
Seorang wanita berdiri di atas sebuah tebing memandang air terjun kembar di hadapannya dengan pandangan kosong dan jari tangannya mengusap bibirnya. rambutnya panjang hampir sepinggang, di keningnya ada tiara berwarna biru dan sebuah gelang berwarna biru di tangan kirinya, di belakangnya seorang wanita yang lebih muda tampak berlari kecil ke arahnya lalu membungkuk.
"Nona Aruna anda dipanggil menghadap ketua Nefia."
"baik." jawab Aruna dingin.
Aruna kembali masuk ke dalam sebuah benteng, lalu menuju aula.
"ketua memanggilku..?" tanya Aruna.
"semua tinggalkan kami." perintah seorang wanita paruh baya dengan penuh wibawa.
Satu persatu yang berada dalam aula tersebut membungkuk dan pergi.
"Aruna apa yang terjadi?"
"Maaf ketua, aku tidak tau apa maksud pertanyaanmu." Aruna balik bertanya.
"semenjak kau kembali dari dunia itu, kau telah berubah."
"Aku merasa tidak berubah, kesetiaanku pada klan ini tetap sama." kata Aruna.
Ketua Nefia tersenyum, "setelah kau kembali dari bumi kekuatanmu meningkat pesat, kau menjadi yang terkuat di klan ini. aku tau kau tak suka banyak bicara, tapi diammu saat ini seperti ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu."
Aruna sedikit terkejut mengetahui ketua Nefia memperhatikannya. ia tetap memasang ekspresi datar.
"aku tidak apa-apa, aku hanya memikirkan mengapa klan Armeda tidak bersatu kembali." jawab Aruna.
Ia tak mungkin mengungkapkan isi hati dan pikirannya tentang August kepada ketua Nefia, betapa ia sangat berharap bertemu kembali.
"Ketua apakah kau tidak ingin klan ini bersatu kembali? tanya Aruna.
"Tentu saja aku ingin, begitu juga dengan Myla, tetapi menjadi sulit untuk memilih siapa yang memimpin."
"Mengapa tidak memilih yang terkuat?" tanya Aruna.
"Pertarungan hanya akan menyisakan dendam."
"apakah tidak ada cara yang lainnya?"
Nefia mengambil kotak kecil dari balik bajunya, ia menyerahkan kepada Aruna. "ambilah.. ini untukmu"
Aruna menerima kotak kecil pemberian Nefia. ia membuka kotak itu di dalamnya terdapat sebuah batu berwarna biru.
"liontin? apa ini ketua?" Aruna bingung.
"pakailah" perintah Nefia.
Aruna sedikit terkejut ketika mengambil liontin itu.
"Ketua aku pernah melihat liontin dengan bentuk yang sama seperti ini tetapi berwajah merah." kata Aruna.
"Dimana kau melihatnya?"
"Waktu aku di bumi aku bertemu dengan Aira dia adalah pengikut Myla, liontin dengan batu merah itu ada di lehernya."
"Kau bisa menemuinya lagi?" tanya Nefia.
"Apa kau ingin aku membunuhnya dan mengambil liontin itu?" tanya Aruna.
"Maaf ketua aku akan menolaknya, dia sudah menjadi temanku."
Nefia tersenyum. "Tentu tidak Aruna, bukankah kau ingin klan ini bersatu?"
"Lalu mengapa kau ingin aku menemuinya?" tanya Aruna.
"aku tidak mengetahui jika Myla telah menyerahkan batu itu pada temanmu"
"jika kau dan temanmu itu bisa menyatukan kedua batu liontin itu maka klan Armeda bisa bersatu kembali." kata Nefia.
"mengapa ketua tidak melakukannya dengan Myla?" tanya Aruna.
"kami sudah mencobanya, dan tak ada dari kami yang layak."
"maksud ketua?"
"jika kedua batu itu ingin disatukan, kedua batu itu akan mengeluarkan sinar di tangan masing-masing orang yang memegangnya, bila berhasil kedua batu itu akan menjadi sebuah batu emas dan akan memilih orang yang layak untuk memimpin Armeda."
"Aruna aku harap kalian berdua adalah orang yang layak itu, tetapi berhati-hatilah tidak semua orang dari klan kita atau Myla menginginkan hal yang sama, karena itulah aku tidak pernah memakai liontin itu." kata Nefia.
