
Kuil Murcia.
"BIADAB..!" Teriak Hedya.
"Aku sangat mengenal Sanders, sampai saat ini aku belum sempat lagi bertemu dengannya." kata Lyra sedikit syok mendengar cerita Amara.
"Hedya, menurutmu apa yang diinginkan orang itu pada Mercia?" tanya Valery.
"Saat ini aku benar-benar tidak tau siapa mereka." kata Hedya.
"Bagaimana menurutmu Amara?" tanya Lyra.
"Aku tidak tau apa yang Mercia alami sebelumnya, dia sempat menyinggung kelompok Black Eagle dan kesatria merah, juga acara tv, aku tidak tau apa maksudnya." kata Amara.
"Hedya kita harus segera menyelidiki siapa mereka sebenarnya." kata Valery.
"Nona Hedya, nona Valery biar aku yang melakukannya, mereka tidak mengenalku, aku bisa lebih leluasa bergerak, Biro kalian berdua sepertinya sudah disusupi, resikonya terlalu besar jika kalian berdua yang turun langsung." Ellias angkat bicara.
"Ellias benar, Mercia pun menginginkan kalian berdua tetap disini, jika kalian pergi aku khawatir mereka akan menangkap kalian, itu akan membuat Mercia terpojok, kita semua tau apapun akan dilakukan Mercia untuk menjaga kita semua." kata Lyra.
"Apakah kau tau siapa penyihir agung itu?" tanya Amara pada Lyra.
"Helena, dia berada Innodale."
"Innodale? negeri para penyihir? bukankah disana adalah kekuasaan Minerva?"
"Benar, namun Mercia mengatakan semua telah berubah, kini Minerva telah menjadi pengikut Helena hanya itu yang ia katakan."
"Oracle.. bagaimana pendapatmu?"
"Kini aku mengerti mengapa aku tidak bisa mengetahui keberadaannya, penyihir itu memberi perlindungan padanya. kalian tidak perlu khawatir ikuti saja apa kata Mercia, biarkan Ellias dan Rafael membantu kalian berdua." kata Oracle lalu melangkah pergi.
"Kau mau kemana?" tanya Lyra.
"Mengunjungi seseorang."
**
Proxima, Innodale.
August berjalan memasuki gerbang kota, orang-orang yang mengenalnya seketika menghentikan aktifitas lalu membungkuk membuatnya sedikit canggung, salah seorang diantara mereka berlari menghampiri August.
"Maaf tuan Mercia, kami tidak tau kau akan datang, kami tidak punya persiapan menyambutmu."
"Jangan berlebihan, jangan pernah lakukan hal seperti itu, ngomong-ngomong siapa yang memimpin saat ini?"
"Lady Helena tuan, Nona Freya dan Minerva sedang pergi bersama dua pimpinan Armeda."
"Dimana Helena?"
"Lady Helena ada di kiosnya, aku melihat dia beberapa saat yang lalu."
"Baiklah, aku akan mengunjunginya, kalian semua lanjutkan saja aktifitas kalian." kata August lalu berjalan menuju kios toko roti milik Helena.
'ini pasti akan merepotkan.' pikir August.
Tak berapa lama August tiba di depan kios toko roti milik Helena. aroma wangi tercium di hidung August baik aroma roti maupun aroma wangi penjualnya keduanya sangat menggugah selera. August berdiri di depan pintu kios itu, terlihat seorang wanita membelakanginya sedang membersihkan lantai dengan gagang pel di tangannya, wanita itu bersenandung sambil menggoyangkan pinggulnya dengan aduhai. senyum nakal terlihat di wajah August, ia lalu berjalan mengendap-endap mendekati wanita itu. tiba-tiba tangannya meremas bokong wanita itu hingga membuat wanita itu terkejut dan berteriak.
"Eeeeekkk"
"kau ini menjual roti apa menjual bokong?"
Wanita itu marah mendengarnya, namun ekspresinya berubah ketika ia membalikan badannya.
"MERCIA..!" kata Helena seketika langsung melompat memeluknya dengan kedua kakinya menjepit tubuh August.
August dengan reflek menahan bokong Helena dengan kedua tangannya, bersamaan dengan itu ciuman bertubi-tubi dari Helena mendarat di seluruh bagian wajahnya.
cup.. cup.. cup.. cup..
"Hentikan.." kata August.
"Bagaimana aku bisa berhenti kau menahan bokongku." kata Helena terus menciumi August.
August mengangkat kedua tangannya.
"Sudah aku lepas"
"Terlalu lama, kakiku jadi kram tidak bisa turun." kata Helena menjepit tubuh August semakin erat dan terus menciumnya.
"Cukup.. cukup.. nanti ada yang melihat.."
Helena menjentikan jarinya.
"pintu sudah terkunci, mereka tak bisa melihat kedalam."
"Ini masih pagi, dan kau sedang berdagang."
"Salahmu.. siapa suruh meremas bokongku."
'benar-benar merepotkan.' pikir August yang kini sudah tak bisa menghindar, ia pun duduk membiarkan Helena melakukan aksinya dengan liar dan tampak sangat dominan. suara erangan mereka berdua tersamarkan dengan suara aktifitas orang-orang di luar. Helena tetap berada di pangkuan August memeluknya setelah puncak itu mereka gapai.
"Aku tak menyangka kau mengunjungiku secepat ini."
"Sesuatu terjadi, aku butuh bantuanmu."
"Apapun alasanmu aku tetap senang kau mengunjungiku."
