
"Tuan Gerald kami menemukan ketiga wanita itu, wanita yang bersamanya tempo lalu ada di villa dekat danau, sedangkan kedua wanita dari biro itu bersembunyi di hutan dekat kawasan kumuh, mereka di jaga sekitar dua puluh penjaga, beberapa diantara mereka terlihat seperti seorang sniper, tapi kami masih belum menemukan keberadaan lelaki itu." kata Scott.
"Hahaha.. dia pikir dia bisa bersembunyi, sungguh konyol mereka bersembunyi di wilayah kita, segera kirim Abigor dan orang-orang pilihan untuk menangkap kedua wanita itu hidup-hidup."
"Bagaimana dengan wanita yang bersamanya kemarin?"
"Berapa orang yang menjaganya?"
"Tidak ada ia hanya di temani seorang wanita, mungkin temannya."
"hahaha... panggil seluruh anggota suruh salah satu dari mereka menangkap wanita itu, kawasan kumuh akan aku ubah menjadi istana kita, setelah itu hanya menunggu waktu Lumeria akan jatuh di tanganku."
Scott mengangguk lalu melangkah pergi.
"Tuan Gerald mengapa kedua wanita itu sangat penting?" tanya seorang pria bertubuh tegap tampak sebuah pedang terselip di pinggangnya.
"Selama ini aku tidak tau mengapa Gorran seperti manusia super, hingga aku tak sengaja menemukan rahasia mengapa ia bisa menjadi kuat, ketika ia dan seluruh pasukannya terbunuh aku dan anak buahku langsung menuju markasnya, kami menemukan ruang rahasia di bawah tanah, disana banyak terdapat artefak dan kitab sihir, aku tak sengaja menjatuhkan salah satu artefak sebuah batu merah tersembunyi di dalamnya, aku mengambilnya, saat itulah aku benar-benar bertemu dengan seorang iblis."
"Apa yang terjadi selanjutnya tuan?"
"iblis itu menawarkan kekuatan yang Gorran tak berani menerimanya, ia menawarkan sihir hitam tingkat tertinggi dengan syarat aku harus mengumpulkan seluruh orang-orang yang memiliki sihir hitam lalu mengabdi pada seseorang kaisar bernama Clawrit."
"Kaisar Clawrit?"
"aku sendiri tidak tau siapa dia, dia menjelaskan dia akan menemuiku kembali setelah aku berhasil, menemukan semua orang pemilik sihir hitam di bumi ini, setelah itu aku menemukanmu, Abigor juga lainnya."
"Aku masih belum mengerti apa hubungan kedua wanita itu."
"Voss.. kesalahan Gorran adalah meremehkan anak itu, aku melihat ia adalah otak dari kehancuran Black Eagle dan Kesatria Merah, kedua wanita itu adalah eksekutornya."
"Mengapa anda tidak langsung membunuh mereka semuanya?"
"Aku ingin membunuh mereka semua, semua rencana berubah ketika orangku mengirimkan sebuah rekaman video yang di dapat dari Biro PE90." Gerald membalikan laptopnya, memutar sebuah file video.
Voss melihat dengan serius. video itu memutar kecelakaan di taman dimana August bergerak dengan cepat menyelamatkan seorang anak. video selanjutnya ketika terlihat dari kejauhan seorang pria dan seorang wanita melompat ke atap gedung berlantai sepuluh lalu video terakhir August mencium seorang wanita lalu sebuah portal terbuka dan wanita itu masuk ke dalamnya lalu menghilang.
"Tuan.. siapa anak itu sebenarnya?"
"Voss.. dia hanya anak orang miskin yang kedua orang tuanya dibunuh, seorang biasa yang memiliki dendam pada Black Eagle dan Kesatria Merah, aku ingin tau bagaimana ia bisa melakukannya, jika ia tak ingin bergabung dengan kita, maka wanita-wanita itu akan memaksanya untuk bicara."
