
Mayat-mayat pasukan istana telah dikuburkan. malam pun tiba, kondisi Sylvana sudah kembali seperti sebelumnya, para elf tidak hanya merayakan kemenangan, mereka juga merayakan kesembuhan Sylvana. makan malam tersaji, Sylvana, August, Amara Violet dan Pyriel berada dalam satu meja, suasana benar-benar canggung. August sudah menjelaskan semuanya pada Sylvana, namun keheningan tetap menyelimuti perayaan tersebut.
"Mercia aku pikir sebaiknya besok kalian segera pergi mencarinya." kata Sylvana.
"Sylvana aku sudah berjanji padamu untuk membantumu merebut istana emas itu."
"Kau tak perlu khawatir, aku tetap akan menagih janjimu, tapi tidak sekarang, kami akan meninggalkan tempat ini, membangun kekuatan, juga mencari dimana keberadaan ibuku, setelah itu aku harap calon istrimu ini tetap mengizinkanmu membantuku." kata Sylvana melirik ke arah Amara.
"Janji adalah janji, seorang pria sejati harus menepatinya." kata Amara.
"Tentu saja aku setuju dengan itu, tapi aku yakin itu tidak akan mudah."
"Karena itu.. aku pastikan akan berada di sampingnya membantunya."
"Begitu pula aku, aku akan selalu berada di dekatnya memastikan semuanya berjalan lancar."
Amara mengepalkan tangannya.
'jika begini terus, mereka bisa berkelahi.' pikir August.
"Makanan ini enak sekali, kalian semua tau selama aku di Enigma aku belum pernah mencicipi makanan elf." kata August mencoba meredakan suasana.
"Siapa yang memasak makanan ini?" tanya August.
"Violet." kata Pyriel.
"Wah.. kau ternyata selain ahli menculik ternyata kau ahli memasak juga."
Suasana menegangkan perlahan-lahan mencair, namun tak bisa di pungkiri pertarungan Sylvana dan Amara baru saja dimulai. August menyadari itu.
Pagi pun tiba, para elf bersiap meninggalkan tempat itu, begitu pula dengan August dan Amara. Walau terlibat perang dingin dengan Sylvana, Amara tetap berpamitan dengannya, namun ketika August berpamitan dengannya, Sylvana tiba-tiba memeluknya.
"Terima kasih telah membantuku, jika bukan karena kau mungkin aku tidak bisa menemukan tempat ini."
"kita menemukannya bersama-sama." kata August.
Sylvana lalu berbisik ke telinga August. "aku tidak akan menyerah."
August mengetahui apa maksud yang di katakan Sylvana adalah masalah baginya. Amara tampak kesal melihat keduanya. akhirnya mereka berdua pun pergi.
"Apa yang dibisikan elf itu?" tanya Amara.
"bukan hal penting.. ahhhhh.., mengapa kau menyubitku."
"Kau tidak menjawab pertanyaanku."
"dia ingin belajar memasak, dia ingin resep makanan bumi."
"Jangan bohong!"
"Aku tidak bohong. mengapa kau mencubitku dengan tenaga dalam."
"Biar lebih berasa."
"kalau kau ingin aku merasakannya gunakan cara lain."
"itu maumu."
"maumu juga, minggir dulu sana."
"kau mau kemana?"
"buang air kecil, kau mau lihat?"
"aku sudah pernah melihatnya."
"Kau cuma melihatnya belum berkenalan dengannya."
"Apa maksudmu? siapa yang sudah berkenalan? apa elf itu? katakan!" kata Amara berdiri di belakang August tongkatnya berada di leher August mencekiknya.
'sial aku salah bicara.'
"hegh... ak.. ku hanya ber.. canda, asal bicara saja."
"Awas kau! ya sudah kita pergi ke duniamu, mana tempat yang ingin kau tuju?"
"Kuil Murcia."
"Baik.. kau hanya perlu memikirkan tempat itu, kita pergi sekarang." Amara menghentakan tongkatnya ke tanah.
"Tungguuu.. aku sedang buang air keciiiiiilllll.." teriakan August menghilang begitu juga dengan tubuhnya bersamaan munculnya lingkaran sinar yang bergerak ke atas.
**
Kuil Murcia.
q
Acara makan bersama sudah menjadi rutinitas di kuil Murcia. bagi Rafael, Nora serta Elias mereka bertiga lebih sering menghabiskan waktu di sana. kuil itu semakin besar seiring bertambahnya orang-orang yang direkrut oleh Hedya, Valery atau Ellias, tidak semua dari mereka adalah hybrid.
Ketika mereka semua tengah asik menyantap makanan di atas meja tiba-tiba sebuah portal muncul di atas meja makan.
BRAKKKK...!
Semua terkejut melihatnya.
"Aaaaaa" Clara berteriak menutup kedua matanya ketika melihat sesuatu yang di pegang August.
"MERCIA APA KAU SUDAH GILA..?!!" teriak Hedya.
August tersadar, ia tak menduga di hadapannya, lady Lyra, Clara dan Oracle menatap dirinya yang tengah memegang senjata pusaka miliknya.
'sial.. sial.. sial..' August panik, ia buru-buru memasukan pusaka miliknya, namun seolah-olah lubang dicelananya menghilang.
"IBU..! BIBI..! MENGAPA KALIAN MASIH MELIHATNYA?"
