MERCIA

MERCIA
105. Mengubur Impian.



Proxima Kuil Armeda.


"Bibi Nefia bibi Myla bagaimana menurutmu kuil Armeda yang baru ini?" tanya Aruna.


"Aku tak menyangka bisa selesai secepat ini." kata Nefia.


"pembangunan kuil ini dilakukan oleh tiga peradaban, bumi, Enigma dan Proxima." kata Aruna.


"Kau memang sudah di takdirkan menjadi pimpinan Armeda terbaik yang pernah ada Aruna."


"Jangan terlalu memujiku bibi Myla, aku bukan siapa-siapa dibandingkan kalian berdua."


"Benar bibi, jangan terlalu memuji Aruna, nanti saja memujinya, bisa-bisa jodohnya susah karena besar kepala." celetuk Aira.


"Aira..." Myla tampak sedikit kesal.


tok.. tok.. tok..


"Masuklah..!"


Seorang lelaki berbadan tegap memasuki ruangan, ia membungkuk penuh hormat.


"Ada apa Jonan?" tanya Aruna.


"Maaf ketua, ada seorang wanita mencari anda."


"Wanita? siapa namanya?" tanya Aruna.


"Wanita itu mengaku bernama Elda, dia mengenakan baju pelindung berwarna merah."


Aruna tersentak. "dimana dia sekarang?"


"Ketua dia menunggu di dekat kolam air mancur, kami..."


Tanpa menunggu Jonan selesai bicara, Tubuh Aruna muncul baju pelindung berwarna biru dan tangan kanannya menggenggam tombak emas, ia berlari ke arah balkon lalu melompat ke arah kolam air mancur, meninggalkan Aira dan lainnya dengan penuh tanda tanya.


"Aira.. Jonan.. mengapa kalian masih diam disini? cepat susul." kata Myla.


Aira mengangguk ia pun berlari ke arah balkon dengan baju pelindung dan rantai emas melekat di tubuhnya.


"Kolam Air mancur ini sangat indah, entah mengapa aku merasa damai melihatnya." kata Elda ketika merasakan kehadiran Aruna di belakangnya.


"Mengapa kau datang ke tempat ini? apa kau kecewa aku masih hidup?"


"Aku tidak ingin membunuhmu."


"Jangan coba-coba mengusik Armeda, atau kau akan menyesal." kata Aira yang baru saja tiba, diikuti Jonan, Nefia, Myla dan puluhan anggota klan.


Elda membalikan badannya, ia menyadari dirinya tengah dikepung.


"Semua tahan, Mundurlah.." perintah Aruna.


"Aruna jangan berpikir kau.."


Aruna mengangkat jari telunjuknya sebagai isyarat pada Aira untuk diam.


Aira pun diam menahan diri. ia menatap tajam pada sosok wanita bernama Elda itu di hadapannya.


"Apa maumu?" tanya Aruna.


"Aku datang dengan damai, aku hanya ingin bicara empat mata."


"Baik, ikut aku."


"Aruna tunggu, kami tak akan biarkan kau hanya berdua dengannya." kata Nefia.


"Kalau begitu di sini saja." kata Elda.


"Kalian semua mundurlah!" kata Aruna.


"Aruna.."


"Aira aku adalah ketua Armeda apa kau tidak mendengar perintahku?" bentak Aruna.


"Maaf ketua." Aira syok mendengar bentakan Aruna.


Mereka semua akhirnya mundur sejauh dua puluh meter.


"Aira.. tenanglah, Aruna akan baik-baik saja."


Sekitar dua puluh menit lebih mereka melihat Aruna berbicara dengan wanita itu, hingga akhirnya wanita bernama Elda itu pergi. Aruna berjalan gontai kearah Nefia, Myla dan Aira.


"Siapapun yang mengganggu wanita itu aku bersumpah akan membunuhnya, karena jika bukan aku, Mercia akan membunuhmu." kata Aruna dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca.


Nefia, Myla dan Aira terkejut mendengar perkataan Aruna.


Beberapa saat kemudian.


tok.. tok.. tok..


"Masuk.."


