MERCIA

MERCIA
25. Terlahir Kembali.



Aruna membawa August pergi, namun di tengah perjalanan, August kembali merasakan sakit di dadanya ia berteriak, Aruna menepikan mobilnya ia mencoba untuk menetralisir rasa sakit dengan kekuatannya. tetapi sesuatu terjadi pada tubuh August. tubuhnya tiba-tiba mengeluarkan cahaya keemasan, ia mengejang dengan hebat, dari bekas luka muncul asap hitam pekat.


Aruna melihat itu langsung membuka kaca mobil, ia mengangkat telapak tangannya ke arah asap hitam itu, dari telapak tangannya muncul sinar kehijauan mendorong asap hitam itu. keluar dari dalam mobil.


Aruna menunjukan kekuatannya karena ia yakin August sudah tak sadarkan diri dalam pandangannya. namun bagi August ia seperti berpindah tempat.


Ia kini berada dalam sebuah lorong yang hanya di terangi cahaya obor di kanan dan kirinya, di kejauhan terlihat seberkas cahaya, August berjala menuju cahaya tersebut. Cahaya tersebut semakin jelas, itu adalah cahaya matahari, lorong itu seperti jalan menulu aula besar sebuah bangunan kuno, tampak di kiri kanannya patung besar setinggi dua puluh meter.


August akhirnya sampai di aula besar, sinar matahari terlihat masuk di sela sela lubang ventilasi, August menatap sekeliling, tak ada pintu, hanya lima buah kursi tanpa meja. ia tampak bingung, mengapa ia bisa berada di sini, ia lalu memutuskan untuk kembali menelusuri lorong ke arah sebaliknya, tetapi ketika membalikan badan lorong itu lenyap. August panik, tiba-tiba terdengar suara seorang wanita di belakangnya.


"Tenanglah."


August membalikan badannya, kini ia melihat lima orang duduk di kursi yang sebelumnya kosong. August mundur dua langkah.


"si.. si.. siapa kalian?" tanya August.


Seorang wanita yang duduk di tengah, bangun dari kursinya.


"kami adalah manifestasi dari pemilik kekuatan yang ada di dalam tubuhmu."


"kekuatan? kekuatan apa..? aku tak punya kekuatan apapun."


"tunggu.. apa aku sudah mati? tanya August.


"kau masih hidup, saat ini kau berada dalam alam bawah sadarmu, karena di sinilah kami akhirnya bisa bicara denganmu." kata wanita itu.


"siapa kalian, apa yang kalian inginkan?" tanya August.


"kau telah dipilih untuk menerima kekuatan kami untuk melenyapkan kekuatan iblis yang akan mengancam duniamu"


ini pasti hanya mimpi. pikir August.


"ini nyata bukan mimpi" kata wanita itu.


"Hah.. bagaimana kau tau isi pikiranmu?" tanya August heran.


"aku sudah bilang padamu kau berada di alam bawah sadarmu."


"Namaku Calanis kekuatanku berasal dari cahaya, kau telah bertemu salah satu keturunanku di sungai itu, di ujung kanan itu Callon si badan besi, ketika Bryan memukulimu kekuatannya melindungimu hingga kau tak merasakan sakit. di sampingnya Legolin ketika kau menyelamatkan kedua anak di taman itu kekuatannya membuatmu bergerak dengan cepat. samping kiriku bernama Healer ia seorang wanita penyembuh, racun di tubuhmu hilang karena kekuatannya dan terakhir namanya Pendragon." kata Calanis.


"apa kekuatannya?!" tanya August.


"kau akan mengetahuinya kelak." kata Calanis


"kalian sepertinya salah orang, aku hanya orang biasa' kata August.


tiba-tiba aula itu berubah, kini August berada di sebuah tebing tinggi di bawahnya terlihat dataran yang luas dimana dua pasukan tengah berperang, ia melihat lima orang yang yang berada di aula itu sedang bertarung melawan seseorang, lalu mereka membunuhnya. sebelum orang itu mati keluar sebuah sinar hitam dari tubuhnya, lalu sinar itu terpecah empat bagian dan melesat ke arah empat penjuru mata angin.


