
"Gila.. Proxima benar-benar luas, setengah hari aku masih belum menemukan arah yang diberikan Nyx." kata August. ia membasuh wajahnya lalu berjalan mendekati sebuah pohon apel, memetik sebuah apel merah yang cukup besar lalu duduk bersandar di bawah pohon tersebut.
August membersihkan apel dengan bajunya. ia pun memakan apel tersebut, namun belum sempat August menggigitnya, seseorang melempar kerikil dan mengenai apel di tangan August. apel itu terlempar membentur batu, tangan August terasa kebas, ia menengok ke kanan dimana arah kerikil itu berasal, August terkejut melihat seorang wanita tengah duduk di atas batu besar sekitar lima meter darinya.
'Bagaimana wanita ini tiba-tiba berada di sini? aku tidak merasakan kehadirannya sebelumnya.'
"Mengapa kau melamun? apakah kau terpesona dengan kecantikanku? hahaha."
August mengamati wanita itu, tampak pakaiannya sangat vulgar, wanita itu berambut pirang sepinggang, pakaiannya tanpa penutup dada berwarna hitam, di lehernya terdapat sebuah kalung dengan bandul pentagram, dadanya yang lumayan besar terlihat menyembul, ia mengenakan rok mini yang juga berwarna hitam.
"Aku tak melihatmu atau mendengarmu datang, apakah kau hantu penunggu pohon apel ini?"
"Hahaha.. klo benar aku hantu penunggu pohon ini kau mau apa?"
"Jika benar kau hantu, kau adalah hantu cantik yang pernah kutemui."
"Aku minta maaf, aku telah memetik apel itu tanpa izin, aku kelaparan, tolong hantu cantik jangan bunuh aku." kata August.
"jika kau memakan apel itu kau akan mati."
"Hah.. mati?"
"Apel itu beracun, Lihatlah!" kata wanita itu menunjuk arah belakang August.
August membalikan badannya, ia tercengang apel yang mengenai batu telah membuatnya seperti terlihat meleleh. August langsung berlari ke arah sungai.
"Hey kau mau kemana?" tanya wanita itu.
"Mencuci tanganku, aku sudah memegang apel itu."
"Hahaha."
Apa yang dilakukan August hanyalah berpura-pura, setelah mengamati wanita itu, ia sudah waspada, ia berpikir wanita itu pasti sangat kuat, kemunculannya tak terdeteksi oleh August sudah cukup baginya sebagai bukti, sampai ia mengetahui apakah ia lawan atau bukan dia akan berpura-pura menjadi orang biasa. setelah mencuci tangannya ia lalu kembali menghampiri wanita itu.
"Kau ini bodoh sekali, hanya apel merah yang memiliki racun."
"Maafkan aku, aku benar-benar tidak tau, di tempatku tidak ada pohon apel."
"Memang darimana asalmu?"
"Aku tinggal di Royan."
"Aku tidak pernah mendengarnya."
"itu.. emm"
"Kau berbohong ya? hahaha."
"tidak.. aku tidak berbohong. Aku tinggal di hutan di sekitar pohon raksasa."
"Jadi kau orang hutan.. hahaha."
August hanya menggelengkan kepalanya.
"Siapa namamu?"
'wanita ini sangat mencurigakan, auranya seperti ingin membunuh.' pikir August
"August."
"Nama yang jelek pantas kau terlihat bodoh."
'wanita ini suka sekali mengejek' pikir August.
"Bolehkah aku tau siapa kau?"
"Jika aku beri tau namaku kau akan ketakutan."
"Kau masih ingin tau?"
"tentu saja."
"Namaku Zelda." lalu menatap tajam mengamati ekspresi August. ia heran, ia tak menemukan ekspresi ketakutan pada diri August.
"Namamu bagus sekali, senang bertemu denganmu?" August lalu mengulurkan tangannya.
"apa yang kau lakukan?" Zelda tampak bingung.
"Berjabat tangan, karena kita berkenalan, kau ulurkan tanganmu."
Zelda mengulurkan tangannya, August lalu menjabatnya dan menggoyangnya.
"Zelda, senang bertemu denganmu."
"Kau senang? kau tidak takut padaku?"
"untuk apa aku takut padamu?"
"Jadi kau berani melawanku?" Zelda menghentakan telapak tangannya ke arah dada August.
August tidak menduga tiba-tiba mendapatkan serangan, tubuhnya terpental ke belakang beberapa meter. ia mengusap dadanya, darah keluar dari mulutnya. 'kekuatannya besar sekali.' pikir August.
"Mengapa kau memukulku?"
"Karena kau menantangku!"
"aku tidak menantangmu."
"kau bilang tak takut padaku, itu artinya kau berani menantangku."
"Aku tak takut padamu karena kau orang baik, kau telah menyelamatkan nyawaku dari apel beracun itu, dan kita sudah berkenalan, itu artinya kita berteman."
"Teman?"
"ya teman. apa kau tidak punya teman?"
"aku tidak pernah punya teman."
"Sekarang kau punya satu."
"aku tidak butuh teman." kata Zelda lalu tiba-tiba menghilang dari pandangan August.
kruuk..
