MERCIA

MERCIA
62. Sebuah Kesepakatan.



"benar" semua bicara serempak.


"Apa yang terjadi?" Helena bingung.


"Kau terpilih menjadi penyihir agung selanjutnya." kembali semua bicara serempak seolah satu tubuh.


"tidak.. aku belum layak."


Salah satu bayangan seorang wanita maju menghampiri Helena.


"Kau mengenalku?"


"Kami menyebutmu Healer dewi penyembuh, kau salah satu master legenda yang mengalahkan kekuatan iblis."


"Ketika aku dan mereka semua menerima gelar itu, tak ada yang menganggap diri kami layak, begitu pula lelaki yang terbaring itu."


.


"siapa lelaki itu sebenarnya?"


"kau sudah mengetahuinya, kau hanya tak mau mempercayainya."


"Apa yang harus kulakukan?" tanya Helena.


"Hilangkan keraguanmu, tetap berdiri di sampingnya."


Helena melirik ke arah August yang masih tertidur.


"aku akan melakukannya." jawab Helena.


Setelah mendengar perkataan Helena, tujuh bayangan itu menghilang. Helena merasakan hawa sejuk masuk melalui keningnya lalu mengalir keseluruh tubuhnya.


Helena menghampiri August, mengecup keningnya. "Aku berjanji akan membebaskan kedua temanmu."


**


Satu jam kemudian.


"Nona Freya wanita itu datang mencarimu."


"siapa wanita yang kau maksud?"


"Helena."


"biarkan ia masuk."


Freya berjalan menuruni anak tangga, matanya menatap tajam kepada Helena, ia merasakan perubahan pada wanita itu, Freya meningkatkan kewaspadaannya.


"Apa kau diutus Minerva?" tanya Freya.


"Tidak, aku datang atas kemauanku sendiri."


"Apa maumu?"


"aku ingin membuat kesepakatan denganmu, tapi sebelumnya aku ingin bertanya satu hal."


"Aku tidak tertarik membuat kesepakatan apapun denganmu, tapi aku izinkan kau bertanya." kata Freya acuh.


"Hahaha.. Baiklah.., kau adalah penyihir putih, mengapa kau membiarkan Minerva berbuat sesukanya, kau menutup mata atas semua kerusakan yang dia lakukan." kata Helena.


"Bukankah sebuah ironi pengikut Minerva berbicara seperti itu?" kata Freya.


"Aku menjadi pengikutnya hanya untuk mencari kelemahannya, aku akan membunuhnya."


Freya terkejut mendengar pengakuan Helena.


"Kau tidak takut aku mengatakannya pada Minerva."


Helena tersenyum. "Sampaikanlah, itu cukup jelas menandakan kau bukan penyihir putih."


"Aku tau kau melihat semuanya, kesalahan terbesar dalam hidupku adalah mengirim kedua teman lelaki itu pada Minerva."


"aku tau kau menunggu elf itu, aku hanya tidak tau alasanmu. karena kau tak mau mendengar kesepakatanku maka aku akan menyampaikan satu hal padamu, besok aku dan Mercia akan menyerang kastil hitam itu membebaskan kedua wanita itu lalu membunuh Minerva, bila kau ingin menuntut balas aku akan menunggumu."


"Apa kau sedang bermimpi?"


"Lihat saja besok, pastikan kau tak menyesal." kata Helena lalu pergi.


"Oswyn kau dengar apa kata wanita itu?"


"Aku mendengar dengan jelas." jawab Oswyn.


"Katakan dengan jujur apa pendapatmu?"


"Maaf Nona Freya apa yang ia sampaikan memang menyakitkan tapi itu sebuah kebenaran."


"apa aku bukan penyihir putih lagi?"


"Nona Freya.. menjadi penyihir putih tidaklah mudah, Minerva telah merubahmu sedikit demi sedikit, itulah mengapa kekuatanmu semakin memudar."


"Setiap dunia hanya ada hitam dan putih, nona memilih putih tetapi nona berdiri di tengah keduanya."


"Aku tak sanggup membunuh kakakku sendiri Oswyn." kata Freya tertunduk.


"Nona Freya, itulah kelemahan yang Minerva lihat darimu, dan jika Minerva dibunuh kau pasti akan menuntut balas dan menjadikanmu seperti dia."


"apa yang harus aku lakukan?"


"Nona Freya, wanita itu datang kesini bukan untuk meminta bantuanmu membunuh kakakmu."


"Oswyn apa maksudmu?"


"sa.. sabit putih..?!"


