MERCIA

MERCIA
57. Hukuman Pengkhianat.



"Yang mulia Valon di gerbang istana ada tujuh orang yang ingin menemui anda yang mulia." kata seorang prajurit.


"siapa mereka?" tanya Valon.


"enam orang mengaku dari klan Armeda dan satu lagi seorang elf."


"elf?"


"Benar yang mulia."


"panggil Ravenna lalu izinkan mereka masuk!" perintah Valon.


prajurit itu mengangguk, membungkuk lalu pergi. tak berapa lama Ravenna pun tiba.


"Yang mulia Valon kau memanggilku?" tanya Ravenna.


"Berhentilah memanggilku dengan sebutan itu kau adalah adikku sekaligus penjaga kerajaan ini." kata Valon.


Ravenna tersenyum.


"Temanmu sepertinya memang mengenal klan Armeda." kata Valon.


"Temanku?" Ravenna sedikit bingung.


"Lelaki yang mengancam mematahkan kaki Dior dan menyeretnya ke depan gerbang istana ini."


"Mercia? kenapa dengannya?" tanya Ravenna.


"Kau yakin dia temanmu atau lebih.."


"Ada apa dengan dia?" Ravenna memotong perkataan Valon.


"Dia berhasil, enam orang Armeda dan seorang elf telah tiba." kata Valon.


"Elf?" Ravenna sedikit heran.


"aku juga bingung, karena itulah aku memanggilmu." kata Valon.


Tak lama berselang Aira dan lainnya memasuki ruangan.


"Salam hormat raja Valon, namaku Aira kami berenam adalah utusan Armeda pimpinan ketua Myla, dan elf ini bernama Nasyra, dia berasal dari kerajaan Healon di dunia Enigma."


"Salam hormat raja Valon." kata Nasyra.


Valon dan Ravenna saling pandang.


"Kerajaan Healon? Enigma? aku benar tidak menduga, apa yang membuatmu bersedia datang ke istana kami?" tanya Valon.


"Yang mulia, pertama karena aku adalah teman Aira, kedua karena aku ingin membangun kembali hubungan antara bangsa elf dengan kalian." kata Nasyra.


"Bukankah raja Thurinor sangat membenci manusia?" tanya Ravenna.


"Ayahku sudah berubah, beliau telah mengetahui kebenarannya, keretakan hubungan bangsa elf dan bangsa manusia akibat hasutan Clawrit dan kelompoknya."


"Ayahmu? kau anak Thurinor?" Valon terkejut.


"Benar yang mulia." kata Nasyra.


"Maaf raja Valon, jika boleh tau bagaimana kau mengenal Mercia?" tanya Aira.


"Aku baru mendengar namanya, Adikku Ravenna yang mengenalnya." kata Valon menunjuk Ravenna.


Aira dan Nasyra melirik ke arah Ravenna.


"Lady Ravenna bisa kau ceritakan bagaimana kau mengenal August ehm.. maksudku Mercia?" tanya Aira.


"Panggil saja aku Ravenna, aku bertemu dengannya di kuil Eryas, pemimpin kuil itu bernama Irric kedatangan Mercia ternyata telah mengungkap sebuah kebenaran, bahwa Irric menggunakan cara kotor untuk merebut kuil itu dari wanita bernama Emera, Mercia menolong Elyn putri dari Emera, ia juga menyembuhkan Emera dan mengembalikan kuil Eryas ke tangannya. keberadaanku disana karena butuh bantuan suami Emera untuk menghubungi klan Armeda, ternyata suami Emera itu telah dibunuh oleh Irric lima tahun lalu, Mercia menawarkan diri untuk menghubungi klan Armeda."


'Sial mengapa August tidak menemuiku lebih dulu, baru pertama kali ke dunia ini dia sudah mengenal banyak wanita berkuasa, Emera, Elyn, Ravenna, Nasyra, Sylvana dan dia malah menemui wanita dingin yang pernah ingin membunuhnya, Huh.. aku akan memberimu pelajaran.' pikir Aira.


"Nona Aira, apakah Mercia akan kembali ke istana ini?" tanya Valon.


"Aku tidak tau, aku belum bertemu dia." kata Aira.


"lalu bagaimana caranya ia meminta klan kalian untuk bersedia membantu kami?" tanya Valon bingung.


"dia memintaku untuk menghubungi Aira dan ketua Myla." kata Nasyra.


"Tunggu.. kau tinggal di dunia Enigma, dan ayahmu sebelumnya sangat membenci manusia, bagaimana dia memintamu?" tanya Valon.


"dia tak sengaja masuk ke dunia kami, bawahan ayahku menangkapnya, setelah itu singgasana ayahku dihancurkan olehnya." kata Nasyra.


