
Beberapa saat sebelumnya.
Di suatu tempat misterius, terdapat sebuah danau yang di kelilingi tebing pegunungan tanpa celah memberi kesan seperti sebuah kawah. air danau itu hanya sedalam lutut orang dewasa dan berwarna hijau, di tengah danau itu terdapat sebuah batu besar membuat kesan ilusi seolah mengambang di atas permukaan air, sebuah pemandangan yang indah, namun sangat kontras dengan apa yang terlihat di sekeliling tebing pemandangan terlihat menyeramkan, ratusan naga yang berada di sekeliling tebing dan danau seperti sedang mengawasi satu sosok yang tengah duduk bersils di atas batu besar di tengah danau itu.
Sosok itu seperti tidak takut pada ratusan naga itu, justru naga itu yang takut, tak ada yang berani mendekatinya, sosok itu adalah seorang wanita, ia mengenakan gaun putih seperti belum dijahit, posturnya sangat mirip dengan Julia, tubuhnya padat berisi, dadanya yang wah, ia memegang tongkat putih dengan ukiran naga berwarna biru yang tertancap pada batu besar, terselip sebuah tiara emas dengan intan kecil berwarna biru.
Seekor naga berwarna merah terbang mendekat ke arah wanita itu, naga itu terlihat seperti pemimpin kawanan naga yang berada di sekeliling area tersebut. naga itu mendarat dua meter di depan wanita itu, tubuhnya seketika berubah menjadi seorang lelaki mengenakan baju pelindung berwarna merah dengan duri-duri tajam yang menghiasi siku hingga pergelangan tangan juga di kedua pundaknya.
"Maafkan hamba bila mengganggumu putri Amara." kata lelaki itu berlutut satu kaki.
Wanita itu adalah Amara putri para naga, ia membuka matanya. "Apa kau sudah melakukan perintahku Draco?"
"Sudah putri, hamba sudah mengabarkan pada para kawanan naga di tujuh dunia lainnya, batu itu sudah disatukan kembali" Draco mengeluarkan sebuah batu hitam seukuran genggaman tangan orang dewasa lalu menyerahkan pada Amara.
"Setelah batu itu di sempurnakan, kau bisa memanggil seluruh kawanan naga dari tujuh dunia." kata Draco.
"Aku hanya akan memanggil kalian pada saat pertempuran itu terjadi, kalian harus selalu siap."
"Hamba dan lainnya mengerti putri."
"Sekarang pergilah." perintah Amara.
Draco membungkuk lalu pergi tubuh manusianya berubah kembali menjadi naga besar berwarna merah lalu terbang ke arah tebing tertinggi dan diam di sana menjaga area itu.
Amara menaruh batu hitam pemberian Draco di telapak tangan kanannya, matanya memandang tajam batu hitam itu, dua buah sinar berwarna biru seukuran pensil keluar dari matanya dan menghantam batu hitam di tangannya, batu itu bergetar terangkat ke udara, sedikit demi sedikit lapisan batu hitam itu terkelupas menjadi debu dan lenyap terbawa angin, bagian inti batu kini sudah terlihat, setelah lapisan batu itu habis tampak inti batu seukuran jempol mengeluarkan sinar biru yang sangat terang hingga membuat air danau yang berwarna hijau itu berubah menjadi kebiruan, seluruh kawanan naga termasuk naga merah menundukan kepalanya tak berani memandang batu itu.
Amara kembali menyalurkan energi ke dalam batu biru yang melayang di hadapannya, batu itu akhirnya terpecah menjadi dua buah energi lalu masuk ke dalam tubuh Amara dan satunya menyatu pada ujung tongkat. Amara melayang naik ia memejamkan matanya perlahan menyerap energi itu, sementara tongkat putih yang tertancap pada batu besar berkedip-kedip, Amara segera membuka matanya.
"Nyx" Amara membuka tangan kirinya, tongkat putih langsung terbang ke arahnya, bersamaan dengan itu sebuah portal terbuka, Amara memasuki portal itu dan menghilang setelah tongkat sudah di genggamannya.
**
Aruna mulai tersadar, ia terkejut juga senang melihat August lalu memeluknya.
"Kau sudah sadar? apa kau ingat yang terjadi?" tanya August.
"Aku ingat, aku menyerangmu dan hampir membunuhmu, aku tak bisa mengontrol diriku sendiri, maafkan aku." jawab Aruna sambil terisak.