Pemandangan berubah kembali, kini ia melihat kelima orang itu mengeluarkan cahaya yang berbeda warna dari dadanya lalu memindahkan cahaya itu ke sebuah kristal. kembali pemandangan berubah, kali ini August berada di sebuah gazebo tepi danau, air danau itu berwarna merah darah, hutan di belakangnya terbakar, ia melihat di sekelilingnya tampak orang yang ia kenal tergeletak bersimbah darah. Kedua orang tuanya, Mr. Borris, Rafael, Nora, Aira, Aruna lalu ia melihat Julia ia masih bergerak, August berlari ke arah Julia, ia mengangkat tubuh Julia dalam dekapannya.


"August.. tolong aku.." kata Julia.


"Bertahanlah.. Julia.. kau akan selamat" August berurai air mata.


tiba-tiba satu sosok melompat di hadapan August, ia menggunakan pelindung kepala yang terdapat dua tanduk di atasnya. tubuhnya terbungkus logam hitam dengan pijar lava yang menyala. di tangan kanannya memegang pedang besar dengan kobaran api, ia mengayunkan pedang itu ke arah leher August. August memejamkan matanya. setelah beberapa saat ia tak merasakan apapun August membuka matanya ia kembali berada di aula itu, kini ia melihat kelima orang itu menatap dirinya.


August benar-benar syok tubuhnya gemetar. salah seorang wanita yang bernama Healer menghampirinya, ia mengulurkan telapak tangannya, wanita itu tak bicara hanya mengangguk, memberi isyarat. August menaruh telapak tangannya di atas telapak tangan wanita itu, rasa hangat mengalir, ia merasa tenang.


"Air mata sudah tertumpah, namun kau bisa mencegah jutaan lainnya agar tak tumpah." kata Calanis.


"a.. aku takut tak bisa memikul tanggung jawab itu." kata August.


"aku bukan pahlawan" tambahnya.


"Pahlawan tidak tercipta dalam satu hari, kau tidak akan berjuang sendiri, kau jiwa yang terpilih untuk membuka jalan, mereka akan mengikutimu" kata Calanis.


"apa konsekuensinya?" tanya August.


"kehidupan lamamu berakhir, kau akan melihat dunia dengan cara berbeda."


"August Garcia telah mati, kau terlahir kembali dan namamu sekarang adalah Mercia"


"apa kau bersedia menempuh jalan itu?" tanya Calanis.


"a.. aku.. aku.. bersedia." jawab August.


Dari kejauhan terdengar pelan suara angin bergemuruh di iringi suara petir menggelegar bergerak mendekat, August hanya duduk berlutut, aula tempatnya berada mulai runtuh angin telah menyapu bangunan itu, namun tidak berpengaruh terhadap August, tubuh Calanis dan lainnya perlahan berubah menjadi partikel partikel debu lalu terbang tersapu angin, di hadapan August kini terdapat lima buah sinar seukuran kelereng dengan warna warna berbeda hijau, merah, emas, biru dan putih satu persatu sinar itu menembus kening August.


Pada saat sinar itu menembus keningnya, August melihat potongan potongan seperti cuplikan video tentang informasi kekuatan yang ia serap. tubuhnya mengejang hebat, ia merasakan hawa panas dan dingin hingga menusuk tulang. otaknya seperti ingin meledak. Ia hanya bisa berteriak menahan rasa sakit yang luar biasa.


Aaaaaagghhh....!


Blegarrr...!


Ledakan dahsyat terjadi, tubuh August melayang dua puluh meter di atas permukaan tanah. tubuhnya mengeluarkan sinar putih keemasan. matanya merah menyala. ia lalu melihat di bawahnya, di sana terlihat empat orang wanita dengan tombak emas, rantai, emas, dan trisula, mereka adalah Aruna, Aira, Carrol dan Lyra.