"Aruna kami butuh penjelasan darimu." kata Nefia.


"Wanita itu adalah Phoenix."


"Phoenix?" Nefia, Myla dan Aira kembali di buat terkejut.


Myla akhirnya mengerti. karena sebelumnya dia sudah mengetahui besarnya perasaan Aruna terhadap Mercia.


"Aruna kau memiliki jiwa yang besar, aku tau rasanya bagaimana kau dengan rela mengubur impianmu, aku tetap mendukungmu." kata Myla.


"Apa yang kau bicarakan Myla?" tanya Nefia.


"Nefia, Aruna telah merelakan impiannya demi mengungkap kebenaran. aku tau impiannya, namun aku tidak tau kebenaran apa yang kau sampaikan."


"Aruna bukankah impianmu sudah terwujud? Bukankah Armeda telah bersatu?" tanya Nefia.


"Impianmu bersama Mercia bukan?" tanya Aira.


Aruna memandang Aira, ia mengangguk pelan dan menunduk. Nefia pun mulai mengerti.


"Bukankah kau tidak mempercayai ramalan itu, mengapa kau menyerah? bukankah kau seorang petarung?" tanya Aira.


"Aira hentikan." kata Myla.


"Aku sebelumnya memang ragu bahkan tidak percaya ramalan itu, namun setelah pertama kali bertemu dengan wanita itu, aku mempercayainya, dan aku pun tau kau juga menyukainya, dan kita berdua tak akan pernah bisa memilikinya."


"Mereka berdua ditakdirkan untuk bersama."


"Tidak.. kau salah! yang dimaksud adalah takdir mereka berdua bersama adalah untuk membebaskan Proxima dari kekuatan iblis." bantah Aira.


"Aira.. Phoenix adalah Julia."


"APA KATAMU..? JULIA..?!" perkataan Aruna seperti petir yang menyambar dirinya.


"Tidak mungkin... Mercia mengatakan Julia telah dibunuh."


"Aku tau.. Mercia berpikir seperti itu, namun ia tidak pernah memakamkan jasadnya, tubuh Julia menghilang di pelukannya, Aira aku sudah melihat wajah Phoenix."


"Jika benar yang kau katakan itu mengapa dia tidak mengenaliku?"


"Apakah kau tidak berpikir mungkin dia memiliki wajah yang mirip?"


"Aira... dia juga memiliki saudara kembar yang tinggal di Proxima, namanya Amara putri para naga."


"Tunggu.. putri para naga? bukankah itu tulisan token yang Mercia tunjukan waktu itu?" tanya Nefia.


"Benar bibi, ketika aku menceritakan siapa Phoenix, ia menunjukan token itu."


"Tidak mungkin.. jika Julia berasal dari Proxima tentu aku bisa merasakan kekuatannya." kata Aira, ia sangat berat mendengarnya.


"Mercia mengatakan ia memang bukan berasal dari Proxima, dan juga bukan berasal dari bumi."


"Cukup Aruna.. aku tidak ingin mendengarnya lagi." kata Aira lalu melangkah pergi.


"Aira..." kata Aruna pelan.


**


Innodale.


"Kitab iblis sudah muncul?" Minerva tersentak.


"Kakak kau jangan pernah berpikir untuk mempelajari kitab itu." kata Freya.


"Freya kau pikir aku bodoh? kita bukan berasal dari keluarga penyihir hitam."


"Hmm.. tapi bagaimana bisa kitab itu muncul di bumi?" tanya Minerva.


"itu tidak penting, yang penting adalah bagaimana cara kita menghancurkan kitab itu." kata Helena.


hening.


Seorang lelaki berjalan menghampiri mereka bertiga.


"Lady Helena, seorang wanita bernama Amara ingin menemuimu." kata Oswyn membungkuk.


"Bawa ia ke ruanganku aku akan menemuinya di sana." kata Helena.


Oswyn mengangguk, membungkuk lalu pergi.


"Aku ingin kalian menemukan cara secepatnya, Mercia bisa bertarung dengan siapapun terkecuali para penyihir dengan sihir hitamnya." kata Helena.


