
"Ramalan itu berisikan tanda-tanda akan hancurnya kekuatan iblis. beberapa di antaranya adalah bersatunya Armeda."
"Hmm.. dan sekarang Armeda bersatu, mungkin itu hanya kebetulan." kata August.
"mungkin kau bisa berkata seperti itu, tapi ketika ramalan itu ditulis, Armeda belum terpecah, orang-orang menertawakannya menganggap ramalan itu sampah, hingga puluhan tahun kemudian Armeda terpecah, kehancuran bangsa elf, bangkitnya kekuatan iblis, ketika semua dalam keputusasaan, ramalan itu muncul kembali memberi sebuah harapan."
"Mercia ada beberapa hal dari ramalan itu menyangkut dirimu."
"Aku..?"
"Munculnya kesatria yang terluka, terbukanya tujuh pintu dunia dan.."
"dan apa Aruna?"
"Phoenix."
"Phoenix apa hubungannya denganku?"
"Mercia takdirmu adalah bersamanya, kau akan bersanding dengannya kelak."
"Hey.. aku memang menyukai wanita tapi aku tidak mudah jatuh cinta."
Aruna hanya menunduk.
"Karena itulah aku tak mungkin dan tak akan pernah bisa mendapatkanmu."
"Kalian saling mencintai."
"Apa maksudmu Aruna? aku tidak mengerti."
"Mercia... Julia masih hidup."
"Apa..?"
August berjalan menuju balkon kamar.
"Aruna berhentilah, jangan mempermainkanku. apakah kau tau aku bersusah payah berjuang untuk melanjutkan hidupku." kata August yang kini memandang langit.
"Mercia aku tidak berbohong, Julia masih hidup dan aku telah bertemu dengannya, tetapi ingatannya hilang."
"Jika benar apa yang kau katakan jelaskan padaku bagaimana kau bertemu dengannya?"
"apa kau masih ingat siapa yang mencegah Amara menghabisi nyawaku?"
"Phoenix?"
"Benar, dan Phoenix itu adalah Julia."
Degh.
"Ingatannya hilang, dia hanya mengingat wajahku dan ingin membunuhku."
Jantung August berdegup kencang seperti akan meledak.
'Benarkah apa yang dikatakannya? benarkah Julia masih hidup? aku melihatnya.. tunggu.. tubuh Julia menghilang, Oracle pun pernah menghilang seperti itu ketika ia berjalan di atas air danau itu.'
"Aruna aku ingin menanyakan sesuatu."
"apa yang ingin kau tanyakan?"
"Kau pernah bertarung dengan Javelyn?"
"ya, aku pernah.., waktu itu aku tidak sekuat sekarang, tombak emasku tak bisa menandingi, tombak iblis miliknya."
"Javelyn punya senjata tombak?"
"Benar, aku rasa dia juga yang telah membutakan teman barumu itu."
"Dia juga memiliki jarum iblis, sangat sulit melihat pergerakan jarum itu, bila kau tak segera mengobati racunnya, tubuhmu akan segera membusuk dalam hitungan jam, jika kau cukup kuat, kau hanya akan mengalami kebutaan."
"Membusuk?"
"Benar."
"Mercia.. aku tak ingin menanyakannya, tapi aku tau maksud pertanyaanmu. waktu itu kau hanya mengatakan Julia terbunuh di pelukanmu, apakah mayatnya membusuk?"
"dia.. dia.. tubuhnya tiba-tiba menghilang di pelukanku."
Emosi dan pikiran August sudah campur aduk, ia terduduk lemas di lantai balkon.
"Aruna mengapa kau tak mengajaknya menemuiku?"
"dia tidak ingat apapun, satu-satunya yang ia ingat adalah wajahku, dan rasa kebenciannya ingin membunuhku, aku tak pernah melihat kematian sedekat itu, beruntung bibi Myla tiba-tiba muncul setelah ia pergi, hingga nyawaku selamat."
August tersentak. "Aruna jika benar-benar ia adalah Julia, kau bisa membalas perbuatannya padaku."
Aruna menghampiri August.
"Apa yang kau bicarakan? aku tak punya rasa dendam, jikapun aku mati waktu itu, aku akan menganggapnya sebagai penebus rasa bersalahku yang telah membuat kalian berpisah."
hening.
"Mercia apa kau membenciku, setelah semua ini?"
"Bagaimana aku bisa membencimu?"
"Kau tak marah setelah aku menyatakan perasaanku?"