"a.. apa yang terjadi?" tanya Aira.


"Dia.. dia telah menyerap seluruh kekuatan kristal itu!" kata Lyra.


Mereka berempat tercengang melihat kejadian tersebut. August perlahan turun, ia memandang tajam ke arah mereka berempat.


Aira maju tiga langkah, ia membuka masker yang menutup wajahnya


"August kau ingat aku?" tanya Aira.


pergerakan Aira yang tiba-tiba justru dianggap seperti ancaman. August mengangkat jari telunjuknya lalu keluar sinar berwarna biru menghantam dada Aira. terjadi ledakan Aira terpental puluhan meter menabrak dinding gerbang kuil, dinding itu hancur.


zap.. duarr.. bruk..


Aira memuntahkan darah segar ia tak sanggup berdiri. ia pun jatuh tak sadarkan diri.


Aruna, segera memasang sikap waspada.


"August sadarlah.." kata Aruna.


August kini memandang Aruna. Aruna menjatuhkan tombaknya ia melepaskan pelindung tubuhnya. Lyra dan Carrol melihat dengan cemas.


"Aruna apa yang kau lakukan?" tanya Carrol.


"Jatuhkan senjatamu Carrol, ia melihat kita sebagai ancaman, jangan lakukan gerakan tiba-tiba." ucap Aruna.


"kau wanita yang ingin membunuhku!" kata August.


August kembali mengangkat jari telunjuknya ke arah Aruna. sinar biru melesat cepat ke arah Aruna, Aruna menjatuhkan dirinya ke samping. ia mengambil tombak emasnya lalu melemparkan ke arah sinar biru.


Pertemuan sinar biru dan tombak emas itu menghasilkan ledakan dahsyat.


Blegarrr..


August mundur selangkah, sementara Aruna dan lainnya terpental belasan meter.


Pemandangan kuil saat ini sangat mengerikan. beberapa dinding hancur. banyak yang terluka. saat August ingin menghabisi Aruna. ia mendengar suara tangisan seorang anak kecil.


"ibu.. ibu.. aku takut.. bangunlah"


August perlahan-lahan tersadar cahaya di tubuhnya perlahan menghilang, ia menghampiri anak itu, di depannya tergolek sosok ibunya. ketika anak itu melihat August berjalan ke arahnya ia semakin ketakutan, namun Hedya tiba-tiba muncul di hadapan August ia melindungi anak itu.


"Kau jangan menyakitinya" kata Hedya.


August tak menggubris ucapannya. ia memeriksa denyut nadi sang ibu, wanita itu adalah Manila.


"ia masih hidup.. bawakan aku segelas air." pinta August pada Hedya tanpa melihat ke arahnya.


Hedya ragu, ia melirik ibunya, Lyra mengangguk, hedya pun pergi, tak lama ia kembali dengan segelas air di tangannya. August menerima gelas berisi air tersebut. air itu tiba-tiba berubah kehijauan lalu kembali seperti semula. ia mengangkat kepala Manila, membuka mulutnya, air dalam gelas dituangkan ke dalam mulut wanita tersebut. hanya beberapa detik wanita itu tersadar luka luka di tubuhnya sekejap menghilang.


August menyerahkan sisa air dalam gelas itu pada Hedya.


"Berikan pada Aira." kata August.


Hedya menerima sisa air itu. "bagaimana dengan yang lain?" tanya Hedya.


August melihat sebuah kolam air mancur yang sedikit rusak. ia berjalan mendekati kolam tersebut tangan kanannya ia celupkan, air kolam seketika bergejolak menyala kehijauan, ia menarik tangannya dengan cepat, seluruh air kolam terbang ke udara dan menyebar lalu jatuh kembali seperti rintik hujan. semua yang terkena air itu seketika hilang rasa sakit dan lukanya.


Aira sudah tersadar, luka dalam tubuhnya telah sembuh. August berjalan menghampiri Aira lalu memeluknya.


"maafkan aku."