Valon dan Ravenna terkejut. mereka tak menyangka kekuatan Mercia sebesar itu. Valon menelan ludah, dia teringat ketika ia mendengar cerita Ravenna bahwa Mercia mengancam mematahkan kaki Dion dan akan menyeretnya ke depan gerbang istana. emosi kala itu meluap, tapi sikap Ravenna yang tidak impulsif justru menyelamatkannya. ia tak ingin membayangkan jika saat itu bersikeras menyuruh untuk menghabisi Mercia, mungkin istananya sudah rata dengan tanah.


Begitu pula dengan Ravenna, intuisinya sangat baik, ketika ia melihat kecepatan Mercia menghajar Irric dengan satu pukulan super cepat, ia memilih untuk tidak gegabah.


"Raja Valon, mengapa kau meminta kami datang ke istanamu?" tanya Aira.


Valon dan Ravenna tersadar dari lamunannya.


"Kami mendapatkan informasi bahwa ada pasukan yang sedang bergerak untuk menyerang kami, pemimpin pasukan itu bernama Kallus anak buah Alexys pengikut Clawrit." kata Valon.


"Alexys?" Aira terkejut.


"kau mengenalnya?" tanya Nasyra.


"Untuk mendapatkan kekuatan kristal itu." kata seorang lelaki yang baru saja tiba dengan seorang wanita disampingnya.


"Leth.. Legira.. kalian sudah kembali?" tanya Ravenna.


"Nona Ravenna, aku dan Legira berhasil menemukan tempat berkumpul para pengkhianat kerajaanmu, ada tujuh orang yang berada di sana telah kami bunuh, kami juga menemukan sebuah daftar nama, lebih dari tiga puluh orang masih berada di istana ini aku serahkan semuanya kepada raja Valon dan nona Ravenna." kata Leth memberikan sebuah gulungan kertas pada Valon.


Valon membuka gulungan kertas itu dan membacanya. ia mengerenyitkan dahinya terkejut.


"BRENGSEK.. aku sangat mempercayai orang-orang ini." kata Valon.


"kami juga mendapatkan informasi bahwa Kallus akan segera tiba dengan sepuluh ribu pasukan kurang dari dua minggu setengah dari mereka bukanlah manusia." kata Leth.


"Kita tak akan bisa bertahan bila setengah pasukan mereka bukan manusia, kami sangat mengenal Kallus dan apa yang bisa ia lakukan." Legira menambahkan.


"Leth.. Legira.. apa kalian tau mengapa Kallus ingin menyerang Galan?" tanya Ravenna.


"Kami tidak tau pasti, tapi kemungkinan besar itu atas perintah Clawrit, setelah ia mengira sudah mendapatkan kekuatan kristal itu ia mulai bergerak untuk menaklukan Proxima, dan melihat Galan sebagai kerajaan terlemah diantara lainnya." kata Leth.


"Tunggu kau bilang Clawrit mendapatkan kristal itu, apakah itu tujuannya mereka mengirim Alexys ke bumi? lalu mengapa Mercia tetap kuat?" tanya Aira.


"Ia hanya mendapatkan kristal itu, tapi kekuatan intinya sudah terserap dalam tubuh temanmu, aku akan menceritakan padamu nanti." kata Leth.


"Kita hanya memiliki dua ribu pasukan, setengah dari mereka tak punya pengalaman berperang, bila rakyat kita membantu juga tak akan berpengaruh banyak." kata Ravenna.


"aku akan mengirim utusan pada beberapa sekutu kita untuk meminta bantuan." kata Valon.


"Ketua Myla juga sudah siap mengirim seluruh klan Armeda bila situasinya semakin terdesak." kata Aira.


"Ketua Myla akan datang?" Valon terharu mendengarnya.


"Benar.., ketika kami berdua mendengar bahwa Mercia meminta kami untuk membantumu, ketua tanpa berlama-lama menyiapkan segalanya, apa yang dikatakan Leth benar, ini hanya awal menuju peperangan besar yang cepat atau lambat akan terjadi di Proxima." kata Aira.


"aku akan meminta bantuan ayahku untuk meminta mengirim pasukan, aku tak berjanji ia akan setuju tapi aku akan mencoba." kata Nasyra.


"Terima kasih nona Nasyra, berhasil atau tidak usahamu, aku tetap menghormati kalian bangsa elf." Valon bangkit dari singgasananya lalu mengulurkan tangannya.


Nasyra menjabat tangan Valon. "Terima kasih raja Valon."


"Raja Valon jika aku boleh saran beritakan pada sekutumu bahwa Armeda akan selalu siap membantu bila mereka suatu saat nanti mengalami masalah serupa dengan Clawrit." kata Aira.


"Baik, terima kasih nona Aira." kata Valon.