"Ah.. perutku, aku harus segera mencari rumah makan." August melesat pergi.
sekitar setengah jam August melihat sebuah kota, ia lalu turun sedikit jauh dari gerbang kota, ia berjalan memasuki kota yang terlihat cukup ramai dengan segala aktifitasnya. August melihat ke kanan dan kiri, mencari tempat makanan, ia tersenyum ketika ia melihat plang kios bertulisan 'Warteg' ia lalu bergegas masuk ke tempat itu.
August membuka pintu, dua orang wanita cantik menyambutnya.
"Selamat siang tampan, selamat datang di tempat kami, kamu ingin cari yang seperti apa?"
"Aku ingin makan banyak."
Salah satu wanita itu menepuk tangannya dua kali, tiga orang wanita lainnya segera menghampiri.
"Tuan yang tampan mereka adalah gadis-gadis baru di tempat kami, aku bisa jamin kau pasti puas."
Glek.
"Ehm.. aku hanya ingin makan."
"Tuan tampan aku tidak mengerti maksudmu."
"Perutku lapar, aku ingin beli makanan."
"HAHH..! Apa kau sudah gila, Apa kau buta tidak membaca plang tempat kami? Bruma usir si bodoh ini."
Seorang berbadan besar seperti aktor the rock langsung menarik jubah August menuju pintu keluar dan mendorongnya hingga membuat August terjatuh.
'kasar sekali.' August bangkit namun ia tercengang melihat plang besar di depannya.
'Warteg' wanita ramah terampil enerjik dan gesit di jamin puas, pesan dua diskon sepuluh persen.
"Hah.. apa-apaan ini?" August merasa malu, orang-orang disekitarnya melihat kejadian itu mencibir dengan ekspresi jijik.
'Mimpi apa aku semalam.' tiba-tiba terlihat beberapa orang berlari. menuju hewan kuda tunggangannya.
"Cepat.. kita pergi dari sini, wanita iblis itu telah kembali."
kini mata semua orang menatap ketiga orang itu dengan tatapan bingung.
'Wanita iblis?'
Brakk...
Seseorang terlempar ke tengah jalan dari sebuah bangunan. wajah orang itu terlihat bengis.
"BRENGSEK.. akan kubunuh kau perempuan iblis" kata orang itu, ia mencabut pedangnya ia berlari kembali masuk ke dalam bangunan itu.
Tetapi baru selangkah sebuah sinar merah mengenai tubuhnya.
wuss.. Duar..
Tubuh lelaki itu meledak dan hancur, hanya menyisakan kedua kakinya. orang-orang seketika panik berlarian. para pedagang serempak menutup kios-kios mereka. suasana kota yang ramai dalam sekejap menjadi sunyi, hanya August yang masih berdiri di pinggir jalan.
"Jangan ada yang pergi dari sini."
terdengar samar di telinga August suara seorang wanita berteriak dari dalam bangunan itu. August penasaran ia lalu berjalan memasuki bangunan itu, ia melihat plang bangunan itu 'Rumah Makan Berkah Jaya"
'Ini rumah makan apa toko matrial? jangan-jangan menunya paku panggang atau bata goreng topping semen.'
August memasuki tempat itu, semua mata memandanginya, August melihat mereka seperti ketakutan.
Brakk..
Seorang wanita memukul meja. "mana makananku?"
Beberapa pelayan membawakan makanan dan menaruh diatas meja wanita itu.
"Hey pelayan.. mereka semua yang akan membayar makanan ini, jika ada yang menolak aku akan membunuhnya. kau mengerti?"
"me.. me.. mengerti no.. na"
"Aku yang akan membayarnya, dan bawakan aku juga seperti apa yang ia pesan." kata August lalu duduk di hadapan wanita itu.
pelayan itu mengangguk dan segera bergegas pergi.
"Kau..!"
"Kita berjumpa lagi hantu cantik."
"Hey, jika kalian sudah selesai makan dan membayarnya kalian boleh pergi, kalian tak perlu membayar pesanan wanita ini." kata August.
Mereka langsung membayar dan bergegas pergi, tak sedikit mereka yang membayar lebih.
"Mengapa kau mengikutiku?" tanya Zelda.
"aku tak mengikutimu, kau datang dan menghilang bagai hantu, mungkin kau benar-benar hantu, tapi aku bingung.. mengapa hantu makan banyak sekali?"
Zelda berusaha menahan tawanya, namun sekilas August melihat sesaat senyum tipis di sudut bibirnya.
"Mengapa kau ketempat ini?" tanya Zelda.
"Apakah kau lupa aku kelaparan, aku tidak tau mana buah yang beracun atau tidak, aku ingin bertanya tapi kau menghilang."
"Kau tidak perlu membayar makananku, biarkan mereka yang membayarnya."
"Kau tetap temanku walau kau berkata sebaliknya, aku berhutang nyawa padamu, membelikanmu makanan mungkin belum cukup untuk membayar hutang budiku, tetapi sebagai seorang teman aku bisa berbagi dan mentraktirmu."
"Pelayan mana makanan yang ia pesan?" teriak Zelda.
"Sabarlah, tidak perlu berteriak."
"Jangan mengajariku, kau ingin bernasib seperti lelaki di luar sana?"
"Mengapa kau membunuhnya?"
"Dia menggodaku, dia lebih bodoh darimu."
August menggelengkan kepalanya. tak lama makanan yang di pesan tiba, August membantu pelayan itu mengambil makanan di baki lalu memindahkannya ke meja. August terkejut ketika ia melihat gelang di tangan kirinya menyala terang.