
Dua jam kemudian.
"kita sudah tiba.. itu tempat tinggalku." Helena memunjuk sebuah rumah sederhana di depannya.
August melihat sekeliling rumah itu tampak tanaman bunga beraneka warna bermekaran di kanan kiri jalan yang mereka lalui, samping kanan rumah itu terdapat sebuah kincir air setinggi tiga meter berputar karena aliran sungai kecil di bawahnya. di belakang rumah itu tampak jelas gunung emas tinggi menjulang dengan gagahnya.
"Tempat ini Indah sekali." kata August.
"kau suka?" tanya Helena.
August mengangguk pelan. "iya aku suka sekali."
Helena tersenyum. "mari masuk ke rumahku." ajak Helena. ia membuka pintu rumahnya.
Didalam rumah itu sangat rapih, nyaris sempurna, walau rumah itu tidak terlalu besar dan hanya memiliki satu kamar pasti akan membuat siapapun betah tinggal disana.
"duduklah, aku akan mengganti baju dan membuatkan makanan dan minuman untukmu."
"Tunggu, aku tak tau siapa kau, dan aku harus pergi menemui kedua temanku." kata August.
Helena berbalik mengampiri August, ia kembali meniup lembut wajah August. August merasakan hawa segar dengan aroma wangi menerpa wajahnya membuat perasaannya terasa damai.
"namaku Helena, kedua temanmu sudah menemukan tempat menginap mereka ada urusan, mereka memintaku untuk membawamu menginap dirumahku, mereka akan menemuimu beberapa hari lagi." kata Helena.
"oh.. syukurlah.., aku akan menunggunya disini." kata August rasa khawatir seketika lenyap.
Helena masuk kedalam kamarnya, tak lama ia keluar dengan menggunakan pakaian yang sangat tipis dan terbuka. August tercengang melihatnya, jantungnya berdegup kencang. August kembali dibuat terkejut ketika melihat Helena menggerakan jari tangannya lalu secangkir gelas dan teko melayang ke arah August, air dalam teko itu tertuang ke cangkir dalam keadaan melayang di udara di hadapan August, lalu turun perlahan dan berhenti di atas meja. August bangkit dari duduknya, ia berdiri dan mundur dua langkah hingga tubuhnya merapat ke dinding rumah itu.
"Kau.. kau.. bagaimana kau melakukannya?" tanya August penuh ketakutan.
Helena hanya tersenyum "apakah kau tidak tau Innodale adalah negeri para penyihir?"
"Kau.. kau.. penyihir." August menelan ludah.
"To.. tolong.. ja. jangan bunuh aku." ratap August memelas.
Helena kembali menghampiri August dan meniup wajahnya.
"kau tak perlu takut, aku tidak akan membunuhmu, aku adalah penyihir baik, selama kau menuruti kemauanku, kau akan baik-baik saja, apakah kau bersedia?" tanya Helena kembali meniup wajah August kali ini lebih kuat.
"Tentu saja aku bersedia, sekarang minumlah teh di cangkir itu lalu bersihkan dirimu, gantilah pakaianmu itu, aku sudah menyiapkan pakaian baru untukmu." kata Helena menunjuk ke arah meja.
Meja yang semula kosong itu kini ada beberapa potong pakaian yang terlipat rapih.
"baiklah." kata August mengambil salah satu potong pakaian lalu berjalan kebelakang rumah.
'akhirnya aku menemukanmu, aku tak akan membiarkanmu jatuh ke dalam pelukan Minerva.'
**
Sementara itu di sebuah bangunan berwarna hitam.
"Lady Minerva ada utusan nona Helena meminta izin untuk menemuimu ia membawa dua orang tawanan wanita dengan kondisi tak sadarkan diri." kata seorang lelaki berlutut.
"dimana dia?"
"di depan pintu masuk, dia meminta anda jika berkenan untuk melihat tawanan itu secara langsung."
"aku akan pergi melihatnya." kata Minerva.
Minerva melangkah keluar diikuti pengawal dan pelayannya.
"Dimana Helena?" tanya Minerva.
"Nona Helena baru kembali, dan dia memilih beristirahat di rumah kecil miliknya." kata utusan itu.
"siapa kedua tawanan itu?"
"Maaf lady aku tidak tau, tapi salah satunya adalah seorang elf." kata utusan itu lalu membuka penutup kendaraan pengangkut itu.
"Elf?" Minerva terkejut, ia lalu melihat Aruna.
"Wanita ini.. berani juga ia kembali kesini, bawa mereka ke ruang tahanan pakaikan rantai khusus, jaga mereka tetap hidup." perintah Minerva.
Beberapa pengawal mengangguk dan bergegas membawa Aruna dan Sylvana menuju ruang tahanan.
'Helena.. apa yang terjadi sebenarnya? hmm.. aku sepertinya harus mengunjungimu.'
"kabarkan padaku jika keduanya telah sadar." kata Minerva lalu kembali masuk dalam istana kecil miliknya.
**
Kembali ke rumah Helena.
"kau suka masakanku?" tanya Helena.
"aku suka sekali, masakanmu sangat lezat, aku juga sangat lapar, maaf aku menghabiskan semuanya." kata August malu.
