MERCIA

MERCIA
24. Air Mata Julia.



"Carrol apa kau melihat Aruna?" tanya Aira.


"ia sudah pergi, semalam Oracle menemuinya."


Aira dan Carrol menoleh, Lyra menjawab berjalan ke arah mereka berdua.


"Aku juga akan pergi." kata Aira.


"sebaiknya kau tetap disini sampai tubuhmu kuat menahan energi negatif dunia ini, sementara ini biar Carrol mengawasi anak itu untuk sementara." kata Lyra.


"bagaimana dengan Aruna?" tanya Aira.


"ia kembali ke proxima" jawab Lyra.


"untuk apa ia kembali?" tanya Aira.


"aku tak tau apa yang di bicarakan mereka berdua, pastinya berkaitan dengan anak itu."


"bisakah seseorang dari kalian memberikanku ponsel?" tanya Aira pada Carrol dan Lyra.


"tunggu aku kembali." kata carrol.


Aira mengangguk pasrah. "baiklah."


Kampus Royan.


August tiba di kampus dengan mengendarai skuter listrik miliknya. ia tampak senang setelah menikmati makan malam yang menyenangkan bersama Julia semalam. setelah memarkirkan skuternya, August melihat Nora berlari kecil menghampirinya.


"Hey August tunggu.., aku ingin bicara!" teriak Nora.


"ada apa?" tanya August.


mereka berjalan bersama meninggalkan area parkir.


"apa kau tau kabar Aira?" tanya Nora.


August mengangkat alisnya. "mengapa kau menanyakannya?"


"sudah beberapa hari aku tak melihatnya, apa dia baik-baik saja?" tanya Nora.


"aku tidak tau, aku beberapa kali mencoba menelponnya tapi tidak aktif." kata August.


"apa kau tak khawatir sesuatu terjadi padanya?" tanya Nora.


"tentu saja aku khawatir, aku ingin mengunjunginya, tetapi aku tak tau ia tinggal dimana." kata August.


Langkah August dan Nora terhenti ketika mereka melihat Bryan duduk di kursi roda dengan penyangga leher menghadang mereka, di belakangnya kursi roda tampak seorang pria bertampang bengis.


Bryan menatap tajam kepada August "Hari ini kau akan membayar semuanya."


setelah mengatakan itu Bryan melirik sebentar ke arah Nora, lalu pergi meninggalkan mereka berdua. sementara pria yang mendorong kursi roda itu, menatap August dengan penuh kebencian.


beberapa menit kemudian terdengar sebuah pengumuman dari pengeras suara yang terpasang di seluruh area kampus.


'Panggilan untuk saudara August Garcia untuk datang ke ruang administrasi segera... kami ulangi Panggilan untuk saudara August Garcia untuk datang ke ruang administrasi segera terima kasih.'


Tiba-tiba Julia datang menghampiri mereka.


"August apa kau belum membayar uang kuliah bulan ini? aku kebetulan membawa uang." kata Julia.


"tidak aku sudah membayar." kata August


Nora terlihat memikirkan sesuatu. instingnya merasakan ada sesuatu yang tidak beres.


"August apakah ini ada hubungannya dengan ancaman Bryan?" tanya Nora.


"Bryan" Julia mengerenyitkan dahinya.


Nora menceritakan kejadian beberapa menit lalu pada Julia.


"sudahlah, jangan menyimpulkan terlalu cepat, baiknya aku menemui panggilan itu, kalian pergilah dahulu, aku akan menyusul kalian." kata August.


Julia pun sedikit khawatir setelah mendengar cerita Nora. namun akhirnya mereka berdua pergi ke kelas dan menunggu kabar dari August.


August tiba di depan pintu ruang administrasi, namun ia tak melihat pegawai lainnya, di dalam ruangan itu terlihat Mrs. Parker dan seseorang pria berusia sekitar lima puluhan yang ia tidak kenal.


"August beliau adalah Mr. Duncan pemilik universitas ini." kata Mrs. Parker memperkenalkan.


"Duncan" kata pria itu mengulurkan tangannya.


"August duduklah" kata Mrs. parker yang terlihat murung.


"Mrs. Parker mengapa anda memanggilku?" tanya August yang mulai sedikit tidak nyaman.


"August, kami mendapat pengaduan bahwa kau telah menyakiti Bryan, pihak keluarganya tak terima dan meminta kami menghukummu" kata Mrs. parker.


"Mrs. Parker aku membela Nora ketika Bryan menyakitinya. bukankah ada cctv di ruangan itu, banyak saksi yang melihat, kau bisa mengetahui yang sebenarnya terjadi." kata August.


"Aku tahu, aku sudah melihatnya." kata Mrs. Parker.


"lalu mengapa kalian menghukumku bukan Bryan?" kata August sedikit kesal.


