MERCIA

MERCIA
84. Impian yang Terwujud.



Semua mata menengok ke arah sumber suara, Aruna dan Aira pun terkejut.


"Ada apa Mercia mengapa kau menghentikan kami?" tanya Aira.


"Itu salah, tidak akan berhasil." kata August.


"Bagaimana kau tau?" tanya Myla heran.


"Itulah mengapa kalian berdua gagal, ikut aku." kata August lalu menghampiri Aruna dan Aira.


Myla dan Nefia saling berpandangan, mereka akhirnya mengikuti August.


"Semua Armeda harus terlibat, bukan hanya kalian berdua saja." kata August.


"Bagaimana kau tau Mercia?" tanya Nefia.


"Nyx.., Nyx memberitahu."


"Nyx?!"


"Naga emas."


"Sebenarnya darimana kau bisa berteman dengan naga itu?" tanya Aruna.


"Bukan hal penting, tetapi naga itulah yang membebaskanmu dari pengaruh sihir Aruna."


Aruna terkejut.


"lalu bagaimana caranya?" tanya Myla.


"Ketua Myla berdirilah di belakang Aruna, dan ketua Nefia berdiri di belakang Aira."


"Bagi dua masing-masing kelompok kalian, dan berdiri di belakang Aruna dan Aira, pinta mereka untuk memberikan energi inti."


"baik aku mengerti." kata Myla, Nefia mengangguk.


"Dan kalian berdua Aruna dan Aira, apapun yang kalian lihat nanti, jangan lepaskan jabat tangan kalian."


"Mercia kau membuatku takut." kata Aira.


"kau percaya padaku Aira?" tanya August.


"Aku percaya."


"Aruna?"


"Aku juga percaya."


"Ini tidak akan mudah, apapun yang kalian lihat di tangan kalian jangan pernah kalian lepaskan semua hanya ilusi."


Mereka berdua akhirnya berjabat tangan.


Wusss..


Aira tiba-tiba berada di sebuah tempat yang sangat gelap.


'apa yang terjadi?'


Aira melihat sekelilingnya.


'Hutan? bagaimana aku bisa berada di hutan ini?'


Aira melihat sebuah titik cahaya di kejauhan, ia memutuskan untuk pergi kesana tetapi ketika ia melangkahkan kakinya ia terpeleset jatuh ke sebuah rawa.


"Ahh.. sial di sini hutan ini lebat sekali aku tak bisa melihat jalanku."


"Hahaha.. kau ini wanita aneh, rawa itu kotor mengapa kau mandi di situ?"


Aira menengok ia terkejut melihat sesosok Lelaki yang sangat di kenalnya.


"Mercia mengapa kau bisa ada di sini?"


"Justru aku yang harusnya bertanya, mengapa kau ada di hutan Royan ini?"


"Ini hutan Royan? jadi aku berada di bumi?"


"tentu saja, kau pikir ada dimana?"


"Hey dari mana kau mendapati pedang itu?" tanya Aira.


"ada seorang mayat laki-laki, dan pedang ini tergeletak di sampingnya, aku mengambilnya, kau tau pedang ini ternyata terbuat dari emas."


"Mercia kau tak boleh mengambil senjata yang bukan milikmu."


"Hey Aira, ini tak ada hubungannya denganmu, tugasmu hanyalah melindungiku."


"Aku akan menjual pedang ini dan menikahi pacarku, ngomong-ngomong apa kau mau jadi pacarku Aira? kita akan langsung menikah setelah kita menjual pedang dan rantai emas milikmu itu."


"apa?" Mercia kenapa kau menjadi seperti ini?"


"apa ada yang salah?"


Aira tiba-tiba terkejut melihat sesosok makhluk muncul di belakang August.


"Mercia awass..!"


Namun terlambat sesosok makluk itu adalah seekor laba-laba raksasa, laba-laba itu melontarkan jaringnya mengenai kaki August dan menyeretnya, August dengan reflek berpegangan pada akar pohon besar yang tersembul keluar dari dalam tanah.


"Aira tolong aku."


"Tenanglah Mercia aku akan menolongmu." Aira melompat tetapi sesuatu menahannya.


"Cepatlah Aira."


"Bertahanlah, rantaiku tersangkut."


"Lepaskan rantai itu, gunakan pedang ini." August melemparkan pedang yang di genggamnya, tapi lemparannya terlalu lemah, Aira pun sulit menjangkau dengan tangan kirinya.


"Mengapa kau masih diam di situ? lepaskan rantai terkutuk itu, ambil pedang itu tolong aku Aira."


"Aaaaahhh..!"


