MERCIA

MERCIA
68. Kekhawatiran Jasmine.



Pagi tiba semua para prajurit mulai bersiap, sebagian merapikan tenda, ada yang memasak dan sisanya berjaga. hanya tenda milik August dan tenda besar Jasmine yang masih berdiri.


"putri Jasmine.. putri Jasmine.." seorang prajurit tampak berlari terburu-buru.


Jasmine keluar dari tendanya diikuti Drake dan beberapa orang lainnya.


"Ada apa?" tanya Jasmine.


"Tuan putri, Kami menemukan ratu Janessa dan Jendral Morwin di dekat sungai, mereka sedang dalam perjalanan ke sini."


"Apa.. kalian menemukan ibu? kakak..!" Jasmine terkejut senang.


Drake mengangguk ia mengambil kuda lalu pergi dengan cepat menuju arah sungai diikuti beberapa orang lainnya. tak lama Drake kembali berjalan kaki di atas kudanya tampak seorang wanita berusia kurang dari lima puluh tahun tampak sedikit pucat dan lemah. ketika ia turun dari kuda itu, Jasmine langsung memeluk erat dirinya.


"Ibuuu.."


Seorang lelaki tiba-tiba berlutut.


"Maafkan hamba putri, hamba tidak bisa melindungi ratu.


"Apa yang kau bicarakan Morwin? kau selalu melindungi kami semua selama ini. bangunlah" kata Janessa.


"Ibu benar, Ini semua hanya musibah, aku sangat berterima kasih paman tetap disisi kami." kata Jasmine.


"Jasmine bawa ibu dan paman ke dalam tenda, yang lainnya berjaga, Lazarus pasti segera tiba disini." kata Drake.


"Tuan Drake kau tak perlu mengkhawatirkannya, Lazarus telah mati, pemuda itu telah membunuhnya dan seluruh anak buahnya." kata Morwin.


"Apa..? Lazarus mati?" Drake terkejut begitu pula Jasmine dan lainnya.


"Paman apa yang terjadi?" tanya Drake.


"Aku tidak tau apa yang terjadi, aku terbangun ketika mendengar suara jeritan dan teriakan bersahutan, ketika suara itu menghilang seorang pemuda muncul membebaskan kami, dia juga memberi petunjuk untuk pergi ke arah tempat ini, ia mengatakan kau dan Jasmine menunggunya, ia lalu pergi. aku membangunkan ibumu, kami berdua keluar dan mendapati puluhan mayat tergeletak, kami juga melihat Lazarus ia tewas dengan tombak menancap di lehernya." kata Morwin.


"Paman apa pemuda itu mengatakan siapa dirinya?" tanya Jasmine.


Morwin menggeleng. "Tidak, dia langsung pergi."


"Kau pergi ke tenda Mercia periksa apa ia masih ada di sana?" perintah Jasmine pada salah satu penjaga.


Penjaga itu mengangguk lalu pergi, tak lama ia pun kembali.


"Putri.. tenda itu kosong, sepertinya dia sudah pergi." kata penjaga itu.


"Jasmine apa kau mengenal pemuda yang menolong kami?" Janessa bertanya.


"Ibu.. aku sangat yakin orang yang membebaskan ibu dan paman adalah Mercia." kata Jasmine.


Drake yang sempat ragu pun akhirnya sependapat, ia berpikir alasan terkuat bahwa orang itu adalah Mercia adalah ia memberikan arah ke tempat ini dan mengetahui ia dan Jasmine menunggu untuk membebaskan keduanya.


"Baiklah sebaiknya kita kembali ke Gavaria, aku yakin ayah sangat khawatir menanti kabar kita semua." kata Drake.


"Bagaimana dengan Mercia? bukankah kita sudah membuat kesepakatan dengannya?" tanya Jasmine.


"Kesepakatan? kesepakatan apa?" Janessa dan Morwin sedikit terkejut.


"Membantunya menghancurkan sesuatu di dalam gua cermin."


"Gua cermin? Jasmine kau tau betapa terkutuknya gua itu, mengapa kau membuat kesepakatan itu?" Janessa tampak khawatir.


"Kau tau ayahmu sangat menghindari tempat itu?"


"Ibu, aku hanya ingin ibu selamat dan aku yakin Mercia punya kemampuan untuk melakukan tujuannya, paman Morwin Gessora sepertinya melakukan sesuatu di kota Innodale, dan Mercia sepertinya coba menghentikan penyihir itu, jika kita membantunya mungkin di masa depan Innodale akan menjadi sekutu kita." kata Jasmine.


"Jadi apakah kita akan pergi ke gua itu terlebih dahulu?" tanya Morwin.


"Tidak, kalian kembalilah ke Gavaria, aku dan sebagian lainnya akan menuju ke gua itu." kata Drake.


"Aku ikut denganmu ke gua itu." kata Jasmine.


"tempat itu sangat berbahaya, kau tidak perlu ikut." kata Drake.


"Aku yang membuat kesepakatan dengannya, kau jangan melarangku." Jasmine protes.


"Kau hanya ingin bersamanya bukan? apa kau menyukainya?" goda Drake.


Wajah Jasmine memerah. "Apa yang kau bicarakan?"


"Sudahlah jangan bertengkar, kalian berdua bisa pergi ke gua itu, namun hanya sebatas mengamati, jika sesuatu yang buruk terjadi, segera kembali aku tak ingin kalian berdua terluka, apa kalian berdua mengerti?" tanya Janessa.


"Kami mengerti ibu!"


Mereka akhirnya memecah menjadi dua kelompok, Janessa dan sebagian besar lainnya kembali ke Gavaria, sedangkan Jasmine dan Drake serta beberapa petarung yang kuat pergi menuju gua cermin untuk membantu Mercia, mereka bergerak dengan cepat.


