MERCIA

MERCIA
80. Kedatangan Klan Armeda.



Sebagian tembok istana sudah hancur, korban sudah berjatuhan.


"siapapun hancurkan ketapel itu." perintah Valon di tujukan pada Aira, Ravenna dan Nasyra.


"Biar aku yang melakukannya."


"Lady Emera"


"Raja Valon maaf kami terlambat aku dan Legira harus membawa Elyn ke tempat aman terlebih dahulu." kata Emera.


"Tidak apa-apa, kau yakin bisa melakukannya?"


"serahkan padaku." Emera dan Legira segera melompat ke atas tembok gerbang istana.


"Bagaimana kau tiba?" tanya Ravenna.


"Aku tau jalan rahasia menuju bagian dalam istana ini." kata Emera.


"Bahkan aku yang tinggal di sini tidak mengetahuinya."


"bicaranya nanti saja, kalian berdua lindungi aku." kata Emera.


Emera memejamkan matanya, Ravenna dan Legira melindungi Emera dan lainnya dengan menghancurkan batu-batu besar dan anak panah yang datang. tangan Emera mulai mengeluarkan cahaya berwarna ungu, ia lalu membuka matanya dan tangannya menunjuk ke depan.


"Autumn Corcus."


Tiba-tiba dari dalam tanah muncul lima bunga besar berwarna putih keunguan menelan semua ketapel dan orang di sekitarnya.


Krakkkk.. aaaa..


"Yeaaaa...!" Para prajurit bersorak melihat ketapel itu hancur.


Kallus mengamati wanita yang telah menghancurkan ketapel miliknya. ia lalu memberi isyarat. dalam sekejap ratusan pemanah maju membentuk barisan dan melepaskan panah api ke arah istana.


Wuss.. wuss..


Panah panah itu menancap pada bangunan dan juga tubuh prajurit dan seketika membakar sekelilingnya. Kallus kembali memberi instruksi, kini pasukan lainnya berlari menuju gerbang istana.


"Nasyra sekarang..!" teriak Ravenna.


Nasyra mengangguk dengan lambaian tangan lainnya seratus elf muncul dari balik persembunyiannya di dua sisi bangunan yang lebih tinggi dari tembok depan gerbang istana. mereka melepaskan panah panah besar yang ketika melesat di udara akan terpecah menjadi sepuluh buah. pasukan Kallus mulai berjatuhan terkena anak panah.


"Elf? mengapa elf bersama mereka?" Kallus kembali di buat terkejut.


"Bunuh troll itu." kata Ravenna melihat troll berada


Legira menghentakan kedua telapak tangannya beberapa kali, kilatan petir keluar dari tangannya dan menghantam troll yang berjalan mendekat, dan kerumunan pasukan di depan gerbang isatana.


zap.. zap.. duarr duarr..


Kallus menghentakan tongkatnya pelan ke tanah, tetapi suara yang keluar sangat besar.


Bumm..!


Seluruh isi istana terkejut mendengarnya.


Hening. Mereka tiba-tiba berhenti berperang.


"Apa yang terjadi?" Valon dan lainnya tampak kebingungan.


srek.. srek.. rrr.. rr


"Lihat.. mayat-mayat itu bergerak.. hegh.." kata seorang prajurit, tapi naas temannya yang sudah menjadi mayat di belakang tiba-tiba bangkit dan menusuknya dengan sebilah tombak. dan ketika ia tewas ia pun bangkit dan menyerang mereka yang masih hidup.


Mereka benar-benar kuwalahan, mereka harus bertarung dengan pasukan Kallus yang mencoba masuk ke dalam istana, di sisi lain mereka harus melawan mayat-mayat temannya di dalam istana. jumlah mayat-mayat itu semakin banyak karena banyak yang sudah menjadi korbannya.


"Penggal kepala mayat-mayat itu, hanya itu cara mengalahkan mereka." teriak Leth.


Aira segera melompat dari tembok gerbang istana.


"Nona Aira."


"Leth pergi.. jaga tembok itu, aku yang akan mengurus mayat-mayat ini."


