
Dior bangkit dengan susah payah menghampiri ayahnya lalu memeluknya.
"Ayahh.. maafkan aku.." ratap Dior.
Ravenna segera menghampiri Dior lalu memeluknya.
"Kau harus kuat Dior, jangan menangis di tengah pertempuran." kata Ravenna dengan mata yang berkaca-kaca.
"Bibi dia berkorban untukku karena kebodohanku, aku lengah."
"Dior kau tidak bodoh, apapun bisa terjadi dalam pertempuran."
"Aku akan membawamu pergi dari sini."
"Tidak.. aku akan membunuh naga itu."
"Dior jangan membuat pengorbanan ayahmu sia-sia."
"tidak akan" Dior bangkit dan berjalan tertatih, mengambil pedangnya.
Ravenna terkejut ketika melihat Dior mengambil pedang itu dan menggenggamnya. pedang itu mengeluarkan kilatan kecil berwarna merah.
"Dior pedangmu.." kata Ravenna.
"Inilah alasan mengapa aku lengah tak menyadari keberadaan naga itu."
"Dior apa maksudmu?"
"Pedang ini berbicara padaku, aku belum cukup kuat, tapi aku masih sanggup membunuh salah satu naga itu, tapi aku butuh bibi untuk melindungiku."
Ravenna bangkit berdiri.
"Aku akan melindungimu, bunuh satu naga itu untukku."
"Leth.. Legira bantu aku melindungi Dior, dia akan membunuh salah satu naga itu."
"Apa..?!"
Dior berlutut setengah kaki, ujung pedang itu menancap ke tanah, kilatan kecil berwarna merah itu perlahan membesar, pedang itu bergetar dengan hebat, Dior berusaha menahan getaran itu selama mungkin, hingga akhirnya ia mengangkat pedang itu dan mengarahkannya ke langit. Kilatan merah itu melesat ke atas hingga akhirnya terjadi ledakan di udara memunculkan efek seperti kembang apa.
Wusss... Duarrr.
Bersamaan dengan itu Dior pun jatuh lemas kehabisan tenaga.
"Lady Ravenna kau bilang ponakanmu ini akan membunuh salah satu naga itu, tapi dia malah pingsan." kata Leth.
"Leth lihatlah.. di atas sana..!" kata Legira.
Ravenna yang sedang memeriksa Dior pun menadahkan wajahnya ke langit. tampak titik hitam membesar menjadi sebuah gumpalan yang bergerak.
"Leth Apa itu?" tanya Legira.
"aku tidak tau."
Ravenna tersentak, ia seperti teringat sesuatu ia lalu memeriksa pedang yang tergeletak di samping Dior.
"Pedang griffin." Ravenna kembali melihat ke atas.
"itu.. itu.. kumpulan burung griffin." kata Ravenna.
gumpalan hitam itu terlihat semkin jelas, puluhan ekor burung terbang menuju seekor naga hitam, burung itu mempunyai tubuh seperti singa dengan kedua sayap, kepalanya seperti burung rajawali. naga itu kuwalahan menghadapi serangan puluhan burung itu dalam sekejap naga itu tumbang menimpa pasukan Kallus. dua naga lainnya langsung membalas dengan api dari mulutnya, kumpulan burung griffin itu akhirnya semua hangus terbakar.
"Semua mundur ke dalam istana." teriak Myla.
"Bunuh mereka semua." perintah Kallus.
"Kita tak akan bisa bertahan." kata Aira.
"Diamlah, Mercia pasti akan datang." kata Aruna.
"Kita akan mati bersama." kata Aira.
"Kau saja yang mati." kata Aruna.
"Aku juga tidak mau mati, aku belum menikah dan kau belum punya pacar." kata Aira.
Aruna memukul kepala Aira dengan bagian gagang tombak.
Duk.. aww..
"Mengapa kau memukulku?"
"Kita sedang berperang jangan membahas pacar, kau pun juga tak punya pacar."
"aku punya."