"Merciaaa.." Aira menarik rantai di tangannya dengan kuat, tetapi rantai itu malah menarik tubuh Aira masuk ke dalam air.


Aira melemparkan rantai di tangan kirinya.


"Mercia tangkap rantai itu."


August menangkap rantai, dan rantai itu langsung melilit tangan dan tunbuhnya.


tiba-tiba Aruna muncul di hadapan mereka.


"Apa yang terjadi Aira?"


"Apa kau buta? cepat tolong mercia!"


"Mengapa kau berada di air?"


"Rantaiku tersangkut seperti ada yang menariknya."


"Kau memang bodoh, mengapa kau tak lepaskan rantainya? kekuatanmu ada dalam dirimu bukan pada rantaimu." kata Aruna.


"Aira.. mengapa kau tidak menolongku, bukankah kau berjanji akan melindungiku?" kata August.


"Aira bila kau tak menolongku, maka kita akan mati bersama?" kata August.


Aira tersentak. "Apa katamu? kau bilang kita akan mati bersama?"


"Kau bukan Mercia, Mercia tak akan pernah berkata seperti itu, siapa kalian sebenarnya?"


"Tidak ini semua hanya mimpi, tidak ada laba-laba besar di hutan Royan" Aira melihat tangan kanannya rantai yang ia genggam erat telah berubah menjadi sepotong tangan yang muncul dari dalam air, ia mengamati permukaan air itu terlihat samar wajah Aruna.


"Aruna?" Aira terkejut ia kembali menengok ke tepi rawa, tidak ada siapapun di sana.


Aira tampak kebingungan sesaat, sebelum akhirnya mengingat sesuatu.


"Aruna bertahanlah kita akan keluar dari ilusi ini bersama-sama dan Armeda akan bersatu."


Aira tetap memegang tangan Aruna dengan erat walau ilusi lain bermunculan di sekitarnya, ia memagari pikirannya dengan energi dari tubuhnya.


Pada saat bersamaan.


"Ahh kepalaku..".


"Kau sudah sadar Aruna?" tanya August.


"Dimana aku?"


"Kau di tempat temanku."


"Temanmu?"


"Apa kau ingat apa yang terjadi padamu?"


"Aku hanya ingat berdiri di tanah lapang bersama Aira."


"Mercia dimana Aira?"


"Aruna makanlah.."


"Mercia apa yang telah terjadi?" Aruna bangkit lalu berjalan menuju pintu, namun ia terkejut ketika membuka pintu ia melihat Ketua Myla dan anak buahnya.


August segera menutup pintu dan menarik Aruna.


"Mercia tolong katakan apa yang sedang terjadi?"


"Kau telah membunuh Aira!


"A.. apa? tidak mungkin, Aira temanku.."


"Kau pikir mengapa ketua Myla dan lainnya datang ke sini?"


"Semua melihatnya, waktu itu kau seperti bukan dirimu, kau tiba-tiba datang lalu menusuk jantung Aira dengan tombak emas milikmu."


Aruna memukul-mukul kepalanya. "tidak mungkin."


"Aruna keluarlah..! kau harus tanggung jawab, jangan jadi seorang pengecut bersembunyi di balik Mercia." teriak Myla.


"Aku akan menemuinya." Aruna bangkit, namun August menahannya.


"Tidak Aruna, aku tak akan membiarkan mereka menyakitimu, kau lebih aman disini bersamaku, mereka semua takut padaku."


"Mercia aku.."


"Hey apakah kau tidak mau hidup bersamaku?" August memeluk Aruna lalu membelai rambutnya.


"Apa kau bersedia Aruna?"


"Aku bersedia."


August mencium bibir Aruna dengan pelan dan lembut, lalu perlahan-lahan semakin cepat dan panas, kedua tangan mereka mulai aktif bergerak, Aruna sudah tak memperdulikan teriakan Myla dan lainnya, teriakan mereka sudah tersamarkan dengan erangan keduanya, bahkan teriakan Myla sudah tak terdengar,


"Aku mencintaimu Aruna."


"Aku juga mencintaimu."


Tiba-tiba pintu rumah di dobrak, August dan Aruna terkejut mereka buru-buru merapikan pakaiannya, Aruna kembali dikejutkan ketika melihat siapa yang telah mendobrak pintu rumah itu.


"P.. phoenix.." kata Aruna pelan.


"August mengapa kau tega berbuat seperti ini padaku?"


"kau tau namaku? siapa kau?"


"Aku Julia."


"Julia sudah pergi, dia meninggal dipelukanku."


Phoenix membuka penutup wajahnya.


August terkejut. "Julia.. benarkah kau Julia? kau masih hidup?" August memeluk Julia.