"Kami mengerti." kata Freya.


Helena pergi meninggalkan mereka berdua.


"Freya apa yang harus kita lakukan?"


"Kakak mengapa bertanya padaku? aku hanya mempelajari sihir putih, aku pun baru tau ada kitab iblis."


"Kau ini.. baiklah kita pergi ke tempat Gesorra. mungkin kita menemukan sesuatu di sana."


**


"Kau mencariku?" tanya Helena.


"Apa kau bernama Helena?"


"Apa aku mengenalmu?"


"Tidak.., tapi kita mengenal orang yang sama." kata Amara.


"Siapa yang kau maksud?"


"Mercia."


Helena dan Amara saling menatap, mengamati dengan rasa cemburu yang mereka berdua berusaha untuk menyembunyikannya.


"Apa maksud tujuanmu menemuiku?"


"Mercia dalam bahaya, kita harus segera menolongnya."


"jadi kau butuh bantuanku untuk menolong Mercia? ceritakan padaku, lalu kau boleh kembali, aku akan segera menolongnya." kata Helena acuh.


"Ngomong--ngomong bagaimana bisa Mercia berada dalam bahaya? apa kau tak mampu menjaganya?"


Amara ingin sekali merobek mulut wanita di hadapannya, namun ia masih bisa bersikap tenang menahan emosinya.


"Ini akibat ulah penyihir bodoh yang ia temui belum lama ini namun tak bisa membantunya melawan sihir hitam, aku ragu jika ia seorang penyihir."


Telinga Helena terasa panas mendengarnya. ia ingin segera membalas namun Amara kembali bicara.


"Hentikan omong kosong ini, semakin banyak waktu terbuang, nyawa Mercia semakin terancam."


"Apa yang terjadi?" tanya Helena sambil menuang anggur dalam sebuah gelas.


"Mercia masuk ke dalam portal iblis."


Prang...!


Tangan Helena gemetar, gelas di tangannya terjatuh.


"Portal iblis."


"Bagaimana dia bisa... hmm.. Beberapa waktu lalu Mercia menemuiku, ia bertanya tentang sihir hitam, sebelum dia datang aku merasakan hal buruk akan terjadi, aku tidak menyangka itu tentang dirinya."


"Apa maksudmu?"


"Tak ada waktu menceritakannya, kita harus cepat pergi."


"Tunggu kita harus menemui seorang lagi." kata Amara.


"Seseorang? siapa?"


"Sylvana."


"Sylvana? Dark Elf?"


"Kau mengenalnya?"


"Dia berada di Moonheaven, bukan di Proxima, Mengapa kau ingin menemuinya?" tanya Helena.


"Aku tidak ingin menemuinya, Mercia yang memintaku untuk menemuimu dan elf itu, beberapa saat sebelum ia terhisap dalam portal itu."


"Jika begitu kau saja yang menemuinya, aku harus melakukan sesuatu."


"Helena, jika bukan karena Mercia aku tidak sudi bekerja sama denganmu atau elf itu."


"Begitu juga aku!" Helena menatap Amara, kini keduanya saling menatap tajam.


"Dengar baik-baik, Mercia milikku, aku sudah berjanji berdiri di sampingnya, bahkan tubuh kami berdua sudah menyatu, jangan pernah berpikir kau bisa memilikinya, setiap jengkal tubuhnya aku sudah menandainya." kata Helena.


Amara tak kuasa lagi menahan amarahnya, ia menyodokan tongkatnya ke arah wajah Helena. Helena dengan sigap menangkap tongkat itu dengan kedua tangannya beberapa sentimeter sebelum mengenai wajahnya, bersamaan dengan itu portal muncul dari belakang Helena bergerak kearah Amara, kini keduanya sudah berada di sebuah hutan di luar kota Innodale.


Amara menarik tongkatnya namun Helena tetap menahan tongkat itu, Amara menghentakan telapak tangan kanannya, Helena pun menghentakan telapak tangan kirinya.


Duarr...!


Ledakan terjadi ketika kedua telapak tangan itu bertemu, tubuh keduanya terpental.