
Gessora tak menduga mendapat serangan mengejutkan dari wanita berambut merah, pukulan dan tendangan bertubi-tubi mengenai dirinya. Sonja tak memberi kesempatan Gessora untuk melawan, ia melepaskan bola sinar merah ke arah Gessora.
Blarrr..
Ledakan terjadi ketika bola itu mengenai tubuh Gessora, tubuh itu hancur menjadi serpihan daging tersebar ke segala penjuru. Freya dan lainnya tercengang.
"Dia berhasil membunuhnya?"
"aku tidak pernah bertemu seorang elf dengan kekuatan besar seperti itu." kata Freya.
"ini belum selesai.." kata Minerva.
Sonja tetap waspada, matanya mengamati sekeliling tiba-tiba dari dalam tanah muncul sepasang tangan berwarna hitam dengan kuku yang sangat panjang dan runcing menangkap kedua kakinya dan menariknya.
Sonja mematahkan salah satu lengan itu, tapi dalam sekejap muncul puluhan tangan lainnya mencengkramnya dan terus menarik seluruh tubuhnya hingga terbenam ke dasar tanah, seolah-olah tanah itu berubah menjadi pasir hisap.
Freya dan lainnya menyaksikan kejadian itu dengan tegang.
Duarrr..
Tanah yang menelan Sonja meledak hingga membuat sebuah cekungan, Sonja lalu muncul melayang di atas nya. Makhluk-makhluk lainnya kini mulai berlari ke arahnya. tanda di kening Sonja menyala terang, ia memutar tubuhnya dengan super cepat melawan arah jarum jam, angin yang disertai kilatan petir berwarna merah muncul menyelimuti tubuhnya.
Kekuatan angin yang sangat dahsyat membuat gerombolan makhluk itu terangkat ke udara dan kilatan petir merah mencabik-cabik hingga tak tersisa, suasana dalam kubah bak hujan darah.
"Siapa kau sebenarnya?"
Sonja membalikan badannya, ia melihat Gessora muncul kembali. ia tak menjawab, ia langsung menyerang, Gessora mengeluarkan belasan gumpalan hitam yang keluar dari tangannya lalu di arahkan pada Sonja yang menerjang ke arahnya.
Sonja tak sempat menghindar, belasan gumpalan itu mengenai dirinya dalam sekejap tubuhnya terbungkus gumpalan itu dan menghisapnya. seperti makanan dalam dalam plastik kedap udara, membuatnya sulit bernafas dan bergerak melayang di udara. Gessora menghentakan tangannya belasan duri-duri tajam keluar melesat ke arah Sonja.
wush.. wush..
Tanda di kening Sonja kembali menyala, ia membuka mulutnya dan berteriak. "Aaaaaaa..!"
Sinar merah keluar dari mulutnya membuatnya terbebas lalu sinar itu menghancurkan duri-duri dan menghantam hingga menembus dada Gessora.
Gessora tumbang dengan lubang besar di dadanya, tubuhnya menguap ketika menyentuh tanah.
"hahaha.. kau pikir kau semudah itu mengalahkanku"
Sonja membalikan badannya, tapi bersamaan Gessora sudah melepaskan sinar keunguan ke arahnya.
wusss.. duarr..
Sinar ungu mengenai pundak Sonja membuatnya terlempar beberapa meter, tampak luka di pundaknya menghitam.
"Sylvana.. eh.. Sonja kau jangan membunuhnya, dia akan muncul kembali lebih kuat." kata Helena.
Gessora memandang Helena dengan geram. ia mengeluarkan bola sinar berwarna ungu ke arah kubah yang melindungi mereka.
Wusss... Blarrr..
Kubah itu hancur, Helena dan lainnya terpental, dada mereka terasa sesak. Gessora melayang mengangkat kedua tangannya, ratusan makhluk berkepala anjing muncul kembali dari dalam tanah menyerang mereka berempat.
"Sonja kau baik-baik saja?" tanya Helena.
"Aku masih bisa bertahan."