"Maafkan aku Julia, aku tidak tau kau masih hidup."


"Apa wanita itu tidak mengatakannya padamu?"


"Apa maksudmu?" tanya August lalu menatap Aruna yang terlihat gugup.


"Hanya dia yang tau aku masih hidup."


"Benarkah itu semua Aruna? kau tau tapi kau tidak mengatakannya padaku?"


"Mercia maafkan aku.." Aruna menghampiri August, namun August mendorongnya hingga ia terjatuh di lantai.


Aruna menangis.


"Jangan pernah berpikir kau bisa merebutnya dariku."


"Mercia maafkan aku.. hiks.. hiks.."


"Simpan air matamu Aruna, waktu itu kau datang ingin membunuhku, dan sekarang kau membohongiku."


"Ketua Myla.." panggil August.


"Dia milikmu, aku tidak akan melindunginya."


"Baik."


"tunggu." kata Julia.


"August, aku akan memaafkanmu, jika kau potong tangan wanita ini."


"Oh Julia aku dengan senang hati melakukannya, sebentar.., aku akan mengambil kapak."


Aruna hanya bisa tertunduk menangis pasrah.


"hey Aruna.. Aruna.. kau dengar aku?"


Aruna mengangkat wajahnya.


"Aira.., kau masih hidup?"


"Psst.. bicara dalam hati saja, kau memang bodoh, apa kau tidak lihat lubang di jantungku?"


"Aira maafkan aku, aku akan menebus kesalahanku."


"Hey.. kau tidak bersalah, kau dalam pengaruh Minerva, Aku hanyalah manifestasi rantai emas, Freya mengirimku untuk menyelamatkanmu."


"Freya?"


"Benar ada jalan keluar untuk semua ini."


"apa maksudmu?"


Tombak emas tiba-tiba muncul menancap di jantung Aira.


"Tombak emas?"


"Freya sudah memberikan mantra pada tombakmu, kau hanya perlu menariknya dengan kuat maka waktu akan terhenti, lalu kau cukup menempelkan mata tombak ini pada kening mereka."


"semua akan melupakan ini selamanya, dan Mercia akan menjadi milikmu."


August akhirnya kembali membawa sebuah kapak besar.


"Hey wanita brengsek ulurkan tanganmu cepat." kata August.


"Aruna ambil tombakmu sekarang sebelum terlambat, hanya kau yang pantas bersanding dengannya dan memimpin Armeda." kata Aira.


Aruna mengangkat tangannya ingin mengambil tombak, tetapi ia mengurungkan niatnya, Aruna justru menggenggam tangan Aira.


"Aira maafkan aku, aku tak ingin menjadi pemimpin Armeda, aku juga tidak ingin memiliki Mercia tanpa jiwa, takdirku hanya bisa mencintainya."


Aira tersenyum. Aruna memejamkan matanya ketika August mengayunkan kapaknya.


wuuttt..


"Hey Aruna bangunlah." kata August.


Aruna membuka matanya.


"Kau berhasil Aruna." kata August.


"Mercia.. kau.. dimana.. pho.." Aruna terkejut ketika melihat seluruh anggota Armeda berlutut.


"Ketua Nefia, ketua Myla, apa yang kalian lakukan? Aira kau masih hidup?" Aruna melihat Aira terbaring memijit kepalanya.


"tentu saja aku masih hidup, apa kau ingin aku mati? dasar bodoh." kata Aira.


"Sopanlah sedikit." kata Myla mengambil kerikil kecil lalu melempar ke kepala Aira."


"Ketua Myla kepalaku pusing mengapa masih kau timpuk?"


"Aku bukan ketuamu lagi."


"Apa yang telah terjadi?" tanya Aruna.


"Aruna klan Armeda telah bersatu, dan sekarang kau adalah pemimpin mereka." kata August.


"Apa?"


"Ketua Nefia.. Ketua Myla.."


"Kami sudah bukan ketuamu lagi, kaulah ketuanya sekarang."


"dia memang tua hehehe.." kata Aira.


"Aira..! kau ingin aku menimpuk kepalamu dengan kerikil sebesar rumah?" tanya Myla.


"Aku tidak bisa." kata Aruna.


"Aruna suka atau tidak suka kau telah terpilih, tiara emas sudah ada di keningmu, aku, Myla dan lainnya sangat senang, kami tak perduli, siapapun yang terpilih kami tetap akan mendukungnya, impian aku dan Myla sudah terwujud Armeda akhirnya bersatu, tugas kami telah selesai, dan sekarang saatnya kau pimpin Armeda menjadi kuat. pimpin kami untuk menghancurkan kekuatan iblis." kata Nefia.


hening.