
"Baiklah, terima kasih." August lalu melihat gerbang yang masih tertutup.
"kalian akan membukanya atau kalian ingin dipaksa membukanya?"
penjaga gerbang itu melirik ke arah Ravenna, Ravenna mengangguk. pintu itu dibuka August dan Elyn melangkah pergi.
"Bibi Ravenna mengapa kau bersikap sopan padanya?" tanya Dion.
"jika aku tidak bersikap sopan, kita berdua akan diseret olehnya ke depan pintu gerbang istana ayahmu."
"sebaiknya kau dengar kata-katanya, aku sendiri yang akan mematahkan kaki dan tanganmu jika kau masih nekad mengganggu Elyn." kata Ravenna.
Glek. Dion menelan ludah.
Di dalam sebuah gubuk kecil di pinggir hutan tak jauh dari sungai tampak seorang wanita berusia sekitar tiga puluh lima tahun terbaring lemah di tempat tidur kayu.
"Ibu aku sudah pulang, aku membawa makanan dan seorang teman." kata Elyn.
"kau bawa teman?" ibu Elyn sedikit terkejut.
"apa dia Isona?"
Elyn menggeleng "namanya Mercia, dia laki-laki, dia akan mengobati ibu." Elyn memeluk ibunya.
"Mengapa kau tak menyuruhnya masuk?"
"aku harus minta izin padamu dulu." kata Elyn.
"aku izinkan sekarang cepat suruh ia masuk." ibu Elyn tak menyangka Elyn bisa mendapatkan teman, apalagi seorang lelaki. semenjak ia jatuh sakit, Elyn yang kala itu berusia dua belas tahun membuang masa kecilnya hanya demi merawat dirinya. hingga membuat Elyn tidak mengenal siapapun kecuali Isona.
Ibu Elyn terkejut ketika melihat August memasuki gubuknya, perawakannya sangat gagah dengan wajah yang rupawan.
"Apa benar kau teman Elyn?"
"Aku bertemu dengannya pagi ini, aku tak sengaja telah merusak tanaman bunga kesukaan anda nyonya.."
"namaku Emera"
"nyonya Emera aku ingin meminta maaf" kata August canggung.
"Elyn bilang kau ingin mengobatiku benarkah?"
"aku ingin mencoba, tetapi aku tidak berjanji apa itu akan berhasil, itu pun jika kau mengizinkan mengingat aku belum lama mengenal Elyn." kata August.
"aku percaya dan aku mengizinkanmu." Emera tersenyum.
"baiklah aku akan mencobanya.., Elyn bolehkah aku meminta segelas air." pinta August.
"Mercia lukaku ini karena pertarungan, teman-temanku tak ada yang bisa menyembuhkan, aku tak akan kecewa bila ini tidak berhasil."
August hanya tersenyum. Elyn menyerahkan segelas air kepada August. sekilas sinar kehijauan dari tangan August merubah warna air sesaat. Elyn tak tau, namun Emera melihatnya.
Emera meminum habis air itu, tubuhnya terasa panas, ia pun memuntahkan darah kental berwarna hitam. Elyn panik.
"ibu..."
"tenanglah Elyn ibumu sedang mengeluarkan racun dalam tubuhnya, ambilkan aku segelas air lagi."
Elyn ragu namun ibunya memberi isyarat dengan tangannya menyuruh pergi. Elyn pun mengambil segelas air lalu kembali menyerahkan kepada August. August kembali mengeluarkan energinya namun kini cahaya keemasan keluar dari telapak tangannya. Emera kembali melihatnya. August menyerahkan segelas air itu kembali kepada Elyn.
"bantu ibumu meminum air ini sampai habis."
Elyn membantu ibunya meminum air itu, dada sesak Emera berangsur-angsur hilang dan juga rasa sakitnya. wajahnya yang pucat berganti cerah, semakin banyak meminum air itu, energinya semakin pulih. Elyn senang bukan kepalang melihat kondisi ibunya saat ini.
"i.. i.. ibu sembuh" tangis Elyn kembali pecah, tapi kali ini air mata penuh kebahagiaan, Emera pun menangis. August tak kuat menyaksikan kejadian itu, ia pun memilih keluar rumah.
beberapa menit kemudian Emera dan Elyn keluar menghampiri August.
"Mercia aku ingin mengucapkan terima kasih telah menyembuhkan ibuku." kata Elyn.
"anggap saja itu sebagai permintaan maafku telah merusak tanaman itu." kata August.
"Elyn buatkan sesuatu aku yakin temanmu ini ingin mencicipi masakanmu." kata Emera.
Elyn mengangguk senang ia bahagia ibunya telah sembuh. ia lalu pergi meninggalkan August dan Ibunya.
"aku tak tau bagaimana kau melakukannya. tapi aku sangat berterima kasih, aku sudah hampir menyerah dengan keadaanku." kata Emera.
"putrimu pantang menyerah." kata August.
Emera tersenyum.
"Apa benar kau yang mendirikan kuil itu?" tanya August.
"Benar, namun Irric mengkhianatiku, ia menantangku, aku terluka dan kuil itu jatuh ke tangannya, aku meminta ia untuk tidak melukai Elyn." kata Emera.
"jadi Elyn tidak mengetahuinya?"
Emera menggeleng.
"kau lebih kuat dari Irric, bagaimana kau bisa kalah?"
"darimana kau tau aku lebih kuat darinya?" tanya Emera.
"kekuatanmu saat ini baru pulih sekitar sepuluh persen, sedangkan kekuatan Irric hanya sepertiga kekuatanmu, aku sudah menghajarnya tadi" kata August.
"apa?"
"jika kau tak percaya tanyakan pada putrimu atau Isona dan semua yang ada di kuil itu."