Sementara Mercia sudah tiba di sebuah tanah lapang tak jauh dari tebing besar, terlihat bunga-bunga bermekaran di segala penjuru dengan warna yang breragam, ia juga sudah melihat pintu masuk gua tersebut.


'Tempat ini terasa aneh, aku merasakan bahaya mengintai di balik keindahan tempat ini.' pikir August.


August melangkahkan kakinya memasuki tanah lapang tersebut, ia langsung terkejut pemandangan tanah lapang dengan bunga bermekaran itu tiba-tiba menghilang berganti, tanah hitam kering, terdapat sebuah kolam air berwarna hijau gelap yang mengeluarkan bau busuk menyengat, terlihat makhluk-makhluk aneh berjumlah ratusan seolah-olah menjaga tempat itu, August melihat salah satu makhluk yang cukup dominan, ia seperti pemimpin para makhluk lainnya, badannya besar setinggi dua setengah meter, mempunyai wajah menyeramkan terdapat dua tanduk besar di kepalanya, kakinya seperti kaki kambing, di tangannya memegang kapak besar.


August kembali mundur selangkah pemandangan indah kembali tersaji dihadapannya, ia sedikit terkejut ketika melihat Jasmine dan lainnya ada di belakangnya.


"apakah ibu kalian baik-baik saja?"


"Ya.. terima kasih atas bantuanmu, beliau sudah kembali menuju Gavaria." jawab Jasmine.


"Sejak kapan kalian tiba di sini?" tanya August.


"Lumayan lama, kami sempat mencarimu di sekitar area ini terlebih dahulu sebelum memutuskan masuk ke gua itu." kata Drake.


August mengerenyitkan dahinya, ia menatap langit sesaat lalu kembali menatap tanah lapang.


"Mercia ada apa?" tanya Jasmine.


"Tanah lapang di depan kalian adalah ilusi, di dalamnya terdapat ratusan makhluk penjaga, ada perbedaan waktu yang besar didalamnya."


"Ra.. ratusan..?"


"Sebaiknya kalian semua pergi." kata August.


Drake Jasmine dan lainnya tampak ragu.


"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Drake.


"Aku akan menghancurkan kubah ilusi ini dan mereka semua." kata August.


"Mercia aku tau kau sangat kuat, kau juga telah menghabisi Lazarus dan anak buahnya, tapi saat ini kau tidak sedang menghadapi manusia." kata Jasmine tampak khawatir.


August hanya tersenyum melihat kekhawatiran Jasmine.


"Kau tak perlu khawatir, baiklah bila kalian datang kesini bersikeras untuk membantuku, aku tak akan menolak, tapi kuminta ikuti instruksiku, sekarang kalian mundurlah aku akan menghancurkan kubah ilusi ini."


Jasmine, Drake dan lainnya menuruti perintah Mercia. Mereka bergerak mundur setelah dirasa cukup aman mereka mengamati Mercia yang mulai berjalan maju dan tiba-tiba menghilang dari pandangan mereka.


"Tenanglah Jasmine, aku rasa pacarmu tau apa yang dia lakukan." kata Drake.


"Kau masih bicara omong kosong itu?" Kata Jasmine kesal, walau hati kecilnya memang mengagumi Mercia, lelaki yang sangat kuat.


**


Kembali ke kota Innodale.


"Helena apa kau yakin Mercia sanggup menghancurkan batu jiwa itu?" tanya Minerva.


"Aku sangat yakin, walau dia bukan penyihir, dia pasti menemukan cara untuk menghancurkannya." jawab Helena.


Mereka berempat terus bertahan menahan serangan Gessora yang berusaha menghancurkan kubah pelindung itu.


"Cepat atau lambat jika seperti ini terus kubah ini akan hancur, kita harus lakukan sesuatu." kata Freya.


"Menyerahlah.. serahkan wanita itu padaku, dan kalian bertiga bisa pergi." kata Gessora.


"Aku tak kan membiarkan kau membunuh adikku!" kata Minerva.


"Kalau begitu kalian semua akan mati, dan kau Minerva aku akan membuat kau menyesal terlahir ke dunia ini."


"Sial.. harus berapa lama kita menunggunya? gas beracun ini melumpuhkan kekuatanku." Kata Minerva.


'Mercia cepatlah datang' Helena dalam hatinya.


Sementara Sylvana matanya kembali berubah merah. Helena, Freya dan Minerva terkejut mendengar Sylvana berbicara sendiri.


"Sylvana biarkan aku membantumu!"


"Tidak, kita harus sabar menunggu Mercia."


"Lihatlah sekelilingmu, kau dan lainnya tidak akan bisa bertahan, kubah pelindung ini akan hancur."


"Diamlah Sonja, kau hanya mementingkan dirimu, kau tak pernah peduli apapun selain dirimu."


"Tidak saat ini, lihatlah mereka bertiga kekuatan mereka berkurang, dan ketika kubah ini hancur, mereka tak kan sanggup bertahan."


"Jangan coba menipuku Sonja, mengapa kau tiba-tiba peduli?"


"Kau sudah tau jawabnya, kau hanya takut padaku."


hening.


"Helena jika aku keluar dari kubah ini apakah akan hancur?" tanya Sylvana.


"Tidak."


Sylvana menarik nafas panjang. "Baiklah kau kuizinkan."


Tiba-tiba aura kemerahan keluar dari tubuh Sylvana, bola matanya berubah merah, rambutnya yang hitam mulai berubah merah juga pakaiannya.


"Sylvana apa kau baik-baik saja?" tanya Helena.


Sylvana menengok ke arah Helena sesaat, lalu menatap Gessora yang tercengang melihat ke arahnya.


"Namaku Sonja." ucapnya pelan lalu melesat cepat menerjang Gessora