"aku tidak percaya."
"terserah."
Melihat banyaknya kerumunan pasukan salah satu naga itu bersiap menyerang kembali.
"Naga itu kembali.. semua berlindung..!" teriak Nefia.
Naga itu membuka mulutnya, terlihat api bergerak keluar dari rongga mulutnya, namun tiba-tiba, sesuatu melesat masuk ke dalam mulut naga itu api di dalam mulutnya seketika padam, naga itu terlihat tersedak dan batuk.
"Apa yang terjadi?" kata Aruna.
"Aruna lihatlah."
"Salju..? Tidak pernah ada salju di Wilayah ini."
Aruna menatap Aira.
"Kau tau apa yang kupikirkan?"
"Carrol..!"
"Aruna.. Aira.. apa yang telah terjadi?" tanya Nefia.
Mereka berdua belum sempat menjawab dua buah bola sinar putih kembali mengenai naga itu.
wuss.. wuss..
Semua menengok kebelakang setelah mengetahui bola sinar itu berasal dari istana, dan mereka semua terkejut. diatas tembok gerbang itu sudah di penuhi orang-orang yang berpakaian aneh, sekitar puluhan orang memakai penutup kepala berwarna hitam begitu juga pakaiannya berwarna hitam mereka semua memegang sesuatu dengan kedua tangannya. hanya beberapa orang saja yang terlihat wajahnya.
"Lady Lyra.. Carrol..!"
tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari kejauhan yang semakin lama semakin kencang, lalu dua buah benda yang mengeluarkan api di belakangnya melesat menghantam naga yang perlahan mulai membeku akibat terkena bola sinar putih.
Wuss.. wuss.. DUAARRR...
Naga itu akhirnya jatuh dan tak bergerak, munculah sebuah benda melayang terbang dengan sesuatu yang berputar di atasnya.
"bukankah itu kendaraan bumi?" kata Aira.
"Itu namanya termometer." kata Aruna.
Kallus mulai merasakan rasa cemas, ia tak tau benda apa yang baru saja membunuh salah satu naganya, dan yang paling mengejutkan adalah ia melihat satu sosok yang melayang di atas istana itu.
"Hey Carrol siapa yang mengendalikan termometer itu? tanya Aira.
Hedya, dan lainnya berusaha menahan tawa mendengar Aira menyebut kendaraan itu termometer.
"Ellias dan Rafael ada di dalam kendaraan itu, dan namanya helikopter bukan termometer." kata Carrol tersenyum.
Aira melirik Aruna dengan sinis. "Sok tau."
Aruna membuang muka menahan malu.
"Aku tak menyangka kau memanggilku tempo hari, untuk mengajariku menjadi kopilot." kata Rafael.
"Hey Ellias bagaimana kau bisa mengendarai ini?"
"Aku dulu adalah seorang anggota pasukan khusus, helikopter ini adalah prototipe, kau ingat bukan Mercia meminta untuk membuat persenjataan? setelah orang-orang hebat itu kita temukan aku mempunyai ide untuk membuat ini, dan aku ingin kau menjadi bagian dari ini."
"Rafael kau lebih hebat dariku baru sekali berperang kau sudah membunuh seekor naga, bila kau menceritakan ini aku yakin para wanita akan tergila-gila padamu."
"Aku rasa yang terjadi sebaliknya, aku di anggap gila, mana ada naga di bumi.. hahaha...!"
bip.. bip.. bip..
"Awas ibu naga itu mengejar kita." kata Rafael.
"Sial.." kata Ellias.
"Darimana kau tau itu ibunya?" tanya Ellias.
"Naga itu lebih besar.. dan kita baru saja membunuh naga kecil, dia pasti marah anaknya dibunuh."
"Ellias awas naga itu ada di depan kita."
"Hey dimana Mercia?" tanya Aira.
Lyra menunjuk ke atas.
kini semua mata melihat arah yang di tunjuk Lyra. tampak seseorang melayang jauh di ketinggian menatap tajam Kallus dan pasukannya.