"Kita bicarakan nanti di rumahku. sekarang tetaplah disini, bantu aku menjual roti.. hehehe.."
"Dengan senang hati." kata August, yang kedua lututnya terasa gemetar.
"Mercia itulah alasanku memberikan gelang itu padamu, aku merasakan kemunculan orang-orang yang memiliki sihir hitam."
"Boleh aku menanyakan sesuatu padamu?" tanya Helena.
"kau tak perlu sungkan."
"Jika pada saatnya nanti kau telah bersama phoenix apakah sikapmu padaku akan berubah?"
"aku tetap temanmu Helena."
"Apa kau tetap akan mengunjungiku? maksudku benar-benar 'mengunjungiku' hehehe?"
"itu aku tidak punya jawabannya."
"aku mengerti, aku hanya ingin mengatakan jika kau membutuhkan suasana baru aku tidak akan pernah menolaknya."
glek.
"Aku akan mengingatnya, tapi sekarang bagaimana dengan masalahku?"
"Sudah saatnya kau mempelajari kekuatan gelang itu, aku akan membimbingmu."
"Apa kita bisa memulainya sekarang?"
"Yah tentu saja, buka semua bajumu."
"Apa..? semua? kau jangan membohongiku Helena."
"Bukankah kita akan melanjutkan aksi kita pagi tadi."
"Hah? gelang Helena gelang..!"
"Oh iya aku lupa hehehe.."
"Kau ini..!" August menggelengkan kepalanya.
August duduk bersila, sementara Helena memberikan instruksi padanya, tampak ia mencermati perkataan Helena walau sesekali Helena menyisipkan kata-kata menggoda, August tetap fokus.
Dua hari telah berlalu Hedya dan Valery serta Amara masih berada di kuil, tak lama Ellias tiba.
"Bagaimana Ellias?" tanya Hedya.
"Kami sudah menyelidikinya, namun informasi yang kami dapat baru sekitar empat puluh persen."
"tidak apa-apa, itu cukup luar biasa dengan waktu sesingkat ini, setidaknya kita punya gambaran." kata Valery.
"Baiklah, kami memfokuskan kepada Gerald. dia adalah korban kebiadaban kelompok Black Eagle dan kesatria merah."
"Rafael menemukan bahwa nama asli Gerald adalah Dante Vonner, setelah ia lolos dari kematian ia meninggalkan negeri Lumeria, mengganti namanya, ia bertemu orang-orang yang bernasib sama dengannya, ia lalu membentuk perkumpulan dengan nama The Tears dimana ia menjadi pemimpinnya. tujuannya adalah menghancurkan Black Eagle dan Kesatria Merah, namun ketika Mercia dan kalian semua menghancurkan dua kelompok itu, seolah-olah kalian semua telah merenggut mimpinya, dan yang paling bertanggung jawab adalah Mercia."
"Bagaimana Rafael bisa mengetahui semua itu?" Hedya bingung.
"Aku juga bertanya padanya namun ia hanya mengatakan bahwa dia melakukan hal yang sama ketika ia memberikan informasi tentangku pada Mercia, dia memang tak memberikan bukti tetapi aku mempercayainya, waktu itu Mercia mengatakan segala hal yang hanya aku yang tau, seolah-olah Mercia ada disana melihatnya secara langsung."
Hedya dan Valery saling berpandangan.
"Bagaimana menurutmu Valery?" tanya Hedya.
"jika Mercia mempercayainya, maka kita tak punya alasan untuk menolaknya, ini tidak ada kaitannya dengan logis atau tidak, kehidupan kita saat ini adalah melihat semua dengan pikiran terbuka, tidak ada kemustahilan, semua kemungkinan sangat ada walau dengan cara di luar nalar."
"Lalu apa yang kau temukan Ellias?".
"mereka mengumpulkan orang-orang dengan kemampuan khusus seperti yang kita lakukan, dan aku berpendapat seorang yang bernama Abigor itu bukanlah yang pertama atau yang terakhir."
"Jadi itu alasannya Mercia tidak menyerangnya." kata Amara.
"Bukan hanya itu saja, jika kalian berdua pada saat itu menyerangnya, maka akan banyak korban berjatuhan, mengingat tempat itu berpusat di tengah kota." Lyra menambahkan.
Pintu aula terbuka mereka semua menengok, Clara masuk bergabung dengan mereka semua.
"Mercia menghubungiku, lalu aku menceritakan apa yang telah kita lakukan."
"Apa katanya?" tanya Lyra.
"Dia meminta Ellias dan Rafael tetap terus menyelidiki sampai tuntas. dan ada perintahnya yang aku tak mengerti."
"apa itu?" tanya Hedya.
"ia menyuruhmu dan Valery tetap bersama, bersembunyi, tapi biarkan mereka melihat."
"Apa Mercia tidak menjelaskan?" tanya Valery.
"Aku sudah kehabisan tenaga." kata Clara.
"Ibu kau tau apa maksudnya?" tanya Hedya.
"Bersembunyi, biarkan mereka melihat.. hmm, Tunggu bagaimana dengan Amara?"
"Ia meminta Amara kembali ke villa bersamaku, dan semua bergerak saat ini juga." kata Clara.
"Aku rasa Mercia meminta kita menuntun mereka ke suatu tempat.." kata Ellias.
"Yang kita bisa bertarung dengan mereka tanpa korban jiwa." potong Amara.
semua menatap Amara.
"Dua pergerakan, fokus mereka akan terpecah, memberi celah untukku dan Rafael bergerak lebih leluasa." kata Ellias.
"aku tau satu tempat." kata Carol.