
August kini kembali berada di persimpangan pohon besar. ia membuka peta Moonheaven miliknya.
'Menurut peta ini, jika aku berjalan lurus akan menemukan lembah sunyi, tapi ada yang aneh, mengapa pohon besar ini tidak ada dalam peta ini?' ia mengamati pohon raksasa itu dengan rasa penasaran.
'hmm.. aku penasaran seberapa tinggi pohon ini.' August menengok ke atas pohon. tampak batang pohon menembus awan yang menggumpal. ia lalu melompat melesat terbang, tubuhnya seringan kapas semakin tinggi tertiup angin.
August mencoba mengurangi kecepatannya tetapi kejadian aneh terjadi, tubuhnya seperti terhisap dalam gumpalan awan tersebut.
'apa yang terjadi, tubuhku seperti tertarik' pikir August mulai waspada. August mulai melapisi tubuhnya dengan perisai energi sebelum masuk dalam gumpalan awan itu. sudah hampir lima menit August berada dalam awan itu, hingga akhirnya ia keluar dari gumpalan awan itu, tetapi apa yang ia lihat selanjutnya benar-benar membuatnya tercengang.
'Hah.. Danau..? Bagaimana mungkin?' pikirnya.
Tubuh August kini seperti terbalik jatuh dengan posisi kepala di bawah. ia mencoba menggunakan keku1aa atannya, tapi kekuatannya terasa terkunci. ia pun melayang jatuh ke dalam danau itu dengan kecepatan tinggi.
BYUURRR..
Setelah beberapa saat August muncul di permukaan.
"Cepat menyingkirlah dari sana..!" terdengar teriakan seorang wanita.
August tak sempat mencari siapa dan dari mana suara teriakan tersebut, ia dikejutkan sesosok ular besar berkepala dua yang tiba-tiba muncul dari dasar danau sekitar seratus meter darinya, makhluk itu seperti menyadari ada mangsa di sekitarnya, ular itu menyelam kembali dan bergerak ke arah August.
August menyadari makhluk itu mengejarnya, terlihat dari riak gelombang air, ia mulai berenang dengan cepat ketepian danau. ia pun berhasil sampai ketepian, nafasnya habis, tenaganya terkuras, ular itu masih mengejarnya dan kini berada di tepian danau, sepasang mata dari masing-masing kepalanya menatap tajam August.
'sial bagaimana kekuatanku bisa hilang di saat seperti ini' pikir August yang mulai panik.
Keberuntungan masih menaungi August, beberapa saat sebelum ular itu menyerang August, belasan anak panah terbang melesat ke arah ular berkepala dua itu, ular raksasa itu mundur dan kembali menyelam ke dasar danau. tetapi nasib August tak kunjung membaik, kini di belakangnya belasan orang, mengarahkan panah dan tombak kepadanya.
"kau telah memasuki wilayah kerajaan Healon tanpa izin, kau kami tangkap jika melawan, aku akan melemparmu kembali ke danau itu." kata seorang lelaki yang sepertinya pemimpin para prajurit itu.
"aku tidak akan melawan" kata August. ia berpikir itu adalah pilihan yang paling logis saat ini.
Salah seorang prajurit menghampiri dan memasang rantai pada kedua lengan August lalu menggiringnya berjalan mengikuti pasukan itu kembali menuju istana. August mengamati para prajurit itu satu persatu tampak ada yang aneh, begitu juga dengan pemimpin pasukan itu.
'Orang-orang ini semuanya memiliki ujung telinga yang lancip, siapa mereka? dan mereka semua adalah laki-laki, ketika aku masih di tengah danau itu ada suara wanita yang mengingatkanku, tidak mungkin aku salah dengar, lalu siapa wanita itu? makhluk apa yang berada di dalam danau itu? dimana aku sekarang?' bermacam pertanyaan muncul dalam benaknya.