"tidak, Aruna.., aku hanya takut tak bisa membalas semua itu dan akhirnya membuatmu kecewa."
"aku tak akan kecewa, tapi bolehkah aku minta satu hal darimu?"
"Apa yang kau mau?"
"Biarkan aku mencintaimu."
"Aruna itu hakmu, kau bisa mencintai siapapun, aku tak bisa melarangnya."
"Aruna, aku pernah berjanji pada diriku sendiri, aku tak akan membiarkan orang lain menyakitimu, tapi dengan semua ini justru aku yang menyakitimu."
"Mercia.. tolong jangan katakan seperti itu."
"Aruna.. aku menyakiti hatimu, Julia menyakitimu dan juga Amara."
"Mercia.. hentikan aku mohon.. aku tak dendam pada mereka berdua, kau tak pernah menyakitiku." Aruna kembali terisak.
"Jangan menghindariku Mercia, aku tak ingin kau pergi, tetaplah menjadi Mercia tetaplah menjadi August, berjanjilah.. berjanjilah."
"baik, aku berjanji berhentilah menangis, kau jadi jelek sekali."
"Kau.. ini.." Aruna meninju pelan dada August.
August mengambil sebuah kertas berwarna coklat dari sakunya, walau sudah terlihat tua, kertas itu sudah ia lapisi energi pelindung hingga membuatnya kuat tidak rusak bila terkena air atau terbakar api. ia lalu menyerahkan pada Aruna.
"Aruna apa kau mengerti tulisan ini?"
Aruna mengambil kertas itu, ia mengamatinya sesaat.
"Aku tidak mengerti, tapi terlihat familiar, aku pernah melihat beberapa simbol ini, mingkin ini bahasa diaxsosa, tapi aku kurang yakin mungkin kita bisa menanyakan pada ketua Nefia."
"Bibi..!"
"Biasakanlah Aruna." kata Myla berjalan masuk bersama Nefia.
"Aku tidak mendengar kalian datang." kata Aruna buru-buru berdiri, begitu juga dengan August.
"Sepertinya pintu itu kedap suara, aku sudah mengetuk pintu itu dengan keras, tak ada jawaban. kami berpikir ada dua kemungkinan, kalian di serang atau kalian sedang ehem.. lupakan."
"Aruna kami pamit pergi menuju Innodale, kami kuga menyampaikan pesan Dior, bahwa akan ada pertemuan besar, Nasyra dah ayahnya akan mengunjungi kerajaan ini, Aliansi akan terbentuk. tugasmu membesarkan Armeda sudah dimulai, ingat pesanku, ada kalanya pioneer itu tetap diingat sejarah."
"Bibi Myla aku tidak akan lupa."
"ehm.. bi.. bi Nefia."
Aruna menyerahkan kertas pemberian Mercia.
"Apakah benar ini tulisan dalam bahasa diaxsosa?"
Nefia terkejut.
"Darimana kau dapatkan ini?" tanya Nefia.
"itu bukan milikku tapi milik Mercia."
"Benarkah? darimana kau dapatkan ini?"
"Benar ketua Nef.."
"Kau juga sekarang panggil kami bibi." kata Myla.
"Benar bibi Nefia, itu milikku, ceritanya panjang, lain waktu aku akan menceritakannya padamu."
"tulisan ini memang bahasa diaxsosa, tetapi ini lebih tua, dan lebih murni."
"maksud bibi?" tanya Aruna.
"Kau tau naskah kuno di tempat kita ada beberapa yang berbahasa diaxsosa, tetapi sudah tercampur dengan bahasa lainnya."
"Apa kau mengerti apa isi tulisan itu ket.. em bibi Nefia?"
"Hanya sebagian.."
"Maukah kau bacakan untukku?" pinta August.
"bintang.. berjalan.. pecah.. tujuan.. terbang.. menunggu.. terlahir.. amarah.. pintu.. kebenaran.. pulang."
"Hanya itu saja yang bisa, aku baca."
"Bibi Nefia.. dimana aku bisa menemukan negeri atau tempat yang menggunakan bahasa diaxsosa?" tanya August.
"Aku tak tau, aku ingin mengatakan tidak mungkin padamu, tetapi kau orang berbeda, ketika kami semua berpikir Moonheaven telah musnah justru kau menemukan dunia Moonheaven yang sesungguhnya."
