
Dua buah mobil off road memasuki kota Buckland. Hedya dan Valery berada di mobil terdepan bersama seorang lelaki bernama Raymond yang duduk di balik kemudi.
"apa kalian pernah bertarung dengan orang orang dari proxima?" tanya Hedya.
"kami hanya bertarung melawan para hybrid." kata Valery.
"Letnan Hedya bagaimana kau bisa membunuh Mordo dengan pistol itu?" tanya Ray.
"Panggil saja Hedya, aku memodifikasi glock 17 mengganti dengan peluru emas lalu mengalirkan energiku ke dalam pistol."
"tugas kita menghabisi pasukan merah, jangan menghadapi Gorran secara langsung, biarkan August, ibuku dan Carol yang menghadapinya." kata Hedya.
"tentu saja letnan, kami semua akan mengikuti instruksimu" kata Valery.
Mobil yang mereka tumpangi berhenti ketika mereka melihat August menghadang di tengah jalan.
Hedya dan lainnya turun dari mobil. August sedikit terkejut melihat Hedya dan Valery serta lainnya keluar dari mobil mendekatinya.
"apa yang kalian lakukan di sini? siapa mereka?" tanya August pada Hedya dan Valery.
"kami ingin membantumu." kata Hedya.
"Kau tak perlu khawatir kami semua adalah hybrid, aku akan perkenalkan mereka semua" kata Valery.
"ini Raymond, James, Lizzie, dan terakhir Clara." kata Valery.
August menjabat tangan dan menatap mereka satu persatu, ketika melihat Clara pikirannya berkecamuk, gadis ini imut dan menggemaskan sekali, bibirnya aduhai, dadanya juga besar dan montok, sepertinya dia pemalu.
Valery melihat waiah Clara memerah. ia mengerti.
"ehem.. Hey August Clara ini spesial, dia bisa membaca pikiran" kata Valery.
glek.
"Clara apa yang ia pikirkan? tanya Hedya.
"Hey jangan berlebihan.., aku hanya berpikir apakah Clara bisa mengobati temanku Nora, karena pikiran dan mentalnya terganggu." kata August.
"Darimana kau tau Clara bisa mengobati?" tanya Hedya.
"Bukankah Valery yang berkata dia bisa membaca pikiran?" jawab August.
"aku bertanya apa yang kau pikirkan sebelum Valery memberitahu padamu." kata Hedya.
"ayo pergi matahari panas sekali." kata August membalikan badannya menahan malu.
"Clara jika ia memikirkan yang aneh aneh katakan padaku, aku akan membenturkan kepalanya ke dinding." kata Hedya.
August pura pura tak mendengar, ia berjalan sambil bersiul, tetapi pikirannya berkata. 'jangan bilang.. jangan bilang.. jangan bilang.'
"tidak.. dia hanya memikirkan temannya itu. kata Clara senyum.
Kota Royan.
Julia telah kembali ke rumah peninggalan orang tuanya. Mr. Longstaf dan keluarganya benar-benar sudah pergi dari kota Royan. Julia juga sudah bertemu dengan seseorang yang diutus kapten Sanders untuk menemuinya guna mengembalikan aset keluarganya yang telah dirampas.
Rumah ini terlalu besar untukku tinggal sendiri. Julia duduk di sofa ruang tamu, ia menyalakan televisi untuk mengusir rasa sepi. ia terkejut membaca tagline berita bahwa pemerintah negeri Lumeria memberikan status siaga satu. Julia mengambil remote memperbesar volume suara televisi. kini terdengar wartawan yang meliput dari sebuah helikopter itu menjelaskan situasi yang tengah berlangsung. Julia menonton berita itu sambil meminum secangkir teh hangat yang ia pegang dengan kedua tangannya.
Julia melihat sebuah iring-iringan mobil yang di dalamnya terdapat pasukan dengan pakaian berwarna merah. tayangan itu terhenti berganti dua pembawa berita di dalam studio.
"Pemirsa kini kita akan bergabung dengan rekan kami lainnya yang saat ini sudah berada di kota Buckland"
tayangan kembali berubah, kini terpampang pemandangan dari atas kota Buckland, helikopter itu mengelilingi kota Buckland lalu menuju pusat kota.
