


"Aku peringatkan padamu Thurinor, kau bisa duduk manis di atas singgasanamu aku tak akan mengganggumu lagi, tetapi jika kau tak membiarkan aku melewati pintu gerbang itu, aku akan menghancurkan istanamu ini!" ancam August.


August melempar tubuh Thurinor ke dalam singgasananya. semua benar-benar terkejut, mereka tak pernah mengalami situasi seperti ini, Kerajaan Healon adalah satu dari tiga kerajaan terbesar di Enigma, tak ada yang berani menantang mereka selama ini, tetapi tidak hari ini.


Thurinor yang sudah dipermalukan segera bangkit lalu berlari keluar dan berteriak "Bunuh dia..!"


Ratusan anak panah melesat ke arah August, sepersekian detik sebelum panah itu mengenai tubuhnya, August menghindar tidak ada yang bisa melihat pergerakannya terkecuali seorang wanita yang mengenakan jubah berwarna biru dengan penutup kepala untuk menyembunyikan wajahnya. wanita itu melihat ke atas ia sangat terkejut melihat August melayang dengan sebuah bola sinar seukuran bola basket di atas telapak tangannya.


Thurinor dan lainnya terkejut ketika melihat panah panah itu hanya mengenai ruang kosong. belum hilang keterkejutan mereka, mata mereka terbelalak ketika melihat ke langit dimana August melayang dan melemparkan bola bersinar berwarna merah dengan kilatan seperti listrik kearah Thurinor.


Nasyra dan Raegel menyadari bahaya yang akan terjadi, mereka berdua bergerak masuk ke dalam istana menyelamatkan Talindra dan Thurinor ke luar istana. tubuh mereka terpental ketika ledakan besar terjadi.


BLEGARRR...!


Bola sinar berwarna merah menghancurkan bagian depan istana itu, asap hitam mengepul kelangit, beruntung bagian depan istana itu kosong, para prajurit yang menjadi korban hanya mengalami luka-luka. August kali ini mengeluarkan dua buah bola sinarnya di kedua tangannya ia benar-benar akan menghancurkan sisa bangunan istana itu. Melihat August bersiap Nasyra pun bangkit berdiri.


"Tolong hentikan, akan banyak korban jiwa di sisa bangunan istana itu, di sana banyak anak-anak, aku mohon jangan kau lakukan, maafkan Ayahku kebenciannya terhadap manusia memang sulit di terima, aku sudah mengetahui kebenarannya, hancurnya Moonheaven bukan karena kalian, melainkan Clawrit ia memecah belah keharmonisan hubungan elf dan manusia." kata Nasyra berlutut meneteskan air mata.


Thurinor dan Talindra pun tak kuasa menahan air mata mendengar penuturan Nasyra, mereka tak menyangka alasan mengapa putrinya sering pergi ke Proxima adalah mencari kebenaran, mereka pun menyesal telah dibutakan oleh kebencian tak berdasar.


August pun menenangkan dirinya ia turun perlahan mendekati Nasyra.


"Bangunlah jangan pernah berlutut lagi didepanku." kata August.


Nasyra perlahan bangkit, kepalanya tertunduk mengusap air matanya.


"Pedang emas itu apakah benar milikmu atau kau merampasnya dari orang lain?" tanya August.


"I.. ini milikku, pemberian dari temanku dia tinggal di duniamu, kau menginginkan pedang ini?" kata Nasyra mengambil pedangnya dan menyerahkan kepada August dengan kedua tangannya.


"Tidak, aku tidak menginginkannya, apakah temanmu itu anggota klan Armeda?" tanya August.


"Be.. benar" kata Nasyra gugup.


"seberapa baik hubunganmu dengan klan itu?" tanya August.


"sangat baik, tetapi aku hanya mengenal salah satu klan Armeda." jawab Nasyra.


"Apakah di klan itu ada seorang wanita dengan senjata tombak emas atau rantai emas?" tanya August.


Nasyra terkejut. "kau mengenal Aira?"


August tersenyum "dia temanku."