"Tuan Gerald kami sebenarnya mengetahui keberadaan dunia lain, orang tua kami berasal dari sana, itulah mengapa, kami memiliki kekuatan melebihi manusia pada umumnya, tapi kekuatan kami tidak cukup besar untuk membuka pintu menuju kesaana, namun sekarang setelah kitab iblis memilihmu, hanya masalah waktu saja anda bisa mengungkap semua rahasia itu dan membukakan pintu untuk kita pergi ke sana.
"Sebelumnya aku menolak omong kosong itu, setelah berapa lama ini semua terlihat masuk akal."
**
"Mercia.. konsentrasimu payah sekali."
"Bagaimana aku bisa berkonsentrasi kau selalu mondar-mandir dengan baju tipis transparan itu.. kau guru yang buruk Helena."
"Justru harus begitu, melatih pikiranmu semakin kuat, jadi bila suatu saat kau mengalami situasi serupa, tidak akan mempengaruhimu."
'mengapa dia selalu punya alasan untuk membenarkan aksi mesumnya?'
August kembali memejamkan matanya, namun masih saja bayangan tubuh Helena dengan baju transparannya menari-nari dalam benaknya.
'brengsek.. ini sulit sekali.'
August terus berusaha fokus, begitu juga dengan Helena ia terus mencoba memecah konsentrasi August. terkadang ia mendesah pelan di telinga August, memijit keningnya dengan dadanya menempel di punggung August, ia juga terkadang bicara sendiri dengan lantang.
"Aduh kok dadaku jadi merah-merah begini ya..? padahal sebelum pergi ke toko tidak seperti ini."
"Apa digigit nyamuk besar..? pasti nyamuknya laki-laki."
Perlahan-lahan August mulai terbiasa hingga suatu saat suasana tiba-tiba berubah menjadi hening, tubuhnya terasa ringan seperti melayang di udara. August mengetahui ia sudah berada di alam bawah sadarnya, ia pun membuka matanya.
Padang rumput yang sangat hijau dan luas terhampar di hadapannya, bunga-bunga beraneka warna bermekaran setiap August melangkahkan kakinya, ia berjalan mendekati sebuah pohon magnolia dimana seorang wanita duduk berandar di bawah pohon itu tersenyum menatap ke arahnya.
"Helena..?" sapa August.
Helena hanya tersenyum.
"aku mengerti, kau adalah manifestasi kekuatan Helena."
"aku tidak seperti yang kau kira, aku tidak seperti mereka."
"mereka?"
Helena menunjuk arah di belakang August. August lalu menengok ke arah yang di tunjuk Helena, ia sedikit terkejut melihat perwujudan Calanis dan lainnya, juga Nyx naga emas yang kini mengeluarkan aura kebiruan di seluruh tubuhnya. August baru pertama kali melihat semuanya muncul bersama. ia lalu kembali menatap Helena.
"Apa yang membuatmu berbeda?"
"Aku adalah media dari jiwa dan perasaannya."
"aku tak mengerti."
"Kau bisa tanyakan nanti padanya, sekarang ikut aku!"
Dua jam kemudian August kembali tersadar ia membuka kedua matanya dan mendapati Helena tertidur di paha kirinya. ia mengusap lembut kepalanya.
"Kau sudah selesai?" tanya Helena yang terbangun merasakan usapan lembut.
"Helena.. gelang ini.. kau...."
"itu adalah jiwa dan seluruh perasaanku padamu, walau aku tak bisa memilikimu, kita tetap akan sehidup semati."
"Helena... aku.."
"Gelang itu adalah kekuatan terakhir yang akan menjagamu, seluruh kekuatanku akan mengalir dalam tubuhmu. jika kau terbunuh maka aku pun akan mati bersamamu."
"Helena.. bagaimana..."
"Gessora memberiku sebuah ide, bagaimana ia menyembunyikan jiwanya."
"Lalu?"
"Tak perlu bicara lagi, istirahatlah, tidurlah di sampingku, aku ingin kau memelukku hingga saatnya nanti kau pergi."