"Mustahil.. aku tau Helena.. jangan-jangan..."


Freya berlari menuju sebuah ruangan seperti perpustakaan mini.


"ada apa nona Freya?" Oswyn terkejut.


"ikuti aku" kata Freya lalu mengambil sebuah buku besar yang terlihat berusia sekitar puluhan atau ratusan tahun.


"Apa nona tidak tau arti tanda sabit putih?" tanya Oswyn.


"aku tau Oswyn, itu ciri penyihir agung, sebelum pergi ia menyebut nama seseorang, nama lelaki itu apa kau mendengarnya?" tanya Freya sambil membalikan lembar buku itu satu persatu secara perlahan.


"Jika aku tak salah mendengar dia akan menyerang kastil hitam itu dengan seorang bernama Mercia." kata Oswyn.


Freya terkejut ketika akhirnya ia menemukan sesuatu pada salah satu halaman di buku itu.


"Lihatlah.." kata Freya menunjukan halaman buku itu pada Oswyn.


Oswyn pun terkejut "jadi lelaki itu..."


"Nona Freya... kau tau artinya setelah ini?" tanya Oswyn.


"Aku tau Oswyn, aku akan mengingatkan Minerva untuk terakhir kalinya, aku tak bisa lari dari takdirku sendiri."


"Apa yang akan kita lalukan sekarang?" tanya Oswyn.


"kita temui Helena dan lelaki itu."


**


August terbangun ketika merasakan tangan lembut mengusap kepalanya.


"berapa lama aku tertidur?"


"lumayan, aku sudah membuatkanmu minuman, energimu akan kembali setelah meminumnya."


"terima kasih."


"aku yang seharusnya berterima kasih padamu." Helena menundukan kepalanya.


"Ada apa?" tanya August mengangkat dagu Helena.


"mengapa kau masih menolongku setelah semua yang telah aku lakukan padamu?"


"Semua pernah melakukan kesalahan, kau, aku atau lainnya, aku melihatmu sebagai sosok pribadi yang baik, bagaimana kau merawat tanaman, membuat roti dengan kedua tanganmu sendiri, meskipun kau memiliki kekuatan sihir, kau lebih memilih untuk tidak menggunakannya." kata August.


Helena tersenyum pahit mendengarnya, ia terlalu berharap Mercia menyukainya.


"kita akan membebaskan kedua temanmu besok, aku harap tenagamu sudah pulih."


"aku tidak akan mengganggumu malam ini." kata Helena setengah berbisik. tetapi tangan dan bibirnya terlihat sibuk.


August yang masih sedikit kelelahan diselamatkan oleh suara ketukan pintu.


Tok.. tok.. tok..


Helena waspada.


"ada apa?"


"Selama aku tinggal di sini, tak pernah seorang pun berkunjung."


"Mercia tunggulah di sini."


Helena bangun dari tempat tidur lalu berjalan menuju pintu rumah dan membukanya.


"Helena..!"


"Freya..!"


"Kau tak mengizinkanku masuk?" tanya Freya.


"Bukankah pembicaraan kita telah selesai?" Helena acuh.


"Penyihir Agung Helena izinkan aku bertemu dengan lelaki itu." kata Freya sedikit membungkuk.


Helena terkejut, "Bagaimana kau tau?"


"Aku tidak melihat tanda sabit putih di keningmu ketika di tempatku, Oswyn mengingatkanku setelah kau pergi, aku juga mendengar kau menyebut nama Mercia." kata Freya.


"Helena izinkan mereka berdua masuk." suara August mengembalikan Helena dari lamunannya, ia mempersilahkan Freya dan Oswyn masuk ke rumahnya lalu menutup pintu.


Freya tak berkedip melihat August keluar dari kamar tidur dengan bertelanjang dada. Helena merasa tak nyaman melihatnya, ia lalu berjalan menghalangi pandangan Freya.


"Mengapa kau tidak pakai baju?" tanya Helena.


"aku mencarinya tapi tidak menemukannya."


"Cari di belakang rumah, kau sangat tidak sopan sekali di depan nona Freya, aku akan menyihirmu menjadi pakaian dalam baru kau tau rasa!" ancam Helena.


August hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. 'mengapa dia tiba-tiba jadi galak, mengancamku menyihir menjadi pakaian dalam, lalu dipakai olehnya' pikir August senyum-senyum sendiri membayangkannya. tak lama August kembali bergabung dengan mereka.


"Nona Freya apa yang membuatmu datang ke tempatku?" tanya Helena.


"Membuat kesepakatan."