"seseorang telah membantunya, suamiku telah terbunuh ketika aku tiba."
"jika memang kau telah melukainya kemungkinan orang itu akan kembali dan mencarimu." kata Emera.
"Namanya Leth"
Terdengar suara seorang wanita berpakaian hitam turun perlahan di dekat mereka berdua.
"Ravenna" August dan Emera bersamaan.
"Kau bilang namanya Leth, apa dia orang dengan dua pedang dipunggungnya?" tanya August.
Ravenna terkejut. "kau mengenalnya?"
"aku ingin membunuhnya dan empat temannya" kata August.
Ravenna dan Emera tercengang.
"apa dia ada di kuil?" tanya August.
"tidak.., aku mendengar Irric untuk menyuruh salah satu muridnya menghubungi Leth.
"tunggu dulu.. jadi kalian sudah kenal?" tanya Emera.
"aku berada di kuil ketika dia mengalahkan Irric hanya dengan satu pukulan, dia juga mengancam keponakanku akan mematahkan kakinya dan menyeretnya ke depan gerbang istana Galan."
"hah..!" Emera terkejut.
"apa kau tersinggung aku mengancamnya?" tanya August.
"kau jangan salah paham, justru aku berterima kasih, anak itu memang sulit diatur, namun setelah kau ancam dan mendengar perkataan Isona dia benar-benar ketakutan, hahaha.."
"Lady Emera, aku juga meminta maaf atas sikap Dion yang selalu mengganggu Elyn, kami semua tidak tau kalau Elyn itu putrimu." kata Ravenna.
"lupakanlah itu sudah berlalu, ngomong-ngomong apa yang kau lakukan disini?" tanya Emera.
"Raja Valon menyuruhku untuk melihat perkembangan Dion, dan menanyakan keberadaanmu karena sudah lima tahun ini tidak mendengar keberadaanmu, Irric mengatakan kau sudah mengasingkan diri." kata Ravenna.
Emera mengepalkan tangannya. terlihat dendam dari sorot matanya.
"Ibu makanan sudah siap!" teriak Elyn.
mereka berempat pun makan dalam rumah gubuk kecil itu.
"Mercia darimana asalmu?" tanya Ravenna.
"Kota Royan."
"aku belum pernah mendengarnya, lalu sekarang dimana kau tinggal?" tanya Ravenna.
"aku tidak menetap, ngomong-ngomong apa diantara kalian tau arah menuju Moonheaven?" tanya August.
Emera dan Ravenna tercengang saling pandang.
"kau ingin mencari bunga edianna?" Emera balik bertanya.
kini August yang tercengang. "apa kau tau?"
"Mercia.. tanaman bunga itu sudah punah.. dan daerah bernama Moonheaven sudah tidak ada lagi."
"Apa?" August sangat terpukul mendengarnya, wajahnya mulai terlihat sedih.
Emera dan Ravenna melihat perubahan di raut wajah August.
"Untuk apa kau mencari bunga itu?" tanya Emera.
"Aku berjanji untuk mengobati luka ibu temanku."
"Mercia Moonheaven adalah tempat dark elf, tempat itu hancur setelah diserang pasukan Clawrit sekitar seratus tahun yang lalu." kata Emera.
"aku sudah kenyang, aku keluar sebentar." kata August. ia berdiri melangkah keluar lalu melompat menuju sebuah pohon besar beberapa puluh meter dari gubuk itu. pikirnya berkecamuk, mustahil bila Oracle dan Lyra tidak mengetahui hal ini. bila mereka tau mengapa aku masih diminta pergi untuk mencarinya. apakah ada hal yang disembunyikan dariku?
Beberapa saat kemudian, terdengar teriakan seseorang yang bersusah payah berlari dengan membopong seorang wanita.
"Bibi.. bibi.. bibi Ravenna..!" teriaknya. ia membopong Isona yang terluka. August diam mengamati.
Ravenna dan lainnya keluar.
"Dion ada apa?" kata Ravenna.
"Isona terluka diserang orang itu, dia menuju kesini." kata Dion.
"siapa yang menyakiti Isona?" tanya Emera.
"aku"
Seorang lelaki melompat di hadapan mereka, lelaki itu menggunakan pakaian ala ninja warna hitam tanpa penutup muka, hanya ada ikat kepala berwarna hitam dan dua buah pedang berada di punggungnya. ia mencengkram Dion.
"Kau.. Jadi kau bernama Leth?" Emera terkejut.
"Hmm.. bagaimana kau bisa pulih dari racun warblade?" tanya Leth.
"Lepaskan dia!" kata Ravenna.
"anak ini menggangguku." kata Leth dingin.
"lawan aku" tantang Ravenna.
"apa kau cukup kuat?" Leth meremehkan.
Ravenna langsung menyerang Leth, gerakannya sangat lincah, tapi Leth lebih cepat, dia hanya menghindar. August mengenali lelaki yang bernama Leth itu, dia salah satu dari kelima orang yang membuat Julia terbunuh, tetapi August tau lelaki ini dan seorang wanita bernama Legira tidak melakukan apapun, itu sebabnya ia masih menahan diri tidak menyerang Leth, ia juga ingin tau seperti apa kekuatan Ravenna.
"Mengapa kau hanya menghindar?" kata Ravenna.
"aku ingin bertemu dengan orang yang telah melukai Irric, dan aku yakin orang itu pula yang menyembuhkan wanita itu." Leth menunjuk Emera.
"aku ingin membuat kesepakatan dengannya."
August sedikit terkejut mendengarnya.
"kau telah melukai Isona." kata Emera.
"Dia hanya pingsan." kata Leth.
"apa maumu?" August tiba-tiba berada di belakang Leth.