August pun akhirnya tidur di samping Helena memeluknya dengan mesra.
"Helena.. terima kasih." kata August mengecup kening Helena.
"Mercia, semua akan baik-baik saja, kau tidak sendiri."
Tak ada perkataan lagi yang terucap dari keduanya, mereka berdua akhirnya tertidur. mereka terbangun ketika sinar matahari masuk menerangi dari sela-sela rumah. August mendapati dirinya kini berada di atas tempat tidur.
'hmm Helena pasti memindahkanku, ehh.. dimana dia sekarang?' pikir August. ia beranjak keluar kamar lalu berjalan keluar rumah, ia masih tak menemukan penyihir cantik itu. ia lalu memutuskan untuk pergi ke arah sungai yang terletak di belakang rumah.
glek.
August menelan ludah ketika ia menemukan Helena sedang mandi di sungai itu, air yang bersih dan jernih itu membuat tubuh Helena yang tanpa busana itu terlihat dengan sangat jelas.
"Maaf aku tidak tau kau ada di sini, aku akan menunggumu di rumah." kata August.
"Kau tak perlu lakukan itu, lepas pakaianmu kemarilah mandi bersamaku."
"hah..?!"
"Kenapa? kau tak perlu malu, kita sudah saling melihat tubuh kita masing-masing, cepatlah ada yang ingin aku bicarakan." kata Helena.
August membenarkan perkataan Helena namun tangannya tetap sedikit gemetar ketika mencoba melepaskan pakaiannya.
"Lama sekali.." goda Helena lalu menjentikan jarinya, seluruh pakaian August tiba-tiba menghilang, dan muncul di atas permukaan tanah di sampingnya tersusun rapi.
"HAH..!" August terkejut mengetahui dirinya sudah tak mengenakan pakaian secara reflek ia melompat ke sungai yang kedalamannya sekitar satu setengah meter.
"Hahaha..." tawa Helena membuat dadanya yang montok berguncang dengan indah.
"Kau ini jahat sekali.. bagaimana jika ada orang lain yang melihat?" tanya August.
"aku akan mencolok matanya, hihihi.." jawab Helena sambil melingkarkan kedua tangannya di pundak August.
"Apa yang ingin kau katakan?" tanya August.
"Mercia, berhati-hatilah orang yang kau hadapi kali ini adalah seseorang yang mempelajari kitab iblis, sihir hitam tertinggi."
"kitab iblis? bagaimana kau mengetahuinya?"
"ketika kau berinteraksi dengan gelang itu, aku mendapatkan sebuah penglihatan."
"apa yang kau lihat?"
"Sesuatu akan menimpamu, aku tidak tau apa itu tapi kau harus waspada."
"Mercia sebelumnya aku ingin pergi denganmu, namun setelah mengetahui kitab iblis itu muncul, aku harus pergi, aku tak bisa menemanimu."
"Apa pemilik kitab iblis itu sangat kuat?"
"Siapapun yang mengancammu disana bukanlah pemilik sebenarnya, dia hanya menemukan kitab itu, dia hanya tumbal, diperalat kitab itu untuk mencari para penyihir kuat, hanya orang-orang yang terlahir memiliki darah penyihir yang bisa menguasai kitab itu."
"Mercia, orang itu bukan ancaman untukmu, kau harus menemukan kitab iblis itu dan kita akan menghancurkannya sebelum ia bertemu dengan tuannya."
"Bagaimana cara menghancurkan kitab iblis itu?"
"Bawa kitab itu padaku, aku, Freya, Minerva dan penyihir putih lainnya akan menghancurkannya."
"Baik, aku akan mencari kitab itu."
"ada satu hal lagi yang harus kau lakukan sebelum kau pergi..!"
"apa itu..?"
Helena menurunkan tangannya dari pundak August, dan meraih sesuatu yang berada di bawah permukaan air, meremasnya dengan lembut.
"Heeek... di sini?"
Helena tersenyum mengangguk pelan dengan wajah menggoda.
glek.