"hihihi.. kau sangat lucu, duduklah didekat perapian itu, aku akan membereskan semuanya." kata Helena.
"aku akan membantumu." kata August.
"tidak perlu, lebih cepat aku melakukannya sendiri." kata Helena.
Helena membuka jendela lalu kembali menggerak-gerakan jarinya, piring dan gelas kotor itu mulai berterbangan keluar jendela menuju sungai kecil lalu kembali dalam keadaan bersih dan tersimpan dengan sangat rapi di sebuah rak yang tergantung. August melihat dengan penuh kekaguman. Helena menghampiri August yang tengah duduk di kursi dekat perapian.
Tanpa bicara Helena duduk di pangkuan August dengan posisi menyamping, ia merangkul leher August dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya mengusap lembut dada August yang bidang. August hanya menahan punggung Helena dengan tangan kirinya.
"apa kau suka tinggal di sini?" tanya Helena.
"aku suka.. terasa damai.."
"maukah kau terus tinggal di sini bersamaku?"
"aku mau."
"lalu bagaimana jika kedua temanmu mencarimu?"
"teman? aku tidak punya teman, aku tidak mengenal siapapun, aku hanya mengenalmu." kata August.
"apa kau memiliki kekasih?" tanya Helena.
"aku tidak punya."
"aku juga, kau tak punya, aku tak punya, bagaimana kalau kita berdua menjadi sepasang kekasih, apa kau mau?" tanya Helena.
"siapa yang bisa menolak wanita cantik sepertimu?" kata August.
"kalau begitu kita harus merayakannya." kata Helena.
"Merayakannya?" August bingung.
Helena mengangguk manja. "apa kau punya ide untuk merayakannya?"
August menggelengkan kepalanya.
"kalau begitu mari kita rayakan dengan caraku." kata Helena.
Helena merubah posisinya kini ia duduk berhadap-hadapan dengan August, kedua tangannya berada di pundak August, ia mulai mengecup pelan bibir August kemudian semakin intens, mendapat undangan August mulai melayangkan serangan dengan kedua tangannya yang mulai bergerak masuk menuju dua gumpalan besar di balik baju Helena yang membuat wanita itu mendesah pelan.
Aksi keduanya semakin panas, Helena menjentikan jarinya, seketika seluruh pakaian yang mereka kenakan menghilang dan muncul di lantai. Helena memposisikan sesuatu di antara kaki August lalu ia arahkan pada tempat paling tersembunyi miliknya. Helena merasakan sensasi yang luar biasa, ia mulai bergerak perlahan. gerakannya semakin liar ketika mulai menghisap ujung kedua gumpalan itu bergantian.
Helena menjentikan jarinya kembali, dalam sekejap mereka sudah berada di atas ranjang kamar rumah itu, Helena mendorong tubuh August hingga posisinya terlentang, Helena terus bergerak dengan lincah.
"Helena.. aku.. aku.."
"sssst.. biarkan saja.. lepaskan.."
Beberapa saat kemudian keduanya menggeliat hebat, Helena pun jatuh terkulai lemas di atas tubuh August.
"ini sangat luar biasa." kata August ia tiba-tiba merasa lelah dan mengantuk lalu tertidur.
Sesuatu di luar dugaan terjadi, Helena pun merasakan keanehan setelah melihat August langsung tertidur. ia merasakan energi besar masuk ke dalam dirinya bersamaan ketika August melepaskan sesuatu ketika mencapai puncak dalam tubuhnya.
Helena bangkit ia mencoba merasakan energi baru yang baru saja ia terima itu. ia menggerakan kedua tangannya energi keemasan muncul di sekujur tubuhnya mengalir lalu berkumpul di atas telapak tangan kanannya membentuk sebuah bola cahaya seukuran bola tennis.
"ini.. ini hawa murni yang sangat besar.." Helena terkejut tak percaya bercampur senang ia merasakan kekuatannya menjadi lebih besar sepuluh kali lipat dari sebelumnya.
Helena lalu memandang mengamati August.
'siapa kau sebenarnya? mengapa kau sangat kuat?' pikir Helena, ia akhirnya menemukan jawaban mengapa jeratan tiupan asmar itu tak bisa bertahan lama pada August.
Emosi seketika bergejolak di dadanya. ia kembali mengingat pertemuannya dengan August, ia merasa bersalah.
'lelaki ini menyelamatkanku hari ini, tapi aku justru membalasnya dengan kejam. aku memanfaatkannya dan mengirim kedua temannya pada Minerva. bodoh sekali, pasti dia curiga dan akan datang menemuiku.'
ketakutan pun muncul di wajah Helena.
'sial.. jika lelaki ini jatuh ke tangan Minerva semua akan menjadi mimpi buruk, tidak.. aku akan melindunginya tapi..'
Helena tiba-tiba tersenyum, lalu ia pun merebahkan dirinya di samping August dan memeluknya.
"Mercia aku akan melindungimu, tetapi untuk itu aku membutuhkan energi darimu lagi." kata Helena setengah berbisik, ia lalu mengecup pipi August. tak lama ia pun tertidur.