"Pemirsa bisa dilihat ada tujuh orang berada di salah satu gedung, dan seorang dari mereka seperti meminta kami pergi, mohon maaf hanya ini yang bisa kami kabarkan."
ketika helikopter itu bersiap pergi, kameramen sempat men-zoom dengan sangat jelas orang yang melambaikan tangannya menyuruh mereka pergi.
Prang..!
Cangkir teh yang di pegang Julia terjatuh, tangannya gemetar, matanya tak berkedip.
"August..!"
Pikiran Julia berkecamuk. 'flasdisk itu'
Julia berlari ke lantai dua menuju kamarnya, menyalakan laptop lalu membongkar isi tasnya.
"dimana.. dimana flashdisk itu..?"
"dimana aku menyimpannya?"
Julia kini berlari menuju garasi, membuka pintu mobil lalu mencari di setiap bagian mobil.
"ketemu"
Julia kembali berlari menuju kamarnya, mencolokan flashdisk ke laptop miliknya. Julia membuka flashdisk yang sudah terhubung itu, ia menemukan sebuah folder, ia mengklik folder itu, hanya ada sebuah file video. Julia memutar video tersebut.
Julia terkejut.
'bukankah ini area parkir kampusnya ?' pikirnya.
Julia melihat tanggal yang tertera di video cctv. 'ini.. ini setahun yang lalu.' hati Julia seketika diliputi rasa takut dan cemas.
Tidak lama kemudian video tersebut menampilkan August yang berjalan limbung memegang dadanya, ia mendekati sebuah mobil, membuka kancing bajunya seperti memeriksa sesuatu. di belakangnya sebuah mobil sedan merah tiba. Aruna keluar lalu menghampiri August. August membalikan badannya ia terjatuh tetapi Aruna menahannya. Julia melihat kejadian itu dengan mulut terbuka yang ditutupi kedua tangannya.
Aruna mencoba membantu August berdiri. tapi August sangat lemah, ia merangkulkan tangan August ke pundaknya dan memegang pinggang August untuk membantunya berdiri dan berjalan menuju mobil merah miliknya.
Air mata Julia mulai mengalir dengan deras. ia sudah tau kelanjutan video ini. ia akhirnya muncul di video tersebut, tak lama ia pun pergi. August yang hampir tiba di mobil merah itu terjatuh kembali, ia memuntahkan darah dari mulutnya.
Julia tak sanggup melihat video itu lagi ia membanting laptopnya ke dinding kamarnya. Laptop itu hancur. Julia menangis, meraung, berteriak dengan keras. ia benar-benar marah, bukan karena Aruna, Ia marah pada dirinya sendiri yang terlalu impulsif, melihat sesuatu hanya dari sudut pandangannya saja dan terlalu cepat mengambil kesimpulan.
Julia sadar betul August ingin menjelaskan dan meluruskan kesalah pahaman ini, namun dirinya selalu menolak, bahkan August sudah berusaha mendapatkan rekaman video itu, tetapi sikapnya ketika bertemu dengan August di pemakaman telah benar-benar menyakiti August. August masih ingin bersamanya namun ia sudah menutup pintu itu.
Julia kembali teringat kata-kata Aira.
"jika sikapmu masih seperti ini, cepat atau lambat kau akan kehilangan dia."
Hanya penyesalan yang tersisa. Tangisan Julia mulai mereda satu jam kemudian. ia ingin mendapatkan August kembali, ia harus membuktikan pada August bahwa ia masih mencintainya. tiba-tiba Julia mengingat pertemuannya dengan wanita misterius di hutan Royan.
'wanita itu pernah mengatakan sesuatu padaku, aku akan tetap kehilangan dia meskipun aku membuktikan cintaku, dia bicara tentang takdir yang terkunci, dia juga bilang aku akan mencintai orang yang berbeda. bisakah aku mencintai orang yang berbeda?'
'Walaupun aku berhasil mendapatkan August kembali, dia bukanlah August yang sama seperti dulu. tunggu bukankah itu artinya dia orang yang berbeda?'