"Baik." Leth segera melompat dan bergabung dengan Ravenna dan lainnya.


"Kalian semua menunduk." teriak Aira ia lalu melayang dua jengkal tubuhnya mulai berputar cepat, rantai emas di kedua tangannya ikut berputar cepat melebihi baling-baling helikopter, jangkauan rantai itu semakin lebar dan bilah pisau kecil pada ujung rantai itu menebas leher mayat-mayat itu.


Setelah beberapa saat Aira menghentikan putarannya, pemandangan terlihat menyeramkan, mayat-mayat itu telah tumbang menyisakan potongan tubuh dan kepala tersebar dimana-mana.


"Hoek.." Dior muntah menyaksikan kejadian itu.


"Jangan menjadi lembek, kau harus bertarung." kata Aira, ia lalu kembali melompat, tetapi ia tidak menuju tembok istana melainkan keluar.


"Aira apa yang kau lakukan?"


"Memberi kalian waktu."


Ia lalu melakukannya hal sama berputar-putar, ia melompat-lompat dan menggerakan rantai emas ke sana kemari, jika semua orang-orang di sekitarnya di hilangkan dan juga kedua rantai emasnya di hilangkan, dan mengganti background istana itu dengan panggung akan jelas terlihat Aira tidak sedang bertempur, ia sedang menari dengan indah, ia bagai penari ballet dengan segala kelincahan dan keanggunannya. kaki jenjangnya adalah kekuatannya, gerakan tangannya adalah pesonanya. dan tatapan dan senyumnya adalah jati dirinya.


"Seorang Armeda? bagaimana mungkin Valon mengenal mereka dan mau bertarung untuknya? ia hanya memiliki kerajaan kecil." Kallus benar-benar tak mengerti.


Aira berhasil membunuh ratusan pasukan Kallus. ia menghentikan gerakannya ketika melihat tidak ada yang berani maju mendekatinya.


"Nasyra bawa pasukanmu menjaga tembok ini." kata Ravenna.


"Apa yang ingin kau lakukan." tanya Emera.


Ravenna tak menjawab. ia langsung melompat di samping Aira.


"Kau tau aku malas berteriak di atas sana."


"Aku hanya tau kau sangat bodoh, aku memberi kalian waktu dan kau malah ikut-ikutan." kata Aira tersenyum.


"Ternyata pemandangan di sini cukup menarik." kata Emera tiba-tiba muncul di samping Ravenna.


"Mengapa kalian semua pergi? aku kesepian di atas sana." Leth muncul di samping Legira.


Mereka semua tertawa. "Setidaknya elf itu tidak ikut."


"Terlambat aku sudah berada di belakang kalian setahun yang lalu." kata Nasyra.


semua menengok ke belakang, bukan hanya Nasyra melainkan Valon dan seluruh pasukan sudah berada di belakang mereka.


"Mengapa aku tidak mendengar mereka keluar?" Emera sedikit bingung.


"Aku menyumbat telinga kalian semua." kata Nasyra.


"Jahat sekali." kata Aira.


"Hahaha.. akhirnya kalian keluar semua, jadi ini kejutan yang kau siapkan untukku Valon?"


"Aku tak akan pernah menjadi pengikut iblis sepertimu."


"Hahaha.., kau keliru dalam memihak, aku juga punya kejutan untukmu." Kallus kembali menghentakan tongkatnya sebuah portal besar tercipta di belakangnya, hewan-hewan buas berwarna hitam muncul di susul ribuan pasukan dan tiga ekor naga hitam, setelah itu portal lalu tertutup.


"Brengsek." kata Aira.


"Dior ingat pesanku." kata Valon yang menyadari kekuatannya tidak sebanding dengan musuh yang ada di hadapannya.


"Kalian semua lihat itu? mereka adalah pasukan iblis yang akan membuat dunia ini menderita, mereka akan membunuh semua orang yang kalian cintai, kalian bisa pergi..."


