
"apa tidak ada kamar lainnya?" tanya Aruna kepada wanita yang bekerja sebagai resepsionis.
"Maaf nona, kebetulan hari ini banyak tamu dari luar kota menginap, hanya tersisa satu kamar"
"Ada apa mereka datang ke kota ini? tidak seperti biasanya." Tanya August.
"maaf tuan mungkin mereka hanya liburan, atau memenuhi undangan petinggi kota ini?" jawab wanita itu.
"acara apa?" tanya August.
"acara ulang tahun anak kedua Mr. Longstaf." jawab wanita itu.
"baiklah kami ambil kamar itu" kata August.
"tunggu dulu mengapa kita tidak cari hotel lainnya?" tanya Aruna.
"ini hotel yang kelima, dan sekarang hampir jam dua belas aku lelah." kata August.
"bukankah kau sudah beristirahat satu tahun penuh." kata Aruna.
"aku akan tidur di sofa" kata August.
"sepakat" ucap Aruna.
Wanita resepsionis itu membuka mulutnya seperti ingin mengatakan sesuatu, namun ia mengurungkan niatnya.
August hanya menghela nafas. ia berpikir mengapa wanita dingin ini semakin menyebalkan. tanpa sadar August kembali teringat Julia, ia merindukan betapa menyebalkannya Julia, dengan segala intimidasinya, kecemburuannya dan di balik sifatnya yang konyol itu Julia selalu menghiburnya. tanpa sadar sebutir air matanya jatuh.
Aruna melihat tetesan air mata itu.
"Kau kelilipan?" tanya Aruna.
"ya" jawab August.
Mereka menaiki lift lalu keluar di lantai lima, August menyerahkan kunci kamar kepada Aruna, ia mengeluarkan ponselnya mengetik pesan. membuat ia tertinggal beberapa langkah di belakang Aruna. ia di kejutkan oleh teriakan Aruna ketika membuka pintu kamar.
"Hah..!"
August sontak melihat Aruna terdiam terpaku di depan pintu kamar.
"Aruna apa yang terjadi?" tanya August.
Aruna hanya diam menunjuk ke dalam kamar. August pun berlari kecil ke arah Aruna, ia memperhatikan kamar itu, tapi August tidak menemukan apapun.
Aruna masih diam terpaku. August mengguncang bahu Aruna.
"Aruna sadarlah.., apa yang kau lihat" kata August.
Aruna menoleh "tidak ada.."
"lalu mengapa kau berteriak?" tanya August.
"tidak ada sofa.. dimana sofanya? tanya Aruna.
Kini August yang berteriak. "Hah..!"
Di dalam kamar hotel itu hanya ada tempat tidur yang ukurannya tidak terlalu besar, lemari kaca dan kamar mandi.
(ini kamar hotel apa kost kostan)
"Tidak ada sofa.. lalu dimana kau tidur? tanya Aruna.
"mau dimana lagi, sudahlah tak perlu khawatir aku tak akan berbuat macam macam." kata August.
mereka berdua sudah di atas pembaringan, tapi tak ada satupun yang bisa tertidur, terasa sangat canggung. sudah berkali kali mereka mengganti posisi tidur tapi masih sulit untuk memejamkan mata. hingga satu momen posisi mereka berhadap-hadapan saling menatap.
"Kau belum tidur?" tanya August.
"aku tak bisa tidur." jawab Aruna.
"mungkin kita bisa melakukan sesuatu yang membuat kita bisa tertidur?" kata August.
"kau tau apa yang kupikirkan saat ini?" tanya August.
"aku tak ingin tau" jawab Aruna wajahnya sedikit memerah.
"kita berlatih, bukankah kau berjanji akan mengajariku?" tanya August.
"Baik" ucap Aruna.
August dan Aruna duduk di lantai kamar hotel saling berhadapan dengan posisi kaki bersila.
"apa yang harus kulakukan?" tanya August.
"kau hanya perlu memusatkan kekuatanmu pada satu titik lalu.."
"aku mengerti" potong August.
"apa? aku belum selesai bicara bagaimana kau mengerti?" kata Aruna sedikit kesal.
"Perisai itu memberi tahuku." kata August.
"Bagaimana kau bicara pada sebuah benda?" tanya Aruna heran.
"lewat alam bawah sadarku, sebelumnya kristal itu juga bicara padaku dengan cara yang sama."
"bahkan ketika aku meminjam tombakmu ia berbicara padaku" kata August.
"Benarkah..?" Aruna terlihat ragu.
"Kau belum memperlakukan dirinya dengan benar" kata August.
"kekuatan tombak itu sangat besar kau hanya menggunakan lima persen dari kekuatannya selama ini." kata August.
"ba.. baru lima persen?" Aruna tercengang.
"aku bisa membantumu tapi kau harus percaya padaku." kata August.
"aku percaya." kata Aruna.
"tapi ini akan sangat menyakitkan, semakin lama kau sanggup menahannya semakin baik untukmu, apa kau siap?
"aku siap" ucap Aruna.
"sekarang berbaringlah." pinta August.
Aruna membaringkan dirinya di lantai kamar. August menjentikan jarinya, lalu muncul kubah transparan melindungi mereka.
"apa itu?" tanya Aruna.
"agar orang lain tidak mendengar jeritanmu, dan salah sangka dengan apa yang akan kita lalukan sekarang"
"pejamkan matamu, bila kau tak kuat sentuh tanganku terlebih dahulu baru membuka matamu, kau mengerti?" kata August.
