MERCIA

MERCIA
95. Mengunjungi Kuil Bayangan.



"Paman Roza, aku kira kau sudah pergi."


"Amara.. aku akan pergi setelah aku bicara padamu."


"Paman.., jika ini tentang Mercia aku tidak ingin bicara."


"Amara.., aku dan paman Lor sudah menganggapmu seperti anak kami sendiri, aku sangat khawatir denganmu."


"Aku bisa menjaga diri, kau tak perlu khawatir paman.."


"Aku mendengar percakapanmu dengannya, maafkan paman, aku tak bermaksud menguping, saat itu aku berada di luar mulut gua menunggu Famir atau Draco membantuku turun."


"Lupakan saja paman."


"Amara, aku mengerti apa yang kau rasakan. tapi jika kau bersikap seperti ini kau akan kehilangan keduanya, Mercia dan Adikmu."


"Adik?"


"Token ini mengatakannya, sisi depan dengan ukiran naga adalah kau dan sisi belakang adalah adikmu."


"Mungkin kau mengatakan ini tidak adil untukmu, tapi apakah kau pernah berpikir jika kau menjadi adikmu?, ia tak mengetahui siapa dirinya, dia tak punya kekuatan apapun, kau lebih beruntung darinya, kau memiliki kekuatan kau tau siapa dirimu, takdir memepertemukannya dengan Mercia, lalu menguji mereka, adikmu terlahir kembali, tetapi ingatannya hilang. apakah itu belum cukup untuk merasakan pahitnya hidup yang ia jalani?"


Amara hanya menundukan kepalanya.


"Amara.. kau sudah dewasa segala keputusan ada ditanganmu, paman hanya ingin kau tidak salah langkah, paman pamit pergi, jagalah dirimu."


Amara tak mengeluarkan sepatah kata pun. matanya berkaca-kaca, dan butiran air kembali jatuh.


**


Proxima. kota Hinar. rumah makan.


"aku tak pernah berpergian sejauh ini selama hidupku, terima kasih kau telah mengajakku Isona."


"Elyn, kita ini berteman, ibumu sudah sembuh, saatnya kau mengenal dunia ini."


"Sebenarnya kemana tujuan kita?"


"Ibumu memintaku untuk mengunjungi kuil bayangan bertemu dengan ketua Vergha."


"Apa kuil itu masih jauh?"


"Kita pergi saat fajar besok, kita akan tiba sebelum senja."


"Apakah murid-murid di sana sangat kuat?"


"tentu saja, ada satu orang yang sangat kuat dia anak dari ketua Vergha bernama Nevan."


"Apa dia sekuat Mercia?" tanya Elyn.


"Sepertinya."


Tanpa disadari obrolan mereka berdua terdengar oleh seorang wanita yang berada di depan meja mereka.


'siapa sebenarnya Mercia ini? ini yang ketiga kalinya aku mendengar namanya.'


Tiba-tiba pintu rumah makan itu didobrak dua orang wanita diikuti sepuluh orang pria bertampang kejam masuk.


"Pelayan bawakan kami makanan, mereka semua yang akan membayar." kata salah satu orang wanita itu.


"Javelyn, aku yang akan membayarnya."


"Hahaha.. sejak kapan kau membayar makananmu Zelda?"


Orang-orang di rumah makan itu terkejut dan marah, namun seketika mereka sangat ketakutan ketika mengetahui siapa kedua wanita itu.


"Siapa diantara kalian semua yang mengetahui keberadaan seseorang bernama Mercia?" kata Javelyn dengan suara lantang.


Isona dan Elyn terkejut. begitu juga dengan wanita di depannya. sepuluh orang pria kini menatap sekeliling, ketika melihat ke arah Isona dan Elyn serta wanita yang berada di depannya, mereka lalu menghampiri ketiganya. salah seorang diantara mereka duduk di atas meja wanita yang duduk sendiri itu.


"Kau cantik dan sexy, boleh aku temani?"


Wanita itu tetap diam sambil terus menikmati makanan di mejanya.


"Kalian berdua mengenal Mercia?" tanya seorang lainnya kepada Isona dan Elyn.


Elyn tampak ketakutan ketika seseorang merangkulnya.


"Jangan ganggu kami, aku tidak mengenal lelaki itu!" kata Isona.


"Hahaha.. aku tidak pernah menyebut orang itu adalah lelaki, kalian bawa mereka berdua." perintah Javelyn.


Beberapa orang langsung membawa Isona dan Elyn, Isona mencoba melawan, tapi tenaganya kalah kuat, hingga mereka dengan mudahnya mengikat kedua tangan mereka.


"Bagaimana denganmu cantik, apa kau mengenalnya?" tangannya mencoba menyentuh dagu wanita itu.


Ahhh...


Teriak lelaki ketika wanita yang digodanya tiba-tiba memelintir tangannya hingga mengeluarkan suara yang mengerikan pada tulang lengannya. tak berhenti sampai di situ, wanita itu lalu mengambil sumpit lalu menusukan ke tenggorokannya. lelaki itu tersedak lalu jatuh tak bergerak lagi.


Zelda dan Javelyn tak menyangka ada orang yang berani berbuat seperti itu di hadapan mereka berdua, mereka menatap tajam ke arah wanita itu. orang-orang yang berada di ruangan itu semakin panik, mereka akhirnya berhamburan keluar.