"Ravenna sekarang urus para pengkhianat itu, kau tau apa yang harus kau lakukan?" tanya Valon menyerahkan daftar itu pada Ravenna.


"Kau tak perlu khawatir, akan kupastikan tak akan ada yang berani lagi mengkhianati kerajaan ini." kata Ravenna.


"Pengawal tutup semua gerbang kota jangan biarkan ada yang masuk dan keluar." perintah Valon.


penjaga membungkuk lalu bergegas pergi.


"Nona Aira, nona Nasyra aku pamit dulu." kata Ravenna menganggukan kepalanya lalu pergi.


Aira dan Nasyra membalasnya dengan senyuman.


"Nona Aira dan lainnya kalian bisa istirahat dulu. aku sudah memerintahkan pelayan menyiapkan segalanya untuk kalian, setelah urusan Ravenna beres, kita akan bertemu untuk membahas langkah selanjutnya." kata Valon.


"Terima kasih, kalau begitu kami permisi undur diri." kata Aira meninggalkan tempat tersebut bersama lainnya mengikuti pelayan yang berjalan di depannya.


Sementara itu kegemparan terjadi, sejumlah tiga puluh tujuh orang diseret dengan paksa menuju sebuah lapangan luas, sontak membuat masyarakat ingin tau apa yang terjadi, mereka rela meninggalkan segala aktifitasnya untuk melihatnya, sangat mirip dengan kelakuan warga negara enam dua.


Ravenna sengaja membiarkan masyarakat menyaksikan, karena itulah tujuannya. diantara orang-orang yang diseret itu mempunyai latar belakang yang berbeda seperti pedagang, petani, prajurit bahkan hingga seorang mentri.


"Lady Ravenna mengapa kau memperlakukan aku seperti ini? aku adalah penasihat kakakmu." kata seorang yang tangan dan kakinya di rantai.


"Kalian tentu sudah saling mengenal bukan? jadi aku tidak perlu repot menjelaskannya." kata Ravenna dingin.


Mereka yang diseret itu saling pandang, akhirnya mengerti bahwa identitas mereka telah terbongkar. suara saling berbisik diantara masyarakat mulai berdengung bagai suara lebah.


"Apa maksudmu Ravenna kau jangan berbuat gila.. akhh uhuk.. uhuk.." suara seorang mentri terhenti ketika Ravenna menyentil sebuah pil ke dalam tenggorokannya.


"itu adalah racun innerglass, setiap makanan dan minuman yang masuk dalam tubuhmu akan terasa seperti kau memakan pecahan beling yang tajam dan akan menghancurkan organ dalammu, jika kau tak bisa menemukan penawarnya sebelum matahari terbenam racun itu tak akan pernah bisa diobati, kau akan mati kelaparan atau kau mati ketika makan." kata Ravenna.


"Biarkan dia pergi."


"Kau.. kau.. wanita iblis." kata mentri itu.


"Bunuh semuanya terkecuali para prajurit dan petinggi kerajaan, usir seluruh keluarga mereka dari kota ini, sita harta mereka." perintah Ravenna.


Para pengawal mengangguk segera mengeksekusi. sekitar belasan orang telah terbunuh.


"Lady Ravenna bagaimana dengan sisanya?" tanya seorang pengawal yang berada di samping Ravenna.


Ravenna memejamkan matanya menarik nafas panjang, menahannya sesaat lalu menghembuskannya, asap hitam keluar dari mulut Ravenna membungkus mereka yang tersisa lalu hilang sekejap, semua mata memandang dengan rasa takut dan penasaran. tiba-tiba rasa gatal muncul serentak di sekujur tubuh mereka, mereka menggaruk, dengan kuku jari tangan mereka sendiri tetapi rasa gatal itu semakin tak tertahan, mereka terus menggaruk hingga membuat kulit dan daging di sekujur tubuh mereka terkoyak, anehnya tak ada rasa sakit, mereka menangis berteriak, meminta ampunan tapi tak ada satupun yang menolong mereka, tak lama satu persatu tewas mengenaskan.


"Dengarlah kalian semua rakyat kerajaan Galan, mereka ini adalah para pengkhianat negeri ini, mereka telah membahayakan kehidupan kalian, mereka telah memberikan informasi kepada musuh dan akan menyerang kerajaan ini."


"Untuk wanita, anak-anak dan orang tua mengungsilah beberapa pekan, sedangkan bagi laki-laki kalian punya pilihan, ikut mengungsi atau mengangkat senjata berjuang bersama kami."


"Persiapkan diri kalian semua!" kata Ravenna lalu melangkah pergi.


Para prajurit lainnya lalu membakar mayat-mayat itu, sedangkan masyarakat yang menyaksikan itu mulai pergi dan saling berdiskusi dalam keadaan syok.