Aruna mengangguk lalu memejamkan matanya, telapak tangan August mengeluarkan cahaya putih keemasan, ia lalu menekan tubuh di bagian tengah dada Aruna. energi yang August kerahkan masuk ke tubuh Aruna. mengalir dalam peredaran darah. Aruna merasakan sakit luar biasa, tubuhnya seperti dihujam pisau berkali kali dan juga disiram minyak panas, Aruna masih terus bertahan, tangannya terkepal kuat terdengar gemeletuk giginya, air matanya sudah mengalir deras, sampai saat ia tak kuat lagi lalu memberi isyarat pada August untuk menyentuh tangannya.
Ketika Aruna menyentuh tangannya, August justru mengangkat tangan kirinya mencegah mata Aruna terbuka. Aruna yang menyadari August tak melepaskannya mulai berteriak dan meronta-ronta, ia ingin menendang August, August lebih sigap, ia duduk di atas paha Aruna lalu mengapitnya dengan kedua kaki. tangan Aruna yang mencoba memukul August pun mulai lemah terkulai, August menghentikan aksinya setelah mengetahui Aruna sudah tak sadarkan diri.
Terlihat kabut tipis menyelimuti tubuh Aruna. August mengangkat dan memindahkannya ke tempat tidur. keringat membasahi pakaian August merasa tak nyaman ia melepaskan pakaian dan celana panjangnya, hanya menyisakan celana pendek, merasa sangat kelelahan August pun terlelap di samping Aruna.
Pagi pun tiba.
Aruna perlahan membuka matanya, kepalanya terasa berat ia melihat di sebelah kirinya August tertidur hanya dengan celana pendek tiba-tiba teringat kejadian semalam, ia langsung melompat dari tempat tidur tangan kanannya memegang tombak. belum habis rasa kagetnya, Aruna di kejutkan dengan dirinya sekarang. ia melayang di atas tempat tidur, ia melihat tombaknya pun seperti berbeda, ia merasakan energi tombak dan dirinya menyatu. Aruna sangat senang. tiba-tiba ia mengecek bagian tubuhnya yang paling penting. akhirnya ia bernafas lega.
Tak lama berselang terdengar ketukan di pintu.
Tok.. tok.. tok..
"siapa?" tanya Aruna.
"Aira"
Aruna membuka pintu ia melihat Aira dan Hedya membawa sesuatu.
"Darimana kalian tau aku disini?" tanya Aruna.
"August memintaku kesini bersama Hedya, membawa pakaian untuk kalian, Hedya juga membeli sarapan untuk kita." kata Aira lalu berjalan masuk diikuti hedya.
"berikan makanan itu aku lapar." kata Aruna.
Aira dan Hedya terdiam tak memperdulikan Aruna. mereka melihat August tertidur pulas hanya menggunakan celana pendek. mereka melirik Aruna.
"mengapa kalian melihatku seperti itu?" tanya Aruna heran.
"Bagaimana rasanya pertama kali?" tanya Aira.
"apa maksudmu?" tanya Aruna.
"kalian melakukannya berapa kali?" Hedya ikut bertanya.
"melakukan apa? tanya Aruna.
"apa kalian sebelumnya juga pernah melakukannya?" tanya Aira.
"mengapa kalian menanyakan pertanyaan aneh." kata Aruna lalu ia melihat August. wajahnya mulai memerah.
"tunggu.., apa kalian berpikir aku..."
Aira dan Hedya mengangguk bersamaan.
"tidak.. tidak.. aku tak melakukannya." Aruna salah tingkah.
Aira dan Hedya saling lirik lalu berkata bersamaan.
"kami tak percaya."
"terserah.. berikan makanan itu" Aruna mengambil satu porsi makanan yang di beli Hedya.
Aira dan Hedya pun mengambil jatahnya. kini hanya tersisa satu porsi untuk August. mereka bertiga duduk di tepi tempat tidur, menghadap ke tubuh August yang masih tertidur pulas. tak ada satupun yang membangunkan August. mereka hanya makan tanpa obrolan sambil terus menatap August.
August yang energinya telah pulih mulai merasakan keberadaan beberapa orang di sekitarnya. ia pun membuka matanya, tampak tiga wanita cantik tengah sarapan menatap dirinya.
"Kalian jahat sekali tidak membangunkanku untuk sarapan bersama." kata August.
Aruna, Aira dan Hedya tidak merespon ucapan August. Mereka asik mengunyah makanan sambil fokus memperhatikan sesuatu. August heran melihat tingkah mereka bertiga. ia memperhatikan ketiga wanita itu satu persatu. tatapan mereka seperti terarah ke bagian kaki dirinya. August pun melihat ke arah kakinya. sontak wajah August memerah, ia melihat dongkrak antik miliknya dalam posisi on. ia mengambil bantal lalu menutupi peralatan bengkel miliknya.
Ketiga wanita itu akhirnya tersadar dari lamunannya.
"Aku mandi dulu" kata Aruna.
"Kami membelikanmu sarapan, aku akan mengambilnya" kata Aira.
"Uhuk uhuk.. aku ambil minum dulu" ucap Hedya.
August hanya menggelengkan kepalanya. ia bangun menerima makanan yang di berikan Aira.
Sepuluh menit kemudian Aruna keluar dari kamar mandi.
"Aira mengapa kau membawakanku pakaian seperti ini?"
sontak semua memandangi Aruna. ia memakai pakaian mungil milik Aira, bajunya berwarna putih tipis yang tak bisa menutupi perutnya, ia juga menggunakan rok mini berwarna hitam. terlihat kaki putih mulus miliknya yang membuat August berdebar debar. kini ketiga wanita itu berbalik menatap August yang diam terpaku dengan mata tak berkedip. terlihat dongkrak antik miliknya bergerak naik turun.