"Tidak apa-apa, bukankah aku berjanji akan menjagamu, dan bukankah semua akan baik-baik saja?" kata August. ia membalas pelukan Aruna dengan mengusap punggungnya, lalu membantunya berdiri.
Aruna masih sangat terpukul, August berusaha untuk menghiburnya.
"Hey sejak kapan pembunuh berdarah dingin menjadi cengeng?" goda August.
"Sejak ditugaskan membunuh lelaki mata keranjang." jawab Aruna kesal.
"katakan siapa lelaki itu aku akan menghajarnya." kata August berlagak meninju telapak tangannya sendiri.
"Tidak perlu."
"lebih baik kita menghajar wanita tak tau diri yang menyihirmu dan wanita iblis yang merusak pikiranku, hmm.. tapi bagaimana kau bisa lepas dari jeratan penyihir itu, apa jangan-jangan kau.."
August menoyor pelan kening Aruna. "Jangan pikir macam-macam."
"kau tidak sopan sekali." kata Aruna.
"Aruna aku tak bisa membawamu kembali kesana, aku tak ingin dia melakukan hal yang sama padamu lagi." kata August.
"Kau tega meninggalkanku di sini?" Aruna terkejut.
"Aruna dengarlah, aku ingin kau pergi ke kerajaan Galan di sana ada Aira, setelah mendapatkan bunga edianna aku akan menyusulmu." kata August.
"Kau ingin berduaan dengan elf itu?"
"Aruna tolonglah, orang yang memimpin pasukan untuk menyerang Galan adalah Kallus, dia orang melukaiku pada hari dimana Julia terbunuh, aku tak tau apa Aira sanggup melawannya."
"Hey Mercia tenanglah, aku hanya bercanda, sangat kebetulan aku juga ingin bertemu Aira, ketuaku memerintahkan untuk menemuinya, kemungkinan persatuan Armeda bisa terwujud dengan bantuannya." kata Aruna.
"Aku akan segera kesana, tapi aku ingin kau berjanji dua hal untukku." pinta Aruna.
"Janji? janji apa?" tanya August.
"Tetaplah hidup."
"Baik aku janji, apa lagi." tanya August.
"Jangan sampai tergoda elf itu."
"Huh.. Dasar.." Aruna mencium bibir August dengan panas yang membuat August sedikit terkejut. setelah beberapa saat Aruna pun menghentikan aksinya,
"berhati-hatilah, aku menunggumu di Galan." kata Aruna tersenyum lalu melesat pergi.
'sekarang bagaimana aku kembali ke kastil hitam itu? dasar bodoh gara-gara Aruna menciumku aku jadi lupa ingin bertanya padanya. hmm mungkin aku akan mencoba membuka portal.'
August mencoba membuka portal namun setelah beberapa kali gagal, ia akhirnya terbang tinggi untuk melihat arah di sekelilingnya ia melihat pohon raksasa sebagai patokan, setelah menemukan daerah yang ia kenali ia pun melesat menuju kesana.
August dan Aruna tak menyadari sebelumnya ada sepasang mata yang mengamati mereka berdua dari balik rimbunnya pepohonan. setelah August pergi sesosok itu melesat ke arah Aruna untuk mengejarnya.
Walau Aruna sudah pergi lama sosok itu mendengar kemana tujuan Aruna, dan dengan kecepatannya yang lebih baik, tidak butuh waktu lama ia pun melihat Aruna berada di depannya, dan dalam sekejap ia sudah menghadang di depannya.
Aruna terkejut seseorang wanita telah menghadang pergerakan langkahnya. ia kembali dibuat terkejut ketika mengamati sosok yang menghadangnya. 'mengapa wajah wanita ini mirip sekali dengan wanita itu, apakah dia.., ahh tidak mungkin'
"Siapa kau? apa maksudmu menghadang langkahku?" tanya Aruna.
"Namaku Amara, aku hanya ingin memperingatkanmu."
"tentang apa?" tanya Aruna masih dalam sikap waspada.
"Jangan pernah lagi kau mencoba untuk merayu Mercia."
"Apa hubunganmu dengan Mercia?" tanya Aruna curiga.
"Aku calon istrinya."
"Hahaha.. apakah kepalamu terbentur?" tanya Aruna mengejek.
Amara tetap tenang. "Aku tak akan membunuhmu karena Mercia mengenalmu, tapi aku akan membuatmu menderita jika kau bersikeras merayunya kembali."
