
August tersadar ia mendapakan dirinya terikat pada sebuah batang pohon besar. di depannya ia melihat seorang wanita sedang memanggang seekor hewan yang mirip kelinci, walau wajah wanita itu hanya terlihat dari samping, kecantikannya terlihat jelas, rambutnya sepundak berwarna hitam keunguan, hidungnya mancung, pakaiannya tertutup dengan warna ungu tua. August mencoba melepaskan tali yang mengikatnya, tetapi tak berhasil, ia merasa heran.
'ini tali biasa, mengapa aku tak bisa membukanya? apakah kekuatanku hilang?'
"Tak perlu buang tenaga kau terikat di pohon eubacca, aku yang mengikatmu, jadi hanya aku yang bisa membebaskanmu."
"Pohon eubacca?"
"Dimana ini?" tanya August melihat sekelilingnya seperti hutan lebat.
"Hanya aku yang boleh bertanya." kata wanita itu dingin.
"Siapa kau? mengapa menangkapku?"
Wanita itu menyentil udara ke arah August.
tess.. buuk.. aghh..
Dada August bagai dihantam balok. mulutnya seketika mengeluarkan darah.
'Gila.. ini baru sentilannya dari jauh, bagaimana dengan cubitannya? aku tak bisa membayangkan lelaki yang menjadi pacarnya.' pikir August ia lalu pura-pura pingsan.
"Kau jangan berpura-pura, aku bisa mendengar detak jantungmu."
'Sial, bertanya tak boleh, pura-pura pingsan dia tau, akhh.. untung aku bukan pacarnya.
"Kau lagi PMS?"
tess.. tess.. tess.. Aahhh..
"Baik.. baik.. aku tak akan berkata-kata lagi." darah kembali keluar dari mulut August, jika bukan karena energi penyembuh tiga sentilan itu pasti akan membuatnya benar-benar pingsan. Wanita itu sedikit terkejut ketika mengetahui August masih tersadar, namun ia menyembunyikannya dengan baik.
"Apa yang kau cari di istana itu?" tanya wanita itu.
"Aku hanya ingin melihatnya, aku tak pernah melihat bangunan sebesar itu." jawab August.
"Mengapa tidak pergi saja kesana?"
"Aku tak mau mereka menangkapku."
"Kau mata-mata?"
"Bukan."
"Siapa kau dari mana asalmu?"
"Bisakah kau memberiku daging itu sepertinya enak sekali?" pinta August.
Wanita itu mengangkat jarinya yang ia arahkan pada August.
"Baik.. baik.. jangan lakukan itu lagi."
"Namaku Mercia aku berasal dari kota Royan."
"Kota Royan? jangan membohongiku, aku tak pernah mendengarnya!"
"Kota Royan berada di negeri Lumeria, sangat jauh dari tempat ini."
"Lalu apa yang kau lakukan di sini?" tanya wanita itu sambil terus memakan hewan panggang hasil buruannya.
Angin semilir berhembus menerpa rambut wanita itu, ia buru-buru merapikan rambutnya kembali dan mengangkat tudung jubahnya. walau gerakannya sangat cepat. August melihatnya dengan jelas dan membuatnya terkejut.
"Kau seorang elf!"
Wanita itu mengambil belati lalu menghampiri August dan menempelkan belatinya pada leher August.
"Ya aku seorang elf, apa itu masalah?"
Wajah keduanya saling berhadap-hadapan, August kini bisa melihat dengan jelas, seraut wajah yang cantik, tetapi wajah cantik itu seperti diselimuti kesedihan.
"Hey.. tenanglah, aku tidak membenci bangsamu."
"Kau bicara itu karena pisau ini menempel di lehermu bukan?!"
"Aku tidak berbohong, aku punya dua teman dari bangsamu."
"Tidak ada elf yang berteman dengan manusia."
"Kau salah, aku bisa membuktikannya padamu."
"kau jangan coba-coba membodohiku, aku akan membunuhmu."
"Jika kau ingin membunuhku, kau sudah melakukannya ketika aku berada di pohon itu, tetapi justru kau membawaku ke tempat ini."
"Aku yakin kau menginginkan sesuatu dariku, tapi kau ingin memastikan terlebih dahulu apa aku bukan salah satu kelompok musuhmu."
hening.
"Lepaskan ikatanku, aku akan dengar dan menjawab semua pertanyaanmu dan aku berjanji akan membantumu semampuku."
"Hah.. apa kau bisa membantuku merebut istana Moonheaven itu? jika tidak diamlah dan jangan berpura-pura memahamiku."
"Moon.. Moonheaven? tempat ini Moonheaven..!" August terkejut senang bukan main, senyum lebar terlihat di wajahnya, ia bahkan lupa pisau wanita itu masih menempel di lehernya.
Wanita itu heran, melihat ekspresi August yang tiba-tiba berubah senang mendengar Moonheaven, namun ia terkejut ketika sebuah tendangan keras mengenai pinggang kirinya, membuat ia terpental hingga terguling beberapa meter.
Ia menatap sosok yang menendangnya adalah seorang wanita.
"Kau telah menyakitinya aku akan membunuhmu."
"Sylvana tunggu." teriak August.
Wanita itu adalah Sylvana, ia sangat marah ketika menemukan August dalam keadaan terikat dan pisau belati itu menempel di leher August. kedua matanya memerah.
Sylvana tak menggubris teriakan August, ia kembali menerjang wanita itu dan mengarahkan tinjunya.
"Aku harus berbuat sesuatu, jika tidak Sylvana akan membunuhnya." kata August.