Mereka berempat berjuang melawan makhluk yang tiada habisnya, setiap satu makhluk itu hancur maka akan muncul dua dari dalam tanah.
Ketika konsentrasi mereka terfokus pada makhluk berkepala anjing itu, Gessora melepaskan sinar hitam ke arah Freya.
"Freya awas..!" teriak Minerva.
Tapi terlambat, Freya tak menyadari datangnya sinar itu, ia tak sempat menghindar, sinar itu mengenai keningnya, ia akhirnya rubuh tak sadarkan diri.
"Keparat.., Aku akan membunuhmu." kata Minerva.
Ia ingin menolong Freya tetapi makhluk-makhluk itu terus menyerangnya membuatnya terdesak. tubuh Freya seketika melayang mendekati Gessora.
Gessora membuka mulutnya, Ia menghisap energi inti dari Freya.
"Freyaaa.."
Minerva dengan kekuatan terakhirnya melompat untuk menyelamatkan Freya, tetapi gerakannya lambat gas beracun telah melumpuhkan setengah kekuatannya. Gessora hanya menggerakan tangannya duri-duri tajam melesat ke arah Minerva.
Duri-duri itu langsung menancap di kaki, pundak dan perut Minerva. ia pun terpental, nafasnya sesak, dari mulutnya keluar darah kental berwarna hitam.
"Freya maafkan aku.." kata Minerva dengan lemah.
Ketika melihat Minerva terkapar makhluk berkepala anjing semakin beringas mereka berlari ke arah Minerva ingin mencabik-cabik tubuhnya, Ia hanya pasrah, namun tanpa diduga makhluk-makhluk yang menerjang ke arahnya itu terpental, begitu juga yang menyerang Sonja dan Helena.
Mereka bertiga terkejut, keterkejutan mereka berubah menjadi senyum sebuah harapan. di belakang mereka telah berkumpul ratusan penyihir kota Innodale.
"Sebelumnya kami pikir ini perbuatanmu, dan kami ingin memberimu pelajaran, namun sepertinya kau bukan dalang kejadian ini." kata seorang pada Minerva.
"Selamatkan Freya, aku tak peduli bila kalian semua ingin ingin membunuhku, wanita itu bernama Gessora, dia guruku sebelumnya, dia ingin membunuh Freya."
"Kita bicarakan lagi nanti, kalian semua dengar?! kita harus selamatkan Freya."
Pertempuran pun terjadi para penyihir menjadi dua kelompok sebagian menyerang makhluk itu, sebagian lainnya berusaha membebaskan Freya. tetapi membebaskan Freya bukan perkara yang mudah. banyak dari mereka sudah menjadi korban Gessora.
"Sial bagaimana kita merebut Freya dari tangannya?" kata seorang dari mereka.
"Siapa diantara kalian yang memiliki kekuatan cahaya?" tanya Helena.
Tak ada jawaban.
Tiba-tiba terdengar suara ledakan yang sangat keras lalu disusul suara retakan.
Duaarrr.. krak.. krak.. Prang..
"Tidak mungkin..!" Gessora terkejut.
"Mercia.." Helena tersenyum.
August melayang turun disamping Helena, semua mata memandang ke arahnya.
"Ceritakan apa yang terjadi dengan cepat?" tanya August matanya menatap Freya yang berada dalam cengkraman Gessora.
"Wanita itu Gessora, guru dari Minerva, ia ingin menghisap jiwa Freya, jika berhasil Proxima akan dalam bahaya. Minerva melawannya dan terluka." kata Helena.
Mercia melihat Minerva dengan luka yang sangat parah, ia sedikit terkejut melihat seorang elf berambut merah.
"Siapa elf berambut merah itu? mengapa wajahnya mirip dengan Sylvana?" tanya August.
"Dia memang Sylvana, tapi saat ini dia bernama Sonja." jawab Helena.
"Hey kau manusia, siapa kau?" tanya Gessora.
August tak memperdulikan Gessora, dia berjalan ke arah wanita berambut merah.
Sonja menatap August dengan waspada.
"Kau bernama Sonja?" tanya August.