"Tidak ada yang boleh pergi atau aku akan membunuhnya, bertarung bersama dan mati bersama" kata seorang wanita yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka semua. tubuhnya dilapisi logam tipis berwarna biru, mulut dan hidungnya tertutup masker. diantara keningnya terselip tiara berwarna biru. rambutnya panjang terurai hampir sepinggang. di tangan kanannya menggenggam tombak berwarna emas.


"Aruna apa yang kau lakukan di sini?" tanya Aira.


"Seharusnya kau berkata, aku senang bertemu denganmu." kata Aruna.


'Wanita bertombak emas, jadi dia yang di maksud oleh Mercia waktu itu.' pikir Nasyra.


"Bukankah kau bersama Mercia? Dimana dia sekarang?" tanya Aira.


"Kami berpisah di Innodale, Hey Valon suruh prajuritmu untuk bertempur jika tidak aku akan membunuhnya, aku tak akan mengulanginya untuk ketiga kalinya."


"Perempuan ini tidak sopan, memanggil raja dengan namanya langsung." kata Ravenna.


"kau diamlah aku mendengarmu." kata Aruna melirik ke arah Ravenna.


"Apa kau sanggup mengalahkan mereka semua?" ejek Ravenna.


"Kalian hanya di minta bertahan di dalam istana, mengapa, keluar bodoh sekali."


"Nona aku tidak tau siapa kau sebenarnya"


"Namaku Aruna seorang Armeda, dan aku membawa bala bantuan."


"Bala bantuan?" tanya Valon.


"Lihatlah ke bukit di kanan kalian."


Sebelum mereka semua melihat arah yang di tunjukan Aruna, Kallus dan pasukannya sudah menyadari ada pasukan lain yang datang dari atas bukit di sebelah kiri mereka.


"Klan Armeda telah tiba." kata Aruna.


"Hey Aruna, ketua Myla memang berjanji akan datang, tapi jumlah kami tidak sebanyak itu." kata Aira.


"Ketua Nefia juga ada di sana."


"Apa..!" semua tampak terkejut.


"Kedua klan Armeda bergabung? bagaimana itu bisa terjadi?" kata Valon.


"Kalian tau alasannya, sama seperti Aira dan elf itu mengapa ada di sini." kata Aruna.


"Mercia..?" kata Nasyra pelan namun semua masih bisa mendengar nama itu.


Mereka semua mengenal Mercia, tapi bagi mereka tak pernah membayangkan seberapa kuat pengaruh lelaki itu, terkecuali bagi Aira dan Aruna mereka berdua sudah tau siapa Mercia.


Peperangan kembali terpecah ketika Kallus memberi perintah.


Datangnya bantuan dari Armeda membuat pertempuran sedikit berimbang tapi sayangnya itu tidak berlangsung lama, tiga naga hitam menjadi membuat segalanya berubah.


"Myla cari cara menyingkirkan naga itu." kata Nefia.


"Brengsek kau pikir aku sejak tadi melamun?" kata Myla.


"Nasyra aku akan memancing naga itu kau dan pasukanmu bersiaplah."


"Baik." Nasyra lalu kembali menuju pasukan elf yang kini juga sudah keluar dari istana itu.


Naga hitam itu seperti mengetahui rencana Myla, bola api besar keluar dari mulut naga itu mengarah pada pasukan elf.


Wusss.. Duarrr


"Sialan makhluk itu mengetahuinya." kata Myla.


dua naga lainnya ikut bergabung menghujani pasukan Valon dengan bola api.


"Dior awas.." teriak Ravenna.


Valon mendengar teriakan Ravenna ia melihat salah satu naga itu terbang di belakang Dior, Valon dengan sigap melompat ke arahnya lalu membawa Dior menyingkir, tapi sayang gerakannya kurang cepat, kaki naga dengan kukunya yang tajam menyobek baju zirah Valon hingga menembus punggungnya, ia pun di hempaskan ke tembok istana. hingga membuat luka yang sangat parah, sementara Dior terhempas terkena kepakan sayap naga itu jatuh dengan keras.


"Kakak.., Dior.."


Valon mengejang sesaat, sebelum akhirnya diam tak bergerak selamanya.


"Ayahhhhh...!"