"kalian bawa aku kemana?" tanya August.
bukan jawaban yang August dapatkan melainkan sebuah tendangan keras di punggungnya.
BUGG..!
'Diamlah..!" kata seorang prajurit yang menggiringnya.
August jatuh tersungkur.
"Bangun..!" bentak prajurit itu.
'Brengsek.. jika saja kekuatanku tidak hilang, aku pasti tidak akan tinggal diam' pikir August.
Sekitar satu jam kemudian mereka tiba di sebuah istana yang sangat besar. August menyadari semua orang di dalam istana itu mempunyai ciri yang sama semuanya memiliki ujung telinga yang lancip.
"Masukan ia dalam penjara." kata pimpinan pasukan.
August digiring memasuki salah satu ruangan yang pengap dan gelap yang terdapat jeruji yang walau sedikit berkarat tapi jeruji itu sangat kokoh.
"Beraninya kau memasuki wilayah kerajaan kami, sekarang membusuklah di sana manusia hina." kata salah satu prajurit yang mendorong August masuk dalam sel lalu mengunci pintu.
"Mengapa kalian tidak memberikan aku kesempatan untuk menjelaskan? Makhluk apa kalian? mengapa kalian benci dengan manusia?" teriak August. namun prajurit itu pergi tanpa menggubris perkataan August.
"Apa kau tidak pernah bertemu seorang elf sebelumnya?" terdengar suara seorang lelaki di belakang August.
August membalikan badannya ia melihat seorang lelaki berambut panjang dengan telinga lancip berbadan tegap duduk bersandar memandanginya.
"Elf hanya ada di komik dan tv, aku tak tau mereka itu ada?" kata August.
"apa itu tv?" tanya lelaki itu.
"sebuah kotak yang memunculkan gambar bergerak?" kata August.
"Apa kau penyihir?"
"Apakah penyihir itu juga ada seperti elf?" August balik bertanya.
"kau jangan berpura-pura di hadapanku hey manusia!" ancam lelaki itu.
"aku tidak berpura-pura." kata August.
"kau salah satu dari mereka, mengapa mereka menahanmu? apakah telingamu kurang lancip?"
Mendengar perkataan August, lelaki itu bangkit menyerang August, August mencoba menghindar, tetapi ia lupa kekuatannya hilang, tinju lelaki itu pun mendarat di wajah dan perut August.
Bukk.. bukk.. bukk..
August terpelanting, ia memegangi perutnya, mulutnya mengeluarkan darah, dadanya terasa sesak.
August hanya bisa melindungi kepala dengan kedua tangannya dan meringkuk. ia merasakan badannya seperti di hantam besi. saat August sudah tidak kuat lagi, badannya merasakan aliran hawa dingin, menyelimuti tubuhnya, rasa sakit perlahan-lahan hilang, lelaki itu masih terus menendang tubuh August. tapi sekarang August sudah tidak merasakan sakit. ia malah tertawa.
"Hahaha..."
Mendengar August tertawa lelaki itu mundur. terlihat ekspresi terkejut di wajahnya. August tidak buru-buru bangkit, ia ingin memastikan apakah kekuatannya sudah kembali sepenuhnya. ketika ia sudah yakin, August pun berdiri.
"aku akan memberimu kesempatan, membungkukan badanmu lalu meminta maaf atau aku akan menghajarmu setiap kali kau sadar?" ancam August.
"Aku Aranthir panglima moon elves tak akan membungkuk di hadapan manusia hina sepertimu!" ia lalu menyerang August.
August hanya tersenyum, sebelum tinju Aranthir kembali mengenai dadanya ia memukul dada Aranthir terlebih dahulu dengan telapak tangannya, membuat elf itu terpental kebelakang, menubruk dinding lalu jatuh tak sadarkan diri. August tak menyadari banyak pasang mata dari balik jeruji lain yang mengamati tempat mereka berdua berada. semua mata itu terbelalak tak percaya melihat apa yang barusan terjadi. seorang manusia berhasil mengalahkan elf dengan satu pukulan, terlebih dia adalah panglima moon elves.