"Kau jangan coba-coba menyakiti Sylvana atau aku akan membunuhmu."
"Namaku Mercia, kau terluka, biarkan aku mengobatimu."
"aku tak butuh bantuanmu!"
August hanya tersenyum.
"Hey keparat! aku bicara denganmu!" kata Gessora geram.
August membalikan badannya.
"Aku adalah orang yang akan membunuhmu, bersabarlah sedikit."
"Bisakah aku bicara dengan Sylvana?"
"Tidak boleh."
Bola mata merah Sonja kembali berubah normal.
"apa yang kau lakukan Sonja? dia temanku, dia akan membantu kita."
"Diamlah Sylvana, aku tak percaya lelaki ini."
"Kau gila Sonja, jika bukan karenanya kita tak punya peta Moonheaven."
"Diamlah." mata Sonja berubah merah.
Mendengar kata Moonheaven semuanya terkejut. August berdiri menatap Gessora.
"Lepaskan Freya dan kau bisa meninggalkan tempat ini dengan damai."
"Hahaha.. aku tak percaya ada seorang manusia mengancamku."
Gessora melayang turun, sementara Freya masih melayang di udara terbungkus asap hitam, Gessora menyentuh tanah dengan telapak tangan kanannya, bola matanya menghitam, awan hitam seketika menutupi cahaya matahari, ia lalu menarik tangannya, tanah bergetar kembali mayat-mayat para penyihir yang telah menjadi korban tiba-tiba bangkit dan berdiri di depan Gessora menjadi pasukan penjaga.
"BUNUH MEREKA SEMUA..!"
Mayat para penyihir dan ratusan makhluk berkepala anjing mulai bergerak menyerang.
"Mercia sembuhkan Minerva" pinta Helena.
"Aku ingin sekali membunuhnya atas perbuatannya pada temanku."
"Mercia, kau memaafkanku atas apa yang aku lakukan padamu, mengapa kau tidak lakukan juga padanya?" kata Helena.
Minerva hanya terdiam mendengar percakapan Helena dan Mercia, ia menundukan kepalanya ketika Mercia berjalan ke arahnya.
"aku ingin kau ingat hari ini, jika bukan karena Helena aku tak sudi menyembuhkan lukamu, jika setelah semua ini kau masih menyakiti siapapun orang yang aku kenal, aku akan menghabisimu di depan Freya."
"aku mengerti." ucap Minerva lemah.
August mengeluarkan cahaya kehijauan dari tangannya, ia menyentuh luka di perut Minerva, tangan kirinya mengeluarkan cahaya keemasan lalu ia letakan di atas kening Minerva.
Minerva merasakan hawa menyejukan menetralisir rasa sakitnya, kekuatannya perlahan-lahan kembali, dalam keadaan terbaring ia menatap wajah Mercia yang tampak terkuras energinya.
"Selamatkan adikmu." August sangat kelelahan ia lalu ambruk, namun ia sempat melempar cahaya kehijauan ke arah wanita berambut merah.
Sonja terkejut cahaya hijau mengenai dirinya, luka di pundaknya seketika menghilang, ia menengok ke arah sumber cahaya itu dan melihat Mercia sudah lemas dan terjatuh dalam pelukan Minerva yang menahan tubuhnya.
'Dasar lelaki itu bikin repot, aku minta cuma menyembuhkan bukan memberinya kekuatan.' kata Helena dalam hati.
"Minerva cepat selamat Freya, biar aku yang menjaga Mercia." kata Helena yang tak ingin melihat Mercia dalam pelukan Minerva.
Minerva mengangguk ia lalu bergerak masuk ke arena pertempuran untuk melawan Gessora.
"Sonja lindungi aku, aku akan membuat pelindung untuk Mercia." kata Helena.
Sonja segera melompat menjaga keduanya dari serangan yang datang ke arah mereka.
"Kau bodoh sekali memberinya kekuatan." Helena tampak kesal.
August hanya tersenyum sesaat sebelum akhirnya pandangannya menjadi gelap. Helena membalas senyuman itu, ia pun segera membuat kubah pelindung untuknya.