"Jadi kau cemburu aku berciuman dengannya? hahaha.. kau tau Mercia sangat menyukainya? bahkan kami pernah tidur bersama." Aruna sengaja menambah bahan bakar ke dalam api cemburu yang sudah tersulut di dada Amara.
"Kau memang perempuan murahan, aku akan menghabisimu..!" Emosi Amara memuncak ia segera menyerang Aruna, ia menerjang Aruna dengan menyodokan tongkat putihnya ke arah dada Aruna.
Aruna tak tinggal diam, ia menangkis tongkat itu dengan tombak emas miliknya. Ledakan besar terjadi ketika tongkat dan tombak itu bertemu.
Trang.. DUAARRR..
Efek ledakan itu membuat pepohonan dalam radius dua puluh meter hancur. keduanya terpental ke belakang. Amara menghujamkan tongkatnya ke tanah. tanah seketika retak di ikuti sinar biru mengikuti menuju arah Aruna. Aruna yang melihat itu bersalto kebelakang lalu menghujamkan tombaknya ke tanah, hal yang sama terjadi tanah itu retak di ikuti sinar emas ke arah sinar biru. lagi ledakan besar terjadi hingga membuat cekungan sedalam lima meter, Amara terpental mundur dua langkah, sedangkan Aruna harus terpental beberapa meter, dadanya sangat sakit membuatnya memuntahkan darah.
'Bagaimana Mercia mengenal wanita kuat ini, apakah ia juga menyukainya karena mirip Julia.' pikir Aruna menyeka darah di mulutnya.
"Kau memiliki senjata tombak, apakah kau punya hubungan dengan wanita yang memiliki tombak iblis?"
'Tombak iblis?' dia juga mengenal Javelyn?' pikir Aruna.
"Lebih baik lupakan Mercia sebelum kau menyesal." kata Amara.
"Hahaha.. apa kau pikir bisa mendapatkannya? kau pikir dia menyukaimu? kau hanya wanita yang wajahnya mirip dengan kekasihnya yang terbunuh, dia hanya merasa kasihan padamu, kau terlalu naif." kata Aruna.
Perkataan Aruna bagai pisau yang menghujam ke jantung Amara.
'apa..? dia juga tau bahwa wajahku mirip dengan kekasihnya yang terbunuh? benarkah Mercia hanya kasian padaku?' Amara goyah.
Melihat Amara lengah Aruna segera menyerang dengan tombak emasnya yang kembali terbelah, ia menggenggam salah satunya dan lainnya terpecah menjadi puluhan tombak kecil lalu melesat ke arah Amara. Amara kembali dari lamunannya, ia mundur beberapa langkah lalu kembali menancapkan tongkatnya ke tanah, ukiran naga pada tongkat itu bergerak tak lama berselang seekor naga biru keluar dari dalam tanah menghancurkan puluhan tombak kecil itu, Amara melompat ke udara dari telapak tangannya muncul beberapa sinar biru mengarah ke Aruna. Aruna menangkisnya dengan sinar emas, Aruna tak sigap, perhatiannya saat ini teralihkan oleh kemunculan naga yang membuatnya tercengang, hingga ketika sinar emas itu beradu dengan sinar biru Amara jarak Aruna terlalu dekat hingga ketika ledakan terjadi membuat luka yang cukup serius bagi dirinya, terlebih dia belum sempat menggunakan baju tempurnya.
DUAARRR..
Tubuh Aruna terpental belasan meter, tombak emas sudah terlepas, Aruna sudah tak mampu lagi bangkit, ia kini hanya bisa melihat dengan pasrah Amara yang melayang di udara, tubuh amara di kelilingi liukan ular naga biru terlihat mempesona bak seorang dewi.
"Jangan bilang aku tidak memperingatkanmu." kata Amara. ia lalu menghentakan kedua tangannya ke depan, naga biru itu kembali meliuk-liuk lalu menerjang ke arah Aruna.
Aruna hanya terlihat pasrah, tapi tiba-tiba sebuah bola sinar berwarna merah melesat menghantam kepala naga itu.
Wusss.. Duarr..
Naga biru itu terpental kembali ke arah Amara, di susul kemunculan sesosok wanita dengan baju tempur berwarna merah yang hampir menutupi seluruh tubuhnya melayang dari balik rimbun pepohonan di belakang Aruna.
"Hanya aku yang boleh membunuh wanita ini."
Amara terkejut bukan kepalang, matanya menyorot tajam ke arah sosok wanita yang saat ini melayang sejajar dengannya. bibir Amara berkedut.
"Phoenix"