Mrs. Parker melirik Duncan.


"August aku percaya dengan penilaian Mrs. Parker, namun orang yang melaporkan ini bernama Jacky, kau tau siapa dia?" tanya Duncan.


"Tuan Duncan, aku tak tau dia siapa, aku hanya melindungi Nora." kata August.


"Nak.. Jacky adalah salah satu pimpinan kelompok black eagle salah satu perusahan besar berbagai bidang, tetapi mereka yang sebenarnya adalah kelompok gangster. Jacky adalah kakak dari Bryan." kata Duncan.


August lalu teringat pria berwajah bengis yang mendorong kursi roda itu menatapnya dengan tajam.


"Tuan Duncan katakan saja apa maksudmu?" pinta August.


"Jacky meminta kami untuk mengeluarkanmu dari kampus." kata Duncan.


"Apa?" August terkejut tubuhnya gemetar.


"Tuan Duncan bukankah ini tidak adil untukku, mengapa justru kalian membelanya, apa kalian buta?" kata August penuh emosi.


"Maafkan aku, aku tau ini tak adil untukmu, namun jika aku tak mengeluarkanmu, mereka mengancam akan membunuhku dan seluruh keluargaku, aku tidak bisa.." kata Duncan.


"mengapa anda tidak lapor polisi?" tanya August.


"Nak.. kau harus melihat langsung bagaimana dunia ini bekerja, hukum tidak berlaku untuk orang orang seperti mereka." kata Duncan.


Mr. Duncan memberi isyarat kepada Mrs. Parker, ia pun mengangguk lalu menyodorkan sebuah map berisi dokumen surat pernyataan untuk di tanda tangani.


August Lemas.. ia pasrah terpaksa menandatangani surat tersebut. ia tak tau bagaimana harus menceritakan kepada orang tuanya.


Julia yang berada di dalam kelas terus memandang pintu kelas yang terbuat dari kaca, terlihat dari kejauhan ruang administrasi. ia memikirkan perkataan Nora beberapa saat yang lalu. beberapa menit kemudian ia melihat August keluar dari ruangan tersebut. namun ia tak berjalan menuju kelas. merasa ada yang tak beres, Julia membereskan bukunya ke dalam tas, lalu meninggalkan kelas tanpa bicara. Mr. Jeremy, Nora dan lainnya hanya memandanginya dengan heran.


August berjalan keluar dengan langkah gontai menuju area parkir. tiba-tiba ia teriak memegang dadanya merasakan sakit yang luar biasa.


Ahhhhh..!


August berjalan ke sebuah mobil yang ada didekatnya dengan susah payah, Ia membuka kancing kemejanya matanya terbelalak dalam pantulan kaca spion ia melihat urat urat kecil berwarna hitam menonjol keluar seperti membentuk lingakaran tak beraturan, di tengahnya terdapat bekas tusukan kecil seukuran jarum.


Tubuhnya terasa lemah, kakinya lemas tak mampu menopang tubuhnya. ketika ia akan terjatuh seorang wanita menahan tubuhnya.


"Aruna.. kau disini." kata August.


"Jangan banyak bicara, aku akan membawamu pergi." kata Aruna.


Aruna membantu August berdiri, tangan kanan August ia letakan di pundaknya, sementara tangan kirinya ia lingkarkan di pinggang August untuk membantunya berjalan menuju sebuah mobil sedan merah berjarak sepuluh meter dari mereka.


baru beberapa langkah, terdengar suara dari belakang mereka.


"August.. kau..?" Julia tampak terkejut melihat apa yang terjadi di hadapannya.


Ia tak mengira melihat August merangkul wanita lain di depannya, terlebih wanita itu sudah dikenalnya. hatinya terasa di tikam pisau.


"Julia.."


August terkejut, ia ingin melepaskan rangkulannya dari pundak Aruna, tetapi tubuhnya sudah tak bertenaga. tangannya tetap tak bergerak. sementara Aruna pun tak melepaskan tangannya dari pinggang August. karena khawatir August akan terjatuh.


"Julia.. ini tidak seperti yang kau pikirkan.." kata August.


"Apa kau gila.. bahkan kalian masih berangkulan mesra, setelah aku memergoki kalian..!" kata Julia dengan emosi yang meluap-luap.


"Julia aku akan jelaskan..aku ter..!"


"semuanya sudah jelas.. tak perlu di jelaskan lagi" kata Julia memotong perkataan August.


"semoga kalian bahagia" Julia masuk ke mobilnya lalu pergi meninggalkan mereka berdua.


setelah menunggu sekian lama August akhirnya menyatakan cintanya, tetapi berakhir begitu cepat, kebahagiaan itu di rengut paksa dari dirinya. api kebencian telah muncul di hati Julia.