Seorang lelaki tua dengan rambut panjang memutih menghampiri Aranthir yang tak sadarkan diri, August mengamatinya, dan juga beberapa orang lainnya yang sedang menatap tajam kearahnya.
"Dari pada kalian menatap seperti itu, lebih baik kalian semua berdiri melawanku!" ancam August.
Beberapa elf tetap diam, kini menundukan pandangannya.
"atau kalian hanya berani menyerangku nanti saat tidur?" August kembali memprovokasi, tetapi mereka tetap diam.
"sudah cukup, tidak perlu ada pertikaian lagi!" kata elf tua itu.
"ini belum berakhir pak tua."
"sebelum bajingan itu memberi hormat padaku si manusia hina ini aku tetap memegang janjiku, aku akan menghajarnya setiap kali dia sadar." kata August.
"aku akan memintanya, aku penasihatnya namaku Taflas." ia mengusap pelan dada Aranthir dengan telapak tangannya yang mengeluarkan aura kehijauan, tak lama Aranthir pun sadar.
August mengamati apa yang di lakukan Taflas, ia sedikit terkejut energi penyembuh itu sama seperti miliknya, hanya saja masih lemah.
"kau punya energi penyembuh?" tanya August.
"dia punya, dan aku akan membunuhmu." kata Aranthir.
Taflas segera menahannya, "Beri hormat dan meminta padanya."
"Mengapa harus hormat padanya?"
"karena kau bukan lawannya, dan aku adalah gurumu" kata Taflas tegas.
Hampir semua orang tercengang mendengar perkataan Taflas.
"dan lakukan dengan tulus!" kata Taflas.
Walau dengan berat hati Aranthir mengikuti perintah gurunya.
"Aku Aranthir panglima moon elves meminta maaf padamu." ia menatap August lalu perlahan membungkuk. tetapi August mencegahnya.
"Tidak perlu membungkuk, berjabat tangan saja" August berpikir ia sudah menaklukan para elf itu, dia membutuhkan sekutu, ia tak ingin merendahkan mereka. Aranthir merasa senang ia tidak merasa dipermalukan.
"siapa namamu manusia, dari mana asalmu?" tanya Aranthir suaranya yang mulai terdengar bersahabat.
"Aku Mercia aku berasal dari kota Royan."
"apa kau berasal dari proxima?" tanya Aranthir.
"apa tempat ini bukan proxima?" August balik bertanya.
Aranthir dan Taflas saling berpandangan.
"Dunia ini bernama Enigma sisi lain dari proxima, dunia elf!"
"Sebelumnya Enigma dan Proxima hidup berdampingan, bahkan para elf dan manusia pernah bersatu melawan kekuatan iblis di bawah pimpinan lima master, tetapi setelah mereka menghilang, perlahan-lahan keharmonisan itu menghilang tumbuh rasa saling curiga, hingga pada satu hari benar-benar menghilang." kata Taflas.
"apa itu berhubungan dengan Moonheaven?" tanya August.
"Benar.., semenjak kejadian itu kami para elf menarik diri untuk tidak lagi hidup berdampingan dengan kalian, sebagian kembali ke dunia ini, dan sebagian yang lain memilih tetap tinggal di hutan arau gunung di proxima." kata Taflas.
"Itulah salah satu alasan mengapa hampir semua bangsa elf sangat membenci manusia proxima." kata Taflas.
"hampir semua?" tanya August.
"kami moon elves tidak seperti lainnya, pemimpin kami ada di sana saat itu terjadi." Aranthir mulai ikut bicara.
"Jadi pertanyaanku sebelumnya mengapa kau berpura-pura belum pernah bertemu bangsa elf sebelumnya di proxima?" tanya Aranthir.
"Aku tak pernah bilang asalku dari proxima."
"Aku manusia bumi.!" kata August.
"APA...?!!"