"Jadi itu sosok yang bernama Mercia? kau tau Myla semenjak Aruna bertemu dengan Mercia, sikapnya berubah." kata Nefia.
"itu pun terjadi pada Aira, apakah mereka memaksakan takdir yang bukan milik mereka?"
"aku tidak tau, aku hanya berharap mereka tidak salah langkah."
"kau belum menjawab pertanyaanku sebelumnya Nefia."
"Pertanyaan apa?"
"Mengapa kau mengutus Aruna untuk menemuinya?"
"Kau khawatir aku mencelakainya?"
"tidak, Aira mengatakan Aruna sudah menjadi temannya, aku hanya penasaran apa tujuanmu."
"Begitupun Aruna, ketika aku memintanya dia berpikir aku ingin membunuhnya, dia bahkan menentangku."
"lalu apa tujuanmu?"
"Kita telah mencobanya dan kita gagal."
"apa maksudmu?"
"aku memberikan liontin itu pada Aruna, aku berharap dia menjadi penerusku, tapi ia mengatakan ia melihat liontin serupa pada Aira berwarna merah."
"Aku mengharapkan hal yang sama pada Aira tetapi aku belum sempat menceritakan perihal liontin itu."
"Jadi kau berharap mereka berdua melakukannya?"
"Benar.. kita gagal karena masih memiliki keraguan dalam hati kita masing-masing, tapi tidak bagi mereka, ada kekuatan yang membuat mereka bersatu saling menjaga, kekuatan itu adalah.."
"Mercia." potong Myla.
"Naga besar itu semakin dekat cepat menyingkirlah Ellias."
"Kau pikir aku sedang apa?"
"Ellias, kiri" terdengar suara August di balik headphones.
Tanpa ragu Ellias mengikuti arahan itu, naga itu merubah arah ketika helikopter itu berbelok, tapi August sudah berada di belakang helikopter itu dan langsung memukul kepala naga itu, dan hanya sekali pukul naga itu jatuh dan tak bergerak lagi. semua tercengang melihatnya. August lalu turun diantara Aira dan Aruna.
tiba-tiba Aira meninju pelan lengan atas August.
"Kau ini sekali datang, bukannya mengunjungiku malah pergi ke tempat tidak jelas."
"Hey aku ingin mengunjungi kalian berdua, tapi aku tidak tau dimana tempat kalian."
"apa yang kau lakukan di atas sana Mercia?"
August menengok ke belakang. Aira berpindah posisi ke sebelah kiri August menjauhkan posisi Aruna.
"Mercia beliau adalah ketua Myla pemimpinku, dan di sampingnya adalah ketua Nefia pimpinan Aruna." kata Aira.
"Senang bertemu dengan anda berdua ketua, maaf ketua Myla aku sedang mencari seseorang diantara pasukan Kallus."
"seseorang? boleh aku tau?"
"Dia seorang wanita bernama Javelyn."
"Javelyn?" Myla dan Nefia terkejut mendengar nama itu, tapi tidak bagi Aruna ia sudah mengetahui alasan August mencarinya, sedangkan Aira sangat asing mendengar nama itu.
"Apa dia ingin kau jadikan pacar?" tanya Aira.
Aruna menginjak kaki Aira.
"Aduh.. mengapa kau menginjakku?"
"Diamlah Aira." kata Aruna.
"Aku ingin membunuhnya." kata August.
Aira terkejut mendengar perkataan August. ia mulai sadar ada sesuatu yang telah terjadi, ia tak pernah mendengar dan melihat August berkata penuh amarah dengan ekspresi dingin.
"Me.. mengapa kau ingin membunuhnya Mercia? tanya Aira gugup.
"August menengok ke arah Aira, wanita itu telah membunuh Julia."
Mendengar perkataan itu Aira serasa ingin menampar mulutnya sendiri.
"Mercia maaf.., aku tidak tau.."
August menepuk pundak Aira. "Tidak apa-apa."