"Hah..?" Lady Lyra dan Oracle mulai tersadar, mereka lalu menundukan kepalanya.
Valery, Rafael tak kuasa menahan tawa.
'brengsek.. brengsek.. ini sangat memalukan' pikir August yang semakin pucat menahan malu
"TURUN KALIAN BERDUA." Bentak Hedya.
"ini salahmu Amara." kata August.
Tiba-tiba Nora muncul. "Julia apakah itu kau?"
hening.
Seketika mereka semua menatap wanita yang muncul bersama August. Rafael mulai memperhatikan Amara.
"Julia?"
Amara sedikit terkejut. melihat mereka mengenali dirinya sebagai sosok bernama Julia.
"Aku bukan Julia, namaku Amara."
"Amara?" semua bersamaan.
"Mercia apa yang terjadi?" tanya Lyra.
August akhirnya menceritakan pada mereka semua tentang temuan Rafael dan penyelidikan Valery. semua dibuat terkejut. terlebih Oracle dan Lyra.
"Mercia, ketika kristal itu memilihmu, aku melihat tiga pertanda, perisai cahaya, simbol dark elf dan burung phoenix, sebelum kau ceritakan ini, aku masih tidak tau apa maksud dengan burung phoenix, sesuatu telah menghalangi pandanganku, aku juga dibuat bingung dengan kemunculan Julia dalam penglihatanku, tetapi aku tetap menemuinya." kata Oracle.
"Kau menemui Julia?" tanya August terkejut.
"Ya.. waktu itu kalian berdua mencariku di hutan itu."
"Darimana kau memiliki penglihatan itu?" tanya Amara.
"Itu bukan hal penting."
"Jadi phoenix itu adalah Julia." kata Lyra.
"Aku harus memastikannya terlebih dahulu, satu hal yang aku tau Aruna tidak mungkin membohongiku." kata August.
"Bagaimana kau yakin? kita semua tau bagaimana pertemuanmu dengannya." kata Carol.
Amara melirik August ia tampak penasaran dengan kisah itu.
"Aku hanya tau, aku tak bisa menjelaskan pada kalian semua?" kata August.
"Lalu apa tujuanmu membawanya kesini?" tanya Lyra.
"Nora apa kau membawa kunci villa milik Julia?"
"Aku akan mengambilnya."
"Amara ingin mengetahui kehidupan Julia, itulah alasanku membawanya ke tempat ini."
"Sebaiknya kalian menginap dulu disini, besok baru pergi." kata Lyra.
Amara mengangguk, mereka berdua pun meninggalkan tempat itu.
"Kau mau kemana Mercia, di sana kamar khusus wanita." kata Hedya.
"Biarkan dia beristirahat, kau tetap di sini membereskan kekacauan yang kau buat." tambah Hedya.
glek.
"Ini semua gara-gara kau, awas..! aku akan membalasmu." kata August pada Amara setengah berbisik.
"Salahmu sendiri." kata Amara dengan satu kedipan mata lalu pergi bersama Nora dan Clara.
August kembali memasuki ruang makan, di sana hanya ada Oracle, Lyra dan Hedya.
"Ini yang kedua kalinya kau merusak acara makan bersama kami." kata Hedya.
"Maafkan aku.. aku tidak sengaja.. ini semua karena wanita itu."
"Apa yang telah kau lakukan bersama wanita itu mengapa kau muncul dengan keadaan emh.. e itu.." kata Hedya, wajah mereka berempat memerah ketika kembali mengingatnya.
"Mengapa masih dibahas? aku sudah minta maaf."
"Ibu.. bibi.. mengapa kalian diam saja? kita harus menghukumnya."
"Hah.. kau jangan bawa-bawa kami." kata Lyra.
"Aku pergi dulu aku ingin meditasi." kata Oracle.
"Ibu juga pergi, hoamm.. hari ini melelahkan membuatku ingin cepat tidur, aku pergi."
"Hey... aghhhh.. kalian berdua." Hedya kesal.
Oracle dan Lyra pergi meninggalkan August dan Hedya.
"Oracle kau yakin dia orang yang terpilih?"
"Aku tidak tahu, kristal itu mungkin rusak."
"Apa kau juga melihatnya?" tanya Oracle.
"Ya.. aku melihatnya dengan jelas.. besar."
Oracle menghentikan langkahnya, menatap Lyra. Lyra pun berhenti.
"Maksudku, wanita itu bukan.. ehm.."
"Aku melihatnya, dia juga mirip Julia.. ehm.. besar dadanya."
"Jadi kita berdua memang benar-benar melihatnya."
"ya.. lumayan lama, dan aku yakin itu masih belum maksimal."
"Aku juga berpikir demikian.
"Hedya aku minta maaf, kau tau betapa malunya aku saat ini." kata August sambil membereskan pecahan piring gelas dan lainnya yang berserakan di lantai.
"Apa yang akan kau lakukan jika menemukannya masih hidup?"
"Aku ingin mengembalikan ingatannya, membantu mereka berdua mencari tau darimana mereka berasal."
"Kau masih ingat bahwa aku masih memiliki satu permintaan dan kau berjanji untuk mengabulkannya?"
"tentu saja, aku akan berusaha, lalu apa permintaanmu?"
"Menikahlah denganku..!"