Wanita itu menyilangkan kedua tangannya, sebuah perisai terbentuk, tinju Sylvana menghantam perisai itu hingga kembali terjadi ledakan. pada saat yang sama August mengerahkan hampir separuh kekuatannya, pohon tempat dirinya terikat akhirnya hancur.
Duarr..
'Tak ada yang bisa menembus perisaiku selama ini, bagaimana dia bisa melakukannya?' Ia tidak menyerah, ia mencoba bangkit dengan susah payah, ia lalu melontarkan bola sinar putih keunguan ke arah Sylvana.
Duarr..
Wanita itu sangat terkejut, Sylvana masih tegak berdiri bahkan ia tidak menangkis serangannya.
"Sekarang matilah kau." kedua tangan Sylvana mengeluarkan cahaya merah, ketika ia ingin melepaskan serangannya, August tiba-tiba muncul di hadapan memegang kedua pipinya.
"Sylvana tenangkan dirimu."
"Dia harus mati." perlahan-lahan rambut hitamnya berubah menjadi merah.
August melihat perubahan itu, walau ia sudah melihat wujud Sonja, ia merasakan rasa amarah Sylvana akan membuat kekuatan Sonja meningkat berkali-kali lipat dan tak akan bisa terkontrol, baginya ini sangat membahayakan semuanya.
"Sylvana lihat aku.."
Sylvana tak menggubris perkataan August, pandangan hanya tertuju pada wanita itu dan ia sangat ingin membunuhnya. Melihat Sylvana tak bereaksi dengan perkataannya August memeluk erat Sylvana lalu menciumnya. tubuh Sylvana bergetar sesaat, ciuman itu mengembalikan dirinya rambutnya perlahan kembali menghitam, cahaya merah di tangannya menghilang, kali ini wajahnya yang berubah memerah.
August menghentikan ciumannya, ketika ia mengetahui Sylvana telah kembali tenang dengan merasakan kedua tangan Sylvana mengusap punggungnya.
"Kau sudah kembali."
Sylvana hanya mengangguk malu.
"Mengapa kau menghalangiku membunuhnya, dia menyakitimu, aku tak kan biarkan siapapun berani mencoba intuk menyakitimu."
"Dia sama sepertimu."
"Apa maksudmu? aku tak akan pernah menyakitimu." kata Sylvana sedikit kesal.
"Maksudku dia sama sepertimu, seorang elf."
"Apa? Elf?"
Sylvana kembali menatap wanita itu. "Hey kau benarkah kau seorang elf?"
Wanita itu masih dalam keadaan syok. masih sangat jelas di matanya kematian ada di depannya beberapa saat lalu untuk menjemputnya.
"Hey.. Jawab!" kata Sylvana dengan keras.
"Be.. benar.. hoek..! wanita itu terduduk memuntahkan darah.
"itulah akibatnya jika mencoba menyakitinya, jika bukan karena ia mencegahku aku pasti sudah membunuhmu meskipun kau berasal dari ras yang sama denganku." kata Sylvana bertolak pinggang.
"sudah jangan memarahinya, dia sudah dapat pelajaran."
"mengapa kau masih membelanya?"
"ada dua hal"
"Apa itu?" amarah Sylvana kini tertuju pada August.
"Dia mengetahui Moonheaven."
Sylvana terkejut. "Benarkah? lalu apa satunya lagi?"
August mendekat ke telinga Sylvana dan berbisik. "Bila kau marah terlihat sangat menggemaskan, jangan terlalu sering menggodaku."
Sylvana terdiam wajahnya semakin merah, semerah cahaya senja yang saat ini menaungi tempat itu. detak jantungnya berdegup kencang. ia bisa menahan senyum di wajahnya, tapi di hatinya ia tersenyum melompat kegirangan.
"Aku akan mengobatinya, kau jangan mikir aneh-aneh."
"kau kira aku memikirkan apa?"
August berjalan menghampiri wanita itu. wanita itu merayap mundur.
"Tenanglah aku akan mengobati lukamu." August membantunya bersandar pada sebuah pohon.
Wanita itu hanya diam, ia membiarkan August membantunya bersandar.
"Siapa namamu?"
"Violet."
"Apa kau seorang dark elf.?" tanya August meraih tangan violet lalu mentransfer energi penyembuh padanya.
Violet yang menunduk seketika menatap August.
"Bagaimana kau tau aku seorang dark elf?"
"aku hanya asal menebak, aku hanya tau dark elf dan moon elf.
Violet merasakan rasa sakit berangsur-angsur hilang. ia melirik canggung ke arah Sylvana yang masih menatap tajam pada dirinya.
"Namanya Sylvana, dia juga sepertimu seorang dark elf."
Violet sangat terkejut, wajahnya memucat penuh ketakutan.
"Sy.. sy.. Sylvana? dark elf." Violet tiba-tiba bangkit berjalan cepat menghampiri Sylvana.
"Benarkah namamu Sylvana?" tanya Violet.
"ya." jawab Sylvana acuh.
"Apakah ibumu bernama Eirana?"
Sylvana tersentak. "Bagaimana kau tau nama ibuku?"
Violet berlutut kepalanya tertunduk, tubuhnya gemetar. "Ma.. maafkan aku putri.. a.. aku tak tau kau telah kembali, aku tak tau lelaki itu adalah kekasihmu."
"Putri?" August menatap Sylvana.
"Mengapa kau menyebutku putri?" tanya Sylvana.
"Karena kau adalah anak dari ratu Eirana, penguasa Moonheaven yang sebenarnya, kau adalah putri yang terbuang."