"Mercia, kami menyebut bahasa diaxsosa adalah bahasa langit, bahasa itu sudah punah, dalam naskah kuno menceritakan zaman dahulu sekelompok orang tiba-tiba turun dari langit mereka sangat kuat, peradaban mereka lebih tinggi, saat penghuni dunia ini masih tinggal di gua-gua mereka sudah mampu membangun istana, mereka dianggap dewa."
"Mereka mengajarkan segala hal kepada penghuni asli dunia ini, sayangnya bencana besar terjadi, tiga gunung berapi terbesar yang ada di dunia ini meletus bersamaan, mengakibatkan tsunami yang sangat besar, penghuni asli dunia ini selamat karena mereka tinggal di gua yang berada di pegunungan yang tinggi."
"Setelah bencana itu berakhir, semua penduduk langit sudah tak ada lagi, ada yang berpikir mereka telah musnah, dan sebagian lagi berkata mereka kembali ke langit."
"Terima kasih bibi Nefia, informasi ini sangat membantu." kata August.
"Baiklah, jika tak ada pertanyaan lagi kami pamit pergi, satu hal lagi, sebelum kalian keluar dari kamar ini, bersihkan diri kalian, jangan sampai orang lain melihat bekas air mata di wajah kalian." Nefia dan Myla pun pergi.
"Bibi..!" Aruna malu mendengarnya.
"apa kau akan bercerita padaku tentang semua ini?" tanya Aruna.
"Rafael menemukan sebuah dokumen.."
"Apa itu dokumen?"
"Surat. ia menemukan di rumah Julia, isi surat itu berkata bahwa Julia adalah anak angkat, ia juga menemukan sampel darah Julia dan sebuah alamat, Rafael meminta Valery untuk menyelidikinya, darah Julia tidak sama dengan darah manusia. seperti halnya kau dan aku."
"Bukankah darah kita sama-sama merah?"
"Benar, bila di lihat pakai alat khusus akan terlihat perbedaannya."
"Aku tidak mengerti."
"Aruna, kau tau siapa Hedya?"
"Anaknya lady Lyra."
"Hedya mempunyai darah setengah Proxima dan setengah bumi."
"Jadi maksudmu Julia seorang hybrid?"
"lebih dari itu, Valery mengungjungi alamat itu dia menemukan kertas ini."
"Mercia... apa kau berpikir Julia adalah seorang penduduk langit?"
"Penduduk langit hanya kiasan saja Aruna, ketika mereka berdua memberitahuku pikiranku buntu, tapi kau dan bibi Nefia memberikan kemungkinan lain."
"kemungkinan apa?"
"Ramalan itu."
"Bagian mana?"
"Tentang terbukanya tujuh pintu dunia."
"aku sudah mengetahui empat, bumi, Proxima, Enigma dan Moonheaven."
"Jika ramalan itu benar, satu dari tiga dunia itu adalah dunia dimana Julia berasal."
"Mercia aku akan membantumu mencari dunia itu."
"Maaf Aruna, kali ini hanya satu orang yang bisa membantuku."
"Siapa? bolehkah aku tau?"
August memperlihatkan sebuah token kayu pada Aruna, Aruna mengamati token kayu di kedua sisi.
"Putri para naga?"
"Kau bisa membacanya?"
"tentu saja."
"Kau tau siapa yang dimaksud?"
"Putri para naga.. emm.." Aruna tersentak.
"Amara.. Mercia apakah kau berpikir Amara adalah.."
"Saudara kembar?" potong August.
Aruna mengangguk.
"Aku tidak ingin terburu-buru menyimpulkan, walau itu terlintas di benakku, aku harus memastikannya terlebih dahulu."
"Mercia.. pada waktu itu Amara dan Phoenix bertarung, kekuatan keduanya sangat mengerikan, mereka bertarung jauh dariku tetapi efeknya sanggup menghempaskanku."
"apa? mereka bertarung?"
"Mercia, apa kau sudah bertemu dengan Amara?"
"Sial.."
"Mercia waktu itu hanya Phoenix yang kembali."
"Kalau begitu aku harus segera pergi mencarinya sekarang juga."
"Kau tak berpamitan dengan Aira? dia pasti akan menyalahkanku nanti."
"Katakan saja nanti aku akan kembali membawakan hadiah."
"Apa ada hadiah untukku?"
August menghampiri Aruna lalu mencium lembut bibirnya. "Awas kau jika aku memberi hadiah Aira kau jangan protes."
"Tidak akan.. hahaha.. berhati-hatilah." kata Aruna melihat August melesat terbang dengan cepat.
"Nyx tunjukan jalannya."