"aku mengerti" kata Aruna.
"sekarang pergilah, cari cara untuk bertemu dengan temanmu itu, tidak perlu terburu-buru." perintah Nefia.
"Terima kasih ketua.., aku pamit pergi." kata Aruna.
Nefia mengangguk. Aruna pun pergi.
"apa kau sudah lihat pohon besar itu?" tanya Amara.
"kanan kiri kita semua pohon besar, tapi aku tak lihat persimpangan." kata August.
"jika kau melihat pohon besar yang kumaksud, maka pohon di kanan dan kiri yang kau lihat itu seperti sebatang Lidi.
"aku rasa kau hanya berlebihan." kata August.
'mana ada pohon seperti itu?' pikir August.
mereka terus berjalan, sekitar sepuluh menit kemudian August melihat sebuah persimpangan.
"mengapa berhenti, apa ada lubang?" tanya Amara menggerakan tongkatnya ke depan.
"kita sudah tiba di persimpangan ada jalan ke arah kanan dan kiri tetapi aku tidak melihat pohon besar seperti katamu, apa kita salah jalan?" tanya August.
Amara berjalan tiga langkah ke depan, ia menyodokan tongkatnya ke depan.
duk.. duk..
"sebenarnya siapa dari kita yang buta? lihatlah ke atas!" kata Amara.
August melihat ke atas "HAHHH..!"
"jadi yang di depan ini.. batang pohon." August tercengang.
August tidak menyangka semula ia menganggap di depannya itu hanya sebuah tebing berbatu. namun ketika ia menatap ke atas tampak sebuah pohon seperti gedung kokoh tinggi menjulang hingga menembus awan cabang-cabang pohon itu sangat besar, diameter pohon tersebut hampir seluas lintasan atletik.
"hey Amara bisakah kau membuka rantai ini sebentar." pinta August.
"tidak mau, kau akan kabur." kata Amara.
"aku janji tidak akan kabur" kata August wajahnya sedikit pucat.
"pokoknya tidak mau titik."
"ya sudah kalau begitu." August lalu berjalan ke arah kiri membuat rantai yang mengikatnya menarik Amara.
"hey kau salah jalan kita harusnya ke kanan." kata Amara.
"aku sudah tak tahan." kata August.
"kau sudah menyentuhku, jangan lakukan di sini, nanti saja" kata Amara.
"apa maksudmu? aku ingin buang air kecil, aku sudah tak tahan." kata August.
"oh.. ya sudah cepat." kata Amara.
August mendekati sebuah pohon lalu buru-buru mengeluarkan pistol air miliknya. air yang sedikit baru keluar tiba-tiba berhenti ketika Amara berdiri di sampingnya menghadap ke arah yang sama.
'apa-apaan ini' pikir August.
"Amara bisakah kau melihat ke arah lain?" pinta August.
"aku ini buta arah lain pun sama semua terlihat hitam dan gelap."
"aku sulit melakukannya bila kau berdiri di sampingku." kata August canggung.
"kau ini terlalu banyak mengeluh, aku akan bantu kalau kau kesulitan."
"hah bagaimana kau membantu situasi seperti ini, balikan saja badanmu" kata August.
"aku akan membantumu dengan bernyanyi.. kau tenang saja."
August pasrah ia pun memejamkan matanya menganggap tidak ada seorang pun di sana, pistol air itu akhirnya mengeluarkan isinya dengan lancar tetapi nenjadi tersendat-sendat ketika telinganya mendengar nyanyian yang sangat sumbang.
'aku seorang kapiten.. lalala.. punya pedang panjang.. nanana.. giginya tinggal dua.. lalala.. kupegang erat-erat.. nanana.'
'jika tidak buta ingin sekali aku melemparnya ke pohon raksasa itu.' pikir August.
"apa kau sudah selesai?" tanya Amara.
"sedikit lagi ada gangguan, jaringan putus-putus." kata August.
"baiklah aku akan bernyanyi lagi." kata Amara.
"tidak perlu sudah selesai." ucap August kesal.
"baiklah kita lanjutkan perjalanan." kata Amara.
Baru beberapa saat mereka berjalan August kembali berhenti.
"kau ingin buang air kecil lagi?" tanya Amara.
"ada sepuluh orang yang menghadang kita di depan."