"Siapa kau?" tanya Zelda.


"Orang yang tak ingin kau ganggu." wanita itu berdiri menatap Javelyn.


"Sepertinya aku pernah bertemu denganmu."


"Apa kau sedang membicarakan ibumu?" kata wanita itu tenang.


"Dasar wanita ******.. BUNUH DIAA..!" perintah Javelyn.


Seorang dari sembilan pria kejam itu melompat mengayunkan pedangnya, wanita itu hanya bergeser setengah langkah ke kanan, ayunan pedang hanya mengenai meja makan hingga membuat terbelah, wanita itu dengan cepat mencengkram lehernya, sinar merah mengalir dari tangan kirinya, tubuh pria itu mengejang dan menyala merah sebelum akhirnya menjadi debu berwarna merah.


delapan pria lainnya mulai tampak ketakutan melihat apa yang baru saja terjadi. Zelda terus menatap wanita itu aura ingin membunuh tampak terlihat dari sorot matanya.


"Mengapa kalian diam saja?" bentak Javelyn pada bawahannya.


Kedepan orang tersisa langsung menyerang bersamaan. wanita itu tetap diam, mereka semua bernasib sama, semuanya menjadi debu ketika mendekatinya.


"Siapa kau sebenarnya? apa hubungannya Mercia denganmu?" tanya Zelda?


"Namaku Elda, aku tidak ada hubungannya dengan Mercia, orangmu mengganggu makan siangku!" ia melihat Isona dan Elyn yang terikat.


"Mereka tawananku jangan pernah berpikir untuk memintaku melepaskannya." kata Javelyn ketika melihat wanita itu menatap Isona dan Elyn.


"Aku tak kenal dengan mereka berdua, tapi aku ingin tau siapa Mercia yang kalian cari itu?"


"Mengapa kau ingin tau?" tanya Zelda.


"Aku selalu mendengar namanya, aku ingin bertemu dengannya."


"Apa yang kau lakukan bila bertemu dengannya?" tanya Javelyn.


"bukan urusanmu."


Javelyn mengepalkan tangannya, ia sangat marah melihat sikap Elda.


"Mengapa kita tak mencarinya saja bersama?" tanya Zelda.


Elda mengambil kompas dari balik bajunya ia mengamatinya sesaat lalu berjalan menghampiri Isona dan Elyn, Javelyn ingin menghadangnya, tetapi Zelda menahannya.


Elda mencengkram baju Isona lalu mengangkatnya.


"Katakan padaku seperti apa ciri-cirinya?" tanya Elda.


Isona diam.


"Aku hanya ingin bicara padanya, tidak akan menyakitinya" kata Elda.


"dia lelaki yang sangat kuat, dia berwajah tampan, dia selalu membela yang lemah."


"Omong kosong apa ini..? membela yang lemah.. hahaha... cuih.." kata Javelyn.


Elda melirik ke arah Javelyn.


"Apa lagi?" tanya Elda kembali menatap Isona.


"Aku hanya berjumpa sekali dengannya, yang aku tau dia bisa menyembuhkan luka apapun."


"Dimana kami bisa menemukannya?" tanya Zelda.


"Aku tidak tau, dia bukan berasal dari Proxima."


"Apa?" Javelyn tampak terkejut.


"Apa dia bangsa elf?" tanya Javelyn.


"Dia manusia."


'apakah lelaki itu? ah tidak mungkin, Kallus sudah mengambil kekuatannya.' pikir Javelyn.


Elda melepaskan cengkramannya. Ia lalu melangkah pergi.


"Kau pikir bisa pergi begitu saja?" kata Javelyn.


Elda menghentikan langkahnya. "Apa kau cuma bisa bicara?"


Javelyn langsung menerjang ke arah perut Elda dengan lututnya, Elda menahan dengan kedua telapak tangannya, terjangan yang kuat itu membuatnya terlempar keluar. Javelyn terus menyerang dengan tinju dan tendangan silih berganti, Zelda pun keluar untuk melihat pertarungan itu.


Isona segera mengeluarkan kekuatannya untuk melepaskan ikatan di tangannya dan juga Elyn.


"Elyn ini kesempatan kita, cepat kita pergi dari sini."


Elyn mengangguk, mereka berdua melarikan diri melalui jendela rumah makan yang ada di tempat itu.


"Apa kemampuanmu cuma bisa menghindar?" tanya Javelyn.


"Apa kau tak mampu memukulku?" kata Elda mengejek.


Javelyn melepaskan pukulan bersinar berwarna biru, Elda menangkisnya dengan sinar merah yang keluar dari dua jarinya.


Duarrr..


Ledakan terjadi keduanya seperti tak terpengaruh, Keduanya kembali saling menerjang, Javelyn melemparkan tiga jarum hitam ke arah Elda, Elda melihat pergerakan jarum itu, ia bisa menghindari jarum pertama dan kedua, tetapi jarum ketiga menembus pundaknya.


"Akhhh..."


Javelyn tak memberinya kesempatan ia terus menyerang Elda, tinju dan tendangan berhasil mengenai wajah, dada dan perut Elda, ia bersalto dua kali ke belakang dan kembali melepaskan pukulan sinarnya. Elda tak sempat menghindar, ia mengepalkan tangannya dan menyilangkan menangkis sinar itu.


Duaarrr...